2/08/2010

Hitler dan SBY

Ini hanya selingan menghibur saja. Semoga film ini sebagai refreshing bagi pembaca blog ini yang masih tetap melawan. Semoga terhibur Kamerad semua.

video

2/03/2010

Komunisme dan Pan-Islamisme (terjemahan)

Penerjemah: Ted Sprague, Agustus 2009

Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda oleh pihak otoritas koloni. Setelah proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua Partai Murba (Partai Proletar)), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengorganisir kelas pekerja oposisi terhadap pemerintahan Soekarno. Pada bulan Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.



Kamerad! Setelah mendengar pidato-pidato Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan kamerad-kamerad Eropa lainnya, serta berkenaan dengan pentingnya, untuk kita di Timur juga, masalah front persatuan, saya pikir saya harus angkat bicara, atas nama Partai Komunis Jawa, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur.

Saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal tersebut. Mungkin Jenderal Zinoviev tidak memikirkan mengenai sebuah front persatuan di Jawa; mungkin front persatuan kita adalah sesuatu yang berbeda. Tetapi keputusan dari Kongres Komunis Internasional Kedua secara praktis berarti bahwa kita harus membentuk sebuah front persatuan dengan kubu nasionalisme revolusioner. Karena, seperti yang harus kita akui, pembentukan sebuah front bersatu juga perlu di negara kita, front persatuan kita tidak bisa dibentuk dengan kaum Sosial Demokrat tetapi harus dengan kaum nasionalis revolusioner. Namun taktik yang digunakan oleh kaum nasionalis seringkali berbeda dengan taktik kita; sebagai contoh, taktik pemboikotan dan perjuangan pembebasan kaum Muslim, Pan-Islamisme. Dua hal inilah yang secara khusus saya pertimbangkan, sehingga saya bertanya begini. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boikot atau tidak? Kedua, apakah kita akan mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Bila ya, seberapa jauh kita akan terlibat?

Metode boikot, harus saya akui, bukanlah sebuah metode Komunis, tapi hal itu adalah salah satu senjata paling tajam yang tersedia pada situasi penaklukan politik-militer di Timur. Dalam dua tahun terakhir kita telah menyaksikan keberhasilan aksi boikot rakyat Mesir 1919 melawan imperialisme Inggris, dan lagi boikot besar oleh Cina di akhir tahun 1919 dan awal tahun 1920. Gerakan boikot terbaru terjadi di India Inggris. Kita bisa melihat bahwa dalam beberapa tahun kedepan bentuk-bentuk pemboikotan lain akan digunakan di timur. Kita tahu bahwa ini bukan metode kita; ini adalah sebuah metode borjuis kecil, satu metode kepunyaan kaum borjuis nasionalis. Lebih jauh kita bisa mengatakan; bahwa pemboikotan berarti dukungan terhadap kapitalisme domestik; tetapi kita juga telah menyaksikan bahwa setelah gerakan boikot di India, kini ada 1800 pemimpin yang dipenjara, bahwa pemboikotan telah membangkitkan sebuah atmosfer yang sangat revolusioner, dan gerakan boikot ini telah memaksa pemerintahan Inggris untuk meminta bantuan militer kepada Jepang, untuk menjaga-jaga kalau gerakan ini akan berkembang menjadi sebuah pemeberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para pemimpin Mahommedan di India – Dr. Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara – pada kenyataannya adalah kaum nasionalis; kita tidak melihat sebuah pemberontakan ketika Gandhi dipenjara. Tapi rakyat di India sangat paham seperti halnya setiap kaum revolusioner disana: bahwa sebuah pemberontakan lokal hanya akan berahir dalam kekalahan, karena kita tidak punya senjata atau militer lainnya di sana, oleh karena itu masalah gerakan boikot akan, sekarang atau di hari depan, menjadi sebuah masalah yang mendesak bagi kita kaum Komunis. Baik di India maupun Jawa kita sadar bahwa banyak kaum Komunis yang cenderung ingin memproklamirkan sebuah gerakan boikot di Jawa, mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia telah lama dilupakan, atau mungkin ada semacam pelepasan mood Komunis yang besar di India yang bisa menentang semua gerakan. Bagaimanapun juga kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah kita akan mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita akan mendukung?

Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.

Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasii pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.

Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah. [Ketua: Waktu anda telah habis]

Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari .[Tepuk Tangan]

Para anggota Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut mereka, untuk menggunakan sebuah ekspresi yang popular, tetapi di hati mereka mereka masih bersama Sarekat Islam, dengan surga mereka. Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda kita lagi.

Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan kita dengan Sarekat Islam. Pada kongres kami bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Uni Soviet dan berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda mengenai agama mereka, mereka bisa melakukan ini, meskipun mereka tidak boleh melakukannya di dalam pertemuan-pertemuan tetapi di masjid-masjid.

Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim - ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim [Tepuk Tangan Meriah], karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! [Tepuk Tangan Meriah] Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami.

Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada bulan Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki pekerja kereta api di bawah kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu saja kami mendatangi mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah mengatakan bahwa di dunia ini pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! [Tepuk Tangan Meriah] Pekerja kereta api adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa]

Tapi ini tidak menyelesaikan masalah kita, jika kita pecah lagi dengan mereka kita bisa yakin bahwa para agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan argumen Pan-Islamisme mereka. Jadi masalah Pan-Islamisme adalah sebuah masalah yang sangat mendadak.

Tapi sekarang pertama-tama kita harus paham benar apa arti sesungguhnya dari kata Pan-Islamisme. Dulu, ini mempunyai sebuah makna historis dan berarti bahwa Islam harus menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan ini harus dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah [Pemimpin dari Negara Islam – Ed.], dan Sang Khalifah haruslah keturunan Arab. 400 tahun setelah meninggalnya Muhammad, kaum muslim terpisah menjadi tiga Negara besar dan oleh karena itu Perang Suci ini telah kehilangan arti pentingnya bagi semua dunia Islam. Hilang artinya bahwa, atas nama Tuhan, Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan dunia, karena Khalifah Spanyol mengatakan, aku adalah benar-benar Khalifah sesungguhnya, aku harus membawa panji [Islam], dan Khalifah Mesir mengatakan hal yang sama, serta Khalifah Baghdad berkata, Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena aku berasal dari suku Arab Quraish.

Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.

Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?

Saya akhiri pidato saya. [Tepuk Tangan Meriah]

1/31/2010

MAKLUMAT FRONT OPOSISI RAKYAT INDONESIA

Diserukan pada saat Deklarasi Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR Indonesia)

"Rezim SBY Gagal"

Front Oposisi Rakyat Indonesia pada hari ini memaklumatkan:


Babak Pertama: Problem Rezim SBY Lima Tahun Seratus Hari

Selama Lima Tahun Seratus Hari Rezim SBY berkuasa telah nyata berhasil menjadi jongos Rezim Neoliberal –yang menindas rakyat Indonesia dengan sistem “Tiga Bebas”, yakni investasi, keuangan dan perdagangan yang dipersembahkan kepada kaum modal besar yang beroperasi di seluruh sektor ekonomi di Indonesia.

Bidang investasi. Dalam masa pemerintahan Rezim SBY, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM) dikeluarkan demi memberikan fasilitas, insentif dan kemudahan yang sangat luas kepada penanam modal. Fasilitas yang diberikan jauh lebih luas dibandingkan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (UU PMA). Padahal UU PMA telah menjadi pintu ke luar eksploitasi kekayaan alam tambang, perkebunan dan hasil hutan selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru. Selain itu UU PM yang kemudian diikuti dengan Peraturan Presiden RI Nomor 77 Tahun 2007 telah menyerahkan seluruh sumber daya ekonomi Indonesia untuk dikuasai secara mayoritas oleh modal asing. Di sektor energi dan sumber daya mineral 95 persen dapat dikuasai modal asing, sektor keuangan 85 persen dapat dikuasai modal asing, Bank Indonesia 99 persen boleh dikuasasi modal asing dan bahkan sektor pertanian 95 persen boleh dikuasai modal asing.

