Translate

3/25/2012

SEDJARAH PKI - PARTAI KOMUNIS INDONESIA - Djamaluddin Tamim (SAMBUNGAN)

                   PKI MASUK KUBUR
Bagi saja sendiri memang sudah djelas sedjak dari semula, jakni sedjak akhir tahun 1924, memang sifatnja PKI dari mulai lahirnja, Mei 1920 sampai Djuni 1924, sudah djauh berbeda dengan sifatnja PKI Djuni 1924 sampai December 1926 jang dalam pimpinan Sardjono, Budisutjitro, Winanta, Alimin dan Musso, jakni: PKI Mei 1920 sampai Djuni 1924, adalah betul merupakan Partai Kader/Kern, sedang PKI Djuni 1924 sampai kepada hari kehatjurannja 1 Djanuari 1927 adalah mendjadi Partai Massa, jang mempunjai anggota sampai djutaan, pada achir 1926.
Dengan dibubarkannja Massa organisasi jang bernama Sarekat Rakjat oleh putusan Kongres di Djogja pada 18 December 1924, jakni dengan dileburnja seluruh anggota Sarekat Rakjat kedalam PKI maka sudah djelaslah bahwa semendjak December 1924 itu PKI jang tadinja mendjadi Partai Kader, Partai Pemimpin, sudah berubah sifatnja mendjadi Partai Massa.
Persis setahun lewat sesudahnja PKI berubah sifatnja mendjadi satu Partai jang dipimpin oleh anarchis, anti kapir, jang berpaham sabilullahis dan mati sjahid, ijalah orang seperti Sardjono, Budisutjitro, Winanta, Alimin dan Musso maka sesudahnja Pemerintah Hindia Belanda memaklumkan Undang-Undang larangan rapat/vergader verbod pada 12-14 December 1925, digagalkan/dibatalkannja lah persiapan-persiapan Kongres PKI di Solo, jang tadinja dimulainja pada 15 December 1925 dan berbisik-bisiklah HB PKI Sardjono, Budisutjitro, Winanta, Alimin, Musso, Ali Archam, Said Ali dengan dua orang kawan dari Solo dan dua orang dari Djawa Timur untuk berkumpul diatas Tjandi Prambanan pada 25 December 1925 itu djuga.
Setelah tuan-tuan sebelas hadir semuanja diatas Tjandi Prambanan, maka dinjatakanlah oleh anarcis Sardjono, Voorzitter/Ketua Umum HB PKI bahwa: “Berdasarkan kepada laporan dan tuntutan seluruh Seksi-Seksi PKI jang mendesak supaja HB PKI supaja segera menentukan hari, tanggal dan bulan Revolusi serentak seluruh Indonesia, maka pada hari ini atas nama HB PKI memutuskan dan menentukan hari itu tanggal 18 Djuni 1926, jika daerah-daerah itu belum siap/belum dikerdjakan, HB PKI akan mendarat kesana dalam enam bulan ini untuk mengorganisasikan/memperkuat dan untuk menjambut hari mulai Revolusi pada 18 (delapan belas) bulan Djuni 1926 tahun dimuka ini!
Pada 18 Djuni 1926 sudah liwat empat hari dan ternjatalah dalam sedjarah kemadjuan masjarakat Indonesia bahwa pada hari, tanggal 18 Djuni 1926 itu, adalah didalam keadaan sunji senjap, jakni njatalah dalam sedjarah bahwa Hari, Tanggal, Bulan dan Tahun meletusnja Revolusi jang ditjetak diatas Tjandi Prambanan pada 25 December 1925, oleh tuan-tuan sebelas tadi njatalah gagal meleset sama sekali.
          Tetapi HB PKI Sardjono-Budisutjitro segera lah memanggil /mengundang pula sebelas orang pimpinan-pimpinan Seksi PKI Bandung /Priangan disebuah pondok/dangau ditengah sawah Andir, pada 22 Duni 1926, jang diantaranja sebelas orang jang diundang itu termasuk saja, Magas Madjid dan dimuka pertemuan 13 orang ini, Sardjono pun terus tegak berdiri mengutjapkan putusan (vonnis) terachir terhadap PKI ijalah begini:
I.    Putusan Prambanan 25 December 1925 mesti kita teruskan walaupun Partai akan hantjur (jang ditutupnja utjapan vonnis mati PKI ini dengan menindju medja sekeras-kerasnja.
II.  Walaupun Partai akan hantjur, namun Putusan Prambanan mesti kita teruskan (ijalah dengan menindju jang kedua kalinja sebagai penutup rapat, pertemuan jang terachir saja dalam kehidupan PKI, jang saja mengikutinja bersama Magas Madjid almarhum).
                        Pada 12/13 November 1926, memang meletuslah benar-benar Revolusi PKI made in Sardjono 25 December 1925 dan 22 Djuni 1926 dipondok Andir itu, dimulai djam sepuluh malam, tanggal 12/13 November 1926, meletuslah aksi hendak merusak kawat telp di kota Djakarta dan aksi hendak menghantjurkan pendjara Glodok ijalah untuk membebaskan kawan-kawan PKI jang sudah lama meringkuk disana.
                        Menurut siaran-siaran resmi Pemerintah Hindia Belanda pada besok harinja jakni tanggal 13 November 1926, sudah ditangkap/ditawannja sebanjak 13,000 orang Komunis Pemberontak PKI jang belakangan satu dua hari sesudahnja  memang didesa Menes/Banten dan di Tjiamis/Priangan adalah djuga terdjadi sedikit pertumpahan darah dan beberapa orang di tembak mati dan Revolusi made in Sardjono di Djakarta sama sekali tidak meneteskan darah setetespun sedikitpun dan jang nampak tersurat dan tersiar disurat-surat kabar hanjalah gerakan militer Belanda sadja setjara besar-besaran sedjak malam 12/13 November 1926 untuk menangkapi semuanja orang-orang jang dipandang, disangka-sangka mendjadi anggota Komunis/PKI.
                        Sajapun mengerti dan pertjaja kepada keterangan satu dua kawan jang sempat lari ke Singapura, para kawan anggota PKI Djakarta, Bandung, dll itu ternjata banjak jang berhianat sehingga pada pagi harinja tanggal 13 November 1926 itu, si anu, si anu, si polan, si Amir, si Ali, si Suwirjo, si Kali Ibrahim, dll sudah mendjadi pengundjuk saja/pemimpin militer mendatangi rumah-rumah dan menangkapi kawan-kawannja, jang baru sadja kemarennja 12 November 1926 masih aktif, masih giat, sama-sama mengatur persiapan-persiapan Revolusionja jang akan dimulai djam sepuluh malam 12/13 November 1926 itu.
                        Memang saja sendiripun sudah menjaksikan sendiri pula bahwa mula awal December 1926, rombongan PID Visboon itu, adalah dua tiga orang jang saja kenal, jang tadinja di Djakarta sudah masuk PKI, ijalah seperti Amir keponakannja Sutan Ali Akbar di Krukut, bersama-sama Arsjad dan Wedana PID Djakarta.
            Ringkasnja Revolusi PKI made in Tuan-Tuan sebelas diatas Tjandi Prambanan 25 December 1925, jang kemudian dilandjutkan, digaskannja oleh HB PKI Sardjono-Budisutjitro 22 Djuni 1926 di Andir Bandung, maka meletuslah di Djakarta, Tjiamis/Bandung dan Menes Banten seperti jang saja lukiskan diatas tadi, jakni memang terdjadilah suatu aksi PUTCH KETJIL tetapi dapat mendjadi alasan musuh/Belanda untuk menangkap seluruh seluruh Komunis ataukah jang dipandang, disangka-sangka Komunis, diseluruh tanah Djawa, sehingga seluruh pemimpin-pemimpin Revolusioner Buruh, Kereta Api, Pegadaian, Postel, Pelabuhan, Perkapalan dan Perkebunan, Persuratkabaran, dll hingga dalam tempo satu minggu sadja dari 12-13 November 1926 sudah tiga ribu orang di djebloskannja masuk pendjara, selainnja jang puluhan-puluhan ribu pula Rakjat Buruh, Tani, Tukang, Saudagar, dsbnja jang sengadja di djemurnja dilapangan/jang dilingkarinja kawat berduri, bajonet, klewang terhunus.
              Satu hal jang tak mudah saja lupakan, bahwa antara seminggu sadja sesudahnja terdjadi putch di Djakarta, Tjiamis, Menes itu, maka tersiarlah pula manusia palsu seperti Sardjono jang menjatakan begini: “Kami HB PKI sama sekali tidak merasa bersangkut-paut, tidak tahu-menahu dengan adanja pemberontakan-pemberontakan di Djakarta, Tjiamis dan Menes itu”.
                        Begitulah manusia seperti Sardjono jang sudah memegang pimpinan PKI tertinggi sedjak Djuni 1924, jakni Voorzitter/Ketua Umum Massa Partai Komunis Indonesia/PKI sedjak Djuni 1924, jang sudah tjepat-tjepat tjutji tangan/berlepas diri, setelahnja lobang kubur PKI sudah digalinja sekian dalamnja.
                   Pada 1 Djanuari 1927, meletuslah pula Revolusi made in Tuan-Tuan sebelas diatas Tjandi Prambanan 25 November 1925 ijalah disalah satu resort PKI Seksi Sumatera Barat jakni negeri Silungkang jang terkenal sebagai satu-satunja negeri/kampung perindustrian tenun jang terkenal di Sumatera Barat.
                          Berdasarkan pemberontakan Silungkang 1 Djanuari 1927 ini, baharulah militer Hindia Belanda bertindak melakukan tekanan diseluruh Sumatera, jang pemberontakan Silungkang dapat dipadamkan dalam satu hari, tanggal 1 Djanuari 1927 itu djuga, tetapi melakukan penangkapan sebanjak tujuh ribu orang lebih diseluruh Sumatera jakni dari Pelabuhan Pandjang teluk Banteng sampai ke Olele, Kota Radja/Aceh dan Sabang.
                        Dalam siaran resmi Pemerintah Hindia Belanda dan djuga dari Harian-Harian seluruh Indonesia jang terbit 5 Djanuari 1927 tersiarlah berita bahwa: Pemimpin-Pemimpin PKI  kaum Komunis seluruh Indonesia ditangkap dan ditahan dalam pendjara sebanjak dua puluh orang lebih dan PKI mendjadi perkumpulan organisasi terlarang.
                        Maka dengan ini, dengan kedjadian-kedjadian jang njata ini, djelaslah, tepatlah perhitungan Sardjono-Budisutjitro, jakni pada tanggal 1 Djanuari 1927 tertjatatlah dalam sedjarah PKI sebagai hari wafat, hari kehantjuran-hantjur lebur dan benarlah masuk kuburnja pada 1 Djanuari 1927.
                        Demikianlah setjara ringkasnja saja lukiskan disini suasana SEKITAR PERDJUANGAN PKI, dalam tahun terachir 1925-1926 dan jang sampai 1 Djanuari 1927.
                        Susungguhnja banjak lagi kedjadian penting, suasana jang beraneka warna dalam kehidupan PKI selama tudjuh tahun/1920-1926, jang patut dan dapat djuga saja lukiskan disini, tetapi memanglah suasana politik dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, selama tiga puluh tudjuh tahun lebih jang achir-achir ini, jakni sesudahnja PKI masuk kubur pada 1 Djanuari 1927 dan mengingat pula, bahwa nama PKI/Partai Komunis Indonesia/PKI jang sutji murni, sudah terus-menerus sadja digunakan/dipakai dengan sengadja atau tidak sengadja, untuk kepentingan/keuntungan-keuntungan musuh, untuk keberuntungannja imperialis/kapitalis semata-mata, maka suasana hal-ichwal jang demikianlah, jang sudah mendesak saja untuk memikirkan menulis Sedjarah PKI ini, dengan sekedarnja, dengan setjara ringkas sadja dulu, walaupun keadaan kehidupan dan kesehatan saja sampai pada saat meulis ini sudah terus-menerus sadja dalam keadaan maha sulit dan sakit-sakit sadja.
                        Ketika saja masih dipembuangan Digul pada tahun 1938, memang sudah mendjadi pembitjaraan ramai diantara kami orang buangan, bahwa PKI sudah dibangun/dihidupkan kembali oleh Musso sendiri, katanja menurut pendapat sebagian ketjil kawan senasib di Digul, bahwa Musso sudah membangun, menghidupkan PKI kembali sedjak tahun 1935 itu, diberi nama PKI Musso. Demikianlah bisik-bisiknja klik Sardjono ataukah groupnja Sardjono ataukah pengikut fanatic Sardjono likwidator PKI ini, tidaklah lebih dari sepuluh orang.
                        Jadi klik Sardjono jang sepuluh orang inilah jang menjambut dengan sepenuh hati, dengan kejakinan penuh, bahwa Ahmad Sumadi, Djokosudjono, Sugoro, Ambija, Ruskak dan Mohamad Said adalah benar-benar korban PKI Musso, PKI 1935 itu, jang sudah dikirim ke Digul oleh Van Der Plass/Van Mook ke Digul pada awal tahun 1938, sedang saja sendiri berdasarkan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan saja jang mendalam tentang pribadi Musso, baik djasmani, baikpun rohaninja dengan tegas-djelas dan langsung saja njatakan di Digul bahwa: “Musso jang memimpin PKI 1935 itu, pastilah Musso palsu, karena saja sudah mengetahui dengan penuh bahwa manusia seperti Musso jang anarchis itu tidaklah mungkin akan memimpin sesuatu organisasi, apalagi dengan setjara illegal pula”.
                        Pada hari Senin 13 Maret 1946, saja sudah mendarat di Djakarta jakni baru pulang dari Digul dan pada hari Senin 20 Maret 1946, saja sudah bertolak dari Djakarta menudju Solo dan setibanja saja di Solo pada pagi-pagi hari selasa 21 Maret 1946, saja langsung dimasukkan tahanan Pemerintahan Sjahrir, sedang pengawal saja dalam tawanan itu, semuanja adalah bekas-bekas Digulis dari klik Sardjono/Ahmad sumadi, dll jang semuanja sudah mendjadi opsir/perwira tinggi dari Kuasa Besar, membela POLITIK KOMPROMI alias KAPITULASI dari Sjahrir-Amir Sjarifuddin (PKI 1935) jang sudah menangkap Tan Malaka di Madiun pada tanggal 17 Maret 1946 jakni antara empat hari sebelumnja saja tiba di kota Solo.
                        Pada 29 April 1946 sampai 1 Mei 1946, sudah diadakan Kongres ataukah suatu Rapat Besar oleh satu Panitia jang maksudnja akan menjerahkan kembali pimpinan PKI kepada pimpinannja 1926/dua puluh tahun jang lampau, jang menurut keinginan Panitia semula, bahwa saja dari PARI mustilah ikut duduk kembali bersama Sardjono memimpin PKI.
                        Keinginan-keinginan sutji, keinginan baik dari Panitia ini sudah dapat di sabotir, diblokir oleh Sardjono, Achmad Sumadi cs sehingga sebanjak tujuh puluh lima orang dari kami bekas pimpinan PKI 1920-1926 tak diundang, tak diadjak, jakni diasingkan sama sekali.
                        Untuk perdjalanan sedjarah PKI jang ruwet sulit ini, maka akan saja adjak pembatja kembali ketahun 1927, jakni kembali ke masa tiga puluh tahun jang lampau, supaja agak djelas dari mulai lahirnja pada bulan Mei 1920 sampai adanja PKI 1935, PKI tiga Moes ter/Jusuf, Suprapto, Ahmad Sjah, PKI Sibaristen 1 Mei 1946, PKI New Deal Musso Agustus 1948, alias PKI jang mentjetak Revolusi Madiun 19 September 1948, dan terus kepada PKI jang kombinadi Ramas, antara Achmad Sumadi, Djoko Sudjono, Sukirman, dll dengan PKI Muda, Lukman, anaknja Ki Hadji Muchtar ex Digulis dan DN. Aidit. Entahlah saja belum dapat mengetahui jang agak pasti, jang agak djelas tentang DN. Aidit ini.
                        Sampai disini, tjukuplah kiranja saja melukiskan dan membajangkan hal-ichwal  suasana PKI mulai awal 1925 sampai achir tahun 1926.
                        Selandjutnja berikut dibawah ini saja akan lukiskan pula setjara ringkas sedjarah Partai Republik Indonesia/PARI, PKI 1935, dll sampai kepada PKI Aidit-Sukirman sekarang ini.
                        PERDJELMAAN PKI.
                        Pada permulaan Djanuari 1927, kawan-kawan Tan Malaka dan Subakat sudah berada di kota Bangkok/Siam jang kebetulan saja beserta kawan-kawan ini bertemu di Stasion Padang Besar, sesudahnja perpisahan kami di pantai Tandjung Katung Singapura, pada hari Sabtu petang 18 Decemberr 1926.
                        Kepada kawan-kawan Tan Malaka-Subakat saja laporkan hal-ichwal seluruhnja, baik hal-ichwal sekitar Seksi PKI Sumatera Barat sesudahnja pemberontakan Silungkang pada 1 Djanuari 1927, baikpun hal-ichwal sekitar sendiri di Singapura.
                        Mengingat Maklumat resmi Pemerintah Hindia Belanda pada 5 Djanuari 1927, maka djelaslah PKI sudah masuk kubur seluruhnja pada 1 Djanuari 1927 jakni sesudahnja meletus pemberontakan di Silungkang pada 1 Djanuari 1927.
                        Sedjumlah dua puluh ribu orang lebih sudah meringkuk dalam seluruh pendjara di Indonesia, ijalah satu pernjataan resmi dari Pemerintah Hindia Belanda pada 5 Djanuari 1927, bahwa PKI adalah perkumpulan terlarang dan memang sudah dapat puladihantjurkan seluruhnja oleh kekuatan militer Hindia Belanda.
                        Kalau dihitung benar-benar maka tak kuranglah dari seratus orang jang dapat melarikan diri ke Singapura sampai awal Djanuari 1927 itu, tetapi sebagian besarnja pelarian dari Djambi/Indragiri, Rengat, Banten, Sumatera Barat kebanjakannja  dari golongan jang mempunjai uang, sehingga mereka dapat langsung menjempurnakan Rukun Islamnja jakni mereka terus naik Hadji ke Mekkah.
                        Kepada mereka jang mendapat kesempatan ke India, ke Mekkah dan ke Mesir ini, dapatlah pula saja bekali dengan buku-buku Massa Actie in Indonesia, Naar de Republic Indonesia, De Jonge Geest/Semangat Muda, Gutji Wasiat Kaum Militer dan beberapa dokumentasi/risalah-risalah. Sebahagian besarnja pula pelarian-pelarian  dari Sumatera Tengah dan bekas-bekas mahasiswa ghaib dari Sumatera Thawalib itu, langsunglah saja sebarkan keseluruh daerah/keradjaan di Malaja. Tetapi satu diantaranja ijalah Bagindo Tenek dari Sumur Pariaman, saja dudukkan disebuah Kampung dalam Keradjaan Negeri Sembilan, dapat mendjaga/menjimpan semuanja dokumentasi surat-surat buku-buku jang sedjak September 1926, sudah bertumpuk-tumpuk dibawah balai-balai/tempat tidur saja di rumah Pak Said jang amat ketjil sempit itu.
                        Dari sedjumlah puluhan dan ratusan pelarian-pelarian dari Sumatera Barat itu hanjalah Djamaluddin Ibrahim alias Rahman, Tenek alias Aljasin dan Arief Siregar sadja jang dapat saja harapkan untuk meneruskan perdjuangan.
                        Dari Sumatera Selatan hanjalah Maswar Madjid. Dari Banten jang berdjumlah sepuluh orang, hanjalah Tje Mamat alias Mansur. Dari Priangan/Tjiamis, hanjalah Kasim alias Atang. Dari Sumatera Utara/Atjeh hanjalah Agam Putih alias Mahmud dan dari Djawa Tengah adalah Mardjono alias Djohan, Suroso alias Agus dan Suwarno alias Achmad.
                         Djadi total djendral hanjalah sepuluh orang sadja dari rombongan pelarian jang ratusan tadi, jang dapat saja harapkan dan saja pertjaja ketika itu untuk meneruskan perdjuangan PKI jang sudah hantjur luluh dan masuk kubur itu.
                        Kepada kawan-kawan jang sepuluh orang tersebut, saja njatakanlah, bahwa satu-satunja djalan/djembatan kita untuk memasuki Indonesia kembali dan untuk dapat segera menghubungi Rakjat Revolusioner/Proletar kita jang sudah kehilangan pemimpin-pemimpinnja itu, tida ada djalan lain, hanjalah: mendjadi kelasi kapal.
                        Lodging house/Agent-Agent Kelasi Kapal/Pelaut-pelaut, berpuluh-puluh pintu banjaknja di kota Singapura, jang semuanja siang dan malam pintu terbuka, didjamin tempat, makan minum dan belandja sehari-hari, asal sadja betul-betul bersedia/mau mendjadi pelaut, matros/kelasi kapal, baik kapal-kapal besar-besar/keliling dunia baikpun kapal-kapal besar jang hanja mengangkut/mempunjai trip/lijn disekitar Asia, India, Indonesia dan Australia sadja.
                        Dari djumlah jang sepuluh orang tadi hanjalah tiga orang/Mardjono, Suroso dan Suwarno sadja jang segera menjatakan bersedia untuk mendjadi kelasi kapal, tetapi jang tiga orang inipun sesudahnja mentjoba satu trip sadja ke Australia/Froe Mantle, jakni hanja tiga bulan pulang pergi, maka setibanja di Singapura kembali, sudah menjatakan tak sanggup lagi.
                        hanja sadja, Rahman/Djamaluddin Ibrahim-Tenek Aljasin dan Maswar Madjid sesudahnja saja setahun mendjadi Kelasi dan Djurumudi maka semuanja sama sekali bebas, jakni tidak mendjadi perhatiannja CID dan PID Hindia-Belanda.
