Translate

5/06/2010

LATAR BELAKANG BERDIRINYA PARTAI ACOMA

Indonesia berpenduduk 80 juta. Sebagian besar daripada penduduk Indonesia hidup dari pertanian. Memang Indonesia ialah negeri yang agraris. Diantara penduduk yang banyak itu terdapatlah kaum Buruh yang sebagian besar bekerja diperkebunan, tambang, pabrik-pabrik, badan-badan eksport dan import serta pengangkutan asing. Di Indonesia berlaku kapitalisme colonial. Kapitalisme colonial inilah yang melahirkan kasta Buruh di Indonesia.

Masyarakat Indonesia asli masih dalam tingkat feodalisme, sedang sisa-sisa komunisme kuno masih-lah juga dirasa pengaruhnya. Demikian-lah kasta Buruh Indonesia berjuang melawan kapitalisme colonial dan feodalisme, sedangkan angan-angan komunisme kuno belum-lah cukup lenyap dari barisannya. Badan putra Indonesia sudah berada dalam abad 20 yang modern, sedangkan pikiran Rakyat Indonesia masih berada di tepi kubur kuno dan gerak langkahnya masih mirip-mirip dengan pahlawan di zaman tengah. Betapa beratnya berjuang dengan syarat yang bercampur ini sangat-lah dirasa oleh putra-putra Indonesia yang maju. Jelas-lah tidak gampang untuk menggalang organisasi Revolusioner di Indonesia.


SEBELUM PERANG DUNIA KEDUA.

Dengan syarat-syarat yang sudah dituturkan diatas sebelum perang dunia kedua Indonesia gagal dalam penyusunan tenaga. Dilapangan organisasi dijumpai kekecewaan yang menuturkan keruntuhan partai-partai Revolusioner satu demi satu. Dalam menghadapi reaksi partai-partai lama seperti PKI tidak-lah berhasil merebut basis untuk bertahan dan selanjutnya para pemimpinnya terpaksa hidup terlunta-lunta dalam pembuangan baik didalam maupun diluar negeri. Karena terlalu lama terpisah dan dipisahkan daripada massa Rakyat, akhirnya sebagai pejuang sebagian besar para pemimpin itu “berkarat” dan luntur dalam pengasingannya. Dalam antara itu nama baik mereka dimasa lalu tetap menjadi buah tutur dikalangan massa Rakyat yang makin hari makin membutuhkan pimpinan itu. Jelas-nya disatu pihak kita menjumpai proses kemerosotan jenis bekas pimpinan, padahal dilain pihak disaksiskan proses penambahan pengaruh bekas pemimpin. Dari sini-lah lahir parasit-parasit (pasilan-pasilan) tradisi yang pada saatnya pertandingan justru mengebiri dan menimbulkan salah ukur massa Rakyat.

Dalam masyarakat kapitalisme colonial, ditengah feodalisme dan komunisme kuno, pengaruh yang merata tanpa pemusatan dan pengawasan Revolusioner itu, akhirnya menempatkan para jago-jago lama (veteran Revolusioner) sebelum perang sebagai bola sepak dan bahan sepak bola dalam pertentangan yang berlaku di Indonesia. Para jago-jago lama berhasil tampil kemuka sebagai perintis penyebaran bibit-bibit perjuangan Revolusioner di Indonesia, tetapi mereka itu tidak berhasil menggalang organisasi Revolusioner sebagai badan pimpinan serta pemusatan kekuatan massa Rakyat.

Kegagalan para jago lama dilapangan organisasi praktis menempatkan sang jago lama dalam kedudukan yang secara vertical (kebawah) praktis lepas dari angkatan mudanya. Sebaliknya jasa jago-jago lama dimasa yang lalu menempatkan sang jago lama secara horizontal (merata), sebagai orang-orang berpengaruh dikalangan angkatan muda. Karena kegagalan dilapangan organisasi pengaruh horizontal itu berlaku tanpa alat dan kesempatan yang layak untuk mendiskusikan serta mempertahankan thesis dan anti thesis yang ditinggalkan oleh para jago-jago lama itu hingga sepanjang tradisi para jago-jago lama itu mewariskan bahan perpecahan dikalangan angkatan muda yang tidak kesemuanya zakelijk dan prinsipil.

AGEN-AGEN PROVOKATEUR MENGUASAI GELANGGANG.

Mendekati perang dunia kedua, makin tambah besar dan meratalah pengaruh para jago-jago lama itu. Dalam keadaan yang sudah dikemukakan diatas perkembangan pengaruh horizontal ini tidaklah beserta dengan kegiatan organisasi secara vertical. Kenyataan ini membuka kemungkinan bagi imperialis dan kaki tangannya untuk menjalankan peranannya dengan topeng nama dan pengaruh para jago-jago lama.

Kegiatan agen provokator ini tidaklah dapat diatasi serta diawasi karena tidak adanya partai yang kongkrit dan representative. Dengan ini feodalisme dan imperialism berkesempatan menambah perpecahan barisan Rakyat Indonesia yang sudah pecah belah itu.