Bidang Keuangan. Rezim SBY mengeluarkan Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana telah direvisi dengan Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2004, yang menjadikan Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga independen menjadi dasar dari liberalisasi keuangan. Fungsi BI telah diprioritaskan untuk menjaga nilai tukar uang rupiah, yang menjadikan bank sentral sebagai spekulan pasar uang. Selanjutnya keluarnya Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas devisa menetapkan pemberlakukan sistem devisa bebas dalam mengatur lalu-lintas devisa di dalam negeri dan ke luar negeri. Keluarnya aturan-aturan liberalisasi keuangan dan devisa bebas menyebabkan pengusaha asing dapat sewaktu-waktu mentransfer dana dan keuntungan mereka ke luar negeri atau ditukarkan dengan mata uang bukan rupiah. Tidak hanya itu, aktivitas transaksi investor asing di dalam negeri dapat menggunakan mata uang non-rupiah, khususnya dolar Amerika Serikat, yang menyebabkan mata uang rupiah tidak akan pernah menjadi mata uang yang kuat dan kita kehilangan devisa ratusan triliun setiap tahun hanya untuk mengintervensi pasar uang.

Bidang Perdagangan Rezim SBY telah melakukan perjanjian perdagangan bebas Free Trade Agreement (FTA) dengan hampir semua negara maju: Jepang, China, Korea dan Australia serta AS, Uni Eropa (potensial). Langkah ini diambil oleh Indonesia pasca-kebuntuan perundingan WTO. Perjanjian perdagangan bebas tersebut meliputi hampir seluruh bidang yang berkaitan dengan investasi dan perdagangan. Hal yang disepakati dalam FTA jauh lebih menyeluruh dibandingkan dengan WTO karena menyangkut seluruh aspek liberalisasi perdagangan barang dan jasa. FTA akan semakin meningkatkan impor berbagai produk industri dan pertanian pada tingkat tarif bea masuk yang sangat rendah bahkan dapat mencapai nol persen. Saat ini saja Indonesia telah mengimpor hampir seluruh produk pertanian, beras, kedelai, produk peternakan seperti 30 persen kebutuhan daging nasional, sebanyak 70 persen dari total konsumsi susu, bahkan jeroan. Kecenderungan pada impor yang terus membesar semakin menyebabkan sektor pertanian dan industri dalam negeri terpuruk. Adapun subsidi telah dicabut atas desakan kesepakatan-kesepakatan utang yang dibangun dengan lembaga pemberi utang dalam hal ini IMF, World Bank, dan Asian Development Bank. Bahan bakar minyak (BBM), listrik, air minum, transportasi, telekomunikasi telah masuk ke dalam pasar bebas dan harganya dijual pada tingkat harga pasar. Perusahaan-persuahaan publik seperti Pertamina, Perusahaan Air Minum, perusahaan transportasi dan telekomunikasi telah menjadi perusahaan swasta dan dioperasikan dalam rangka mencari keuntungan.



Babak Kedua: Problem Rakyat Dalam Kekuasaan Rezim SBY



1. Buruh, Tani dan Nelayan

Akibat “Tiga Bebas” (Investasi, keuangan negara dan perdagangan), kondisi rakyat saat ini menderita kemiskinan yang parah. Meski menjadi kelas sosial yang paling banyak menyumbang bangunan ekonomi, politik, sosial di Indonesia; buruh, tani dan nelayan merupakan kelas terdepan yang kehidupannya telah dihancurkan program neoliberal Rezim SBY.

Kami sajikan fakta-fakta kebijakan Rezim SBY yang telah, sedang dan akan menghancurkan buruh, tani dan nelayan, selama Lima Tahun Seratus Hari pemerintahannya.