                        Pada pertengahan Djanuari 1927, kawan Subakat sudah bertolak dari Bangkok menudju Tiongkok, ijalah andjuran kawan Tan Malaka sendiri, supaja Subakat dapat pula pertambahan pemandangan dan pengalaman dan supaja Subakat dapat menjaksikan dengan mata kepalanja sendiri, bagaimana tjaranja kawan-kawan di Tiongkok mempimpin Partai Komunis disana.
                        Lain daripada itu supaja kawan Subakat dapat pula bertemu dan berhubungan langsung dengan wakil-wakil Moskowers jang ikut pula memegang pimpinan dan peranan pada Partai Komunis di Tiongkok.
                        Adapun untuk ongkos Subakat ke Tiongkok adalah dari uang sebanjak $300 jang diterima dari Alimin di Kota Tinggi/Djohor Lama pada 18 December 1926 jang baru lalu, ketika Alimin-Musso, diadjak lari oleh Subakat jang Alimin-Musso menolak, karena Alimin-Musso tidak perasa.
                        Pada tanggal 1 Mei 1927, meletuslah pula pemberontakan di kota Canton, jang djuga disebut-sebut Revolusi kaum Komunis Tiongkok jang selama lima hari, berkibar-kibarlah bendera Palu Arit di kota Canton, sedang Revolusi Canton ini adalah dalam pimpinan Borodin, Djendral Gahlen dan Karakhan, jakni Komunis Moskowers jang sudah dimulai disebut-sebut pula ketika itu, termasuk rombongan/kliknja Trotsky.
                        Kalau melihat hasilnja Revolusi Canton pada 1 Mei 1927, jakni sampai mendapat kesempatan mengibarkan bendera Palu Arit di kota Canton, maka kalau kita bandingkan dengan Revolusi PKI Sardjono-Budisutjitro di Djakarta, Tjiamis, Menes dan Silungkang maka djelaslah bedanja sebagai bedanja bumi dengan langit.
                        Hanjalah sadja kalau diseluruh kepulauan Indonesia sudah didjeblokan kedalam pendjara sebagai dua puluh ribu orang lebih sampai pada 5 Djanuari 1927, maka di Canton tingkat besar imperialis/kapitalis dan penghianat besar bagi Rakjat Murba/Proletar di Tiongkok ijalah: Tjiang Kai Sek, maka pada 6 Mei 1927, dimulainjalah dengan setjara penembakan/pembunuhan setjara besar-besaran.
                        Alimin-Musso dan Subakat jang ketika Revolusi Canton 1 Mei 1927 itu sedang berada di kota Canton, maka ditangkap dan dirantailah mereka bertiga bersama-sama dengan Rakjat Murba di Canton jang sudah siap sedia menantikan pelor jang sekaligus serentak memuntahkan ratusan pelor, tetapi kebetulan sadja ketika Alimin-Musso dan Subakat, njaris-njaris maut itu, datanglah beberapa orang melepaskan rantai alimin-Musso dan Subakat karena mengetahui benar-benar bahwa Alimin-Musso dan Subakat bukanlah Cantoneese, bukanlah bangsa Tionghoa.
                        Alimin-Musso dan Subakat terbebas dari bahaja maut di Canton dan segera berangkat menudju Shanghai untuk menemui wakil Sovjet, ataukah wakil Komintern jang ketika itu bermarkas didaerah Settlement International di kota Shanghai.
                        Alimin-Musso dikirim kembali ke Moscow untuk dimasukkan ke sekolah Lenin di Moscow selama dua setengah tahun, sedang Subakat menolak untuk terus ke Moscow, karena memang banjak pekerdjaan untuk memimpin Rakjat Murba/Proletar Indonesia jang sudah kehilangan pemimpin dan jang sudah tjerai-berai berantakan itu. Moskowers jang mendjadi kepala Markas Besar Komintern itupun tak memaksa Subakat dan Moskowers di Shanghai ini, menjuruh Subakat memasuki Pilippina dan supaja dapat kerdja sama dengan Tan Malaka.
                        Pada hari itu djuga, Subakat mengirim telegram ke Bangkok, sedang Subakat antara satu minggu dibelakang tibalah pula di Bangkok dengan menumpang di internasional Hotel sedang Tan Malaka menumpang pada hotel lain lagi didekat Stasion Besar Kereta Api.
                        Adapun saja sendiri, setibanja di Bangkok langsung mentjari Sjech Achmad Wahab, ijalah seorang dari lima serangkai (1. Hadji Abdullah Ahmad, Padang, 2. Hadji Abdul Karim Amarullah alias Hadji Rassul, Manindjau, ajahnja Hamka, 3. Sjech Hadji Mohammad Djamil alias Sjech Djambek, Bukit Tinggi, ajahnja Dahlan Djambek, 4. Sjech Hadji Thaher Djalaluddin Al-Azhari alias Sjech Taher dari Empat Angkat, Bukit Tinggi, dan 5. Sjech Hadji Achmad Chatib alias Sjech Ahmad Wahab, jang ketika akan turun dari Mekkah, pada awal tahun 1908, maka para Hadji memilih/pulang ke Minangkabau, sedang Sjech Taher memilih Malaja (karena beliau anti Belanda) dan Sjech Achmad Chatib memilih Negara Budha/Bangkok, Siam dan djuga karena Anti Belanda. 
                        Memang Sjech Ahmad Wahab sudah mengenal nama saja sebagai Guru Thawalib, Guru Dinijah Padang Pandjang, sedjak awal 1919 ijalah dengan perantaraan Madjalah: Almunir jang terbit di Padang Pandjang pada tahun 1918-1921.
                        Sebailknja saja sendiri memang sudah mengenal namanja Sjech Ahmad Wahab sedjak tahun 1913, jakni mengenal Sjech Chatib alias Sjech Wahab, mengenal Sjech Taher dari guru saja dalam hal agama dan politik ijalah Zainuddin El Junuscy Labay, bahwa Sjech Wahab dan Sjech Taher adalah Alim Ulama anti Belanda jakni pro-politik anti pendjadjahan Belanda di Indonesia, sedang 1-3 (Hadji Rassul, Hadji Abdullah dan Sjech Djambek adalah sebaliknja, jakni pro-Belanda membantu/westened/Belanda pada perang Kamang, Djuli 1908, sehingga Sjech Djambek mendapat Bintang Tandjung/Bintang Mas Besar bersama-sama Laras Baso Sungai Puar, Banuampu dan Laras Kota Padang/Jahja Datuk Kajo, ajahnja Adel, Sjagaf dan Daan Jahja, dll.
                        Apalagi pula, sesudahnja saja menjampaikan salam Sjech Thaher Djalaluddin Al-Azhari kawan sepangkat seumur sepaham dan sehaluan beliau, jang sudah memperkenalkan saja terlebih dahulu dengan seputjuk surat maka sangat-sangatlah pula menggembirakan hati beliau Sjech Ahmad Wahab dan nampak kasih sajang dan tjintanja kepada saja dengan sepenuh hati beliau.
                     Sjech Ahmad Wahab terkenal sebagai Ulama Kaum Wahabby diantara kaum Muslimin jang hanja berdjumlah sebanjak dua puluh ribu orang di kota Bangkok dan sudah mempunjai beberapa pesantren/sekolah surau jang agak modern, seperti tjara/metode jang sudah dimulai oleh Zainuddin El Junuscy Labay di Padang Pandjang sedjak tahun 1913.
                        Mengingat keuangan kami (Tan Malaka, Subakat dan saja) pastilah akan segera kehabisan, jang memangnja pula kota Bangkok/Siam adalah tempat perlindungan baru bagi kami dan mempunjai kenalan banjak disana, maka Mohammad Zein/Subakat segeralah saja perkenalkan dengan Sjech Ahmad Wahab dan langsung minta ditjarikan tempat menumpang untuk kami berdua, karena untuk lama-lama menginap di hotel, selainnja keuangan kami sangat lemahm memang menginap di hotel-hotel itu sangat membahajakan bagi kami.
                        Sjech Ahmad Wahab membawa dan memperkenalkan kami dengan murid-muridnja di Tha Chang Wangna, agak dipinggir utara kota Bangkok, dan memitipkan kami disana, karena maklum, rumah pemondokan beliau Sjech Ahmad Wahab adalah merupakan rumah ketjil, merupakan pondok ketjil sadja, sehingga untuk Sjech Ahmad Wahab dengan lima orang anak dan istrinja sadja memang sudah sangat sempit/ketjil benar.
                        Tetapi kami di Tha Chang Wangna dititipkannja kepada murid-muridnja jang mempunjai rumah gedung rumah baik, jang lengkap dengan alat-alat rumah tangganja, serta pula dengan ramah-tamah, hormat dan pemurah pula, walaupun mereka semuanja terdiri dari golongan saudagar Muslimin/Islam sedjati.
                         Adapun tentang Tan Malaka sendiri, memangnja saja sudah memperhitungkan djuga dengan Subakat dan Tan Malaka sendiri, jakni kami seperndapat supaja Tan Malaka tak usahlah/tak perlulah dihubungkan, diperkenalkan dengan beliau Sjech Ahmad Wahab dulu.
                        Dalam minggu terakhir pula bulan Mei 1927, kami sudah membitjarakan segala sesuatunja dengan sangat mendalam, sehingga pada akhir Mei 1927, kawan Tan Malaka sudah selesai menjusun Manifesto PARI jang didasarkan kepada laporan-laporan saja tentang PKI jang sudah masuk kubur itu, dan djuga didasarkan kepada suasana politik Dunia Internasional, suasana Komintern dan suasana Partai Komunis di Eropah, di Sovjet Rusia, dll ketika itu.
                        Memang Tan Malaka sendiri, sudah mempergunakan waktu sampai puluhan djam, dalam membentangkan situasi nasional Indonesia dan internasional, jang dimulainja sedjak lama sebelum kemenangan Revolusi Rusia 1917, disambungnja dengan situasi sesudahnja kemenangan Revolusi Rusia 1917 sampai sepuluh tahun sesudahnja (1927) dan terus dibentangkannja pula setjara luas, situasi dunia jang sedang dihadapi dan jang akan datang.
                Kawan Subakat ditugaskan menjusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PARI, jang pada 31 Mei 1927 itu djuga, sudahlah selesai siap disusun oleh kawan Subakat, jang inti sarinja dari Anggaran Dasar PARI itu, diambil dari Manifesto Komunis/PKI 1920, jang disesuaikannja pula dengan inti sari/isi manifesto PARI, jang memang njata, setjara prinsip/ideologis, sama sadja dengan Anggaran Dasar PKI 1920-1924, jang memang kawan-kawan Subakat, Tan Malaka, Semaun, dll ikut sama-sama menjusunja pada tahun 1920, jakni ketika akan didirikannja PKI di Semarang pada 23 Mei 1920.
          Lain daripada itu, kawan Tan Malaka dan Subakat pun, sangat-sangatlah pula mendalam perhatiannja terhadap sebuah dokumentasi jang saja dapat dari Agam Putih, ijalah salah satu dokumentasi jang dibawa Alimin-Musso dari Moscow pada 18 December 1926, karena isi dokumentasi tersebut, ijalah:
I. Moscow/Komintern sangat menjela/menjalahkan Putusan Prambanan, karena PKI sebagai satu Seksi Komintern, ia mesti memberikan laporan lebih dahulu kepada Komintern.
II. PKI memutuskan diatas Tjandi Prambanan, akan mengadakan Revolusi di Indonesia pada 18 Djuni 1926, adalah satu kesalahan besar, karena sebagai suatu seksi, PKI hendaklah memadjukan usul lebih dahulu karena wakil Komintern di Asia Tenggara ijalah Tan Malaka jang setjara organisatoris, Tan Malaka mempunjai hak untuk membatalkan, menolak putusan jang salah itu.
III. Ditegaskan pula dalam dokumentasi tersebut bahwa siasat PKI untuk mentjetuskan/mentjetak Revolusi Indonesia pada tahun 1926 itu, adalah sebagai pendapat/kliknja Trotsky jang bertentangan keras/tadjam dengan pendapatnja golongan Stalin, jang mempunjai pengaruh besar baik dalam pimpinan Komintern, baikpun dalam pimpinan Negara Sovjet Rusia.
                        Sesudahnja kami bersama-sama mengulangi/membatja Manifesto dan Anggaran Dasar PARI ini, maka sambil menantikan pulangnja kembali semuanja pembuangan Digul, semuanja jang di pendjarakan, semuanja kami pelarian di Luar Negeri, maka pada 2 Djuni 1927, kami berkumpul kembali dibawah lindungan Artja Budha dalam pekarangan Kebon Radja Prachatinak, ditengah-tengah kota Bangkok/Siam, jakni kami bertiga (Djamaluddin Tamim, Subakat dan Tan Malaka), dengan disaksikan oleh patung-patung Budha, gedung Artja Budha jang mewah gemerlapan mas intan itu, maka resmilah berdirinja PARTAI REPUBLIK INDONESIA (PARI) sebagai: Pendjelmaan PKI, jang sudah masuk kubur pada 1 Djanuari 1927 itu.
-->
                          PARI 1927.
                        Kehidupan PKI selama tudjuh tahun/1920-1926, sungguh-sungguh sudah dapat mendapat mendukung seluruh lapisan masjarakat Indonesia, jang berdjumlah enam puluh djuta, karena sudah dibuktikan oleh kenjataan-kenjataan sedjarah, bahwa selainnja Tanah Djawa seluruhnja, maka PKI pun sudah  mendukung seluruh Rakjat Tani diseluruh Sumatera, Kalimantan, Sulawesim Pulau-Pulau Halmahera, Maluku, Sumbawa, Flores, Timor dan pulau-pulau Bali, Lombok, Madura, dll
                        Partai Politik selainnja PKI hanjalah Partai Sarekat Islam Tjokro-Salim, jang dari sehari ke sehari sedjak tahun 1922, jakni sedjak diadakannja Partai disiplin oleh Tjokro-Salim maka PSI seluruhnja merosot dan djatuh ketangan PKI, sehingga Tjokro-Salim tak mendapat djalan sama sekali untuk menandingi/konkruen dengan PKI jang ditambah pula oleh kenjataan sedjarah, bahwa dimana-mana ada gerakan anti PKI/anti Komunis, maka didaerah itu pula Rakjat Tani lebih tjepat mengikuti PKI, sehingga Seksi-Seksi PSI Tjokro-Salim seluruhnja berganti nama djadi Seksi PKI, Resort PKI, dsbnja.
                        Malah-malah Rakjat Tani di Banten, Sumatera, Kalimantan, dll jang umumnja sangat tebal semangat privatbezitnja, sangat tebal egoismenja, begitu pula golongan saudagar ketjil jang memang berpaham saudagar 100%, jakni rugi menentang laba, djerih menentang bulieh/untung, maka banjaklah pula mereka itu mendjual ternaknja, menggadaikan sawah ladangnja, untuk pembuatan bom katanja, untuk membeli kelewang katanja, untuk membeli tombak lembing, pistol senapan katanja, karena mereka sudah pertjaja penuh dan jakin benar-benar bahwa Revolusi Indonesia jang ditjetak oleh Tuan-Tuan sebelas diatas Tjandi Prambanan itu, pastilah menang, pasti djaja dan memang, pasti Indonesia mendjadi Sovjet, katanja, karena Revolusi Sardjono-Alimin-Musso ini, adalah Revolusi serentak seluruh Indonesia, katanja dan pastilah Belanda dan alat-alatnja akan berkubur semuanja di Indonesia, paham Revolusi itu katanja, walaupun mereka sudah menjaksikan/melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedjamnja, bagaimana beratnja pukulan militer Belanda di Tjiamis, Menes, Djakarta pada 13 November 1926 dan pukulan berat terachir terhadap pemberontakan di Silungkang pada Djanuari 1927.
                        Salah satu bukti pula, bahwa kepertjajaan Rakjat Indonesia belum langsung penuh, musnah dan hilang sama sekali terhadap kampanje palsu PKI Sardjono, Alimin, Musso, ijalah masih ada djuga rupanja satu dua orang bekas militer Hindia Belanda jang berusaha mendekati Dr. Tjipto, jang katanja mereka akan melandjutkan pemberontakan PKI lagi di kalangan Militer Tjimahi jang katanja mendapat sokongan Rakjat Revolusioner di Tjimahi, tetapi sebelumnja Dr. Tjipto memberikan bantuannja, secara moril, baikpun setjara materiil, maka persiapan-persiapan terachir inipun sudah tjepat dipukul hantjur oleh militer Hindia-Belanda, sehingga Dr. Tjipto dibuangnja kepulau Banda pada pertengahan tahun 1927.
                        PKI hantjur lebur, dimasukkan kekubur oleh HB PKI Sardjono-Alimin-Musso dan Dr. Tjipto sebagai seorang Nasionalis Revolusioner, seorang patriot besar Indonesia jang ditakuti imperialisme Belanda sudah dapat disingkirkannja ke Banda, maka gerakan Sarekat Islam Tjokro-Salimpun dan lain-lainpun, mulailah aktif kembali dan dapatlah kesempatan baik bagi mereka, sehingga lahirlah pemimpin-pemimpin muda/baru dalam gerakan-gerakan Islam Indonesia, ijalah seperti Alfatah, Kasman Singodimedjo, Sukiman, dll.
                        Tetapi disamping aktifnja kembali pemimpin-pemimpin Gerakan Islam ini, maka pada 4 Djuli 1927, lahirlah ditegakkanlah oleh Ir. Sukarno Partai Nasional Indonesia/PNI di Djakarta.
                        Kebangkitan Sukarno dengan PNInja ini, tentu sadja sangat-sangat menggembirakan kami lebih-lebih lagi, kawan Tan Malaka sangatlah bergembiranja mendengar dan menjambut kelahiran PNI pada 4 Djuli 1927 itu.
                        Kawan Tan Malaka segera teringat denan suratnja Sukarno kepada Tan Malaka jang kami terima pada bulan Djuli 1926 jang baru lalu di Singapura, ijalah jang berisi diantaranja pernjataan Sukarno, begini: “Saja bersedia untuk segera muntjul di lapangan politik, tetapi saja harapkan supaja saudara Tan Malaka selalu memberikan pedoman, tuntunan kepada saja….”!
                        Maka sesudahnja Tan Malaka teringat kembali kepada isi suratnja Sukarno diatas tadi, langsung lah Tan Malaka menulis sebuah artikel jang merupakan salah satu dokumentasi PARI, jang pertama-tama, jang diberi title oleh Tan Malaka, dengan: “PARI DAN KAUM INTELEKTUIL INDONESIA”.
                        Sebagai isi jang terpenting dari dokumentasi ini, ijalah sebagai berikut ini:
I.  Andjuran kepada Sukarno dan kaum Intelektuil seluruhnja supaja bersama-samalah kita seluruh Patriot dan Pedjuang Kemerdekaan Indonesia, mentjapai/menudju Kemerdekaan Indonesia 100%, jakni menudju Republik Indonesia 100%, baik politik, baikpun ekonomis dan social, ijalah jang mendjadi tudjuan utamanja Partai Republik Indonesia (PARI).
II. Buku-buku seperti Naar Republic Indonesia jang sudah masuk ke Indonesia pada pertengahan tahun 1924, De Jonge Geest/Semangat Muda pada pertengahan tahun 1925 dan Massa Actie in Indonesia/Massa Actie pada achir tahun 1926, hendaklah dapat mendjadi pedoman bagi kaum Intelektuil, dapatlah pula hendaknja mendjadi tuntunan untuk menuntun Buruh, Tani, Pemuda serta Pembangunan Ekonomi Nasional, baik dalam kalangan social, Kesenian, Kebudajaan, Pendidikan, dll sehingga terasa benar oleh kaum Intelektuil bahwa seluruh kaum Patriot, Pedjuang Kemerdekaan, hendaklah membiasakan hidup ditengah-tengah Massa dan memimpim Massa untuk bersama-sama menudju dan mentjapai tjita-tjita perdjungan Kemerdekaan Indonesia, jang sutji-murni dan mulia.
III. Usahakanlah kerdjasama jang sebaik-baiknja dengan golongan kaum Agama, golongan Sosialis dan golongan gerakan Nasionalis lainnja.
IV. Bangunkanlah, pimpinlah kembali gerakan-gerakan Buruh, Tani, Pemuda, dll dan usahakanlah sebaik-baiknja untuk mendekati dan mensatukan Massa itu didalam badan-badan /organisasi dengan pimpinannja jang benar-benar dapat/tjakap memegang pimpinan organisasi dengan sebaik-baiknja.
                 Demikianlah sebagai keringkasannja sadja tentang isinja dokumentasi, jang diberi title: “PARI DAN KAUM INTELEKTUAL INDONESIA” tadi, disamping pemandangan-pemandangan umum jang sudah tertjantum pula dalam manifesto PARI.
                 Setibanja saja kembali di Singapura pada awal Agustus 1927, maka sebahagian dari dokumentasi/siaran-siaran PARI ini, sudah dikepitkan/diselundupkan oleh Siti Djuriah/kakaknja Maswar Madjid bersama-sama dengan buku-buku Naar de Republic Indonesia, De Jonge Geest dan Massa Actie in Indonesia.
                 Begitulah seterusnja, golongan mahasiswa/intelektuil muda disamping Sukarno, seperti Assat, Yamin, Jahja Nasution, Amir Sjarifuddin, dll rupanja sudah dapat diselundupi oleh penjelundup-penjelundup Kandur dan Djamaluddin Ibrahim, sehingga mereka-mereka itu mempunjai buku-buku dan dokumentasi jang berharga itu, zonder diterimanja langsung dari tangan ke tangan, tetapi sudah berada dibawahnja bantalnja, dilatji medjanja, diatas medja tulisnja, dsbnja.