Sesungguhnya alam telah memecah Indonesia dalam beratus, malahan beribu pulau besar dan kecil. Perpecahan ala mini telah ditambah oleh perpecaha diantara para pemimpin dan pemimpin yang sebagian besar sudah merosot derajatnya sebagai parasit tradisi, sedangkan feodalisme dan imperialism pun berkepentingan untuk menambah perpecahan diantara Rakyat Indonesia. Begitulah sementara ada kebebasan bagi para agen provocateur untuk bertindak dan berlaku “atas nama Rakyat Indonesia”. Bukan-lah dongeng kalau dikemukakan disini bahwa putusan Komintern (Komunis International) tahun 1935 yang menyinggung Front Demokrasi Anti-Fasisme itu, di Indonesia tidak-lah berada di tangan kaum Revolusioner, melainkan justru dilaksanakan dibawah pimpinan polisi rahasia belanda. Disinilah berlaku kesedihan dimana nama baik demokrasi dan Komunisme dipersundalkan oleh manusia-manusia curang dan palsu yang terang tidak bermaksud baik kepada Rakyat.

PERLAWANAN RAKYAT.

Dalam antara itu penderitaan Rakyat dimasa pendudukan jepang tidak-lah dapat di perpanjang hanya sekedar memberi waktu bagi kader-kader Revolusioner untuk mempersiapkan pos komandonya. Massa Rakyat sebagai subjek mencari jalannya sendiri. Lepas daripada ada atau tidaknya pimpinan yang cukup berpusat, massa Rakyat sebagai pribadi yang berdaulat dan bersifat menentukan terus menyalurkan hajatnya dengan caranya sendiri dan disana-sini tidak-lah dapat ditahan-tahan lagi meletusnya pemberontakan Rakyat.

Menjelang akhir perang dunia ke II, kebencian masyarakat Indonesia terhadap penjajahan jepang sudah-lah sangat memuncak. Coba-lah di renungkan, Buruh mesin, Buruh tanah dan Tani melarat ingin merdeka dari kerja paksa ala romusha. Tani sedang dan Tani kaya ingin merdeka dari rampasan padi dan hasil buminya. Kaum ningrat ingin merdeka dari kebuasan jepang yang tidak beradat itu. Di daerah jajahan negeri matahari terbit justru kepala orang yang pada waktu kelahirannya terlebih dulu menyaksikan sinar matahari sama sekali tidak dihargakan, karena setiap waktu dapat dipukul oleh dewa kacung-kacung dari Utara. Malahan para pedagang pun ingin merdeka dari belenggu peraturan aneka warna yang datang dari pihak jepang itu. Dan para pelajar banyak marah, karena dilarang memelihara rambut, dipaksa-paksa gundul. Selanjutnya para intelegensia (kaum cerdik pandai) banyak menggerutu, karena dipaksa-paksakan untuk memuja dewa-dewa jepang yang amat menggelikan itu. Jelasnya semua lapisan ingin merdeka dari jepang !!

Tidak-lah mengherankan, kalau aktivis-aktivis kemerdekaan dalam keadaan di masa jepang sudah menyerah dan sekutu belum datang memberanikan diri untuk mempermaklumkan kemerdekaan dengan mendirikan Republik Indonesia. Dengan berdirinya Republik Indonesia lahir-lah pemberontakan semesta di daerah antara benua Asia dan Australia, Afrika dan Amerika. Revolusi Indonesia berkobar dengan mendahului organisasi. Organisasi disusun kemudian dibelakang asap pertempuran. Kekurangan Indonesia sebelum perang menurut kenyataannya menjadi penghalang penyusunan kekuatan Revolusi yang meletus sesudah perang. Karena kekurangan ideology dan organisasi kekuatan massa yang bergelora itu tidak-lah berhasil dipergunakan untuk kepentingan dan kebutuhan massa itu sendiri.

TRADISI ORGANISASI REVOLUSI INDONESIA.

Aktivis-aktivis kemerdekaan yang menjadi pengantar pembukaan Revolusi Indonesia tidak berhasil memimpin Revolusi selanjutnya. Roda Revolusi lepas dari tangannya dan justru lepas menggilas para puteranya. Aktivis-aktivis kemerdekaan yang belum berhasil menggalang Partai yang memenuhi syarat-syarat pimpinan Revolusi sudah-lah terlalu siang berhadapan dengan para jago-jago lama sebelum perang yang sebagai burung gelatik beterbangan pulang ke tanah air. Para jago-jago lama itu ternyata tidak-lah mengurangkan, malahan justru memberatkan beban para aktivis-aktivis kemerdekaan yang bersungguh hati itu. Daripada beserta menyempurnakan ideology dan organisasi Revolusi Rakyat, sebagian besar daripada angkatan lama yang sudah berkarat dan luntur dalam pengasingan itu* malahan menambah perpecahan dengan kocek-kocek basi yang tiada berguna. Kedatangan mereka bukan-lah menambah serta memperbaharui tradisi Revolusioner perjuangan Rakyat Indonesia, tetapi mereka datang sebagai parasit tradisi seolah-olah jasa yang lalu itu sudah cukup dijadikan jaminan untuk memimpin Rakyat selanjutnya. Tingkah para parasit tradisi ini-lah yang kemudian banyak mengebiri dan menimbulkan salah ukur massa Rakyat yang sudah barang tentu sangat menguntungkan kaum penjajah dan kaki tangannya.

PERJUANGAN KASTA DI INDONESIA.