Buruh dan Kontrak: Fleksibilisasi pasar tenaga kerja dalam bentuk kontrak (outsourcing) dalam Lima Tahun Seratus Hari Rezim SBY, telah menyebabkan 70% angkatan kerja menjadi pekerja sektor informal yang tidak punya jaminan dan perlindungan kerja. Selain itu rezim telah melakukan pemberangusan serikat-serikat buruh secara membabibuta, sehingga kini tinggal 10% dari total sekitar 30% angkatan kerja aja yang berserikat. Sedangkan 90% buruh saat ini bekerja tanpa serikat. Dari yang berserikat, pada kenyataannya pengurus serikat tersebut dalam keadaan mendapat intimidasi. Praktek pemberangusan dan pengontrolan serikat buruh semacam ini serupa dengan masa kekuasaan Rezim Orde Baru. Akibatnya, buruh mendapat upah tidak layak, dan nyaris semua upah adalah versi kepentingan Rezim dan Pemodal, yang senyatanya hanya memenuhi 60%-80% hidup layak.

Selama Lima Tahun Seratus Hari, praktek penutupan pabrik sepihak, manipulasi pemailitan, dan PHK sewenang dan massal menjadi metode untuk memaksimalkan kerja kontrak dan outsourcing. Selain itu Rezim SBY juga telah menolak raftifikasi Konvensi Perlindungan Buruh Migrant PBB tahun 1990, yang jelas membuktikan tidak adanya komitmen perbaikan model, strategi, dan kebijakan perlindungan buruh migrant.

Perlu ditekankan di sini, bahwa mayoritas buruh pabrik dan buruh migran adalah kaum perempuan yang harus menanggung beban keberlangsungan hidup keluarga. Sedangkan seluruh komponen untuk keberlangsungan keluarga merupakan produk impor yang harganya ditentukan oleh monopoli di dalam rezim perdagangan bebas. Buruh perempuan pabrik dan migran bekerja tanpa perlindungan di tempat kerja dari ancaman kekerasan seksual.

Itulah sebabnya Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) tetap berjuang untuk diakui sebagai Konfederasi Serikat Buruh, namun jsutru hal ini yang ditolak oleh Rezim SBY.

Petani dan Tanah. Definisi pembangunan untuk kepentingan umum yang berdiri di atas tanah rakyat saat ini telah diambil-alih untuk kepentingan investor. Sebelumnya, yang disebut dengan pembangunan untuk kepentingan umum adalah proyek-proyek pemerintah yang bermanfaat bagi publik dan tidak digunakan sebagai alat mencari keuntungan. Sedangkan saat ini, lihatlah, pembangunan sarana untuk kepentingan umum, seperti, jalan tol, rumah sakit, palabuhan, dan pasar , dibangun dengan cara menggusur tanah rajyat (termasuk tanah amsyrakat adat) dan telah dimiliki oleh investor swasta nasional dan asing, yang sudah tentu berorientasi mencari keuntungan maksimal.

Penguasaan tanah oleh investor diperbolehkan hingga jangka waktu 95 tahun – jangka waktu penguasaan yang belum pernah diberikan bahkan pada zaman kolonial Belanda sekalipun. Bandingkan dengan masa Hindia-Belanda yang hanya diperbolehkan menyewa tanah selama jangka waktu 75 tahun (hak erfacht). Runyamnya, berbagai fasilitas lainnya juga diberikan pemerintah melalui Undang-Undang tersebut seperti kelonggaran pajak, tarif, dan bea masuk barang modal.

Kini, Perpres 65/2006 tentang Pengadaan Tanah bagi Kepentingan Umum telah menjadi Rancangan Undang-Undang yang diprioritaskan pelaksanaannya dalam program Seratus Hari Rezim SBY-Boediono. RUU Pengadaan Tanah adalah langkah mundur dari program SBY di bidang agraria yang telah diwacanakan selama ini. Sebab, Rezim SBY memanjakan keluhan para investor yang hendak menanam modal di bidang proyek infrastruktur atas sulitnya mendapatkan tanah di Indonesia. Padahal, saat ini para investor telah terbukti menelantarkan tanah yang ditemukan berstatus izin atas hak guna mereka (HGU, HGB, HP). BPN sendiri dalam laporannya di tahun ini mengindikasikan tidak kurang 7.1 juta hektar tanah diindikasikan terlantar dan tidak dapat ditertibkan karena lemahnya peraturan. Yang sangat dibutuhkan petani saat ini adalah sebuah Undang-Undang Pengadaan Tanah Bagi Rakyat Miskin bukan untuk Investor.

