Translate

12/23/2011

UNTUK KEMERDEKAAN NASIONAL INDONESIA* - Jawaban Kami terhadap Mussert** - ROESTAM EFFENDI - 8 November 1935



Sumber: De Tribune, Surat Kabar Harian milik De Communistische Partij Nederland (CPN)

Laporan dari pertemuan perayaan 18 tahun Revolusi Rusia. Pidato dari teman se-Partai Roestam Effendi di Carre***
      
      Mengenang Revolusi Rusia pertama-tama berarti: mengenang kepemimpinan dan pengorbanan Lenin dan memperdalam pengertian kami mengenai taktik Bolsyewis yang sebenarnya, yang membawa kaum Proletar Rusia meraih Kemenangan, kesatuan kaum Proletar dan ikatan kelompok pejuang dengan Massa yang Revolusioner di mana-mana.
      
      Itu sangatlah penting saat ini, saat fasisme mengancam. Bagi kami pertanyaan yang sangat besar adalah perihal bagaimana menggerakkan Massa. Di sini front persatuan Massa berdiri bersampingan dengan front Rakyat Anti-Imperialisme bersama Rakyat koloni dan campuran.

Kesengsaraan dan kemiskinan di Indonesia mengalami perubahan besar karenanya. Gerakan nasional berpaling melawan pemerintah Belanda dan mereka ingin melakukan Perjuangan Anti-Imperialisme. Bahkan orang-orang Indonesia yang sampai saat ini bekerja sama dengan pemerintah Belanda, mengungkapkan bahwa “tidak  ada yang dapat diharapkan lagi dari Belanda“. Dan pernyataan itu menuntut kami melaksanakan tugas untuk memperkuat persatuan dan semboyan “Indonesia Merdeka dari Belanda, sekarang!“ bukan sebagai frase yang diucapkan namun memperjuangkan semboyan itu dengan darah dan nyawa kami.

Gerakan nasional di Indonesia menuntut: Penerapan Demokrasi seutuhnya di Indonesia dan kami mendukung semboyan ini karena kami tahu bahwa Demokrasi dapat menjadi alat bantu yang dapat membawa Rakyat Indonesia ke Kemerdekaan bangsa yang utuh!

Ada yang menyalahkan kami: “Ia menginginkan Kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Apakah ia akan menyerahkannya pada Jepang?“ Tidak, kami menginginkan Indonesia yang bebas dari segala kekuasaan imperialis di dunia. Kami tidak menginginkan Indonesia diambil oleh kaum imperialis lain. Oleh karena itu kami tidak menuntut Indonesia Merdeka dari Belanda, tapi juga: Indonesia mampu mempertahankan diri dari semua kaum imperialis! Indonesia harus dibentuk agar mampu mempertahankan diri melalui pembentukan milisi Rakyat. Milisi Rakyat adalah satu-satunya yang mampu melawan penguasa dalam negeri dan imperialis asing. Armada dan tentara kaum borjuis Belanda tidak memberikan garansi tentang hal ini dan saat ini, saat gejolak dalam dunia internasional meruncing, bahaya untuk terbawa ke dalam perang luar biasa besarnya.

Spreker mengacu pada perang perebutan antara Mussolini dan Abbesinia dan sehubungan dengan hal ini juga membicarakan tentang bahaya perang di Eropa. Bagi kami kelompok fasis Jerman adalah yang paling berbahaya. Spreker itu juga mengingat pernyataan dari partai Mussert: “Bila seseorang memanggil kami untuk bertarung melawan sang monster dari Moskow maka kami semua adalah teman dari sang Hitler yang berseragam coklat.

Jika tiba saatnya, kerumunan fasis Jerman memasuki batas negara kami untuk membangun kekuasaan dan kamp konsentrasi di sini maka kami – kaum komunis- akan mengerahkan seluruh Rakyat Belanda untuk melawan monster fasis itu!

Kami akan memperjuangkan Kemerdekaan Belanda sama kerasnya seperti yang kami tuntut tentang Indonesia. Kaum borjuis telah mendiskreditkan arti kata “nasional“. Apa yang mereka sebut “kepentingan nasional“, hanyalah kepentingan kapital. Kepentingan nasional yang sebenarnya adalah kepentingan Massa Rakyat Belanda! Kami, kaum Proletar, tidak mempunyai rumah. Tentu, tapi kami membela negara yang harusnya menjadi rumah kami melawan fasisme. Kami tidak siap memperkuat tentara dan armada. Kami tidak mempercayai tentara yang sudah jatuh ke tangan kaum kapitalis. Maka kami menuntut pemusnahan semua organisasi fasis dan setengah fasis. Tentara dan armada harus didemokratisasikan, segala element fasis yang ada di dalamnya harus dihapuskan.

Mussert datang ke Indonesia**** karena kaum borjuis Belanda meminta bantuannya untuk tetap menguasai Indonesia. Secara demogogis ia menuntut penguatan tentara dan armada, namun bukan demi kepentingan Indonesia. Ini demi kepentingan Hitler, bila ia membutuhkannya. Rakyat Indonesia menentang Mussert. Rakyat menyebut partainya “NSB/Nederlandse Sarekat Bandiet” (Partai Bandit Belanda).

(…)

Spreker memutuskan, dengan mengatasnamakan pekerjaannya, untuk mengumpulkan segala kekuatan, membentuk front persatuan, melawan perang, demi perdamaian dan untuk dunia yang baru.

--------------------------------------------------------------------

Catatan Kaki: 

* Tulisan ini diterjemahkan dari tulisan asli saudara Roestam Effendi berbahasa Belanda yang berjudul "Voor de nationale onafhankelijkheid van Indonesia – Ons antwoord aan Mussert" - http://www.marxists.org/nederlands/effendi/1935/1935nationaleonafhankelijkheid.htm 

** Anton Mussert: http://en.wikipedia.org/wiki/Anton_Mussert

*** Laporan dari redaksi De Tribune di beberapa poin dipotong atau disimpulkan. Kesimpulan dicetak miring, fragmen yang dipotong diberikan tanda ‘(...)‘.

**** Anton Mussert mengunjungi Indonesia tahun 1935: http://www.youtube.com/watch?v=vpjrIhIaZ9Y

No comments:

Post a Comment