Kapaitalisme colonial melahirkan kasta Buruh Indonesia. Kasta Buruh Indonesia sebagai anti-thesis daripada kapitalisme colonial itu mengandung tenaga perlawanan terhadap kapitalisme colonial. Dalam ichtiar perlawanan ini kasta Buruh di Indonesia bertemu dengan lain-lain kasta yang dirugikan oleh kapitalisme colonial. Dalam barisan ini terhitung pula borjuis nasional. Lain dengan borjuis beberapa negeri tetangga, borjuis nasional Indonesia tidak-lah besar. Dan kalau dibandingkan dengan kapitalis-kapitalis asing borjuis Indonesia terhitung borjuis cilik. Walaupun demikian sebelum perang dunia ke II borjuis nasional Indonesia agaknya lebih banyak memiliki tenaga-tenaga yang cakap dan militant daripada kasta Buruh. Begitulah perjuangan anti-kapitalisme colonial di Indonesia sebelum perang dunia kedua dibawah pimpinan borjuis nasional. Organisasi-organisasi Rakyat sebelum perang dunia ke II praktis dikuasai borjuis nasional. Baik partai-parta yang berhaluan nasionalis maupun keagamaan ataupun Komunis kesemuanya praktis berada dibawah pengaruh borjuis nasional.

Revolusi agustus 1945 menempatkan borjuis nasional yang cilik itu diantara dua api. Disebelah kanan borjuis nasional berhadapan dengan pendaratan tentara penjajahan yang berkepentingan merebut kembali pabrik-pabrik, tambang-tambang dan kebon-kebon serta miliknya yang lain yang sudah dirampas oleh Rakyat Indonesia itu. Disebelah kiri borjuis nasional berhadapan dengan massa Rakyat yang ingin meneruskan Revolusi secara konsekwen. Dalam sejarah borjuis nasional menyeberang dan mempergunakan pemerintahan nasional dan nama baiknya sebelum perang untuk memimpin gerakan penyeberangan dengan bendera kebangsaan, keagamaan dan Komunisme.

Sementara massa Rakyat dapat tertipu dan walaupun para aktivis-aktivis kemerdekaan dengan segala kejujuran dan sekuat tenaga memperingatkan akan kekhilafan daripada gerakan penyeberangan itu, namun massa Rakyat yang sedang dimabok Negara baru, yang karena kekurangan ideology dan organisasi belum ada kemampuan untuk mengadakan perbedaan antara pemerintah dan republik dengan secara keliru menghukum semua gerakan yang menentang politik pemerintah sebagai gerakan anti-republik. Massa Rakyat rupanya masih membutuhkan pengalaman untuk dapat membenarkan suara para aktivis kemerdekaan yang sebagian besar karena umur dan sejarah belum cukup dikenal oleh Rakyat itu. Begitulah berlaku penangkapan dan pembenuhan nasionalis oleh “nasionalis”, Islam oleh “Islam” dan Komunis oleh “Komunis”. Kesemuanya ini sudah-lah barang tentu memperdalam dan memperluas perpecahan organisasi Rakyat di Indonesia.

Setelah kapitalisme colonial kembali menjadi kenyataan, dimana lapisan yang luas diantara bangsa Indonesia benar-benar kembali merasakan penindasan dan pemerasan seperti hal-nya dengan keadaan sebelum perang dunia ke II, maka disanalah mulai tumbuh kesadaran betapa khianatnya gerakan penyeberangan yang diusahakan oleh borjuis nasional yang bimbang ragu itu. Kuburan aktivis-aktivis kemerdekaan mulai dicari orang dan kawan-kawan ativis kemerdekaan mulai dipanggil orang. Dari bawah sampah dan lumpur mulai tampak dan menampakkan diri para aktivis kemerdekaan memenuhi panggilan untuk selanjutnya berangsur-angsur mengoper pimpinan susunan Rakyat kembali.

CATATAN SEJARAH.

Pada pokoknya sebelum perang organisasi di Indonesia lahir dengan mendahului pertumbuhan dikalangan massa Rakyat. Sebelum perang organisasi di Indonesia disusun dari atas. Ikhtiar ini mengalami kegagalannya. Begitulah sekalipun sebelum perang banyak partai yang menamakan diri sebagai pelopor, tetapi dalam kenyataannya diwaktu pendaratan jepang (tahun 1942) dan diwaktu penyerahan jepang (tahun 1945) tidak-lah tampak sepotong pun daripada pelopor-pelopor itu yang dengan riil memimpin perlawanan Rakyat. Malahan Revolusi Indonesia membuktikan bahwa justru tenaga-tenaga yang baru menetas dari telor yang satu sama lain belum mengenal dan bergabung itu yang membuktikan lebih banyak kegiatannya, walaupun angkatan muda ini-pun tidak berhasil memimpin Revolusi selanjutnya. Kesemuanya member pelajaran bahwa kita Rakyat Indonesia, bahwa yang dinamakan pelopor itu, bukan-lah sekali-kali ia atau golongan yang menamakan diri sebagai pelopor, melainkan ia atau golongan yang benar-benar mem-praktek-an pekerjaan pelopor. Barang siapa berdiri ditengah-tengah gelora massa dan berhasil membuktikan praktek-pratek pimpinan kepada massa yang bergelora itu, ialah sesungguhnya pelopor yang sangat dibutuhkan.