                 Malah kebanjakan pula buku-buku PARI ini masuk ke Djambi, Palembang, Minangkabau dan Banten dengan melalui Mekkah, jakni buku-buku Tan Malaka inipun, banjaklah pula mendapat kesempatan  naik Hadji ke Mekkah dulu baharulah masuk ke Indonesia.
                 Didalam pidato-pidato agitasi propaganda PNI pun sudah mulai sepatah dua patah kata isinja Semangat Muda, Massa Aksi, dll sengadja atau tidak sudah sering-sering terdengar mendengung-dengung dan kadang-kadang sangat lantang bunjinja, jang memang sudah terlukis hitam atas putih lebih dulu dalam buku-bukunja Tan Malaka!!
                 Begitulah pula dalam siaran-siaran Harian di Surabaja, dll sudah pernah pula mereka seolah-olah kutip seluruhnja, kalimat-kalimat Tan Malaka dalam Semangat Muda, Massa Actie, dll.
                 Malah diluar negeri seperti madjalah: Sinar Merdeka djuga diterbitkan di Mesir oleh Mahasiswa disana, seolah-olah dengan sengadja, dengan terang-terangan mereka mengutip isi: Semangat Muda dan Massa Actie.
                 Pada bulan Agustus 1927 pula, kawan Tan Malaka memasuki Pilippina kembali, sedang saja kembali ke Singapura.
                 Pada pertengahan September 1927 djuga, ditangkapnja di Manilla, ijalah hasil pengintaian dari CID Amerika jang sudah kerdjasama dengan PID Belanda sendjak Djanuari 1927, memburu-buru, mentjari-tjari djedjak Tan Malaka diseluruh kepulauan Pilippina, jang menurut pengakuan PID Hindia-Belanda sendiri, sudah sembilan ratus ribu dolar PID Belanda mengeluarkan ongkos selama Sembilan bulan.
                 Tetapi PID Belanda ketjewa karena kapal Tjisalak jang sudah disediakannja untuk melarikan Tan Malaka ke Timor Kupang, sama sekali pertjuma, karena Gubernur Gillmoore/Amerika di Pilippina, terpaksa berkompromi dengan pemimpin-pemimpin di Manilla dengan adanja pemogokan-pemogokan Buruh dan Mahasiswa dari lima buah Universitas di Manilla, mendesak supaja Tan Malaka dibebaskan di Manilla.
                 Hasil kompromi alat Amerika ini ijalah tak berani menjerahkan Tan Malaka kepada Belanda, tetapi minta supaja Tan Malaka dikeluarkan dulu ke Amoy dan kalau pemogokan sudah tak ada lagi baharulah Tan Malaka akan dibebaskan masuk Manilla lagi.
                 Ketika Tan Malaka masuk pelabuhan Amoy dengan kapal Suzanna, alat-alat Kapitalis/Imperialis Internasional sudah siap-siap menangkapnja dan kapal Tjisalak pun sudah lebih dulu pula berlabuh di Amoy mengharapkan supaja Tan Malaka diserahkan kepada Belanda.
                 Tetapi Tan Malaka hilang ghaib, jakni tak dapat didjumpai oleh alat Kapitalis/Imperialis Internasional walaupun segala lobang, segala kamar, segala parka, segala peti, lemari, tong-tong besar-ketjil sudah digeledah, diperiksa dengan sangat teliti oleh mereka.
                 Memang Kapten Kapal Suzanna sudah mendapat pesan dan tekanan keras dari direkturnja di Manilla supaja menjelamatkan sampai ke tangan Fransisco Tan Quan di amoy, dan kalau perlu njawanja sendiri harus dikorbankan untuk kebebasan Tan Malaka.
                 Memang dalam tempo dua menit inilah Tan Malaka mendapat kesempatan melontjat ke perahu dan langsung mendarat di Amoy, menudju rumah kediamannja Francisco Tan Quan jang selalu berpakaian/style cowboy dan selalu mempunjai pistol dipinggangnja karena Tan Quan/Frank ini adalah kepala kampung jang terkenal sebagai djagoan/pahlawan disekitar Amoy, dalam menghadapi aksi-aksi bandit-bandit/perampok-perampok disekitar Amoy.
                 Si Frank ini adalah Pilippino peranakan jakni Tionghoa Amoy, sedang ibunja Pilippino tulen, jang mempunjai kekajaan di Amoy.
                 Dalam akhir tahun 1927 ini pula, saja kirim ke Amoy, Mardjono dan Arief Siregar, jang pada achir tahun 1927 ini djuga, Mardjono dan Arief Siregar kembali ke Singapura sedang Arief mendapat pekerdjaan di kantor pos Singapura dan Mardjono terus ke Barabai bersama Suwarno dan tinggal beberapa bulan di Barabai, sambil mengadjar pada sebuah sekolah partikelir disana jang sudah diusahakan oleh Munandar/adiknja Sukindar.
-->
                      PARI 1928.
             Pada permulaan tahun 1928, berangkatlah pula Djamaluddin Ibrahim/Rahman untuk mengambil kursus dari Tan Malaka di Amoy, tetapi Sarosan lantas membontjengi Rahman karena dia mendengar / tahu bahwa Rahman akan menemui Tan Malaka di Amoy, walaupun saja tadinja sudah memperingatkan Rahman supaja keberangkatannja ke Amoy djangan sampai diketahui oleh Sarosan. Soal utama ketika itu ijalah soal perongkosan pulang pergi dan ongkos selama disana, jang saja sendiri sudah amat pajah untuk mentjarikan perongkosan-perongkosan/keuangan, baik tambahan ongkos Tan Malaka di Amoy, baikpun tambahan untuk ongkos penerbitan madjalah OBOR (organ PARI) dll. Apalagi pula kota Singapura sudah tambah sempit / sulit bagi saja, karena sesudahnja Tan Malaka ditangkap di Manilla bulan September 1927 jang baru lalu, maka dengan sendirinja pengawasan/perhatian CID Singapura mendjadi aktif dan tambah besar sekali, sehingga saja terpaksalah menjingkir ke Malaja untuk satu dua bulan, sambil mendjual-djual firman-firman/hadis-hadis pula kembali ijalah untuk menjelamatkan diri dan djuga untuk mendapatkan sedekah-sedekah, zakat dan sokongan-sokongan dari orang-orang jang punja dan dermawan.
                 Sepulangnja Rahman dan Sarosan dari Amoy, maka pertengahan tahun 1928, Sarosan masuk ke Djawa Tengah dan Djamaluddin Ibrahim menjelundup masuk lagi ke Sumatera Barat dan terus berlajar ke Djakarta dengan setjara berpulang ganti-berganti dengan Kandur jang kebanjakannja mondar-mandir antara Sumatera Barat dan Sumatera Timur, sedang Djamaluddin Ibrahim mondar-mandir antara Djakarta, Singapura, Pekan Baru dan Padang.
                 Sesudahnja Maswar Madjid mendapat pekerdjaan lagi sebagai kerani di Barmer Export/Maatschpij Djerman, tempatnja Tan Malaka bekerdja pada bulan December 1926, maka sajapun dapatlah sedikit kelonggaran jakni mendapat pertambahan tempat, ataukah kamar lagi di Singapura.
                 Maswar Madjid dapat menjewa sebuah rumah petak di Joo Chiat Road/Djalan ke Tandjung Katung, sedang saja sendiri bekerdka pada sebuah bengkel oto di Joo Road pula, ijalah bengkel Ali dan Saat sahabat baiknja Pak Said pula.
                 Kebetulan Ahmad Djohan Sekertarisnja Gubernur Singapura, anaknja Sjech Taher Djamaluddin Al-Azhari, ketika itu tinggal dekat Joo Chiat Road pula, sehingga saja dengan mudah dapat menghubungi Achmad Dhohan ijalah untuk memperkatakan bagaimana usaha untuk melepaskan Sjech Taher jang sudah ditangkapnja, dibawanja dan dimasukkannja tahanan pendjara Bukit Tinggi, Padang sedjak achir tahun 1927.
                 Rupanja Sjech Taher sudah dapat dipantjing/panggil oleh Hadji Abdullah Ahmad Fady Sjech Djambek dan Hadji Rassul, bahwa akan diadakannja Kongres Besar Alim Ulama seluruh Sumatera di Medan dan sesudahnja Sjech Taher datang ke Medan, ternjatalah ia ditipu oleh kawan-kawanja Kongsi Tiga jang mendjadi kaki tangan imperialisme Belanda itu jakni Sjech Taher terus ditangkapnja di Medan dan dibawanja ke Bukit Tinggi dan terus dimasukkannja ke pendjara Bukit Tinggi jang kemudian ditahannja dalam pendjara Padang, karena akan dibuang ke Digul, katanja.
                 Sesudahnja saja mendengar seperlunja tentang penangkapan dan dibuangnja ke Digul Sjech Taher itu, maka saja tulislah seri artikel jang diterbitkan oleh Bintang Timur Parada Harahap, dengan disertai foto oleh saudara Darwis Batu, sebagai penulisnja dan dengan nama samaran saja Tunarman.
                 Dalam seri artikels saja jang bertanda Tunarman itu, saja bentangkanlah seluas-luasnja sedjarah hidup Sjech Taher, jang sudah hidup di perantauan Mesir, Mekkah dan kemudian terus ke Malaja, sedjak dua puluh tahun jang lampau, jang sama sekali Sjech Taher itu, buta politik, buta Komunisme. Bagaimana pula akan menuduh Sjech Taher seorang Komunis Besar, padahal seumur hidupnja tak pernah mempeladjari Komunisme dan terbukti pula, selama dua puluh tahun Sjech Taher di Malaja, toch tak pernah Inggris menuduh beliau sebagai orang politik apalagi sebagai seorang Komunis.
                 Selandjutnja dalam seri artikels saja gugatlah, saja telandjangilah Kongsi Tiga di Minangkabau itu bahwa kalau bukanlah usaha-usahanja Sjech Djambek, Hadji Rassul dan Hadji Abdullah Ahmad untuk melampiaskan nafsu keantiannja dan kemarahannja kepada Sjech Taher, jang ketika tahun 1923-1924, Kongsi Tiga ini menjandjung memudja-mudja Sjech Taher setinggi langit, kenapa mereka berdiam diri, tutup mulut membisu, kalau bukanlah mereka, Kongsi Tiga sendiri, kaki tangannja Belanda dan Pendjilat-Pendjilat Besar itu?
                 Ketika Parada Harahap menerima tulisan-tulisan saja jang pertama-tama maka atas nama Harahap sendiri, Ketuanja, maka atas nama Sumateranen Bond, Parada Harahap menuntut dibebaskannja Sjech Taher Djalaluddin Al-Azhari karena tuduhan, bahwa beliau Komunis, adalah tuduhan palsu semata-mata.
                 Maka dengan proses Sumateranen Bond itu, besluit interneering ke Digul, sudah diadjukan oleh Komisi Tiga dengan Gubernurnja di Sumatera Barat itu, ditolak Gubernur Djendral dan Sjech Taher segera dibebaskan dan dipulangkan ke Malaja.
                 Setelahnja Sjech Taher bebas dari usaha maut pendigulan dan bertemu kembali dengan saja di rumah anaknja keluarganja, maka Achmad Dhohari mendjelaskan kepada ajahnja, bahwa beliau inilah jang membebaskan ajah dan bukanlah Sultan-Sultan Malaja seperti jang ajah sangka semula, sehingga Sjech Taher terpaksa menundukkan mukanja mengutjapkan 1001 terima kasih, Alhamdulillah, Barakallah jakni mendoakan saja, supaja diberkati Tuhan.
                 Hanja sadja semendjak saja mengirim seri artikels ke Bintang Timur Parada Harahap, dengan sendirinja Bintang Timur popular di Malaja dan Darwis Batu jang fotonja saja kirimkan  kepada Parada Harahap dengan nama samara Tunarman terus mendapat kiriman gratis terus-menerus ijalah dengan alamat: Arab Street 132 Singapura.
                 Tetapi hasilnja jang sudah njata ijalah Sjech Taher sedikit banjaknja, saja mendapatkan tempat perlindungan/berteduh, baik di Selangor, Perak, Negeri Sembilan, baikpun di Djohor dan Penang, sedang sambil lalu pula saja dapat menelandjangi penghianat besar Ulama Palsu dan ninik-mamak palsu di Minangkabau jang memang mendjadi penghianat besar bagi Perdjuangan Kemerdekaan Indonesia, jakni mendjadi tongkat kaki-tangannja imperialisme Belanda, ijalah manusia-manusia seperti Hadji Abdul Karim Kamarullah alias Hadji Rassul dari Danau Manindjau, Hadji Mohammad Djamil alias Sjech Djambek di Bukit Tinggi, Hadji Abdullah Achmad di Padang, Jahja Datuk Kajo dari Kota Gadang Pandjang, Darwis Datuk Madjo Koto dari Lubuk Basung, Rusad Datuk Nan Baringek dari Kota Nan Gadang Pajakumbuh, dll
                 Lain dari pada itu gaung hariannja Harahap mendapat kemadjuan besar di Malaja dan di Sumatera, sesudahnja tulisan-tulisan jang bertanda Tunarman dan Kaukita jang kedua-duanja ini adalah nama samaran saja di Bintang Timur, Parada Harahap sendiri tentu tak mengetahui bahwa corespondennja di Malaja jang bertanda Tunarman dan Kaukita itu adalah Djamaluddin Tamim sendiri.
                 Pada awal September 1928 tepat pemondokan Tan Malaka di Amoy sudah ditjium, sudah didekati, di intip pula oleh spion–spion internasional di Amoy, sehingga Tan Malaka terpaksalah menjingkir ke desa pedalaman Amoy.
                 Pada 7 September 1928 Maswar Madjid sudah ditangkap di kantor Barmer Export dan terus digiring polisi CID pulang kerumahnja di Albert street jang baru sadja dua minggu kami sewa, jakni baru pindah dari Joo Shiat Road, kebetulan sadja saja tak didapati mereka, karena saja sedang keluar bersama saudara Umar Giri alias Abdul Rahman, tetapi ketika saja akan kembali ke rumah bersama-sama Abdul Rahman dari djauh sudah kelihatan si Djambul/Gulan Ali Inspektur CID disimpang djalan Albert Street, Prinsin Street dan Serangan Road sudah ada kaki tangan Gulan Ali jang terus memperhatikan kami berdua.
                 Rupanja Gulan Ali/si Djambul jang ada disitu ragu-ragu akan menangkap saja dan kami pun seperti biasa terus menudju Serangan Road, tetapi terus sadja ada jang kuntit saja, sedang uang kami dikantong kami berdua ketika itu hanjalah dua ketip sadja.
                 Saja sendiri terus dikuntit, dikedjar-kedjar sampai ke kampung Gelam, djalan Sultan dan sambil lari itu dapatlah uang satu dollar dari Darwis Batu dan dengan satu dollar inilah saja dapat mengambil Taxi dan terus ke Bedug, Tandjung Katung ijalah kepondoknja Umar Giri/Abdul Rahman, jang kebetulan saudara Umar Giri sudah tiba duluan di Bedug.
                 Pada malam 7/8 September itu djuga, dapatlah berita-berita jang djelas dari Subandi alias Slamet alias Mohamad bahwa Maswar Madjid sudah ditangkap dan surat-surat/kiriman-kiriman dari Amoy sudah dirampas CID dikantor pos dan addressnja Maswar Madjid di Toh Tja Tjui jang memakai nama Liun Ah Tang ijalah beberapa buah buku Naar Republic Indonesia dan Semangat Muda jang dilampirkan oleh Tan Malaka Harian China News keluaran Shanghai.
                 Saja sendiri pada besok paginja 8 September 1928, terpaksalah menjingkir ke Malaja untuk satu dua bulan jang sesudah satu dua bulan, masuk kembali ke Singapura, tetapi kebanjakannja saja bermalam dan pindah-pindah dari satu lodging house ke lain lodging house ijalah mengikuti kawan-kawan kelasi, djuru mudi dan serang, baik-baik kapal-kapal besar round the world, baikpun round Asia sadja.
                 Dari kawan-kawan kelasi kapal, matros-matros kapal ini, saja banjak sekali dan mudah sekali kalau hanja untuk ongkos 5-10 dollar sehari jang memang uang ditangannja kelasi-kelasi kapal selalu panas, tak dapat dikantongi lama oleh mereka, karena kehidupan mereka umumnja sudah terlibat foja-foja, main djudi, minum-minum, mabok-mabokan sadja.
                 Sementara itu usahanja Umar Giri, bersama Subandi dan Rahman Djamal/Djamaluddin Ibrahim sudah dapat pula membuka sebuah took rokok kretek merek Murya Geylang Road, sehingga kehidupan saudara Umar Giri pun sudah agak tenang, tenteram, karena mempunjai ekonomi keuangan jang agak lumajan karena mendapat djalan untuk menjelundpkan rokok kretek dan tjerutu dari Tandjung Uban/Riau.
                 Djadi semendjak achir tahun 1928 sesungguhnja kalau menghadapi soal-soal penting jang membutuhkan uang sekedarnja, memang sudah terasa agak longgar, lapang rasanja dada saja, karena semuanja kawan-kawan itu sudah mempunjai usaha dan pekerdjaan jang hasilnja tjukup bukan sadja untuk kebutuhan hidup masing-masing tetapi dapat pula mengirimi, membantu Tan Malaka jang sebentar pindah lari kedaerah pedalaman Tiongkok dan terpaksa memutuskan/menstop pula hubungannja baik dengan Bangkok, Manilla baikpun dengan saja di Malaja dan Singapura jang selama ini, walaupun hubungan-hubungan kami sering terputus sampai dua-tiga bulan, karena hubungan saja, pos-pos/perantara baik di Amoy, Shanghai, baikpun di Manilla dan Bangkok, Malaja boleh dikata tak pernah terputus.
                 Maswar Madjid sesudahnja ditahan tiga bulan di Singapura maka Maswar Madjid dikarenakan banishment, jakni dikembalikannja ke tempat asal, ijalah ke Djakarta pada bulan December 1928, jang setibanja di Djakarta, terus masuk tahanan PID Hindia-Belanda dan dibuang ke Digul pada bulan September 1929.
                 Maswar Madjid adalah korban PARI jang keduanja jakni sesudahnja Tan Malaka ditangkap di Manilla pada bulan September 1927, sedang Maswar Madjid adalah korban PARI pertama-tama jang dibuang di Digul.       
                      PARI 1929
-->
                 Pada achir tahun 1928, Mardjono Sunarjo sudah bertolak dari Barabai menudju Surabaja, jakni dengan meninggalkan Munandar di Barabai jang memimpin sekolahnja di Barabai, sedang di Bandjarmasin Mardjono mengadakan satu pos/perantaraan, kirim-mengirim dengan Singapura, ijalah dengan nama Hajatullah seorang pegawai kantor pos Bandjarmasin.
                 Mardjono-Sunarjo segera mendapat hubungan-hubungan dengan kawan-kawan hoofd kandaktur Danu Diwinjo, Reksowijono, Supardi, dll djuga mondar-mandir antara Djakarta-Surabaja, Semarang-Surabaja.
                 Dalam tempo tiga bulan sadja maka kawan-kawan anggota VSTP lama segera aktif membangun VSTP, sehingga dalam kalangan Kaum Buruh Kereta Api sadja kawan-kawan Mardjono-Sunarjo dan Sarosan di Djawa Tengah, sudah dapat aktif kembali sehingga diseluruh Djawa dari kalangan Buruh Kereta Api sadja sudah ada tiga ratus lima puluh orang jang segera nampak aktif kembali dalam kalangan Buruh Kereta Api/VSTP.
                 Kesulitan-kesulitan dan kekurangan-kekurangan kader-kader jang benar-benar sudah agak mendalam kejakinannja jang berdasarkan ideology Komunisme, tjerdas dan dengan sungguh-sungguh dengan sepenuh hatinja untuk memasuki lapangan Massa perburuhan dari sehari ke sehari, memang terasa benar kesulitan-kesulitan dan kekurangannja.
                 Tuntutan/permintaan dari Palembang/Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, untuk memasuki/mendekati kembali gerakan-gerakan Agama Sumatera Timur/Medan, Riau, Pontianak, Bandjarmasin dan Djawa Barat, meminta kader-kader pemimpin-pemimpin Massa Buruh, Tani, dsbnja sudah mulai banjak, sedang tenaga jang ada di Singapura, hanjalah dapat diharapkan untuk menjelundupkan buku-buku, surat-surat siaran sadja, jakni hampir tak ada jang mempunjai inisiatif sendiri, jang mempunjai kejakinan sepenuhnja, untuk mengorbankan kehidupannja seluruhnja untuk meneruskan perdjuangan Kemerdekaan.
                 Lebih-lebih lagi pelarian-pelarian dari Sumatera Barat hampir rata-ratanja sudah patah hatinja, jakni ternjata sesudahnja mereka mendapat tempat berlindung dan sudah mendapat kedudukan njaman hidup di Malaja, maka semuanja mereka itu sudah takut pula dan lupa sama sekali kepada perdjuangan Kemerdekaan.               
                        Malah-malah kalau mereka sudah mendapat hasil sedikit-banjak maka mereka teruslah naik Hadji ke Mekkah jang tentunja banjak jang bernaung di Mekkah sampai bertahun-tahun ataukah mengembara bertualang di negeri-negeri Arab, India, dll dan sesudahnja Indonesia kelihatannja aman, baharulah mereka pulang kekandangnja kembali.                                                          
                 Dari itu mau tak mau, bisa tak bisanja memenuhi permintaan kader tadi, maka tenaga jang ada pada beberapa orang sadja itu terpaksalah keliling, menjelundup sana sini terus menerus, walaupun kesempatan dan hasil-hasil jang didapatnja hanja dengan menjampaikan surat-surat, buku-buku, siaran-siaran itu djuga.