Tanah bagi petani perempuan juga sangat vital, tak sekedar pada aspek pemilikan atas tanahnya namun juga di atas tanah itu petani perempuan melaksanakan proses sosialisasi anak, merawat ternak, merawat tanaman untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Tanpa tanah, petani perempuan kehilangan tempat untuk membudidayakan manusia, tanaman dan hewan.

Nelayan, Pesisir dan Laut. Dalam sektor perikanan, 50% dari kerja nelayan adalah perempuan, di mana mereka bekerja hingga 17 jam sehari untuk mengolah ikan. Namun, pekerjaan perempuan ini belum diakui sebagai pekerjaan nelayan, pun mereka menghadapi diskriminasi dan non-prioritas dalam kepemilikan sumberdaya, akses penghidupan dan pendidikan yang layak. Secara pokok nelayan menghadapi problem sebagai nelayan tradisional dalam hal akses dan kontrol atas wilayah pesisir dan laut, pengkaplingan laut dan pesisir melalui UU No 27 Tahun 2007 yang melegalisir HP3 (hak pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil), ancaman perubahan iklim bagi nelayan yang tak diperhatikan negara, pencemaran laut oleh buangan limbah perusahaan tambang, penyusutan wilayah mangrove akibat praktek reklamasi pantai yang menyingkirkan wilayah kelola nelayan tradisional dan masyarakat pesisir serta kekerasan negara di kawasan laut, misalnya taman nasional.


2. Lingkungan dan Sumberdaya Alam

Rezim SBY telah mengeluarkan kebijakan pengaturan sumberdaya alam, yakni UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara., yang berorientasi pasar. Dalam Nastional Summit yang diselenggarakan akhir Oktober 2009 (seminggu setelah rezim SBY dilantik sebagai Presiden RI) telah ditegaskan pentingnya pengadaan tanah untuk pembangunan infrasutruktur dan investasi pada idnustri pertambangan serta perkebunan. Kebijakan ini hanyalah menambah beban pengrusakan lingkungan, pengeksploitasian sumberdaya alam, penggusuran masyarakat dari sumber penghidupannya.

Pengerukan sumberdaya alam ini akan menyebabkan bencana ekologis yang sangat mustahil untuk dihentikan. Dampak bencana dan perubahan iklim akan terjadi lebih parah bagi kehidupan rakyat. Musim hujan akan memunculkan banjir, sedangkan musim kemarau akan menyebabkan kekeringan. Kedua musim ini yang seharusnya menjadi berkah bagi penghidupan petani dan nelayan, sekarang justru menjadi ancaman yang berdampak pada rentannya ketahanan pangan. Gagal panen, kelaparan, gizi buruk merupakan fakta yang saat ini mencekik kehidupan petani, nelayan, dan juga kepada buruh.

Anehnya, dalam rangka menajwab kekalahan industri nasional dalam praktek pasar bebas, Rezim SBY justru menyelamatkan kapital para investor modal besar, dengan menyerahkan negara ini untuk dikeruk besar-besaran sumberdaya alamnya --guna menyediakan bahan mentah untuk menunjang pemenuhan industri di negara kapital besar.

Dalam kehancuran lingkungan dan sumberdaya alam, kaum perempuan yang selama ini bergantung padanya, kehilangan sumber mata pencaharian yang penting buat makan anggota keluarganya. Inilah proses pemiskinan perempuan yang primitif, yang mempunyai mata rantai dengan buruknya kesehatan ibu dan anak.