Sesudah perang dunia ke II ditengah gelora Revolusi, dalam penyusunan organisasi terlibat dua pertumbuhan yang bersimpang. Disatu pihak tampak kegiatan gabungan antara angkatan perang imperialis dengan sisa-sisa birokrasi dan mata-mata hindia-belanda serta parasit-parasit tradisi dari barisan jago-jago lama untuk menggalang partai-partai dan sarekat-sarekat diatas dasar perjuangan parlementer yang sengaja disediakan sebagai backing yang legal daripada kaum komprador dan opportunis yang duduk dalam pemerintahan. Dilain pihak ada kegiatan daripada para aktivis kemerdekaan untuk menggalang kesatuan garis perlawanan dari dalam jumlah semua kesatuan yang bergerak dalam kordinasi perlawanan Rakyat diatas dasar Massa Aksi !!

Gabungan antara angkatan perang imperialis dengan sisa-sisa birokrat dan mata-mata hindia-belanda dengan backing para parasit tradisi berhasil membentuk pemerintah likwidator yang mengembalikan kekuatan modal asing dalam daerah kepulauan Indonesia. Sebaliknya kegiatan para aktivisi-aktivis kemerdekaan melahirkan himpunan perlawanan dengan nama Persatuan Perjuangan yang disyahkan dalam kongresnya di solo 15-16 januari 1946 dengan Minimum Programnya yang dikenal:

1. Berunding atas pengakuan Kemerdekaan 100%.

2. Pemerintah Rakyat.

3. Tentara Rakyat.

4. Melucuti senjata jepang.

5. Mengurus tawanan eropa.

6. Mensita perindustrian musuh.

7. Mensita pertanian musuh.

Karena kekurangan-kekurangan dimasa sebelum perang sebagaimana hal-nya yang sudah dikemukakan diatas, akhirnya golongan Massa-Aksi terguling. Gabungan angkatan perang imperialis dengan sisa-sisa birokrasi dan mata-mata hindia-belanda, serta para parasit tradisi kemudia berhasil membubarkan Persatuan Perjuangan dari dalam pada bulan april 1946. Dengan ini cair-lah perjuangan Rakyat. Dengan ini kebebasan penuh bagi kapitalis colonial untuk kembali merajalela didaerah kepulauan Indonesia.

LAHIRNYA ACOMA.

Menghadapi bencana ini ternyata partai-partai lama seperti PKI tidak-lah berdaya. PKI dalam kelemahannya malahan berterang-terang bersekongkol dengan imperialis dengan sikap-sikapnya yang mati-matian membela pemerintah penanaman modal asing dan tindakan-tindakannya yang secara aktif menjadi mata-mata imperialis dan penghianat perjuangan bangsa dan Rakyat Indonesia yang 80 juta. Sebaliknya golongan lain dari angkatan lama yang berada diluar formasi PKI secara organisasi tidak-lah dapat dibuktikan ikhtiarnya. Sudah-lah diketahui pula, bahwa organisasi setia-kawan internasional “Komunis International (KOMINTERN)” sudah lama bubar (1943). Kekosongan ini mengandung tanggung jawab dikalangan angkatan muda non-PKI untuk meneruskan tradisi Revolusioner perjuangan Rakyat Indonesia. Untuk ini dibutuhkan alat dan tempat. Demikian-lah pada tanggal 10 juni 1946 lahir Angkatan Communis Muda dengan singkatan ACOMA, dibawah pimpinan kawan IBNU PARNA.

ACOMA ini dilahirkan sebagai ikatan kader proletar muda dari kaum pekerja dilapangan perindustrian dan pertanian, serta pemerintah dan peralatannya, ikatan kader-kader yang sepakat hendak meneruskan tradisi Revolusioner perjuangan Rakyat Indonesia diatas dasarMASSA AKSI !! Menilik bahan umur para pengasuhnya ACOMA pada waktu lahirnya dikenal orang sebagai organisasi pemuda. Padahal menilik susunan dan gerak langkah pada waktu lahirnya ACOMA sudah menjalankan tugas partai dengan tidak menamakan dirinya sebagai partai. Dalam ikhtiarnya ACOMA mempergunakan saluran yang mungkin untuk mengantar programnya. Begitu-lah ACOMA memasuki gelanggang pemuda, maupun medan kepartaian di Indonesia. Dilapangan pemuda ACOMA menggalang Kongres Nasional Indonesia Muda (KNI Muda) dan sepanjang pelaksanaan tugas partai, ACOMA mengambil peranan dalam menentukan garis politik badan-badan anti-imperialis sesudah Persatuan Perjuangan seperti Gerakan Revolusi Rakyat (GRR).