                 Tetapi satu hal jang sudah njata pula bahwa tiap-tiap penjelundup/duta rahasia PARI dapat mendekati pemimpin PNI/Sukarno, PNI/Pendidikan Nasional Indonesia, baikpun pemimpin-pemimpin gerakan-gerakan Islam/Agama, Golongan-golongan Intelektuil Pemuda, dll, maka buku-buku, siaran-siaran dan dokumentasi PARI mendapat sambutan dan simpati sepenuhnja dari mereka itu, jakni tak pernah/tak ada seorang pun djuga jang menjerahkannja langsung kepada PID.
                 Malah-malah para pemimpin-pemimpin ikut mempropagandakan PARI dengan tulisannja, dalam pidato-pidatonja mengutip kalimat-kalimat dari buku Naar Republic Indonesia, De Jonge Geest, Massa Actie in Indonesia, madjalah OBOR/PARI, dan dokumentasi PARI.
                 Dengan tak disangka pula oleh saja, maka dalam menghadapi kelantjaran jang pertama ini maka pada Djuli 1929 terdjadi penangkapan besar-besaran dalam kalangan Buruh Kereta Api di seluruh tanah Djawa jang berdjumlah kurang lebih tiga ratus lima puluh orang diantaranja ijalah Hoofd Kondektur Danu Diwinjo, Rekso Wijono/Ngadimin, Sutedjo di Tjepu, Mardjono-Sunarjo di Surabaja, Munadar di Barabai, Sarosan di Solo dan ratusan pegawai/Buruh Kereta Api, dll jang ditangkapnja di Semarang, Djogja, Solo, Madiun, Kediri Tjirebon, Bandung dan Djakarta.
                 Pokok pangkal terdjadi penangkapan besar-besaran ini ijalah penghianatan Sarosan sendiri, jakni sesudahnja Danu-Ngadimin sudah siap-siap hendak membunuh Sarosan, lantara Sarosan melakukan perbuatan mesum, hina terhadap istrinja kawan di Solo, sedang Danu-Ngadimin saking malunja kepada kawan-kawan itu tak ada lain djalan hanjalah mesti membunuh Sarosan keparat jang mempunjai perangai keandjingan maka larilah ia kepada polisi, sambil menangis/ketakutan seperti orang gila sehingga polisi segera menangkap Danu dan Ngadimin, sedang dalam dalam dokumentasi/surat-surat jang dibeslag oleh polisi Solo/Djogja didalamnja rumah Danu-Ngadimin terdapatlah surat-surat hubungan dan daftar nama pemimpin-pemimpin Buruh Kereta Api jang akan dan jang sudah dihubungi oleh Danu, Ngadimin, Sarosan, Mardjono, Sunarjo, dll.
                 Lain daripada itu PID pun mendapatkan bukti-bukti pula bahwa surat-surat/dokumentasi dan siaran-siaran itu, salah dimasukkan dari Singapura dengan perantaraan Mardjono, Sunarjo, Munandar dan Sarosan sendiri. Tidak lama sebulan antaranja, sesudah penangkapan-penangkapan Mardjono, Danu, Ngadimin, dll itu maka sudah terlihat dan terasalah pula oleh saja di Singapura, karena rombongan PID Visboon dan CID Chand Singh sudah kembali heboh, sibuk pula kelihatannja dan Pak Said pun sudah membisikkan pula kepada saja, walaupun belum saja tjeritakan kepadanja sama sekali tentang terdjadinja penangkapan besar-besaran di Djawa.
                 Mengingat keadaan-keadaan dan pengintipan-pengintipan serta pengedjaran dan penguntitan-penguntitan sudah selalu mendekari penangkapan atas diri saja, maka terpaksalah saja, kota Singapura jang ramai dan lebar itu, tidak mengizinkan saja lagi untuk mengindjaknja, walaupun dengan sebuah telapak kaki sadja. Dari itu mulai Agustus 1929, saja mendesak seorang kawan jang sudah mendjadi Serang di kapal Darvel, supaja saja seketika itu djuga turun kekapal Darvel, untuk menggantikan seorang kelasi kapal jang bernama Jakoub, asal Mandailing/Tapanuli, jang memang dengan perantaraan kawa-kawan Salim Harahap dan Abas Siregar sudah ada perdamaian/persetudjuan dengan Jakoub tersebut.
                 Serang kapal Darvel, Karim namanja, jakni seorang baba Islam, lama djuga Serang ini tapekur/termenung karena melihat saja seorang kelasi baru, jang belum pernah mengalami hidup mendjadi kelasi kapal dan ditambah pula oleh badan saja jang kelihatan kurus putjat, jang memang baru sadja sembuh dari aanval malaria jang positif, jang baru sadja bangkik dari pembaringan, tetapi disebabkan tekanan bebeapa kawan-kawan djuru mudi dan kelas kapal Darvel itu sendiri maka seorang Karim terpaksa menerima saja untuk menggantikan Jakoub.
                 Bagi saja sendiri, memang pekerdjaan kelasi kapal ini, adalah satu pekerdjaan jang asing, baru dan berat bagi saja sendiri tetapi mengingat keadaan dan tak ada djalan lapang lain lagi untuk memelihara dan memegang pimpinan pangkalan PARI/Sentra Eksekutif/EK PARI di kota Singapura ini, maka saja pikul dan hadapi dengan dada terbuka dengan sepenuh hati, segala pengorbanan dan penderitaan jang dibutuhkan oleh PARI.
                 Baru sadja antara sebulan saja mondar-mandir dilautan antara Singapura-Zamboanga/Mindanau, terdengarlah berita buruk, jang amat mengedjutkan dan menjedihkan hati pula, ijalah ditangkapnja Subakat di Bangkok/Siam atas pengundjukannja Konsul Belanda di Bangkok, jang diterimanja dari Hadji Djalaluddin, seorang pelarian koruptor dari Malaja, ijalah seorang guru agama Islam, asalnja dari Pajakumbuh/Sumatera Barat jang sudah lama tinggal di Djonderan/Malaja, jang melakukan korupsi, jakni menghabiskan uang Serikat/Koperasi di Malaja.
                 Sjech Wahab Achamad memang sudah melakukan kesilapan jang besar dalam hal ini, ijalah Hadji Jalaluddin langsung ditampungnja, ditolongnja langsung dengan guru-guru Tha Chuang Wangna dan Subakat, padahal saja sebelumnja sudah membuat djandji dengan Sjech Ahmad Wahab, bahwa beliau tak akan memperkenalkan/memperhubungkan Subakat dengan siapa sadja, terutama jang datang dari luar Siam, sebelumnja beliau mendapat persetudjuan dari saja.
                 Belum antara enam bulan Hadji Djalaluddin dipelihara/dibantu oleh Sjech Achamad Wahab di Bangkok, rupanja Hadji Djalaluddin jang murtad itu, laknat dan terkutuk ini sudah mempunjai hubungan rahasia dengan Konsul Belanda dan PID Belanda di Bangkok.
                 Pada pertengahan September 1929 sebagai akibat penghianatan Hadji murtad, laknatullah jang terkutuk itu, maka ditangkaplah Subakat di Tha Chang Wangna dan dibeslaghnja/disitanjalah seluruh surat-menjurat, dokumentasi PARI.
                 Parket Hindia-Belanda segeralah datang ke Bangkok membuat perdjandjian baharu antara PID Keradjaan Belanda – PID Keradjaan Siam, akan kerdjasama/membantu dalam lapangan politik.
                 Maka dengan disjahkan Undang-Undang baru, ataukah Perdjandjian Baru inilah, kawan Subakat diserahkannja kepada Parket Hindia-Belanda pada bulan December 1929, sedang Sukarman sendiri (Wedana PID Semarang) jang Belandisnja lebih lagi dari Belandis totok, jang terkenal paling reaksioner, paling kedjam, ijalah jang membunuh Sugono dalam pendjara Pekalongan pada bulan Maret 1926, ikut serta menerima kawan Subakat dari PIDnja Pemerintah Siam.
                 Si Hadji Djalaluddin, Hadji Kapir Laknat-Murtad jang terkutuk itu mentjobalah pula mentjari saja dan menghubungi kawan-kawan PARI di Singapura, tetapi kawan-kawan sudah mengetahuinja lebih dahulu sehingga si Hadji Lakanatullah jang terkutuk ini tak mendapatkan apa-apa di Singapura.
                 Hanja sadja jang sudah terang, ijalah kota Singapura sudah bertambah sempit dan sulit djuga untuk keselamatannja kawan-kawan PARI.
                 Begitulah pula bagi kawan Tan Malaka di kota Amoy dan sekitarnja Foochow jang terletak dipinggir pantai tanah bonus maha luas itupun, mendjadi sempitlah pula bagi Tan Malaka, sehingga pada achir tahun 1929 djuga, kawan Tan Malaka mentjari tempat berlindung berteduh di kota Shanghai, jang mempunjai penduduk empat djuta itu.
                  Didalam suasana jang amat sulit dan menjedihkan ini, maka pada achir December 1929, kapal Darvel jang baru lepas dari pelabuhan Sandakan/British North Borneo, maka Darvel naiklah/memandjatlah sebuah pulau ketjil jang penuh ditumbuhi hutan bakau, jakni dekat pulau Berhala, jang kebetulan pula ketika itu baru habis tahun baru Tjina, dan pasang naik amat tinggi sekali sehingga pulau-pulau ketjil jang merupakan hutam rimba bakau itu terendam sama sekali.
                 Selama tiga bulan kapal Darvel kandas di pulau ketjil, depan pelabuhan Sandakan dan selama itu saja terikatlah, terpautlah diatas kapal Darvel, jang sudah pasang surut, maka lambungnja kapal Darvel seluruhnja melekat diatas pasir.
                 Tetapi antara seminggu sadja sesudahnja Darvel kandas dan pasti akan lama baru dapat lepas dan kandasnja, maka saja bikinlah tjarilah Bapak Angkat/Ibu Angkat saja di Sandakan, ijalah seorang asal dari Bugis/Makassar jang membuka kedai nasi dan penginapan di kota Sandakan.
                 Dari Sandakan saja hubungilah Manilla, Amoy dan Shanghai sehingga saja dapat berhubungan langsung dengan kawan Tan Malaka jang sudah berada berada di kota Shanghai kembali.
                 Begitulah hubungan surat-menjurat dengan Singapura, Malaja pun saja hubungi terus dengan memakai addressnja Pak Mahmud, ijalah Bapak Angkat saja jang dari Bugis tadi.
                 Demikianlah pula pengalaman-pengalaman pahit manis, penderitaan jang penih-pedih jang achir-achir tahun 1929, jakni akan memasuki tahun 1930.
                 Patutlah kiranja saja tambahkan disini, bahwa disamping penangkapan jang langsung terhadap anggota PARI pada bulan Djuli 1929 terhadap Danu Diwirjo, Ngadimin, Mardjono Sutedjo dan penangkapan-penangkapan Subakat di Bangkok pada bulan September 1929, jang memang penangkapan sangat merugikan PARI, maka penangkapan-penangkapan terhadap pempimpin-pemimpin PNI jakni Sukarno, Gatot, Maskun, Suprijadinata di Bandung pada bulan December 1929, baik direct, baikpun setjara indirect memang kami pimpinan PARI pun merasakan semuanja itu sangatlah merugikan perdjuangan PARI/Perdjuangan Kemerdekaan Indonesia.
                 Djadi dalam tahun 1929 ini, PARI mendapatkan pukulan-pukulan jang dahsjat berat benar-benar, ijalah dengan terjadinja penangkapan-penangkapan besar-besaran pada bulan Djuli 1929, kemudia Subakat, September 1929 dan disusuli pula oleh penangkapan Sukarno cs di Bandung pada bulan December 1929.
                            PARI 1930.
-->
                 Dalam tulisan saja jang lampau sudahlah djuga saja djelaskan bahwa kami “Tunku Tiga” ataukah jang biasanja pula kami sebut-sebut: Kongsi Tiga, pembentuk PARI di Bangkok pada 2 Djuni 1927, jang djuga Kongsi Tiga ini djuga merupakan badan Sentral Eksekutif Komite/SEK dari PARI, maka sendjak awal Agustus 1927 djuga Kongsi Tiga ini sudah perpisahan djauh antara satu dengan lainnja, jakni Subakat tetap di Bangkok, Tan Malaka kembali ke Manilla dan saja/Djamaluddin Tamim kembali ke Singapura dan mendjadi pendjaga pengawas/pengawal dan pemimpin dari SEK/Sentral Eksekurif Komite dan PARI jang memang djadi kota Pangkalan.
                 Semendjak Agustus 1927 itu pula kami, selalu hubungan surat-menjurat, sehingga segala sesuatu dapatlah diketahui dan diikut oleh kami bertiga, jakni perpisahan demikian djauh, kami merasa seolah-olah masih berkumpul/bersatu sadja, seperti keadaan kami di Singapura dalam tahun 1926 sadja.
                 Tetapi dengan ditangkapnja Subakat pada bulan September 1929 jang baru lalu, maka teranglah sudah bahwa Tungku Tiga Sodjarangan, ataukah: Kongsi Tiga itu, hanjalah tinggal dua orang sadja lagi, jakni Tungku Tiga itu sudah mengalami keruntuhan jang besar sekali, dengan ditangkapnja Subakat.
                 Apalagi pula, pangkalan SEK jang berada di Singapura, sudah terpaksa pula saja tinggal-tinggalkan jakni saja terpaksa mondar-mandir dilautan, sedang SEK Singapura saja serahkan pula untuk memeliharanja kepada Rahman Djamal dan Omar Giri/Abdul Rahman dan dibantu Arief Siregar, Darwis Batu dan Adam Second, dll.
                 Pada tanggal 5 Februari 1920, tersiarlah beriita bahwa kawan Subakat sudah dibunuh mati andjing imperialisme Belanda dalam kerangkeng pendjara ketjil didalam bui Glodok, sedang andjing-andjing imperialisme Belanda di Indonesia membuat siaran, bahwa Subakat sudah gantung diri/bunuh diri dalam Pendjara Glodok pada 5 Februari 1930.
                 Dari itu tiap-tiap tanggal 5 Februari, adalah hari duka tjita/hari berkabung bagi PARI.
                 Pada achir bulan Maret 1930 baharulah kapal Darvel dapat terlepas dari kandasnja disebuah ketjil dekat pulau Berhala/Sandakan dan pada pertengahan April baharulah kapal Darvel berada kembali di Singapura.
                 Sementara saja menantikan kapal Darvel keluar dok, maka diterimalah pula berita dari Tanek alias Daya Jusuf/Alyasin bahwa ia sudah terpaksa pula meninggalkan rumah tangganja/anak istrinja di Keradjaan Sembilan, karena kelihatan pula tanda-tanda bahwa CID Malaja sudah mendapat tenaga baru, ijalah Abdullah bin Hadji Isa ini memang sudah mengetahui pula bahwa Daya Jusuf/Alyasin ini adalah Komunis pelarian Sumatera Barat.
                 Alyasin menjatakan pula dalam suratnja, apabila Keradjaan Sembilan tak mengidjinkan pula untuk berlindung lagi maka Alyasin pun segera akan menjelundup ke Singapura dan akan terus turun kapal jakni untuk mendjadi kelasi kapal pula bersama-sama dengan saja.
                 Dengan sendirinja pula, kalau Alyasin di Malaja sudah demikian pula keadaannja, maka perhatian CID terhadap sajapun, bertambah-tambah dekat, bertambah-tambah rapat djuga, jakni tanah daratan djuga, jakni tanah daratan kota Singapura sudah tak mengidjinkan kaki saja mengindjaknja barang setapakpun, tentulah dalam sedikit hari lagi, rumah tangga saja jang mondar-mandir di lautan inipun akan terpaksalah pula saja tinggalkan dan akan mendarat dimanapun sajapun tak dapatlah menentukan dan mendjawab sekarang.
                 Dari itulah lain daripada itu, perhatian CID terhadap surat-surat keluar masuk dari Singapura ke Shanghai, Amoy, Hongkong, Bangkok, dll sudah mendjadi perhatian CID pula selalu dan memang kelihatannja sadja bahwa si Mehta Pritvi Chand dan Balwan Singh, jakni Chief Inspectur CID sendiri, sudah selalu ikut pula sensor surat-surat di General Post Office Singapura.
                 Dari itulah makanja saja selalu usahakan pula supaja surat untuk Shanghai kepada Tan Malaka itu, kadang-kadang diposkan di Kuala Lumpur, di Ipoh, Perak, Penang, jakni dikirim/dititipkan kepada kelasi kapal ataukah saudagar-saudagar, sedang surat-surat dari Tan Malaka/Shanghai hanja suruh address kan ke Sandakan, jakni per-addressnja kedai kopi Haylan disana.
                 Memang runtuhnja Sungka Tiga, ataukah Kongsi Tiga kami dengan hilangnja kawan Subakat sedjak awal tahun 1930 ini, sangat-sangatlah melemahkan tenaga kami dan terasa benarlah pula, bahwa mulai memasuki tahun 1930 ini, sudah merasa kesana , tertumbuk djalan buntu kesini kandas, sulit dan kesitu djuga banjak aral melintang disana ada pendjagaan, pengawasan tetap, disinipun demikian, dan sebagainja.
                 Malah hubungan surat-menjurat dengan Djakarta, Palembang, Sumatera Barat, dll, semuanja banjak berkurang dari biasanja, sedang penjelundup-penjelundup/duta-duta jang berkeliling pun sudah mulai agak kurang lantjar pula.
                 Malahan duta Kandur jang tadinja pada tahun 1927/1928, sangat aktif dan terus keliling , maka sudah setahun lebih, mendiamkan dirinja di Bukit Tinggi, jakni tak pernah kemana-mana lagi dan tak pernah pula mengirim laporan ke Singapura, walaupun saudagar-saudagar Bukit Tinggi Sumatera Barat setiap hari sadja keluar masuk Singapura, baik via Pekan Baru, Belawan baikpun via Rengat dan Djambi.
                 Adapun Djamaluddin Ibrahim/Rahman Djamal, selalu sadja siap sedia untuk kemana sadja, tetepi saja tak dapat menjetudjuinja, karena pangkalan Singapura masih sangat membutuhkan tenaganja.
                 Mengingat penangkapan besar-besaran terhadap kaum Buruh Kereta Api pada bulan Djuli 1929, jang dalam pimpinan saudara-saudara Danu-Ngadimin, Sutodjo, dll, sehingga tiga ratus lima puluh orang lebih terus didjebloskannja masuk pendjara Surabaja, Semarang, Solo, Djogja, dll (jang semuanja itu adalah akibatnja penghianatan Sarosan), mengingat penangkapan kawan Subakat di Bangkok, dengan semua arsip (surat-menjurat) PARI ikut disita oleh PID Siam dan Belanda sehingga Subakat dibunuhnja dengan kekedjaman, karena si PID Belanda tidak pernah mendapat djawaban sepatah katapun dari mulutnja kawan Subakat dan mengingat pula bahwa penangkapan terhadap pimpinan PNI/Sukarno, Gatot, dll itu memang Parket Hindia-Belanda pun sudah melihat/mendapat pula tanda-tanda bukti pasti ada hubungan dengan PARI, maka mengingat pula semuanja sangkut-paut penangkapan-penangkapan Djuli 1929/Sukarno cs maka tahun 1930 dalam kehidupan PARI adalah tahun penuh dengan kemalangan-kemalangan, jakni penuh dengan penangkapan-penangkapan seperti jang sudah saja njatakan diatas tadi.
                 Dari itu, tahun 1930 menundjukkan arah, memaksa kami banjak bersifat menanti/menunggu, penangguhan dulu, segala rentjana untuk menjelundup ke Djawa Timur, Djawa Tengah dan Djawa Barat, dan begitu pula untuk menjelundup ke Palembang, dll.
                 Sementara menanti-nantikan redanja angin badai topan itu, tentulah usaha untuk memperkuat diri di Pekan Baru/Singapura sendiri selalu djuga diusahakan/diperkuat. 
                 PARI 1931.
-->
                 Pada trip terachir saja mengikuti kapal Darvel, jakni achir bulan December 1930, saja sudah dapat pula menolong kawan Agam Putih, sudah satu setengah tahun pula dapat pekerdjaan di Tambang Minjak.
                 Kawan Agam Putih sudah memberitahu kepada saja, seorang bernama Limin, berasal dari Silungkang djuga sudah mendapat pekerdjaan di Miri dan menurut Agam Putih, ada kemungkinan bahwa Limin itu adalah pelarian PKI djuga, jakni pelarian dari Silungkang.
                 Saja memang kenal kepada Limin dkk kurang lebih ada sepuluh orang jang dapat melarikan dirinja ke Singapura sesudahnja terdjadinja pemberontakan di Silungkang pada 1 Djanuari 1927 dan sudah sedjak awal tahun 1927 itu pula saja tahu, sudah merasa bahwa pelarian-pelarian dari Silungkang Sumatera Barat umumnja hanjalah untuk menjelamatkan diri semata-mata, jakni tak ada seorang pun dari mereka jang mempunjai paham atau kesadaran politik/ideologis jang agak mendalam, jang betul-betul dapat diharapkan untuk meneruskan Perdjuangan Kemerdekaan ini.
                 Dari itu, Agam putih/Mahmud saja larang djanganlah membitjarakan soal PARI, soal-soal politik dan djanganlah mentjeritakan kepada si Limin bahwa saja bekerdja dikapal/sebagai kelasi.
                 Sekembali saja dari trip terachir ini, maka setibanja kapal Darvel di Singapura pada awal Djanuari 1931 saja menjatakan hendak mendarat dulu kepada seseorang Serang saja dan tak lama antaranja jakni dalam bulan Djanuari 1931 djuga, saja sudah berada di kapal KISTNA, jakni dari /Maatschapij PoD dengan mengikuti Serang Ismail asal Tapanuli/Mandailing.
