Sumber: De Tribune,
Surat Kabar Harian milik De Communistische Partij Nederland (CPN)
Laporan dari pertemuan perayaan 18 tahun
Revolusi Rusia. Pidato dari teman se-Partai Roestam Effendi di Carre***
Mengenang
Revolusi Rusia pertama-tama berarti: mengenang kepemimpinan dan
pengorbanan Lenin dan memperdalam pengertian kami mengenai taktik Bolsyewis yang sebenarnya, yang membawa kaum Proletar Rusia meraih Kemenangan, kesatuan kaum Proletar dan ikatan kelompok pejuang dengan Massa yang Revolusioner di mana-mana.
Itu
sangatlah penting saat ini, saat fasisme mengancam. Bagi kami pertanyaan yang
sangat besar adalah perihal
bagaimana menggerakkan Massa. Di sini front persatuan Massa berdiri bersampingan dengan front Rakyat Anti-Imperialisme
bersama Rakyat koloni dan
campuran.
Kesengsaraan dan
kemiskinan di Indonesia mengalami perubahan besar karenanya. Gerakan nasional
berpaling melawan pemerintah Belanda dan mereka ingin melakukan Perjuangan Anti-Imperialisme. Bahkan
orang-orang Indonesia yang sampai saat ini bekerja sama dengan pemerintah
Belanda, mengungkapkan bahwa “tidak ada
yang dapat diharapkan lagi dari Belanda“. Dan pernyataan itu menuntut kami
melaksanakan tugas untuk memperkuat persatuan dan semboyan “Indonesia Merdeka dari Belanda, sekarang!“ bukan sebagai frase yang
diucapkan namun memperjuangkan semboyan itu dengan darah dan nyawa kami.
Gerakan nasional di
Indonesia menuntut: Penerapan Demokrasi seutuhnya di Indonesia dan kami mendukung semboyan ini karena kami
tahu bahwa Demokrasi dapat
menjadi alat bantu yang dapat membawa Rakyat Indonesia ke Kemerdekaan bangsa yang utuh!
Ada yang menyalahkan
kami: “Ia menginginkan Kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Apakah ia akan menyerahkannya pada
Jepang?“ Tidak, kami menginginkan Indonesia yang bebas dari segala kekuasaan
imperialis di dunia. Kami tidak menginginkan Indonesia diambil oleh kaum
imperialis lain. Oleh karena itu kami tidak menuntut Indonesia Merdeka dari Belanda, tapi juga: Indonesia mampu
mempertahankan diri dari semua kaum imperialis! Indonesia harus dibentuk agar mampu mempertahankan
diri melalui pembentukan milisi Rakyat. Milisi Rakyat adalah satu-satunya yang mampu melawan penguasa dalam negeri dan
imperialis asing. Armada dan tentara kaum borjuis Belanda tidak memberikan
garansi tentang hal ini dan saat ini, saat gejolak dalam dunia internasional
meruncing, bahaya untuk terbawa ke dalam perang luar biasa besarnya.
Spreker mengacu
pada perang perebutan antara Mussolini dan Abbesinia dan sehubungan dengan hal
ini juga membicarakan tentang bahaya perang di Eropa. Bagi kami kelompok fasis
Jerman adalah yang paling berbahaya. Spreker itu juga mengingat pernyataan dari
partai Mussert: “Bila seseorang memanggil kami untuk bertarung melawan sang
monster dari Moskow maka kami semua adalah teman dari sang Hitler yang
berseragam coklat.
Jika tiba saatnya,
kerumunan fasis Jerman memasuki batas negara kami untuk membangun kekuasaan dan
kamp konsentrasi di sini maka kami – kaum komunis- akan mengerahkan seluruh Rakyat Belanda untuk melawan monster fasis itu!
Kami akan
memperjuangkan Kemerdekaan Belanda sama kerasnya seperti yang kami tuntut tentang
Indonesia. Kaum borjuis telah mendiskreditkan arti kata “nasional“. Apa yang
mereka sebut “kepentingan nasional“, hanyalah kepentingan kapital. Kepentingan
nasional yang sebenarnya adalah kepentingan Massa Rakyat Belanda! Kami, kaum Proletar, tidak mempunyai rumah. Tentu, tapi kami membela negara yang
harusnya menjadi rumah kami melawan fasisme. Kami tidak siap memperkuat tentara dan armada. Kami tidak mempercayai tentara yang sudah
jatuh ke tangan kaum kapitalis. Maka kami menuntut pemusnahan semua organisasi
fasis dan setengah fasis. Tentara dan armada harus didemokratisasikan, segala element fasis yang ada di dalamnya harus
dihapuskan.
Mussert datang ke
Indonesia**** karena kaum borjuis Belanda meminta bantuannya untuk tetap menguasai
Indonesia. Secara demogogis
ia menuntut penguatan tentara dan armada, namun bukan demi kepentingan
Indonesia. Ini demi kepentingan Hitler, bila ia membutuhkannya. Rakyat
Indonesia menentang Mussert. Rakyat menyebut partainya “NSB/Nederlandse Sarekat Bandiet” (Partai Bandit Belanda).
(…)
Spreker memutuskan,
dengan mengatasnamakan pekerjaannya, untuk mengumpulkan segala kekuatan,
membentuk front persatuan, melawan perang, demi perdamaian dan untuk dunia yang
baru.
--------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki:
* Tulisan ini diterjemahkan dari tulisan asli saudara Roestam Effendi berbahasa Belanda yang berjudul "Voor de nationale onafhankelijkheid van Indonesia – Ons antwoord aan Mussert" - http://www.marxists.org/nederlands/effendi/1935/1935nationaleonafhankelijkheid.htm
** Anton Mussert: http://en.wikipedia.org/wiki/Anton_Mussert
* Tulisan ini diterjemahkan dari tulisan asli saudara Roestam Effendi berbahasa Belanda yang berjudul "Voor de nationale onafhankelijkheid van Indonesia – Ons antwoord aan Mussert" - http://www.marxists.org/nederlands/effendi/1935/1935nationaleonafhankelijkheid.htm
** Anton Mussert: http://en.wikipedia.org/wiki/Anton_Mussert
*** Laporan dari
redaksi De Tribune di beberapa poin dipotong atau disimpulkan. Kesimpulan
dicetak miring, fragmen yang dipotong diberikan tanda ‘(...)‘.
**** Anton Mussert mengunjungi Indonesia tahun 1935: http://www.youtube.com/watch?v=vpjrIhIaZ9Y

No comments:
Post a Comment