Perjuangan ACOMA dikenal dalam perlawanannya terhadap Linggarjati** – Renville***. Dan tidak ada golongan yang lebih ditakuti oleh kaum Linggarjati – Renville daripada ACOMA. Berjuta-juta uang ditaburkan oleh kaum Linggarjati – Renville untuk menghancurkan perjuangan ACOMA dan pengaruhnya. Dengan ini kegiatan ACOMA tidak-lah menjadi berkurang, melainkan nama ACOMA justru berkumandang di seluruh nusantara. Kalau ACOMA dimasa itu tidak berhasil menghalang-halangi pembelokan yang diusahakan oleh kaum Linggarjati – Renville itu perlu-lah dimengerti, bahwa bila kaum Linggarjati – Renville berhasil memaksakan Linggarjati – Renville yang melikwidir kemerdekaan Rakyat itu, maka kesemuanya itu bukan-lah karena keulungan partai-partai Linggarjati – Renville seperti PKI dan Partai Sosialis, tetapi semuanya itu karena kerendahan PKI dalam membuntut dan memboceng kepada imperialism. Politik “ngawula” dari PKI dapat beroleh pengaruh, karena massa Rakyat masih membutuhkan pengalaman politik dan sepadan dengan penambahan pengalaman dari pada mass itu, massa Rakyat ber-angsur-angsur mendukung garis perjuangan ACOMA yang sesungguhnya berdiri diatas garis massa Rakyat itu.

Lambat laun dikalangan pengaruh partai-partai lama-pun ramai dipersoalkan ACOMA sebagai pemusatan dan perlawanan massa Rakyat. Ber-angsur-angsur pertumbuhan yang sehat meninggalkan partai-partai lama untuk selanjutnya menghampiri dan memperkuat perjuangan ACOMA. Disinilah bahan-bahan formil yang dapat meragukan peranan ACOMA sebagai partai perlu dihapuskan dan ketegasan status ACOMA sebagai partai perlu di proklamirkan.

AHLAL - BIHALAL PKI.

Menyaksikan pertumbuhan diatas PKI tiba-tiba dengan mendadak mengakui kesalahan dan secara formil-nya merubah haluan politik yang berkelanjutan dengan pernyataan anti KMB yang menjadi sambungan semata-mata daripada Linggarjati – Renville itu. Melayani perkembangan ini demi kejernihan pertumbuhan yang sehat dikalangan sayap kaum Buruh dan Rakyat pekerka, maka ACOMA menawarkan perundingan bersama untuk meninjau kemungkinan pemusatan tenaga-tenaga Komunis yang banyak berpisah dan dipisahkan itu. Ikhtiar ini dilaksanakan oleh ACOMA dengan mengundang PKI dalam konferensi “HAJAT PERSATUAN” yang diadakan di jogja, hingga tiga kali. Konferensi Persatuan I diadakan pada tanggal 25 oktober 1950. Konferensi Persatuan ke II diadakan pada tanggal 23 - 24 november 1950 dan Konferensi Persatuan ke III pada tanggal 24 december 1950. PKI menolak menghadiri Konferensi Persatuan ini dan secara ceroboh melemparkan tuduhan yang bukan-bukan. Dengan gagal-nya Konferensi yang mengandung hajat persatuan ini maka terbongkar-lah kepalsuan PKI, bahwa pengakuan kesalahan PKI itu hanya siasat ahlal - bihalal belaka.

BUKAN SOAL TIMBANG TERIMA.

Pertumbuhan massa dari bawah yang kian hari kian mengerti kepalsuan, kecerobohan dan penghianatan yang berlaku selama ini sudah-lah barang tentu dipandang sebagai bahaya oleh pemimpin-pemimpin curang yang tidak tahu malu yang berkomplot didalam PKI itu. Untuk bertahan mereka mempergunakan birokrasi untuk memalsukan demokrasi sentralisme. Untuk bertahan mereka sengaja main schematisme untuk memotong dan merusak pertumbuhan yang sehat diluar lingkarannya. Untuk bertahan mereka justru merangkul anasir-anasir reaksioner dengan mencoret pertentangan kasta sebagai dasar perjuangan. Untuk bertahan mereka mengakui kesalahan dengan tidak mengakui kebenaran orang. Itulah sebabnya bahwa ikhtiar persatuan dan kesatuan selalulah dipandang sebagai kesempatan yang akan member perhitungan yang terakhir kepada mereka manusia-manusia penipu dan pembohong itu. Sebelum mati berkalang tanah tidak-lah pula segan-segan mereka menghabiskan nafasnya dengan terus menerus melemparkan tuduhan dan fitanahan palsu. Para aktivis kemerdekaan tahu, bahwa makin keras mereka memaki, makin dekat-lah mereka dengan liang kuburnya. Mendekati liang kubur, untuk bertahan mereka akhirnya meneruskan tradisi PKI yang sudah ialah memuliakan “politik ngawula” dengan mengorbankan dasar-dasar yang prinsipiil untuk selanjutnya memberi massa kepada borjuis komprador dengan belat-belit yang sehidup semati dengan pemerintah modal asing.

TITIK KELANJUTAN.

Nyatalah proses kesatuan organisasi Indonesia bukan-lah proses schema, melainkan proses daripada pertumbuhan dari dalam tubuh kasta Buruh dan Rakyat Pekerja Indonesia sendiri. Begitulah ikhtiar kearah kesatuan organisasi kasta Buruh dan Rakyat Pekerja Indonesia tidak-lah boleh dipandang sebagai ikhtiar pengumpulan atau peringkasan schema, melainkan suatu proses pergulatan yang tiada lepas daripada pergulatan kasta Buruh dan Rakyat Pekerja Indonesia sendiri. Kesatuan organisasi kasta Buruh dan Rakyat Pekerja bukan-lah hasil pat-pat gulipat, bukan-lah ciptaan keramat, satu - dua - tiga…… jadi….., melainkan hasil perjuangan yang tangkas ligat dan tiada bimbang ragu berdasarkan kepentingan dan kebutuhan serta kekuatan kasta Buruh dan Rakyat Pekerja.