3. Pendidikan, Kesehatan, dan Pelayanan Dasar Lainnya

Pendidikan. Rezim SBY gagal menjamin kepastian warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Yang dinyatakan pemerintah telah menaikkan anggaran pendidikan mencapai 20%, yang senyatanya diterima publik hanya sekitar 9%, sisanya lebih banyak digunakan untuk kepentingan birokrasi, pendidikan bagi aparatus pendidikan serta menjadi ajrahan koruptor. Seharusnya anggaran 20% ini dialokasikan sebagai dana pendidikan untuk rakyat, sehingga generasi baru dapat sekolah hingga perguruan tinggi.

Nyata pula, Rezim SBY benar-benar menghambat warganya yang miskin untuk mendapatkan pendidikan di sekolah yang murah dan berkualitas. Dikeluarkannya UU BHP, yang prakteknya adalah komersialisasi pendidikan, menyebabkan hanya anak orang kaya yang bisa menikmati sekolah yang berkualitas namun mahal. Sedangkan sekolah kejuruan yang dibuka untuk orang miskin, hanya menghasilkan angka pengangguran terbesar.

Kesehatan. Rezim SBY gagal mengatasi gizi buruk dan tingginya angka mortalitas ibu & bayi, khususnya di Nusa Tenggara Timur, Papua, dan daerah terpencil lainnya. Hal ini juga berkoeralsi dengan korupsi di Jamkesmas, penyunatan anggaran 5% untuk kesehatan sesuai dengan UU No 36 tahun 2008, pasal 171, ayat 1, namun dalam prakteknya hanya 2.4% yang dipergunakan untuk pelayanan kesehatan masyarakat.


4. Pemberantasan Korupsi

Telah nyata, Rezim SBY tidak memiliki political will untuk memperkuat kelembagaan lembaga pemberantasan korupsi. Justru selama Lima Tahun Seratus hari Rezim SBY berkuasa yang mencitrakan anti-korupsi, nyatanya telah melakukan kriminalisasi KPK, RPP Penyadapan –yang itu berarti melemahkan sistem pemberantasan korupsi.

Tingginya kebocoran pengelolaan anggaran rakyat yang dikelola oleh pemerintah menunjukkan bahwa rezim ini gagal mengatasi anggaran negara. Bahkan, dalam masa 100 hari pemerintahannya, Rezim SBY menunjukkan dengan seterang-terangnya ke hadapan rakyatnya yang miskin akan pembelian mobil mewah untuk pejabatnya yang menelan biaya Rp 127 milyar; pembangunan pagar istana sebesar Rp 22.5 milyar; pembelian pesawat khusus kepresidenan yang uang mukanya sebesar Rp 200 milyar. Rupanya Rezim SBY mementingkan alat transportasi pribadi untuk pejabatnya sebagai bentuk penyuapan untuk memperkuat kekuasaannya, sama persis dengan pembangunan pagar istana –yang secara simbolis dapat dimaknai sebagai pembentengan atas kekuasaan rezimnya, ketimbang mendahulukan kesejahteraan rakyatnya.


5. Hak Asasi Manusia

Selama Lima Tahun Seratus Hari Rezim SBY, masih terjadi praktek-praktek kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum, seperti penembakan terhadap para petani di Palembang, penembakan terhadap para tersangka tindak pidana kriminal, kekerasan dalam kasus penggusuran, serta berbagai bentuk kekerasan lainnya yang dilakukan aparat keamanan, yang telah mengakibatkan ter-aniayanya Hak atas Rasa Aman dan Hak untuk Bebas dari Penyiksaan. Selain itu, budaya kekerasan di kalangan Kepolisian –yang menyatakan diri sebagai pelindung rakyat-- masih bercokol. Contohnya, sejarawan alumni UI, JJ Rizal, tanpa diketahui alasannya telah dikeroyok dan dianiaya oleh lima orang anggota polisi di Depok.