                 Kapal KISTNA ini mempunjai lij Singapura-Bangkok, jang biasanja dapat melaksanakan tripnja tiga kali dua bulan, jakni hampir sama sadja dengan trip kapal Darvel dari Singapura-Zamboanga/Mindanao dulu.
                 Hanja sadja tripnja kapal Kistna direct Singapura-Bangkok, sedang tripnja kapal Darvel banjak singgahan pulang perginja jakni Miri, Brunai/Labuhan, Kudat dan Sandakan-Zamboanga/Mindanao.
                 Sesudahnja empat bulan dikapal Kistna, saja sudah dimadjukan Serang Ismail kepada Chief Officer Broadh, seorang Irlandia supaja saja didjadikan djuru-mudi sehingga dalam bulan Mei-Djuni 1931 saja bukanlah sebagai kelasi lagi walaupun gadji saja masih gadji kelasi.
                 Pada bulan Djuli 1931 ketika kapal sedang berlabuh di pelabuhan Tandjung Pagar, saja sudah melihat pula si Djambul/Gulam Ali Inspectur CID itu, dengan empat lima orang pengawalnja, sudah mondar-mandir sadja disepandjang pelabuhan Tandjung Pagar, dengan memperhatikan kapal-kapal jang sedang berlabuh.
                 Tentu sadja hal jang begini langsung mentjurigakan saja dan sudah pikir-pikir akan naik kedarat jakni meninggalkan kapal Kistna seketika itu djuga, tetapi achirnja saja mengambil keputusan supaja kawan Daja Jusuf/Alyasin sadjalah dulu naik kedarat, jakni meninggalkan kapal Kistna, untuk pindah kapal lain lagi karena untuk pindah kepindah antara satu kapal dengan lainnja ini adalah hal jang mudah sadja, karena disemua kapal-kapal itu sudah sahabat baik, kawan baik, walaupun mereka buta huruf, buta politik, buta segala-galanja.
                 Setiba saja di Bangkok, saja bermusjawarahlah dengan Sjech Ahmad Wahab, sedang Sjech Ahmad Wahab, masih tegak sadja pendiriannja, jakni beliau tak takut, tak khawatir sama sekali, walaupun kawan Subakat ditangkapnja ditengah-tengah rumah-tangga/keluarganja Sjech Ahmad Wahab sendiri.
                 Sesudahnja saja timbang-timbang sendiri, segala untung-rugi/buruk-baiknja kalau saja menetap di Bangkok, jakni maka saja mengambil sikap, tetap akan kembali ke Singapura dengan kapal Kistna.
                 Setibanja kapal Kistna di Singapura dan ketika baru sadja antara seratus dua ratus meter kapal Kistna akan rapat di pelabuhan dan dipasang tangga maka si Djambulpun sudah terus memburu-buru naik kapal Kistna. Saja terus memperhatikan gerak-gerik si Djambul, sambil menggulung-gulung tali dan kawan-kawan diburitan, belakangannja kapal Kistna maka segeralah saja melontjat kedarat/ke pelabuhan, jakni zonder mengganti pakaian kerdja jang sudah kotor itu, terus sadja menudju keluar pelabuhan dan terus naik oplet menudju Serangon Road/Berappa Chitty Lane, ijalah kerumah bapak angkat saja Pak Said untuk mengganti pakaian.
                 Sesudahnja mendengar laporan-laporan dan membatja surat-surat dari Djakarta, Palembang, Sumatera Barat, dll maka saja njatakanlah kepada Rahman Djamal dan Abdul Rahman/Umar Giri bahwa saja perlu menjingkir dulu ke Malaja, tetapi tidak ke daerah-daerah Djohor dan Negeri Sembilan lagi.
                 Maksud saja ijalah untuk mentjari pemondokan baharu didaerah keradjaan Selangor, jakni sekitar kota Kuala Lumpur, diantaranja jang saja tudju ijalah Djafar Ali dan Hadji Abbas di Rawang.
                 Kawan-kawan, sahabat handai taulan jang saja sebut beberapa orang diatas tadi ketjuali Djafar Ali di Kadjang, semuanja adalah Angkatan Tua, jakni golongan Alim Ulama dan Tjerdik Pandai di Malaja jang berpaham Kaum Muda, mengikuti siswa-siswa Thawalib dan Dinijah di Padang Pandjang, jang baru sadja saja mengenal mereka, pada bulan Maret-April 1926, ketika pertama kali saja memasuki dan mengelilingi Malaja.
                 Memang hampir diseluruh Keradjaan Malaja, saja sudah hubungan dengan perkenalan baik sekali dengan Alim Ulama utamanja ijalah seperti Hadji Mohammad Ali, Penghulu Agama di Djohor Baru, Hadji Abu Bakar di Malaka, Hadji Is di Lenggang/Keradjaan Negeri Sembilan, Kadi Mohammad Arajad di Ulu Berang/Keradjaan Negeri Sembilan, Hadji Abbas di Rawang/Keradjaan Selangor, Hadji Abdul Halim dan Sjech Taher Djalaluddin Al-Azhari di Penang, dll.
                 Tetapi hubungan saja dengan golonga tjerdik pandai seperti Mohammad Jasir Abdullah, kepala Koperasi di Malaja Serikat/Federated Malaja-States/FKS, dengan Abdul Rahim Kadjai/wartawan Malaja, dll adalah sangat terbatas sekali, jakni memang saja sudah membatasinja sedjak dari mula walaupun kawan-kawan golongan Alim Ulama itu ingin benar hendak memperkenalkan saja dengan golongan Intelektuil/Tjerdik Pandai Tjendekiawan itu.        
                 Pertama-tamanja saja menolak untuk berkenalan dengan para Tjendekiawan itu ijalah lantaran saja sudah mengetahui benar-benar bahwa Tjendekiawan di Malaja itu umumnja berpendapat dan jakni/bahwa imperialisme Inggris dan Keradjaan Islam di Malaja pastilah akan bekerdjasama dengan Inggris sampai kiamat, keduanja, mereka buta politik, ketiganja anti politik, anti Komunisme, sehingga beberapa intellek Malaja jang dapat saja harapkan, jang memang sudah mengetahui benar-benar bahwa Mohammad Junus Abdullah, jang mengaku wartawan/correspondent keliling dari harian “Bintang Timur” pimpinan Parada Harahap itu, adalah Djamaluddin Tamim, ijalah seorang Komunis dari Sumatera.
                 Mohammad Jassin Abdullah adalah seorang Tjendikiawan, jang besar pengaruhnja dalam kalangan Rakjat Murba di Keradjaan Malaja Serikat terutama dan memang kehidupannja sederhana, ramah-tamah, rendah-hati, ahli pidato/pandai bitjara, dan selalu sikapnja duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan Rakjat banjak jakni Intelektuallismenja itu, sama sekali tidak dipergunakannja untuk melebihkan dirinja dan untuk kemewahannja.
                 Hanja Mohammad Jassin Abdullah sendirilah baru, diantara intelektuallis Malaja ketika itu jang sudah mempunjai djiwa imperialisme Inggris, jakni jang sudah mempunjai tjita-tjita Kemerdekaan Malaja jang besar, jang berkobar-kobar dan menjala-njala membakar semangat djantung dan hati pribadinja Mohammad Jassin Abdullah jang sudah lama Jassin Abdullah tak pertjaja kepada Intellek-Intellek Mohammad Jusuf Zaiha, Hadji Abdul Madjid, dll walaupun Abdul Madjid itu seorang Tjendekiawan Besar, Intellek Besar di Malaja dan mamak Paman Kandungnja pula.
                 Mohammad Jassin Abdullah pulalah jang selalu bertentangan/menentang pendapat dan keinginan Abang Kandungnja Kadi Mohammad Arsjad Abdullah jang selalu ingin menarik-narik saja untuk berkenalan dengan Jang Dipertuan Tungku Sir Abdul Rahman dari Keradjaan Negeri Sembilan, untuk berkenalan dengan Tuanku ini dan itu, untuk berkenalan dengan Hadji Abdul Madjid, dll.
                 Tetapi saja pertjaja, bahwa Mohammad Jassin Abdullah tentulah djiwa semangatnja jang anti Imperialisme Inggris itu akan meninggalkan bekas djuga pada djantung hati/djiwa pemuda-pemuda keluarganja jang demikian besar/luas, walaupun Mohammad Jassin Abdullah menemui adjalnja, wafat dalam usia sangat muda, jang baru sadja usia tiga puluh lima tahun.
                 Pada tanggal 31 Agustus 1931 Hadji Abdul Madjid sendiri/pribadi, Kepala CID Malaja dengan tergopoh-gopoh datang menemui Pak Hadji Abbas di Rawang, ijalah menjampaikan tentang hubungannja Pak Hadji Abbas Rawang dengan saja/Djamaluddin Tamim sendiri.
                 Pak Hadji Abbas sendiri memang tak mempunjai rasa takut/khawatir dengan kedatangan Hadji Abdul Madjid, karena antara Hadji Abbas Rawang, Hadji Abdullah Setapak/Kuala Lumpur dengan Hadji Abdul Madjid adalah persahabatan jang merupakan perkawanan jang sangat baik dan intim benar sedjak zaman muda, sedjak zaman mulai mereka masuk sekolah dizaman puluhan tahun lalu itu.
                 Pak Hadji Abbas segera kenapa dan apa halnja makanja Hadji Abdul Madjid menanjakan tentang Djamaluddin Tamim?
                 Hadji Abdul Madjid/Kepala CID Malaja itu, mendjawab dengan tjepat/tegas ijalah begini: Rombongan CID jang dikepalai oleh Chief Inspectur MP Chand, sudah berada di Kuala Lumpur dan memberitahukan kepada saja/Hadji Abdul Madjid untuk bersama-sama menangkap Djamaluddin Tamim besok pagi, 1 September 1931 jang sedang berada di rumahnja Djafar Ali (kemenakannja pula oleh Hadji. Madjid) di Batu 17 Kadjang. Djadi maksudnja saja supaja abang (Hadji Abbas) segera memenuhi/memberitahu Djafar Ali, Pegawai Kantor Listrik di Kuala Lumpur supaja Djamaluddin Tamim segera meninggalkan Selangor, tetapi djangan ke Padang, djangan ke Penang, Malaka dan Singapura dan djangan pula ke Negeri Sembilan, jakni supaja dengan segera hendaknja meninggalkan Malaja.
                 Pak Hadji Abbas seketika itu djuga bersiap untuk berangkat ke Kuala Lumpur bersama Hadji Madjid, terus menudju ke rumah Hadji Abdullah di Setapak jang terletak 3-4 km diluar kota Kuala Lumpur.
                 Hadji Abdullah di Setapak memang terus terang sadja tjarikan kepada kawan-kawannja/Hadji Abbas dan Hadji Madjid, bahwa Djamaluddin Tamim sedjak dua tiga pecan jang achir ini banjak berada di Selangor dan dirumahnja Hadji Abdullah sendiri di Setapak, dan baru sadja dua tiga hari jang achir ini Djamaluddin Tamim/Mohammad Junus Abdullah meninggalkan Setapak.
                 Sesudahnja Hadji Abdullah mengetahui pula, soal suliy dan jang amat membahajakan ini, maka Hadji Abdullah sendiri segeralah berangkat ke Kuala Lumpur menemui Djafar Ali dan supaja Djafar Ali pulang ke Kadjang dengan segera untuk member tahu dan memindahkan Djamaluddin Tamim ke tempat lain.
                 Dengan air-mukanja jang putjat dan ketakutan serba sedih, Djafar Ali segera mentjarikan semuanja berita jang diterima dari Hadji Abdul Madjid dan sajapun memutuskan untuk berangkat bertolak dari Kadjang seketika itu djuga walaupun hari sudah mulai sendja dan waktu bulan gelap pula.
                 Djafar Ali dengan istri serta anak-anaknja semua, jang sudah memandang saja bukan sadja sebagai gurunja dengan panggilan Tua tetapi Djafar Ali sudah memandang saja pula sebagai sanak, sebagai saudara Kandungnja. Dari itulah ketika saja turun dari rumahnja Djafar Ali, mereka sekeluarga membekali saja dengan ratap tangis.
                 Sebuah buku tulis, jang sudah saja tulis penuh, jang isinja penuh dengan rentjana dan Program Nasional untuk menudju kearah Malaja Merdeka terpaksalah saja kepit-kepit djuga, walaupun Djafar Ali sendiri memintanja, karena saja mendjaga, djangan sampai Nasional Program Malaja itu sampai didapati oleh CID di rumahnja Djafar Ali sendiri dan pengertian/paham politiknja Djafar Ali ini masih sangat dangkal benar.
                 Saja bertolak dari daerah Kadjang menudju Kuala Lumpur didalam saat sendja raja/sendja buta pada 31 Agustus 1931 malam, jakni malam 1 September 1931 dengan tudjuan kemana apakah akan terus ke Kuala Lumpur jang djauhnja tudjuh belas kilometer lagi apakah akan kembali ke Kadjang menudju Djenderan, Seromban, Simujah, jakni Negeri Sembilan ataukah kemana?
                 Sesudahnja saja berdjalan kurang lebih lima kilometer didjalan raja jang gelap gulita itu maka disimpang djalan ke Ulu Langat, saja singgahlah kesebuah pondok ditengah-tengah kebun pisang dan minta numpang malam di pondok itu. Keluarga di pondok itu kebetulan orang berasal dari Palembang dan mereka hanja berdua laki-istri sadja dan sesudahnja saja minta air dan sembahjang Isja, maka kedua-duannja Tuan Rumah pondok, sudah heboh memasang, menjediakan tempat tidur untuk saja, karena mereka amat bahagia beruntung sekali mempunjai tamu Alim Ulama jang demikian fasih dan lantang suaranja, ketika mengedjakan surat-surat Al-Fatihah dan ajat-ajat Al-Quran dalam melakukan sembahjang Isja tadi.
                 Begitulah perkenalan jang mendadak /jang tiba-tiba itu seolah-olah sudah merupakan perkenalan jang sudah lama sadja memang umumnja diseluruh Malaja jang penduduknja fanatic Islam itu tentulah dengan amat mudah sekali mempengaruhi dan menarik kasih sajang/simpati mereka kepada saja, karena firman-firman Al-Quran dan hadist-hadist sahih Buchari Muslim begitu lantjar keluar dari mulut saja.
                 Pagi-pagi benar jakni sesudahnja sembahjang Shubuh dan minum kopi, maka saja bertolaklah dari pondok kebun pisang menudju sebuah Halte Kereta Api jang terletak antara 7 kilometer dari pondok tersebut ijalah untuk menumpang kereta api jang menudju Serembam/Negeri Sembilan, sedang kepada keluarga dua laki-istri tadi saja menjatakan hendak ke Hulu Langat, jang djauhnja antara 4-5 kilometer sadja dari pondok pisang itu.
                 Sesudahnja Kereta Api memasuki Keradjaan Negeri Sembilan maka saja sengadja turunlah di Halte Ilir, untuk meneruskan perdjalanan kaki melalui kampung-kampung dan kebun-kebun getah bumi putera Malaja jakni saja menudju Ulu Beranang.
                 Adapun Lampung/daerah Ulu Beranang ini adalah merupakan suatu ketjamatan dalam Keradjaan Negeri Sembilan jang terletak di leran Bukit Barisan jang membudjur ditengah-tengah Semenandjung Malaja dari Barat Laut menudju arah Tenggara Malaja, jakni terletak di perbatasan antar Keradjaan-Keradjaan Selangor, Pahang dan Negeri Sembilan, sedang penduduknja terdiri dari Rakjat asli Malaja, jakni bangsa Sakai dan penduduk jang berasal dari Bondjol/Minangkabau dan dari Mandailing/Tapanuli Selatan.
                 Malah Kepala Kampung Ulu Beranang ini sudah berkenalan dengan saja dan sudah saja hubungi sedjak Maret-April 1926, sehingga sampai tahun 1931 ini penduduk Ulu Beranang semuanja mengenal dan menghormati saja dengan panggilan Tuan (panggilan Tuan ini adalah panggilan kepada Guru-Guru Besar dan Orang-Orang Besar).
                 Dari itulah Bagindo Tenek alias Alyasin segera saja kirim kesana pada tahun 1927 dan saja suruh kawan disana/di Ulu Beranang dengan adiknja Mohammad Jassin Abdullah ijalah jang bernama Sitti Rahma, jang sudah mendapat seorang putri jang bernama Halimat Sa’adijah!!
                 Dari itulah pula, tiap-tiap saja mesti menjingkir dari kota Singapura ke Malaja maka daerah Keradjaan Negeri Sembilan/Ulu Beranang inilah tempat saja beristirahat/bersembunji, selama sepekan-dua pekan, sebulan paling lama, sambil-sambil memimpin/memperbaiki perekonomian penghidupan Rakjat disana, jang memang sangat miskin, sangat morat-marit sesudahnja harga getah merosot, hampir tak berharga sama sekali sedjak tahun 1924.
                 Usaha saja menampung mereka ijalah dengan mengadakan kerdja gotong-rojong, kerdja kolektif jang saja sendiri ikut serta turun kebawah, kebanda, kehutam rimba mentjari perkajuan untuk sekolah-sekolah, surau-surau, Mesdjid, djembatan dan untuk membangun sawah jang sudah puluhan tahun mendjadi sawah/tanah mati lantara tak ada air, lantaran kerusakan irigasi.
                 Dari itu setibanja saja di Ulu Beranang pada 1 September 1931, saja bisikkanlah kepada Labay Al Fattah, Imam Abu, Kadi Mohammad Arsjad, dll di Ulu Beranang, tetapi tidak boleh diketahui oleh orang luat, terutama oleh Abdullah bin Hadji Isa di Longgang karena Abdullah ini mendjadi pembantu atau pegawai CID di Singapura.
                 Bisikan-bisikan saja ini diperhatikan betul-betul oleh semuanja, sehingga kadang-kadang saja lupa bahwa saja adalah seorang pelarian politik, jang sangat ditakuti, diikuti, dikedjar, ditjari terus-menerus diseluruh, kampung, desa, kota-kota diseluruh Keradjaan Malaja dan negeri-negeri its Settlements/Singapura, Malacca dan Penang , walaupun semuanja penduduk itu mengenal saja, Tuan Guru/Tjek Guru Mohammad Junus Abdullah sadja, tetapi angkatan tua, baik ibu-ibu, baikpun bapak-bapaknja sudah mengenal betul-betul bahwa saja adalah seorang pemimpin Komunis dari Sumatera jang bernama Djamaluddin Tamim.
                 Dalam tempo tiga bulan, jakni September-November 1931, hutan rimba raja dilereng bukit barisan itu, sudah selesai menebang/membabat dari pohon-pohonnja jang ketjil-ketjil dan jang besar-besar sudah terdjungkang semuanja dan sudah mulai dapat menanam sajur-sajuran muda, djagung, pisang, dll pada awal December 1931.
                 Kira-kira pada achir-achir bulan September 1931 CID di Singapura sudah perintahkan kepada Hadji Abdul Madjid/Kepala CID Malaja untuk menindjau keadaan dan untuk mentjium-tjium djedjak saja dalam Keradjaan Negeri Sembilan jakni sesudahnja mereka ketjele/tak menangkap saja pada 1 September 1931 dirumahnja Djaffar Ali di Kadjang sedang CID Singapura memang menerima laporan pasti dari Abdullah bin Hadji Isa di Lenggeng itu.
                 Kepala CID Malaja Hadji Abdul Madjid memang mendatangi seluruh Ketua-Ketua Kampung di Ulu Beranang dan djuga sengadja datang ke pondoknja Muhamad Din sebagai pamannja/mamaknja Hadji Abdul Madjid, naik kerumahnja Al Fattah, ke rumahnja Pak Imam Abu, Kadi Mohammad Arsjad, dll, jang semuanja Ketua-Ketua kampung Ulu Beranang ini adalah pertalian darah, pertalian kekeluargaan jang dekat semuanja dengan Hadji Abdul Madjid sendiri. Kebetulan sadja pada hari rombongan CID Malaja itu datang ke Ulu Beranang, saja sedang berada di lading kolektif itu.
                 Menurut laporannja Kepala CID Malaja/Hadji Abdul Madjid kepada Chief Inspectur CID di Singapura/MP. Chand, adalah begini:
                 “Saja sendiri beserta rombongan saja dari CID Kuala Lumpur FMS/Negeri-Negeri Sekutu Malaja, sudah periksa dan sudah selidiki dengan sangat teliti terutama diseluruh Keradjaan Negeri Sembilan, terutama Ulu Beranang memang pastilah Djamaluddin Tamim tak berada didaerah-daerah sana. Tetapi menurut kesan dihati saja, jang sudah njata bahwa: “Communisme memang bertumbuh sudah subur tumbuhnja disana”.
                 Demikianlah ini laporan Hadji Abdul Madjid/Kepala CID Malaja jang sudah membikin ketjelenja CID/Chand dan PID Visboon pada 1 September 1931 di Kadjang itu.
                 Diantara surat-menjurat saja dengan SFK di Singapura, sudah menjampaikan beberapa berita jang menggembirakan pula untuk pamannja Arief Siregar dengan Daja Jusuf/Tenek, dll sudah mendapat pekerdjaan di tambang minjak NKPM Sungai Gerong Palembang dan penjelundupan buku-buku, surat-surat ke Djakarta, Sumatera Barat, dll sudah mulai berdjalan lantjar kembali dan si Ahmad Padang jang sedjak selama ini hanja mendjudi, minum, mabok-mabokan sadja, sudah mendesak Rahman Djamal/Djamaluddin Ibrahim, dkk di Singapura ijalah minta didjumpakan dengan saja, karena sedjak lima enam tahun ini, rupanja ia/Ahmad Padang sudah selalu selapik seketiduran seminum semakan dengan pedjuang-pedjuang PARI, sedang dia/Ahmad Padang sudah sedjak selama itu sengadja ditinggalkan katanja.