Berdasarkan semuanya kenyataan beserta pertimbangan diatas, untuk menghindari kekaburan organisasi maka ACOMA yang secara riil dari mulai lahirnya praktis menjalankan tugas partai itu perlu juga memiliki ketegasan formil, hingga hilang-lah sifat “amfibi” yang disangkakan dan diragukan orang itu. Kaum amfibi dan kaum ragu yang prakteknya melumpuhkan organisasi ACOMA dari dalam perlu disingkirkan.

Beberapa orang, diantaranya Sidik Kertapati**** menolak kejernihan ini dan demi kelancaran ikhtiar selanjutnya ACOMA menjatuhkan hukuman royemen atas pribadi Sidik Kertapati. Ketegasan partai ditempuh. Gelar Angkatan Communis Muda disempurnakan menjadi Angkatan Communis Indonesia, tetap dengan singkatan ACOMA. Kesemuanya ini dinyatakan dalam resolusi yang diumumkan kemudian pada tanggal 8 agustus 1952. Ketegasan status partai yang ditempuh oleh ACOMA ini sesungguhnya tiada lain daripada ikhtiar yang mem-formilkan barang yang dalam kenyataannya sudah lama berlaku.

USAHA KERTAPATI YANG SUDAH DIROJIR***** DARI ACOMA.

Sidik Kertapati yang sudah di rojir dari ACOMA itu bertindak menentang golongan terbanyak yang dengan coba-coba secara perseorangan menyerobot nama ACOMA dengan status yang amat kabur dengan mempertahankan nama Angkatan Communis Muda, dikatakan kabur, karena dipandang sebagai organisasi pemuda, ikhtiar Kertapati itu sudahlah tidak mungkin karena sifat-sifat pemuda menilik bahan umurnya sudahlah tidak ada. Dikatakan sebagai organisasi biasa pun tidak-lah mungkin, karena sifat masal tidak-lah ada pada ikhtiar itu. Dikatakan partai a-priori sudah-lah ditolaknya. Kekaburan status semacam itu-lah yang ditawarkan dan dibela oleh Kertapati.

Dengan kekaburan status yang ditawarkan dan dibela oleh Kertapati itu semua pemusatan pertumbuhan sekitar pasti mengalami keruntuhan dan penyelewengan semata-mata. Disinilah Kertapati dalam prakteknya merusak tradisi Revolusioner daripada ACOMA. Disinilah Kertapati semata-mata bertugas untuk mengacaukan Partai ACOMA guna kepetingan golongan-golongan lain yang secara Revolusioner tidak-lah dapat dipertanggung-jawabkan. Namun begitu pengacauan Kertapati untuk kepentingan golongan lain itu tidak-lah perlu dikhawatirkan, karena kekaburan status yang ditawarkan dan dibelanya itu tidak mempunyai dasar yang kuat, malahan mengandung bahan-bahan keruntuhan yang pasti dan tentu akan me-likwidir usaha Kertapati itu sendiri.

PARTAI ACOMA.

Menghadapi status Partai ACOMA, PKI sementara merasa dapat mempergunakan ikhtiar Kertapati sebagai instansi yang dapat menyalurkan hajat PKI untuk melikwidir Partai ACOMA. Kalau dalam sejarah terbukti bahwa gotong-royong PKI, dengan imperialis tidak berhasil merobohkan ACOMA, maka perlu-lah kiranya diberi tahu kepada PKI bahwa instansi Kertapati yang dipergunakan itu hanya terdiri dari beberapa gelintir orang rojiran yang dari mulanya sudah sibuk mencari jalan dan akal untuk membubarkan diri.

Lain daripada itu, ada golongan tertentu yang berpendapat, bahwa modal pangkal Partai ACOMA sungguh kurang cukup memiliki perkembangan-perkembangan sejarah yang memadai. Dengan ini mereka hendak berkata, bahwa status partai yang ditempuh oleh ACOMA itu sangat-lah gegabah. Kepada mereka baik-lah diperingatkan bahwa:

1. Andaikan mereka merasa memiliki modal pangkal sejarah yang memadai, maka sikap yang serupa dengan sapi dikebiri yang tiada lagi berguna bagi kelanjutan sejarah, patut disesalkan sebagai parasit tradisi yang perlu ditiadakan.

2. Andaikan mereka merasa memiliki modal pangkal sejarah yang memadai, maka sikap yang mempergunakan pangkal sejarah yang cukup hanya untuk menghianati perjuangan Rakyat sesungguh-lah tidak boleh dibiarkan.

3. Andaikan mereka merasa belum memiliki pangkal sejarah yang memadai, maka usaha persatuan tanpa ikhtiar pembentukan kesatuan tidak-lah mungkin membawa faedah yang di-inginkan.

4. Tidak-lah ada garis panjang ataupun pendek yang tidak bermula dari satu titik.

5. Etiket jasa dimasa yang lalu yang tergurat dalam sejarah belum-lah boleh dijadikan jaminan kwalitiet yang dibutuhkan sekarang.

Kemudian terserahlah kepada kaum Buruh dan Rakyat Pekerja Indonesia.

PENUTUP.

Kiranya sudah-lah cukup banyak diuraikan mengenai latar belakang berdirnya Partai ACOMA. Sebagai penutup mungkin ada faedahnya kalau ditambahkan disini sebagai catatan, bahwa angkatan perang imperialis dengan sisa-sisa birokrasi dan mata-mata hindia-belanda, dengan backing para parasit tradisi yang sudah banyak dikemukakan diatas tidak hanya membatasi serangannya dimedan perjuangan dalam negeri, tetapi diluar negeri pun mereka itu tidak ada habis-habisnya dalam ikhtiarnya untuk menjelek-jelekan nama baik kaum Revolusioner di Indonesia. Usaha dilakukan untuk memisahkan pertumbuhan Revolusioner di Indonesia dengan kekuatan-kekuatan Revolusioner di luar negeri. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa penghianatan yang dipelopori PKI di Indonesia ini, tidak-lah hanya merusak basis secara nasional tetapi juga secara internasional. Perlawanan Rakyat anti-penindasan dan pemerasan seluruh dunia dengan ini dirugikan, lebih-lebih kalau diingat bahwa Indonesia yang kaya-raya ini merupakan bagian yang penting daripada Revolusi dunia.

Sudah selayaknya kalau dinasehatkan kepada kawan-kawan diluar negeri untuk bersikap hati-hati sekali menyinggung masalah Indonesia. Informasi-informasi yang diperoleh dari sumber-sumber sesat perlu ditinjau kembali. Kebiasaan untuk “me-relay” dan ikut menuduh dan mendakwa bersikap “serba tahu” dengan tidak mengerti persoalan yang sesungguhnya tentang Indonesia perlu diakhiri. Lebih bijaksana kiranya kalau kawan-kawan di luar negeri menyerahkan persoalan Indonesia kepada aktifis-aktifis kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Pandang-lah keruwetan dan pertentangan yang berlaku di Indonesia antara Partai ACOMA dan PKI sebagai soal intern Indonesia. Barang siapa menguasai basis Indonesia diatas garis massa Rakyat secara nasional dan internasional, itulah golongan yang perlu dihargakan. Perlu dicamkan, bahwa para aktifis kemerdekaan yang tergabung didalam atau diluar Partai ACOMA dalam keadaan bagaimana-pun juga tetap dengan tulus ikhlas meneruskan tugasnya dan mereka ini-lah yang dipanggil untuk menyelesaikan intern Indonesia. Di Indonesia kita berlomba berebut jasa terhadap massa Rakyat. Orang boleh berteriak dan mengaku begini, begitu, sejarah-lah nanti yang akan menjadi hakim.

Disahkan dalam sidang

Konferensi Komite Pusat Lengkap

Partai “Angkatan Communis Indonesia” (ACOMA)

(tanggal 16-19 Mei 1954)

Catatan: (penterjemah)

*Yang dimaksud dengan jago-jago lama adalah bekas para pimpinan PKI dimasa lalu yang berada di pengasingan baik itu yang berada dibelanda, digoel maupun Australia. Mereka berada dipengasingan disebabkan akibat huru-hara yang gagal dibawah pimpinan PKI untuk melawan pemerintahan hindia-belanda pada tahun 1926-1927. Para pimpinan-pimpinan itu adalah: Sardjono, Alimin, Maroeto Daroesman, Setiadjit, Abdul Madjid, Mangkudun Sati, Budisutjitro dkk.

**Perjanjian Linggardjati:
Perjanjian ini ditandatangai pada tanggal 25 maret 1947, wakil dari pemerintahan imperialis belanda adalah Prof. Schemerhorn yang dianggotai oleh Van Mook dan Idenburg dan wakil dari pemerintah Indonesia adalah PM. Sutan Sjahrir dan Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin serta wakil dari pemerintahan inggris adalah Lord Killearn.

Isi Perjanjian Linggardjati diantaranya sbb:

1. Belanda mengakui Republik Indonesia secara de-facto atas wilayah Jawa, Madura dan Sumatera.

2. Pemerintahan Belanda dan Indonesia akan bersama-sama membentuk suatu Negara Indonesia yang berdaulat dan berdemokrasi yang berdasarkan perserikatan, yang dinamakan Negara Indonesia Serikat (NIS) yang meliputi wilayah seluruh hindia-belanda.

3. NIS dan kerajaan belanda akan membentuk univerband yang dikepalai oleh ratu belanda dan akan bekerja sama dibidang luar negeri, pertahanan, keuangan, ekonomi dan kebudayaan.

4. Pemerintah Republik Indonesia mengakui hak orang-orang bukan bangsa Indonesia dan akan memulihkan hak-hak mereka yang dilakukan dengan dikembalikannya barang-barang milik mereka yang lagi berada didalam kekuasaan de-facto.