                 Kini saja pun bersedia untuk ikut berdjuang dalam kalangan politik jang menudju Kemerdekaan Rakjat Indonesia, jakni bebas lepas sama sekali dari tjengkraman imperialisme Belanda.
                 Sedjak selama lima enam tahun itu, kawan-kawan Adam Second Darwis Batu Sutan Datuk Penghulu Sati, Malik, Dahlan, Karim, dll sengadja tidak member tahu, tidak mengadjak si Ahmad Padang itu ijalah karena si Ahmad Padang ini adalah Indo Belanda menurut potongan muka hidungnja, tetapi semuanja kawan-kawan walaupun sudah tanjakan terus terang pribadinja setjara terus terang, sedang ia fasih berbahasa Minangkabau dan Mandailing, dan mempunjai kepandaian vak sebagai montir oto dan mengerti pula bahasa Inggris.
                 Sesungguhnja Ahmad Padang alias Daus/Davidson adalah asal dari daerah Tapanuli, jakni ibunja Tapanuli sedang bapaknja seorang Insinyur bangsa Djerman. Tetapi mungkin pula Daus alias Davidson alias Djawus itu sudah ditinggalkan oleh Ibu Bapaknja semasa masih ketjil, sehingga karena ia/Djawus itu tidak kenal Ibu Bapaknja dan tanah tumpah darahnja jang asli, jang sebenar-benarnja, jakni tak mengetahui hari lahir dan tempat lahirnja.
                 Saja sudah madjukan sjarat-sjarat untuk menerima dan bertemu dengan Djaus, apabila ia bisa menjewa satu kamar didaerah Richard Road ataukah Serangan Road jang nanti dari Stasion Kereta Api, saja akan langsung ketempatnja Djaus sendiri.
                 Sementara menantikan berita-berita baru dari SFK Singapura, saja sudah selesai membagi-bagi kebum kolektif jang baharu itu, jakni masing-masingnja sudah mendapa bahagian satu ekor dan bahagian saja sendiri.   
                 Pada achir December 1931 saja sudah menjatakan kepada kawan-kawan di Ulu Beranang, bahwa saja sudah saatnja pula untuk kembali ke Singapura dan dioperkanlah kebun bagian saja itu, sehingga saja menerima uang seratus lima puluh dollar.
                 Sebelum saja bertolak dari Ulu Beranang jang terachir ini, maka saja belilah dua buah gutji besar bekas tempat tuak ataukah tautjo/ketjap, dan semua buku-buku, surat-surat, foto-foto, jakni semuanja arsip PARI dan arsip Tan Malaka jang sudah saja angsur-angsur mengumpulkannja ke Ulu Beranang sedjak tahun 1926, saja galikan satu lobang besar dan tanamlah dua gutji tadi ditanah kebon jang lereng, dibawah serumpun talang perindu dan dibawa lindungan sebatang pohon durian besar, dengan dibantu oleh salah seorang adiknja Al Fattah.
                 Memang saja sendiri sudah mempunjai perasaan kuat, bahwa saja bertolak dari Ulu Beranang/dari Negeri Sembilan/Malaja menudju Singapura sekali ini adalah terachir jang tak memungkinkan lagi saja sendiri akan kembali ke Ulu Beranang ini. Kawan-kawan semuanja sudah mempunjai perasaan demikian, sehingga terdengarlah pula ratap tangis melepas saja kembali ke Singapura pada achir December 1931 itu.
                 Beberapa hari sebelumnja saja bertolak dari Ulu Beranang maka datang Burhan Djamil, jakni kemenakannja Pak Hadji Abbas di Rawang jang isinja ijalah minta maaf kepada saja, karena beliau sudah pernah terlandjur menuduh saja, sesudahnja beliau terpengaruh oleh Hadji Muchtar Lutfi, sehingga beliau mendjadi bangkrut, sengsara karena ditipu oleh Muchtar Lutfi untuk memimpin anaknja jang bernama Usman di Mesir. Sedang Usman ini pulang dari Mesir malah mendjadi Bandit Besar, jakni tak membawa pengetahuan sedikitpun, sedang seluruh kekajaannja Pak Hadji Abbas, Rawang, sudah habis pernah didjual/digadai untuk membelandjai si Muchtar Lutfi dan Usman selama lima tahun di Mesir.
                 Kembalinja Burhan Djamil ke Rawang, saja bekali djuga dengan seputjuk surat pandjang jang terdiri dari enam belas helai kertas tulis format folio jang ditulis halus dan penuh dengan memakai huruf Arab pula.
                 Isi surat pandjang ini terumtama ijalah mensedjarahkan perdjalanan hidupnja Ulama-Ulama Besar Minangkabau, ijalah seperti Hadji Abdullah Achmad, Padang, Hadji Rassul/Abdullah Karim Amrullah (ajahnja si Hamka) dan Sjech Djambek di Bukit Tinggi jang sudah sengadja menipu Sjech Taher Djalaluddin Al Azhari sehingga Sjech Taher ditangkap di Medan pada achir tahun 1927, dan njaris-njaris dibuang pula ke Digul.
                 Selandjutnja saja tjeritakan pula tentang kawan saja sama-sama di Surau Djembatan Besi Padang Pandjang, sedjak tahun 1908, jang kemudian si Muchtar Lutfi bekerdjasama dengan Sjech Djamil Djambek di Bukit Tinggi, jang satu-satunja alat dari tiga sekawan/Ahmad Djambek dan Rassul, ijalah Muchtar Lutfi untuk menantang mendjadi anti politik, anti Thawalib dan Dinijah School Padang Pandjang jang saja pimpin bersama-sama dengan Zainuddin El Junusy Labay almarhum, jang memang almarhum ini mendjadi guru saja, baik dalam soal politik, baikpun dalam soal ilmu pendidikan, agama, dll sendjak dari tahun 1913.
                 Sebagai penutup surat saja kepada Pak Hadji Abba situ, saja njatakanlah pula bahwa menurut pendapat saja, djarang sekalilah, sedikit sekalilah dari kalangan Alim Ulama Besar Ketjil itu jang betul-betul memberikan pengorbanan seluruh hidupnja untuk membangun dan menghidupkan agama itu sendiri, tetapi umumnja, kebanjakannja sebagai Chalifatullah, Amirul Mukminin, Ulama besar itu hanjalah mengumpulkan kekajaan di dunia ini, sehingga mereka hidup mewah, maha mewah, maha senang dan maha kaja-raja sendiri, ditengah-tengah lautan samudera manusia Muslimin, Muslimat jang hidup miskin, lapar dan hanja sempat hidup sebagai manusia, hanja untuk diperas, dihisap, diindjak dan mendjadi budak belian, hamba sahajanja, Sjech-Sjech, Chalifah-Chalifah, Amirul-Amirul Mukminin semata-mata.
                 Sebagai kalimat terachir penutup surat pandjang ini, saja minta disampaikan utjapan terima kasih saja kepada Hadji Abdul Madjid/Kepala CID Malaja jang belum pernah mengenal kepada tindak-tanduk perdjuangan hidup, wadjah beliaupun djuga.
                 Sekianlah hal-ichwal sekitar PARI dalam tahun 1931. 
           PARI 1932
-->
                 Pada awal Djanuari 1932, memang saja sudah berada kembali di Singapura denga mempunjai enam tudjuh tempat, jang sewaktu-waktu dapat saja gunakan untuk tempat berteduh, berlindung sementara.
                 Diatara 6-7 tempat itu, maka jang paling safe masih tetap rumahnja Pak Said/Mak Hatidjah di Berappa Chity Lane. Lain dari itu ijalah tempat Djaus sendiri jang baru sadja dia sewa ijalah khusus special untuk saja dan Djaus sadja selama satu dua bulan.
                 Suasana di Djawa sudah sangat menarik saja untuk segera masuk ke Indonesia karena di Sumatera Barat, Sumatera Selatan/Palembang dan Djawa seluruhnja, seolah-olah sudah hidup dan bergelora kembali semangat Rakjat untuk meneruskan Perdjuangan Kemerdekaan, baik dikalangan Buruh Tani baikpun dikalangan Intellektuil dan Rakjat banjak, nampak sudah naik semangat kembali.
                 Lebih-lebih lagi Sukarno pun sudah terus giat kembali dalam politik jang dibuktikan oleh sambutan Rakjat Murba di Surabaja jang langsung meminta Sukarno supaja berpidato didalam rapat raksasa di Surabaja tersebut, sehingga dengan sendirinja Sukarno pun langsung aktif dalam perdjuangan Partindo.
                 Memang dalam Rapat Raksasa di Surabaja pada achir December 1931, sudah memudji-mudji Sukarno sebagai Bapak Rakjat Indonesia, sedang Sukarno pun segera menjambut dan meletakkan sendiri diatas kepalanja Mahkota Bapak Rakjat Indonesia jang diberikan/diteriakkan oleh Rakjat banjak dalam Rapat Raksasa tersebut, walaupun buah dari bukti jang njata bagi Rakjat Indonesia, hasil, nikmat dan manfaatnja perdjuangan dan pengorbanan Sukarno ketika itu masih kosong, belum ada sama sekali.
                 Tetapi baiklah dan kami tetap mengharapkan, mudah-mudahan Sukarno benar-benar konsekwen sebagai Bapak Rakjat sebagai Pemimpin Besar sampai tertjapainja Kemerdekaan Rakjat Indonesia untuk menegakkan Negara Republic Indonesia jang Merdeka bulat 100%.
                 Hanja sadja kami diluar negeri merasa agak malu djuga mendengar, membatja harian-harian jang menjebut-njebut bahwa Sukarno memang sudah menerima dengan dua belah tangganja: Mahkota Bapak Rakjat, dan menaruhnja diatas kepalanja, sedang si Amerika umpamanja, George Washington diberi mahkota Bapak Rakjat dan Bapak Republic Indonesia-Amerika ijalah sesudahnja George Washington mendapat kemenangan dan djaja dalam perdjuangan mengusir imperialisme Inggris dan menegakkan Negara Rakjat Merdeka di Amerika, ijalah jang bertjorak Negara Republic Amerika Serikat itu.
                 Begitulah pula Sun Jat Sen diberinja Mahkota Bapak Republic Tiongkok dan Mustafa Kemal, Bapak Republic Turky. Ijalah sesudahnja mereka menang dan djaja, dan sesudahnja mereka wafat pula.
                 Hanja sadja memang sesudahnja kenjataan bahwa Sukarno sudah aktif kembali dimedan politik, memang semangat Rakjat Berdjuang pun segeralah nampak, bergedjolak/bergelora kembali diseluruh Nusantara Indonesia. Inilah pula jang sangat-sangat menggembirakan kami.
                 Pada bulan Djanuari 1932 itu djuga, hasil keringat saja di hutan rimba Ulu Beranang itu pun sudahlah habis, kering sama sekali, sedang kawan Abdul Rahman/Umar Giri dengan Selamat/Subandi sudah ditangkapnja di Tandjung Uban/Riau, sehingga bantuan-bantuan berupa keuangan dari Umar Giri pun mendjadi mati/tertutup pula sama sekali, sedang permintaan-permintaan dari Djawa, Palembang, Sumatera Barat, dll sudah bertubi-tubi pula mendesak supaja mereka dikirim buku-buku, siaran-siaran dan djuga tenaga-tenaga kader dari Singapura.
                 Pada bulan Februari 1932 saja adjaklah Mak Hatidjah menemui adiknja di Djohor, untuk memindjam uang agak seratus dollar, sambil mentjarikan pekerdjaan untuk saja sendiri disana.
                 Adiknja Mak Hatidjah ini, memang orang jang agak kaja, berada djuga karena mempunjai pabrik papan, perusahaan kaju bakar, arang untuk Singapura sehingga ia mempunjai berpuluh-puluh orang kuli dari Degelen-Banjumas.
                 Terus terang mereka tak bisa memberikan pindjaman, tetapi malah meminta saja supaja tetap disana untuk mengurus perusahaannja tersebut dan akan di beri gadjih seberapa sepatutnja.
                 Pendeknja; kalau memberi saja seratus dollar sebulan, mereka sangguplah nampaknja.
                 Tetapi sesudahnja saja dua minggu dikebun adiknja, saja minta pindjam uang untuk belandja ke Singapura agak dua hari dan dapatlah pindjaman dua puluh lima dollar, tetapi disamping itu saja sudah ada hasil/tjekeran sendiri sebanjak seratus dollar, sehingga saja kembali ke Singapura dan tidak kembali lagi ke Djohor itu. Uang hasil serobotan jang seratus dollar itu saja berikan enam puluh dollar kepada Djaus, ijalah untuk ongkosnja ke Shanghai menemui dan mengambil khursus dari Tan Malaka, dan selebihnja saja gunakan untuk belandja saja kesana-kemari dan untuk Mak Hatidjah pula.
                 Arif Siregar pun heran dan berulang-ulang menanjakan dalam suratnja kepada saja, jakni darimanakah saja mendapatkan uang seratus dollar itu sehingga Djaus dapat segera berangkat ke Shanghai?
                 Tapi tjukuplah untuk djawabnja seperti jang sudah saja njatakan diatas diatas tadi, jakni hasil tjekeran saja sendiri.
                 Sesungguhnja saja sendiri sudah ingin benar-benar untuk segera masuk ke Djawa, tetapi Tan Malaka belum dapat menjetudjui dan memang mengharapkan saja sebelumnja masuk ke Indonesia kembali; hendaklah dapat bertemu dulu, apakah di Bangkok, ataukah di India.
                 Pada achir bulan Maret 1932, saja sudah menerima kedatangan saudara angkat saja Adam Galo dari Padang Pandjang jang memang sudah sebulan lamanja ia mondar-mandir di kota Singapura untuk menemui saja walaupun pada hari-hari pertama ia tiba di Singapura, memang ia sudah membisikkan/menjatakan bahwa ia perlu menemui/mendjumpai saja. Tetapi disebabkan sebagian besar pemuda/preman di Arab Street itu adalah seorang jang agak anti politic pula, maka Preman Arab Street sudah mempersilahkan saja/mempermainkan Adam Galo tersebut walaupun ia sudah menangis-nangis minta dipertemukan dengan saja.
                 Tetapi belakangan saja mengambil sikap bersedia djuga untuk bertemu dengan dua sanak/saudara angkat saja/Adam Galo tersebut disalah satu tempat, kamarnja di New Town, jakni dipinggir djalan raja jang menudju Djohor Baru.
                 Mulai sadja saja asjik berhadapan, jakni dari pukul satu siang sampai pukul lima petang, maka sajalah jang memborong waktu selama empat djam itu untuk berbitjara, jang isinja pembitjaraan saja hanjalah semata-mata mempropagandakan PARI serta membentangkan segera pengorbanan dan perdjuangan PARI selama lima tahun, jang semuanja itu, memanglah pula meneruskan perdjuangan dan tjita-tjitanja PKI/Partai Komunis Indonesia dulu, ijalah menudju Negara Republic Indonesia Merdeka bulat 100%, jakni bebas lepas sama sekali dari belenggu imperialisme dan perbudakan Belanda.
                 Pada penutupnja saja hanja bertanja sepatah kata ijalah begini: “Tidak setudjukah abang Adam Galo, dengan tjita-tjita Rakjat Indonesia ini?”
                 Dengan menangis berurai air-mata, maka Adam Galo mendjawab: “Sudah tentu saja setudju benar dan saja akan menjokong perdjuangan PARI”.
                 Kini saja sudah jakin benar, bahwa Djamaluddin Tamim bukanlah anti agama, anti Tuhan, seperti jang dibisik-bisikkan orang di Sumatera Barat dan saja jakin-sejakinnja kini bahwa perdjuangan hidupmu adalah sutji-murni dan muliam, dan saja akan berdjandji akan terus menjokong perdjuanganmu.
                 Tetapi kalau memanglah benar seperti jang dikampanjekan orang-orang di Sumatera Barat itu, maka saja pun sudah berdjandji dengan diri saja sendiri, jakni pastilah saja akan membunuhmu dan biarlah nama saja sadja jang pulang kembali ke Padang Pandjang karena saja sudah mendapat mati sjahid membunuhmu disini, katanja.
                 Karena pukul lima petang liwat sudah, maka saja njatakanlah bahwa hanja sekianlah pertemuan dan supaja abang Galo segeralah pulang ke Sumatera Barat kembali.
                 Adam Galo kelihatan djernih, bersih dan berseri-seri air-mukanja dan nampaknja ia sangat puas dan gembira, sehingga dibukalah ikat pinggangnja dan dikeluarkannjalah isinja semua, ijalah sepuluh rupiah sadja lagi dan diberikanlah kepada saja satu uang ringgit perak Belanda dulu, karena selebihnja jang tiga ringgit sudah tjukuplah untuk belandjanja pulang ke Sumatera Barat kembali, katanja.
                 Lain daripada itu Adam Galo berdjandji akan segera usahakan untuk mengirim Lutan Madjid Basa ijalah anaknja Tongom Datuk Basa, salah seorang kawan sekolah saja di Padang Pandjang dulu, jang adiknja bernama Zainuddin dan ajahnja Tongok Datuk Basa, bekas Kepala Negeri jang masih berada dipembuangan Digul ketika itu, sedang Lutan Sutan Basa sendiri mendjadi Sekertaris Partai Serikat Islam Indonesia/PSII ketika itu.
                 Pada awal Mei 1932, saja terpaksa melihat Rauf jang sakit terus di Kota Tinggi/Djohor Lama jang memang sudah bertubi-tubi surat dan pesannja supaja sebelumnja ia mati dapatlah hendaknja ia bertemu sekali lagi dengan saja. Pemuda ini memang sudah agak lama pula saja suruh mentjari hidup disana, bersama kawan-kawan lain, jang sudah pula pernah mendapat didikan kawan Subakat almarhum.
                 Tetapi ketikanja saja berada di Djohor Baru, saja tjobalah singgah kepada Salim Sutan Malinggang asal dari kota Nan Gadang/Pajakumbuh, jang memang ketika itu sudah mendapat pekerdjaan baik, jakni mendjadi pegawai pendjara/Wadur Djul Djohor Baru, maksud saja ijalah hendak minta sokongan karena hitung-hitung ketika itu tak mungkin/tak tjukup uang saja untuk pulang pergi ke Singapura-Djohor Lama/Kota Tinggi.
                 Tetapi hati sajapun sedjak semua sudah ragu-ragu djuga, jakni kalu-kalu djuga kepada Salim, jang memang sudah mendapat rumah gedung jang bagus, sudah memang tentram hidupnja dan sudah mempunjai istri pula dan memberi saja uang . entah dua, entah tiga dollar saja lupa; tetapi memang njata perdjalanan saja ke Kota Tinggi itu sudah diikuti oleh kaki tangan CID jang saja sudah dapat memastikan bahwa memang Salim lah jang sudah berchianat!!
                 Kutitan CID Djohor Baru ini, dapatlah saja permainkan di Kota Tinggi itu djuga; walaupun handja kota ketjil sadja, jakni memang seperti biasa sadja, seolah-olah tak tahu, tak diikuti dan saja duduklah pada satu oplet jang akan menudju Djohor Baru kembali sedang si CID itupun, sudah duduk-duduk pula pada oplet lainnja. Ketika ia agak sudah terlengah dan sudah mulai membual mendongeng, seperti biasanja Buaja-Buaja Preman Singapura, maka saja turunlah dari oplet menudju pelabuhan dan terus naik kapal ketjil jang terus ke Singapura.
                 Setibanja saja di Singapura, saja tjeritakanlah kepada Preman Darwis Batu dkk di Arab Street bahwa Salim alias Kamin itu sudah berchianat betul-betul!!
                 Menurut tanda-tanda dan perasaan saja sedjak awal Mei 1932 itu kota Singapura ini memang mustinja tak boleh saja indjak-indjak lagi, karena dimana-mana sadja saja berada, memang sudah ada pendjagaan-pendjagaan rapi dari Golap-Golap/Kaki Tangannja CID sehingga sekitar Serangon Road, Albert Street dan Middele Road pun jakni persimpangan-persimpangan djalan keluar-masuk Berappa Chity Lane/rumahnja Pak Said sudah ada pendjagaan rapi, oleh orang-orangnja si Djambul/Gulam Ali dan Kurnisji!!
                 Kalau saja hanja untuk menjelamatkan diri secara sementara sadja tentu masih bisa sadja, umpamanja saja pergi ke Bangkok/Siam ataukah terus bekerdja di kapal besar Round the World/keliling dunia, juga kemudia bernaung di London, New York, San Francisco, dll!! Tapi bukankah ini sudah berchianat namanja, karena suatu kenjataan jang njata ketika itu, bahwa saja mesti tetap di kota Singapura, memegang Pimpinan Sentral Ekskutif Komite/SEK dari PARI jang memang hubungan sangat banjak dengan Indonesia, baik berupa hubungan surat-menjurat, baikpun hubungan orang-orang/kawan-kawan jang selalu sadja keluar masuk ke Indonesia, ke Medan, Pekan Baru, Palembang, Djakarta, Semarang, Surabaya, dll.
                 Keinginan saja jang kuat ketika itu hanjalah untuk masuk ke Djakarta dengan segera walaupun kawan Tan Malaka menahan pula dengan keras, sampai ada pertemuan lagi di Bangkok!
                 Pada pertengahan bulan Djuni 1932, entah setjara kebetulan, entahlah memang sudah diketahuinja pula, bahwa saja bisa dengan anak kelasi, kuli-kuli dok dan kuli pelabuhan Singapura, maka saja melihat njata bahwa si Abdullah bin Hadji Isa bersama-sama dengan dua orang lainnja bangsa Tamil, Ceylon ijalah orang CID sudah melihat-lihat sadja pula, mondar-mandir di pelabuhan dan sekitar dok kapal, dipelabuhan Tandjung Pagar Singapura.