5. Pemerintah Republik Indonesia menjamin membayar hutang hindia-belanda yang dilakukan sebelum 8 maret 1948.

6. dll

***Perjanjian Renville:

Perjanjian ini ditandatangani diatas kapal perang angkatan laut amerika yang bernama RENVILLE, wakil dari pemerintahan belanda adalah colonel Abdul kadir widjojoatmodjo, Mr Van Vredenburgch, Adji pangeran kartanegara, Masjarif gelar bendahara, prof. Husein djajadiningrat, dll, sedangkan wakil dari pemerintahan Indonesia adalah PM. Amir sjarifuddin (anggota PKI bawah tanah), Drs Setiadjit (anggota Partai Sosialis dan juga PKI bawah tanah), Sutan sjahrir, Agus salim, Ali sastroamidjojo, dll. Dan sebagai penengah adalah KTN (Komisi Tiga Negara - Australia, Belgia dan Amerika) yang dipimpin oleh Graham.

Isi perjanjian Renville jika diringkas kurang lebih sbb:

1. kedaulatan atas hindia-belanda seluruhnya ada dan akan tetap berada ditangan kerajaan Nederland sampai waktu yang ditetapkan. Kerajaan belanda akan menyerahkan kedaulatan ini kepada Negara Indonesia Serikat.

2. Dalam pemerintahan federal sementara, sebelum diadakan perubahan dalam UUD Negara Republik Indonesia Serikat, kepada Negara-negara bagian akan diberikan perwakilan yang adil.

3. Dalam waktu tidak kurang dari 6 bulan atau lebih dari 1 tahun sesudah perjanjian ini di tandatangani, maka daerah-daerah di jawa, sumatera dan Madura akan diadakan pemungutan suara apakah Rakyat-Rakyat didaerah tersebut akan turut dalam Republik Indonesia atau Negara bagian lain didalam lingkungan Negara Republik Indonesia Serikat.

4. Perjanjian “Penghentian Permusuhan”:

• Anasir-anasir angkatan militer Republik yang masih ada di dalam daerah yang diduduki tentara belanda akan dipindahkan kedaerah mereka sendiri dengan senjata, perlengkapan dan barang-barang persenjataan perang.

• Pemindahan ini akan dilakukan dengan bantuan dan pengawasan dari pembantu-pembantu militer KTN. Perintah-perintah lebih lanjut akan dikeluarkan oleh Kepala Staf Umum masing-masing, setelah mengadakan perembukan,

• Pemindahan akan dilakukan secepat mungkin, tetapi setidak-tidaknya dalam 21 (dua puluh satu) hari setelah persetujuan gencatan perang ditandatangani.

Akibat perjanjian Renville ini pemerintahan Indonesia harus mengosongkan kantong-kantong gerilya di seluruh daerah pendudukan dan pengosongan daerah-daerah gerilya itu dilakukan tanpa ada sebutir peluru pun yang diletuskan padahal Rakyat dan laskar gerilya siang malam bahu membahu mempertaruhkan darah, harta dan air mata untuk mempertahankan daerah itu. (ingat hijrah pasukan siliwangi dari jawa barat menuju Jogjakarta pada tahun 1948).

****Sidik Kertapati: Pada perang kemerdekaan 1945-46 beliau tergabung dalam Laskar Rajat Djakarta Raja (LRDR) dan duduk pada dewan politik (DePol) bersama Chairul Saleh, Darwis, Johar Noer, Sjamsudin Tjan, Ahmad Astrawinata dan Armunanto. Pada saat dibentuknya Federasi (Laskar Rajat Djawa Barat – LRDB) dari laskar-laskar Rakyat yang meliputi daerah Kerawang, Sukabumi, Banten, Bogor, Cirebon, Tegal dan Purwokerto sekitar bulan November 1946 yang berpusat di Cirebon Sidik Kertapati terpilih menjadi salah satu pimpinannya. Setelah di rojir dari ACOMA maka dia bergabung dengan PKI dan pada saat pemilu 1955 terpilih masuk ke dalam DPR-GR/MPRS sebagai wakil Angkatan 45.

*****Diroyir: dipecat

4 comments:

  1. Selamat pagi pa arie widodo, saya mahasiswa tingkat akhir yg sedang menulis skripsi, kebetulan judul skripsi saya mengenai lahir dan peranan partai murba 1948-1959, saya kekurangan sumber pustaka serta sumber wawancara (Lisan ), apakah bapak bisa membantu saya, jika bisa mohon hubungi saya di email: Novriadisitompul@yahoo.com, Terima kasih pak, salam murbaisme.

    ReplyDelete
  2. Selamat pagi pa arie widodo, saya mahasiswa tingkat akhir yg sedang menulis skripsi, kebetulan judul skripsi saya mengenai lahir dan peranan partai murba 1948-1959, saya kekurangan sumber pustaka serta sumber wawancara (Lisan ), apakah bapak bisa membantu saya, jika bisa mohon hubungi saya di email: Novriadisitompul@yahoo.com, Terima kasih pak, salam murbaisme.

    ReplyDelete
  3. Selamat pagi pa arie widodo, saya mahasiswa tingkat akhir yg sedang menulis skripsi, kebetulan judul skripsi saya mengenai lahir dan peranan partai murba 1948-1959, saya kekurangan sumber pustaka serta sumber wawancara (Lisan ), apakah bapak bisa membantu saya, jika bisa mohon hubungi saya di email: Novriadisitompul@yahoo.com, Terima kasih pak, salam murbaisme.

    ReplyDelete