                 Saja kiranja tadi tentulah saja akan ditangkapnja seketika itu djuga, karena sudah terang Abdullah bin Hadji Isa dengan dua orang kawannja itu adalah pegawai CID!! Tetapi mungkin pula karena saja segera menghilang dari mata mereka, maka mereka tak dapat mengkuntit atau mengedjar saja, sedang saja ketika itu masih didekat mereka, jakni menghilang diantara gubuk-gubuk bekas kelasi-kelasi kapal jang sudah bekerdja mendjadi kuli pelabuhan dan kuli dok itu!!
                 Pada awal bulan Djuli 1932, saja tjobalah pula mentjari/menjewa sebuah kamar, didaerah sekitar Tank Road, dekat stasion kereta api dan dekat pula pabrik-pabrik dan Sentral Listrik, jakni didaerah jang banjak Buruhnja, sedang sajapun memang sudah biasa pula memakai kain kopar/drill jang warna abu-abu seperti biasanja kaum Buruh itu. Pada kamar saja jang baru ini, saja tempatkanlah dua tiga orang preman, ijalah untuk membantu-membantu menulis/memperbanjak dokumentasi, siaran, dll, karena saja sendiri memang tak pernah mempunjai mesin tulis dan memang sengadja pula tak membawa mesin tulis untuk menghindarkan perhatian orang lain.
                 Memang biasanja, mengovertik siaran-siaran dokumentasi, dll itu dikerdjakan dikantornja Umar Giri/Abdul Rahman, sedang Abdul Rahman sudah ditangkapnja di Tandjung Uban dan saja serta kawan-kawan tak dapat pula lagi kerumahnja/kekantornja Umar Giri di djalan Geylang Serai karena sudah didjaga terus kuat disana.
                 Memang sudah sedjak bulan Djuni 1932, saja sudah sangat djarang benar ke rumah Pak Said, karena pemondokan saja di rumah Pak Said adalah satu-satunja jang paling safe/paling selamat untuk menjimpan segala buku-buku dan arsip-arsip PARI jang baharu.
                 Dari itu pemondokan saja di Berappa Chity Lane ini dari sedjak tahun 1926 sangat saja batasi, jakni hanjalah satu dua orang sadja jang saja beri tahu ijalah seperti Rahman Djamal/Djamaluddin Ibrahim dan Abdul Rahman/Umar Giri sadja, walaupun preman-preman Arab Street dan Kandang Kapur/Rowell Road no. 1 seperti Adam Second dan Darwis Batu mengetahui djuga pemondokan saja di rumah Pak Said.
                 Memang sebagai Sentral dari penjimpanan buku-buku, arsip-arsip dan surat-menjurat PARI, saja pusatkan ke rumahnja Pak Said sendiri.
                 Sesudahnja hampir tiga tahun si Kandur meningkep, membeku/mendiamkan dirinja di Minangkabau, maka baharulah pada achir Djuli 1932 Kandur muntjul kembali di Singapura.
                 Kandur memberikan laporan-laporan bahwa ia sudah pernah ke Djakarta menghubungi Yamin, Assaat, dll dan djuga menghubungi beberapa orang intelektuil Minangkabau dan Medan atas petundjuknja saudara Abdullah di pulau Karam Padang, sedang di Minangkabau Kandur katanja menghubungi Djalaluddin Thaib, Gani Sjarif dan Hadji Udin Rahmani, pimpinan PSII Sumatera Barat.
                 Sesudahnja Kandur dibekali lagi dengan beberapa buku-buku dan dokumentasi, siaran-siaran PARI, maka Kandur pun segeralah kembali ke Sumatera Barat.
                 Pada achir bulan Djuli 1932 pula, Gaban sudah menerima surat dari Mohammad Hatta bahwa pada 18 Djuli ataukah 19 Agustus 1932 Hatta akan berada di Singapura, dalam perdjalanannja pulang dari Eropah, menudju Djakarta/Indonesia kembali.
                 Kepada Gaban dan Ilyas Togo, dll sudah saja njatakan supaja agak berhati-hatilah berbitjara dengan Hatta, karena menurut pendapat saja tentulah langkah-langkah Hatta di Singapura ini akan sangat diperhatikan, dikuntit oleh CID.
                 Dari itu saja keberatan untuk menemui Hatta ketika itu, walaupun saja sudah merasakan benar-benar ketika itu, bahwa sewaktu-waktu pastilah saja akan ditangkapnja.
                 Dalam bulan Agustus itu pula, datanglah Lutan Sutan Basa ijalah sebagai wakil/utusannja Adam Galo, seperti jang di djandjikan Adam Galo kepada saja pada bulan Maret 1932, jakni beberapa bulan jang baru lampau.
                 Saja bermaksud untuk menjuruh Lutan Sutan Basa supaja segera kembali ke Sumatera Barat supaja ia segera dapat menanam benih PARI dalam kalangan PSII ataukah dalam kalangan Thawalib dengan perantaraan pemuda-pemuda Thawalib, dll.
                 Dalam bulan Agustus 1932 djuga datanglah pula Lutan Madjid sebagai utusan Adam Galo djuga, karena Lutan Madjid ini adalah bekas muridnja Adam Galo djuga, tetapi ingin hendak memasuki lapangan perdagangan karena memanglah pula sesudai dengan semangatnja Rakjat banjak dari kampungnja jang memang kebanjakan hidup mendjadi pedagang/saudagar.
                 Pada hari selasa, djam lima petang, tanggal 13 (tiga belas) September 1932. Naiklah Mehta Privti Chand/Chief Inspector CID kerumah saja bersama empat lima orang inspecturnja dan terus menangkap saja bersama-sama Lutan Sutan Basa, Lutan Madjid dan Dahlan Datuk Tunggal jang baru selesai menulis beberapa siaran dokumentasi PARI.
                 Sesungguhnja saja baru bersiap-siap hendak ke rumah Pak Said mengembalikan arsip-arsip saja kesana, maka datanglah CID menjerbu, menangkap saja dan terus ditahannja di Hoofd Biro Polisi Singapura satu malam.
                 Baru sadja Chand berhadapan dengan saja sambil berdiri maka tangan kanannja sudah terus sadja melambai telinga saja jang sebelah kiri sambil berbitjara dalam bahasa Minangkabau: “Nama angku sia sabanjo??” Saja mendjawab: “Mohammad Junus Abdullah”. Lantas Chand mendjawab: “Ja saja sudah tahu angku Djamaluddin Tamim! Saja minta supaja angku mengikut saja!”
                 Sesungguhnja sudah sedjak achir Agustus pakaian saja sudah saja kirim ke Djakarta dan pada waktu saja ditangkap 13 September 1932 saja sudah memegang ticket untuk menumpang kapal KPM ke Djakarta pada hari kamis 15 September 1932.
                 Djadi saja sudah dapat didahului dua hari sadja oleh CID jakni ditangkapnja saja pada 13 September 1932 sebanjak 13 (tiga belas) orang pula dan kebetulan pada bulan September pula.
                 Chief Inspectur Chand tak berhenti-hentinja menggelengkan kepalanja selama dalam auto menudju Hoofd Biro, karena berulang-ulang sedjak dari rumah tadi ia menjuruh saja ganti pakaian tetapi saja mendjawab tak punja pakaian pengganti, memang inilah jang lekat dibadan saja ini pakaian saja. Si Chand tak pertjaja dan berulang-ulang periksa kamar, tas kopor ketjil saja, jang hanja penuh berisi Koran-koran harian-harian, surat-surat dll. Ia terus menggeleng-gelengkan kepala menjatakan tak mungkin tak mempunjai pakaian lain.
                 Seketika itu djuga, saja suruh bukalah dompet jang sudah diraba, diambil mereka dari satu badju saja dan terus dibukanja dan menghitung isinja, ijalah uang Singapura, hanja satu setengah dollar dan surat gadai saja ada empat lima helai. Si Chand terus menggelengkan kepalanja.
                 Memang ketika saja ditangkapnja itu, saja hanja memakai bakiak, kelompen, pakai petji jang sudah mengkilat, karena tuanja, sarung tenun trengganu dari benang nanas, jang sudah tua pula dan badju keper/drill hidjau tutup, jang pinggir leher dan lengannja sudah berbulu/sudah putus karena sudah tua dan sudah sangat kotor pula.
                 Pada hari Rabu pagi 14 September 1932 saja sudah dibawa kekantornja Chand dan dipertundjukkan ijalah kepada saja dengan air muka jang amat sukaria/gembira bahwa ia - Chand sudah dapat menangkap surat-surat dan dokumentasi PARI jang sekian banjak.
                 Pada hari Sabtu pagi, 17 September 1932 saja dihadapkan kepada Court No. 1 bersama-sama dengan dua belas orang kawan-kawan jang lain, ijalah saja bersama-sama dua belas orang itu, dituduhnja mengadakan Kongsi Gelap/Gerak Politik Illegal jang bermaksud hendak mendurhaka/memberontak kepada Government Inggris dan dengan kesaksian saja dan dua belas kawan-kawan, Inspectur Chand menjerahkan kepada Hakim Court no. 1 satu bundelan dokumentasi PARI, sebagai tanda bukti.
                 Sesudahnja saja dikembalikan kepada kerangkeng besi saja di Djalan Kereta Air jakni kerangkeng tahanan CID jang baru, maka ketika saja diantar makanan untuk sore, Sabtu 17 September 1932 itu maka saja menjatakan kepada kepala pendjaga kerangkeng Kereta Air, ijalah begini: Saja mulai hari ini, Sabtu 17 September 1932 mulai mogok makan sampai mati, ketjuali apabila tuntutan saja dikabulkan. Jaitu:
I. Bebaskan semuanja dua belas orang itu, karena mereka semuanja bukanlah anggota PARI.
II. Bebaskan saja dari tuntutan Hakim Inggris karena saja tak pernah mengadakan Partai Politik jang bermaksud memberontak kepada Inggris.
III. Saja tidak bersedia untuk diperiksa dengan verbal, ditanjai oleh CID ataukah Polisi Inggris, dan
IV. Supaja saja sendiripun dibebaskan segera.
                 Antara setengah djam sesudahnja pernjataan saja: mogok makan dengan memadjukan empat tuntutan tadi maka dengan air mukanja jang sangat susah, terharu, si Chand menundjukkan saja serta menjatakan seketika itu djuga, bahwa tuntutan saja I, II, dan III segera didjawabnja, dinjatakannja seketika itu djuga, bahwa akan dikabulkannja. Sesudahnja puas habis ichtiar Chand untuk membatalkan putusan mogok maka ini maka ia pun pergilah dengan air mukanja jang sangat susah/sedih, pusing dan pada djam delapan malam, Sabtu malam Minggu 17/18 September 1932 datanglah pula pembesar CID Chiefnja si Chand, si Dickinson namanja, membudjuk-budjuk saja sampai djauh-djauh malam, walaupun pada malam itu adalah malamnja untuk istirahat, untuk bersenang-senang dengan keluarganja.
                 Dickinson menjatakan pula, langsung seperti jang sudah dinjatakan si Chand tadi dan Dickinson dengan setjara lemah lembut dan hormat menjatakan kepada saja pada malam itu begini: “Tuan Djamaluddin Tamim tentu sudah mengerti, bahwa selama tudjuh tahun kami mengikuti djedjak Tuan, dengan mengeluarkan ongkos tiga djuga dollar lebih dan sekarang baru Tuan berada ditangan kami, tentulah Tuan maklum sendiri, bahwa putusan untuk membebaskan Tuan, tak pada kami, tapi adalah pada Gubernur sendiri.
                 Lain dari pada itu kalau Tuan mati dalam tawanan kami, bukanlah berarti mentjemarkan nama baik Gubernement Inggris, dan memang Gubernement Inggris tak bersedia untuk mentjemarkan nama baik Gubernement Inggris, jakni tak dapat menjetudjui tindakan PID Hindia-Belanda jang sudah membunuh Subakat/kawan Tuan dalam pendjara di Djakarta".
                 Sampai djam dua belas malam 17/18 September 1932 itu didepannja Dickinson sendiri, saja tundjukkanlah: saja memang, ijalah sebagai tangkisan/pembelaan diri saja kepada Chand-Dickinson, jang pada pagi hari 17 September 1932 itu mereka sudah menjatakan kegembiraannja jang memuntjak, bahwa: seluruhnja sudah ditangan dia, dengan menjatakan kegembiraan jang memuntjak!
                 Memang pada hari Sabtu 17 September 1932 pagi baharulah saja dihadapkan Chand kepada Dickinson jang kantornja terletak disebelah kantornja Mehta Pritvy Chand/Chief Inspector CID itu.
                 Kantornja Dickinson sangat lapang dan lebar sekali sedang sebagai adjudannja adalah dua orang Inggris, jang menghadapi dua buah medja besar, jang berhadap-hadapan dengan medjanja Dickinson sendiri.
                 Ketika saja bersama Chand, baru sadja dimuka pintu dikantornja Dickinson sudah terus berdiri dan melangkah remapah sadja, kira-kira 6-7 langkah sambil member tangan, bersalam dengan saja dengan mengutjapkan: “Selama enm tudjuh tahun kami memburuh Tuan, tetapi barulah sekarang dapat menangkap Tuan dan semuanja sekarang ditangan ini, sambil menekan salam tangan saja lebih kuat dan terus menjodorkan kursi, sedang si Chand selama saja duduk berhadapan dengan Dickinson hanja tegak berdiri sadja, jakni sebagai biasanja pegawai rendahan menghadapi Chefnja/Kepalanja jang tertinggi.
                 Pertama-tama Dickinson bertanja-tanja: “Berapakah Tuan Djamaluddin Tamim menerima sokongan setiap bulannja dari Moscow?”
                 Saja mendjawab: “Tak pernah saja menerima bantuan dari Moscow”.
                 “Berapa ratus orangkah, adakah seribu orang Tuan Djamaluddin Tamim mempunjai spion?”
                 Saja mendjawab: “saja tak mempunjai spion seorang pun”.
                 Kemudian sambil menggelengkan kepalanja dan mengutjapkan: “saja kira spion Tuan lebih dari seribu, karena beberapa kali kami akan menangkap Tuan, terus lolos hilang sadja dan tak pertjaja kalau Tuan tak menerima bantuan dari Moscow”.
                 Hanja sekianlah omong-omong saja dengan Dickinson, Kepala CID Straits Settlement dan Malaja itu, jang dia di Hindia-Belanda ijalah: Procurer General/Kepala Parket, sebagai orang bawahannja Gubernur Djenderal.
                 Djadi kemenangan dan kegembiraannja si Chand dan Dickinson inilah jang lantas saja bajar, saja atasi ijalah dengan memaklumkan mogok makan tadi, sehingga si Chand-Dickinson menjembah-njembah kepada saja pada malam minggu 17 djalan 18 September 1932 dipintu kerangkengan besi, tawanan CID di Djalan Kereta Air, Singapura.
                 Pada hari Senin 19 September 1932 saja bersama dua belas orang kawan sudah dihadapkan kesidang Court no. 1, saksi Chand menjatakan kepada Hakim, bahwa menarik kembali tuduhannja, sehingga Hakim mengembalikan dokumentasi bukti ke tangan Chand dan kami pun semuamja dibebaskan, dibawalah turun dari Court 1 menudju djalan raja God Tja Tjui, tetapi saja dibelenggunja kembali, jakni saja ditangkapnja kembali dengan menjatakan utjapan: “Berdasarkan kepada New Law, maka Tuan kami tangkap kembali!”
                 Adapun dari kawan-kawan jang dua belas orang hanjalah empat orang jang dibebaskannja kembali pada 19 September 1932 itu ijalah: 1. Abdul Rahman Sutan Gajo/Direktur Restaurant Arab Street 131, 2. Gaban/adiknja Sutan Kajo, 3. Hadji Salim, 4. Rabai, sedang jang ditangkap kembali berdasarkan New Law tadi adalah delapan orang, ijalah: 1. Lutan Sutan Basa, 2. Lutan Madjid, 3. Ali Batu, 4. Dahlan Sutan Tungkal, 5. Ilyas Tago, 6. Ahmad Rantjak, 7. Karim (sopir) dan 8. Gaban/Kerani di Asiatic, ijalah kawannja Hatta.
                 Pada 22 September saja dipindahkannjalah ke tahanan pendjara Singapura jakni saja disimpan, terpisahd dari kawan-kawan, dalam satu kerangkeng ketjil, sempit dan gelap, jang diberi nama: peti semen besar, karena atas bawah, kiri kanan dan belakang saja adalah beton semen jang demikian dingin dan lembab terus-menerus, jang hanja diberi sehelai tikar sadja, sedang jang buat bantalpun adalah dari beton semen semata-mata.
                 Adapun New Law/Undang-Undang Baru jang baharu diundangkan di India pada bulan November 1931, jang berbunji begini: “Tiap-tiap politikus asing jang sengadja mendirikan sesuatu Partai Politik dibawah lambai/lindungan bendera Union Jack, maka politikus itu boleh dihukum pendjara selama tiga tahun dan dibanishment/dikembalikan ke tempat aslInja.
                 Maka berdasarkan New Law inilah maka mogok makan sampai mati tadi saja batalkan, karena memang semuanja tuntutan saja jang empat matjam tadi sudah dipenuhinja dan melakukan penangkapan baru kepada saja dan delapan orang tadi berdasarkan New Law tadi.
                 Dari itu pada hari kamis 22 September 1932 sesudahnja saja berada didalam peti semen besar tadi, saja mulailah makan kembali, jakni sesudah mogok makan selama lima hari.
                 Pada hari minggu 25 September 1932 saja dikeluarkan dari kerangkeng semen pendjara Singapura dengan diantar oleh Kepala Pendjara Singapura dan beberapa orang pegawai CID sampai keatas kapal Opten Noord dan sesudahnja berada diatas dek kapal Opten Noord, saja ditangkapnja oleh PID/Visboon jang memang sudah mengetahui sebelumnja dan teruslah saja dimasukkan kerangkeng besi kapal Opten Noord jang hanja memakai tjelana pendek dan sehelai anak badju kaus sadja.
                 Setibanja di Djakarta pada hari rabu 14 December 1932, dimasukkan ke kerangkeng Hoofd Biro Polisi di Gambir dan sesudahnja empat lima hari dipindahkan ke Huis van Bewaring Struis Wijk/Pendjara tahan di Gang Tengah.
                 Pada 20 September 1933, saja sama dengan Daja Jusuf/Tengek dan Arif Siregar dipindah ke Hoofd Biro Polisi Surabaja dan sesudah dua tiga hari di Hoofd Biro Polisi Surabaja, maka dinaikkan ke kapal Follmall Hood, kapal patih dan pada hari Minggu pagi 8 Oktober 1933 tibalah kami dipembuangan Digul.
                 Setibanja saja di Boven Digul, banjaklah hal-ichwal jang mengherankan saja, jang mendjengkelkan dan jang memusingkan kepala saja ijalah melihat kenjataan bahwa kawan-kawan buangan jang sudah duluan tudjuh tahun dari saja itu, sudah petjah-belah berantakan, jang diantaranja pula ada satu klik jang katanja akan segera membunuh saja! Hal-ichwal ini adalah sangat berbelit-belit, beraneka warna, jang diantaranja banjaklah jang tak perlu saja lukiskan disini.


                      PARI 1933-1935.
                 Dalam bukan Oktober 1932, Tan Malaka dan Djaus ditangkapnja di Hongkong jang pada achirnja bulan November 1932, Tan Malaka terpaksalah dibebaskan pula, tapi tak dikenakannja New Law, sebab memang Tan Malaka tak pernah bernaung tinggal di Hongkong.
                 Ketika Tan Malaka dan Djaus ditangkapnja di Hongkong, memang sedjak dari Shanghai sudah diikuti rupanja dan mungkin pula CID Inggris sudah mengetahui pula bahwa Tan Malaka ketika itu adalah dalam perdjalanan ke India.
                 Tan Malaka pun mempergunakan alasan: mogok makan sampai mati dengan memandjukan pula supaja segera dibebaskan dari tahanan Inggris jang achirnja Tan Malaka dibebaskan, tetapi dalam dua puluh empat djam musti keluar dari Hongkong dan Tan Malaka memilih arah tudjuannja kembali ke Shanghai, ijalah dengan belandjanja sendiri.
                 Tetapi setibanja dipelabuhan Amoy, Tan Malaka segera menghilang dengan meninggalkan seluruhnja pakaian dan barang-barangnja ijalah untuk mengelakkan tangkapannja kaki-tangan Chiang Kai Sek jang sedang kedjam dan buas itu.
                 Demikianlah kawan Tan Malaka kembali ke daerah Amoy dan sekitarnja, karena memang disanalah jang sudah ada daerah pengaruhnja dan jang sudah menjatakan sanggup sedia untuk mendjamin hidup dan keselamatan hidupnja Tan Malaka sampai kapan/pabila sadja.
                 Sekarang saja kembalilah melukiskan serba sedikit tentang Digul jang saja dapati pada bulan Oktober 1933 jakni dengan sengadja saja tinggalkan hal-ichwal sekitar pemberontakan Zeven Provinsen, hal-ichwal sekitar bergejolaknja gerakan-gerakan Nasional jang bernama Partindo/Sukarno, jang bernama Pendidikan Nasional Indonesia/PNInja Hatta-Sjahrir, hal-hal sekitar soal-soal cooperation dan non cooperation, dsbnja.
                 Baru sadja satu dua tahun mereka korban-korban Prambanan 25 December 1925 berada di pembuangan Digul, maka pergaulan pembuangan PKI Digul sudah mendjadi belah dua.
                 Segerombolan ketjil ijalah golongan HB PKI Sardjono, dkk jang setelah melihat hasil-hasil jang demikian djelek, besar pengorbanan dari kalangan Rakjat Banjak akibat putusan Prambanan jang sesat itu maka golongan HB ini mentjutji tangan jakni mengelakkan tanggung-djawabnja dan melontarkan kepada Seksi PKI Djakarta/Djawa Barat jang umumnja dipimpin oleh golongan Pemuda, seperti Dahlan, Sukra, Sambik, dll.
                 Lain golongan lain ijalah jang memihak Dahlan-Sukra bahwa Revolusi PKI di Djakarta/Djawa Barat pada 12/13 November 1925 itu adalah berdasarkan Putusan Prambanan 25 December 1925 jang pada 22 Djuni 1926, hari jang diputuskan diatas Tjandi Prambanan itu sudah dilewatinja sunji senjap, sehingga Sardjono memutuskan pada 22 Djuni 1926 ditengah-tengah sawah Andir, bahwa Putusan Prambanan musti diteruskan walaupun PKI akan hantjur sekalipun!!
                 Pada bulan April 1930, pemerintah Hindia-Belanda mengirim satu Badan Komisi ke Digul jang dikepalai oleh Gubernur Djawa Barat ijalah Hillen/Komisi Hillen.
                 Sebagian besarnja dari buangan Digul jang ketika Komisi Hillen tiba di Digul berdjumlah seribu orang lebih maka dengan dipelopori itu oleh Gondojuwono, semi arts dan turunan Ningrat Kraton Djogjakarta itu, minta ampunlah kepada Hillen dengan diikuti sebanjak lima ratus orang buangan, sehingga pulangnja Hillen dari Digul sudah diikuti oleh rombongan pertama-tama ijalah rombongan Gondojuwono tadi, sehingga ketika saja tiba di Digul pada achir 1933, buangan Digul hanja tinggal separohnja sadja lagi.
                 Adapun penduduk Tanah Merah adalah terbagi dua tiga golongan jakni: golongan Naturalisten jang berdjumlah seratus orang lebih dan golongan werkwilling jang berdjumlah empat ratus orang lebih.
                 Baik dari golongan Naturalisten di Tanah Merah, baikpun golongan jang kelas satu di Tanah Tinggi, lambat laun berkurang djuga, jakni mendjadi golongan werkwilling, sehingga tinggal beberapa orang Naturalis Tanah Merah, dan hanja tiga belas orang di Tanah Tinggi, sedang grupnja Sardjono sendiri sudah turun ke Tanah Merah masuk golongan werkwilling, ijalah golongan jang dipandang loyal.
                 Antara dua tahun sebelum saja tiba di Digul, satu diantara 1001 pertentangan, perkelahian jang timbul sampai berbunuh-bunuhan ijalah perkelahian dahsjat antara golongan Mangkudun Sati dari kota Lawa, Padang Pandjang dengan Arif Fadillah dan Mangkudun Naid dari Panindjauan dan Patillah/Padang Pandjang/Sumatera Barat.
                 Adapun jang diperkelahikan mereka itu sekitar uang Seksi PKI Sumatera Barat jang berdjumlah sebanjak tiga puluh ribu rupiah, ijalah uang Rakjat Sumatera Barat jang tadinja disediakan untuk bikin bom, beli sendjata, dsbnja.
                 Dari fihak Arif Fadillah, menuduh Mangkudun Sati sudah menggunakan uang Rakjat itu untuk mendirikan rumah batu dikota Lawas sebanjak dua belas ribu rupiah, dan sebaliknja si Mangkudun Sati menuduh Arif Fadillah sudah membeli rumah, sudah toko dan ikut andeel dalam pertjetakan Tendikat di Padang Pandjang.
                 Kesimpulan saja memang kedua-duanja ini adalah manusia palsu dan memang uang Rakjat sebanjak 31,000 (tiga puluh satu ribu rupiah) ini adalah ditangan mereka berdua sampai hari hantjurnja PKI pada 1 Djanuari 1927 dan memanglah keduabelah pihak tuduhan itu benar adanja, jakni memanglah uang Rakjat sebanjak tiga puluh satu ribu rupiah itu adalah ditangannja Mangkudun Sati dan Arif Fadillah jakni sisa uang itu tinggallah ditangannja keluarga mereka masing-masing.
                 Memang menurut hasil pengusutan/penjelidikan komisi Visboon jang diresmikan pada bulan Djanuari 1927 djuga bahwa keuangan Seksi PKI Sumatera Barat adalah berdjumlah 33,000 rupiah jang berada ditangannja dan mendjadi tanggung djawab palasik-palasik Arif Fadillah dan Mangkudun Sati.
                 Sebagai kelandjutan lagi, dari permusuhan tadjam antara Arif Fadillah dan Mangkudun Sati ini, maka terdjadilah pula pertempuran dahsjat antara Suwirjo/Mahmud satu fihak, antara Arif Fadillah, Dipo Sastro dilain pihak, sehingga Mahmud mati terbunuh di Tanah Tinggi, di tjintjang-tjintjang, disembelih oleh Arif Fadillah dan golongannja pada bulan Djanuari 1934.
                 Sekianlah dulu, sekitar penduduk Digul sampai Djanuari 1934.
                 Saja akan mulai menonton dari djauh bagaimana suasana PARI di Indonesia semendjak tahun 1933.
                 Pada pertengahan tahun 1933, rupanja Djaus sudah dapat masuk ke Djawa dan mengambil tempat/daerah Djawa Timur jakni memilih tempat di Surabaja.
                 Pada achir tahun 1933 sudah kami batja di Digul bahwa seorang mahasiswa namanja Sukarni sudah dikedjar-kedjar di Djawa dan lari lontjat ke Kalimantan, ke Sulawesi, karena Sukarni sudah didengar-dengar, ditjium-tjium oleh alat-alat PID bahwa Sukarni meneruskan PARI.
                 Demikian bergelora, bergedjolaknja perdjuangan PARI, sehingga semua Partai-Partai memang kelihatannja meneruskan program PARI, maka PID/Parket Hindia-Belanda, seperti biasanja segera mengamuk, membabi-buta, jakni ditangkapnjalah tiga orang pimpinan PSII di Sumatera Barat ijalah Hadji Udin Rahman/Sabilal Rasjad Datuk Bandaro dan Achmad Chatib Datuk Singo Maradjo, ditangkapnjalah tiga pimpinan PERMI/Persatuan Muslimin Indonesia, ijalah Hadji Djalaluddin Thaib, Hadji Iljas Jacoub dan Muchtar Lutfi, ditangkapnjalah Nur Arief, pimpinan PNI Hatta-Sjahrir di Sumatera Barat, ditangkapnjalah pimpinan Partindo di Djawa ijalah Jahja Nasution, Abdullah Hamid, Subeno, Umar Laudin, Namin, Suparmin, dll, ditangkapnjalah di Sumatera Utara/Medan, Muhidin Nasution, Abdul Hamid Lubis, ditangkapnjalah di Surabaja, Kediri, dll, Djaus, Marinus Siringo-ringo, Tjipto, Asmo, Suka, Bondan, dll, jang semuanja ini pastilah dituduh mendjalankan program PARI, sehingga semuanja mereka tersebut diatas tadi dibuang ke Digul, sesudahnja sepuluh bulan, setahun dan hampi dua tahun dalam tahanan.
                 Memanglah pula kepada mereka ini semuanja, baik PERMI, PSII, baikpun dari Partindo dan PNI Hatta-Sjahrir, memang jang pertama-tama ditanjakanlah kepada mereka ijalah hubungan dengan PARI semata-mata. Tetapi memanglah pula sebagian besar daari mereka tersebut tadi menerima besluit dibuang ke Digul adalah pembuangan atas PARI 100%, ijalah seperti: Jahja Nasution, Subeno, Suparmin, Naning, dll di Djawa Barat/Djakarta, dan begitu pula Djaus, Marinus Sirongo-ringo, Sutjipto, Taskadar, Asmo, dll di Surabaja/Djawa Timur.
                 Memang djelaslah tertoreh, tergurat disepandjang Perdjuangan Kemerdekaan Indonesia, menudju Negara Republic Indonesia bulat 100% bahwa program politik PARI mendapat dukungan dan sama-sama diperdjuangkan dengan penuh kejakinannja semua pemimpin, semua Patriot Indonesia jang lahir sesudahnja PKI masuk kubur 1927, ijalah PNI, dll, walaupun mereka pemimpin-pemimpin PERMI, PSII, Partindo, walaupun mereka hanja memimpin PNI/Pendidikan Nasional Indonesia, ijalah Partainja Hatta-Sjahrir.
                 Pemerintah Hindia-Belanda pun memang jakin pula rupanja bahwa PARI itu sangatlah susah dibasmi, membunuh matinja sama sekali walaupun semua pemimpinnja dari Partai-Partai politik jang ada, jang muntjul itu sudah disikatnja, sudah dilemparkannja semua ke Boven Digul.
                 Andjing-Andjing imperialisme Belanda, baik dari golongan intelek-intelek alat, Belanda hitam, baikpun Belanda totoknja, tentulah tak akan senang tidur, tak akan dapat makan enak dan tidur njenjak, karena program politik PARI dan Tan Malaka sendiri sudah mendjadi hantu besar bagi mereka, sehingga sedikit sadja kelihatan Revolusioner segera diterkamnja, dilemparkannja ke Digul.
                 Pada bulan December 1934, diadakanlah Konferensi Rahasia di New Delhi antara Parket/Kepala PID Hindia-Belanda dengan CID/PID Gubernement Inggris, sedang Belanda diwakili oleh Kepala Parket (lupa namanja) dan diikuti oleh Van Mook dan Van Der Plass, sedang Gubernement Inggris diwakili oleh Doktor Patrick, dll.
                 Dalam kalangan CID di India dan diseluruh djadjahan Inggris memanglah pula Tan Malaka sudah mendjadi hantu besar pula bagi mereka. Mereka selalu kuatir, selalu tjuriga, bahwa Tan Malaka mungkin sudah berada pula di India, karena sedjak hilang lenjapnja Tan Malaka di Pelabuhan Amoy pada bulan November 1932 maka sampai December 1934 itu belum djuga kundjung mentjium djedjaknja.
                 Mungkin Tan Malaka di India, mungkin di Iran, mungkin di Mesir, mungkin di Rangoon, mungkin di Malaja, dsbnja.
                 Dari itu antara PID Hindia-Belanda perlu kerdjasama jang lebih erat lagi dengan CID Gubernement Inggris.
                     PARI 1936-1940.
                 Van Mook-Van Der Plass dan kepala Parket/Procurar General/Djaksa Agung Hindia-Belanda rupanja sepulang dari New Delhi, India pada achir tahun 1934, mereka mendapat ilham untuk mendirikan PKI Illegal alias PKI palsu atau PKI Musso palsu jang didirikan Van Mook-Van Der Plass pada achir tahun 1935.
                 Ilham mendirikan PKI palsu ini memang tepat djuga dan memang djuga hasilnja bagi imperialisme Belanda khususnja dan dan Kapitalis internasional umumnja, betapa tidak?
                 Sinjo-sinjo intelelk seperti Van Mook dan Van Der Plass dan inlander-inlander alat/intellek alat, jang Belandisnja lebih lagi dari Belandis dari sinjo-sinjo Van Mook-Van Der Plass, memang mereka sudah mengetahui benar-benar, bahwa menurut pengaruh Komunisme dan keantian Rakjat Indonesia kepada imperialisme Belanda memang sudah amat mendalam masuknja kedalam semangat Rakjat Indonesia.
                 Sinjo-sinjo Van Mook-Van Der Plass sudahlah mengerti pula, bahwa sesudahnja PKI dapat dihatjurkannja sedjak 1 Djanuari 1927, maka PKI sudah hantjur-lebur itu sudah hidup kembali pada 2 Djuni 1927, walaupun dengan nama PARI/Partai Republik Indonesia.
                 Sesudahnja kepala Parket dan Van Mook-Van Der Plass berulang-ulang dan selama bertahun-tahun memikirkan dan berusaha untuk membasmi Komunisme di Indonesia jang sudah njata-njata membahajakan imperialisme ini dan sesudahnja mereka mempeladjari/mendalami pula perdjuangan dan perpetjahan jang demikian dahsjat antara Stalinisme dan Trotskysme di Sovjet Rusia, sehingga Stalin membuang djauh, menggantung tinggi dan membunuh puluhan ribu pemimpin-pemimpin Komunis jang memihak Trotsky, jang dipandang dan disangka Trotskys oleh Stalin jang maha kuasa, maka Kepala Parket Hindia-Belanda, dengan bantuannja Van Mook dan Van Der Plass jang mendjadi Gubernement di Djawa Timur, sama-sama sependapat dan mendapat ilham mereka itu, untuk mendirikan PKI setjara illegal pada achir tahun 1935 jakni PKI palsu dengan membisik-bisikkan, mengkampanjekan bahwa PKI ini adalah dipimpin oleh Musso, katanja!!
                 Adapun jang didjadikan Musso palsu ini ijalah seorang Pegawai Tinggi Parket jang bernama Sudjadi jang memang potongan badan, potongan muka-kepala Sudjadi inipun mirip-mirip Musso tulen pula. Malah-malah bukannja pula hanja mirip-mirip tampan/tampangnja sandja, tetapi djuga Sudjadi ini adalah sahabat baiknja Alimin-Musso sedjak dibangku sekolah.
                 Memang pada awal April 1924, ketika saja berada di Djakarta, untuk membitjarakan soal pertjetakan Merah dengan ali Archam, maka saja pernah diadjak Alimin, Musso dan Ali Archam kerumahnja Sudjadi ini, jang ketika itu djuga memang Sudjadi sudah mendjadi seorang Pegawai Tinggi di Parket, disampingnja si Landjumin Datuk Tumenggung keponakannja Laras Sungai Puat, jang mempunjai Bintang Mas besar itu.
                 Memang pada Agustus 1925, Sudjadi inipun sudah membotjorkan putusan Parket Hindia-Belanda terhadap Musso-Alimin, jakni sudah memperingatkan kepada Alimin-Musso, supaja berhati-hati karena Parket sudah memutuskan untuk menangkap dan membuang/melakukan hak Exorbitante Rechten dari Gubernur Djendral Hindia-Belanda.
                 Sahabat ja tetap sahabat, jakni hubungan baik setjara pribadi ja tetap pribadi.
                 Atas dasar perahabatan dan perkawanan jang hanja setjara pribadi inilah maka Sudjadi sebagai inlander-alat ini bersedia untuk mendjadikan alat imperialisme Belanda 100% jang sedjak tahun 1927 mungkin si Sudjadi sudah merasakan dan mendjadi kejakinannja pula, bahwa Komunisme itu tidak seharusnja diberi kesempatan untuk berkembang di Indonesia.
                 Adapun Van Mook sendiri, sesudahnja mempeladjari pula sedjarah kelahiran, pendidikan, dan pergaulan Mr. Amir Sjarifuddin jang djamannja bersekolah pandjang dan lama di Negeri Belanda, maka dapatlah pula si Sinjo Van Mook jang tjerdik tjendikiawan ini, mendekati si Intellek-Alat/Intellek Bordjuis jang keturunan darah tjampur Kristen Islam ini.
                 Mr. Amir Sjarifuddin masuk agamanja Van Mook-Van Der Plass, Kristen dan Mr. Amir Sjarifuddin duduk disamping Van Mook di Departement Economische Zaken, jakni Mr. Amir Sjarifuddin mendapat pangkat duduk sama rendah, tegak sama tinggi, jakni Mr. Amir Sjarifuddin mendapat gadji jang sama dengan pembesar-pembesar Belanda.
                 Dengan sendirinja pula, semendjak Mr. Amir Sjarifuddin duduk di Economische Zaken itu, maka mulai renggang lah perkawanan Amir Sjarifuddin dengan Gani Kapour, Sibinang/Yamin, dll, sehingga Mr. Amir Sjarifuddin diroyer dari Gerakan Rakjat Indonesia/Gerindo.
                 Sebaliknja kawan-kawan baru Amir Sjarifuddin ijalah Van Mook dan Van Der Plass, PG. Hindia-Belanda, dll tentulah semuanja gembira merasa mendapat kemongan besar, karena Mr. Amir Sjarifuddin adalah seorang Inlander Alat Besar, seorang Tjendekiawan Besar jang sudah pastilah pula akan mendapat 100% penuh mendjadi alatnja imperialisme Belanda untuk menghantjurkan Komunisme dan semangat Perdjuangan Kemerdekaan/Patriotisme Indonesia.
                 Kepada Mr. Amir Sjarifuddin diserahkan pimpinan PKI Musso Palsu/PKI Sudjadi, oleh Parket dan Van Mook-Van Der Plass mulai dibentuknja PKI Musso Palsu/Sudjadi sedjak achir tahun 1935, jakni Mr. Amir Sjarifuddin jang memegang leiding/organisasi PKI Musso Palsu 1935 itu, jang kemudian dibantu oleh Ir. Sakirman, Achmad Sumadi, Harjono, Djoko Sudjono, Sugoro, Ruskak, Mohamad Said, Ambija, walaupun belakangan Achmad Sumadi, Harjono, Djoko Sudjono, dll itu dilemparkannja djuga ke Digul pada awal Mei 1938.
                 Disamping ini, si Sinjo Van Der Plass, tjendekiawan jang ulung inipun saking pandainja dan latjat lidahnja, baik berbahasa Indonesia, Djawa, Sunda, Minangkabau, baikpun berbahasa Inggris dan Arab, maka 1001 Hadist dan Firman/Ajat Al-Quran jang demikian fasih membatja dan dibahasnja itu, maka sampailah pula Sinjo Van Der Plass dapat mendirikan Nahdlatul Ulama di Djawa Timur, jakni salah satu Partai Politik Islam jang sengadja dibangunnja untuk membendung atau menghantjurkan Komunisme di Indonesia, sedang si Sinjo Van Der Plass diakui dan dibisikkanlah pula beliau Kiai Tebu Ireng bahwa Van Der Plass adalah pemimpin Islam sedjati.
                 Demikianlah dua sinjo Belandis, tjendekiawan pembela/alat imperialism Belanda dan Kapitalisme Internasional sudah dapat memutar-mutar kepalanja Tjendekiawan Inlander alat, seperti Amir Sjarifuddin, Sudjadi, Ir. Sakirman, Mr. Abdul Madjid, Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Setiadjid, Mr. Mawaladi, Mr. Maroeto Daroesman, Mr. Tamzil, Achmad Sumadi, Djoko Sudjono, dll.
                 Kalau Tjendekiawan seperti Amir Sjarifuddin dapat diperalat oleh Van Mook-Van Der Plass tentu sadja golongan Alim Ulama Kiai Islam itu lebih mudah lagi tertarik dan pertjaja penuh kepada Van Mook-Van Der Plass.
                 Sudah mulai sedjak lahirnja PKI Musso Palsu pada tahun 1935 itulah pula mulai didengung-dengungkan, dibisik-bisikkan oleh PKI Musso Palsu ini bahwa Tan Malaka dan Pemimpin-Pemimpin PARI semuanja adalah Trotskys, bahwa Tan Malaka sudah anti Komintern, anti Sovjet Rusia, sedang mereka/pemimpin-pemimpin PKI 1935 ini jang dipimpin Musso ini adalah Komunis tulen dan taat patuh kepada Komintern, katanja.
                 Achmad Sumadi, Sugoro, Ruskak, Djoko Sudjono dan Hardjono adalah pengikut Amir Sjarifuddin jang pertama-tama, jang memang sudah kelihatan aktif sekali, anti PARI, anti Tan Malaka dan mati-matian mempropagandakan PARI dan Tan Malaka adalah Partai Trotskys/Partai anti Komunis Indonesia, katanja.
                 Dari itulah, Achmad Sumadi bersama-sama dengan Sugoro, Djoko Sudjono, Harjono, Ruskak, Mat Said dan Ambija sengadja dilemparkan ke Digul, ijalah untuk mempengaruhi dan menjampaikan kepada Sardjono cs, bahwa Tan Malaka dan Pemimpin-Pemimpin PARI itu adalah Trotskys dan mereka sudah mendirikan PKI kembali sedjak tahun 1935 bersama-sama, sedang Achmad Sumadi menjatakan kegembiraannja dan merasa sangat bahagia karena Tan Malaka sudah kita bunuh di Manilla pada 7 November 1935, dengan menundjukkan pula foto kuburannja Tan Malaka jang sudah dibunuh/dikubur oleh si Kurus Achmad Sumadi.
                 Demikianlah dengan beruntun-runtun setiap tahun, mulai tahun 1936-1937 dan sampai tahun 1938, dilemparkanlah ke pembuangan Digul Pemimpin-Pemimpin PNI/Sjahrir, Hatta, dkk, Pemimpin PSII/Sabilal Rasjad, dkk, Pemimpin PNI Nur Arif dari Sumatera Barat, Pemimpin Partindo/Muhidin Nasution dan Abdul Hamis Lubis alias Banteng Ketjil dari Medan, Pemimpin Partindo, ajahnja Nasution, dkk dari Djawa Barat dan Djaus, Asmo, Tjipto, dkk dari Surabaja/Djawa Timur, sehinga penduduk Digul bertambah dalam tahun 1936-1940 kurang lebih seratus orang.


-Bersambung-

1 comment:

  1. salam Kenal Bang Arie, Saya Luthfi Tamimy Saya Cucu Dari Bung Djamal Atau Lebih Dikenal Djamaludin Tamim.saya mau Bertukar Pikiran Dengan Abang Dan Saya Memintabtolong Ke Abang Untuk Membantu Saya Untuk Membuat Buku biografi Bung Djamal. Dan Saya Juga Meminta contact Abang Agar mudahnya Kita Berkomunikasi,abang Bisa Email Saya Di Maliktamimy@gmail.com Atau Di 083874000877. Terima Kasih Atas Segalanya Dan Maaf Bila Ada Salah Kata. Assalamualaikum.wr.wb
    Luthfi Tamimy

    ReplyDelete