Hal yang terpenting, Komnas HAM menyimpulkan bahwa terdapat sejumlah bukti yang menyebabkan terjadinya kegagalan dalam mengadili para pelaku yang seharusnya bertanggungjawab atas terbunuhnya Munir, sehingga terjadi impunitas.

Supremasi hukum yang berkeadilan juga masih sangat lemah di mana terdapat jurang yang lebar antara landasan normatif dan penegakannya. Contohnya seorang nenek yang mencuri tiga buah coklat dihukum oleh pengadilan, sementara koruptor BLBI bebas dari jerat hukum. Selain itu, praktek penyiksaan masih tetap terjadi, bukan hanya di tempat-tempat penahanan/penghukuman akan tetapi juga tempat-tempat lain terutama di tempat-tempat dimana orang dirampas kebebasannya, sementara di tingkat nasional belum tersedia mekanisme nasional yang efektif untuk pencegahan penyiksaan.



Babak Ketiga: Solusi For Indonesia Sejahtera


Kami menawarkan solusi untuk kesejahteraan rakyat melalui perjuangan yang membebaskan rakyat Indonesia dari kekuasaan Rezim SBY jongos Rezim Neoliberal, melalui Lima Prinsip Strategi Perjuangan:

(1) Mewujudkan Reforma Agraria Sejati; melalui prioritas program nasional pemerintah RI dalam hal ; (a) Penataan tanah dan sumber daya agraria secara jelas dan adil untuk lahan pertanian petani (petani gurem, nelayan, masyarakat adat dan kaum miskin pedesaan, yang juga memperhatikan kekhususan kepentingan perempuan), untuk penyelamatan ekologi, untuk pengembangan usaha, untuk pengembangan kota dan untuk keperluan pemerintahan. (b) Melakukan evaluasi terhadap kepemilikan tanah skala besar oleh perusahan asing, swasta nasional dan BUMN untuk diberikan pemanfaatannya kepada rakyat. (c). Penyelesaian sengketa dan konflik agraria secara menyeluruh dan adil. (d) Dukungan penguatan produksi, akses permodalan, teknologi dan perlindungan tata niaga yang adil dan berpihak kepada petani, yang juga mengkhususkan kepada kepentingan petani perempuan.

(2) Mewujudkan Keadilan Ekologis; yaitu hak untuk mendapatkan keadilan antar generasi yang memperhatikan prinsip keadilan gender, prinsip keselamatan rakyat, keberlanjutan jasa pelayanan alam dan perlindungan produktivitas rakyat, dimana semua generasi baik sekarang maupun mendatang, berhak terselamatkan dari ancaman dan dampak krisis, serta penghancuran sumber-sumber kehidupan rakyat.

(3) Pembangunan Industrialisasi Nasional; mengakhiri model produksi ekonomi kolonial dan para kompradornya (jongos) dengan membangun kemandirian ekonomi, industri dan keuangan nasional yang berpihak pada kepentingan buruh dan rakyat Indonesia, termasuk juga memperhatikan kepentingan perempuan.

(4). Mewujudkan Demokrasi Ekonomi; melalui penguasaan negara terhadap sumber-sumber produksi dan usaha-usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak (mineral, batubara, migas, hutan, air, tanah, laut, dll) dalam rangka pemenuhan hak dasar (pendidikan, kesehatan, pekerjaan) serta memperluas kegiatan produksi, yang dikerjakan oleh semua (dalam keadilan gender), untuk semua dibawah penilikan bersama dalam rangka mewujudkan kemakmuran rakyat banyak dan bukan kemakmuran orang per orang. Termasuk di dalamnya agenda penghapusan utang lama dan penghentian pembuatan utang baru untuk kemandirian ekonomi nasional.

(5) Penegakan HAM (Hak Asasi Manusia); melalui penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak dasar yang meliputi hak sipil politik serta ekonomi, sosial dan budaya, yang berkeadilan gender. Termasuk penghukuman yang adil dan tegas terhadap pelaku pelanggaran HAM.



Babak Keempat: Pernyataan Front Oposisi Rakyat Indonesia Terhadap Rezim SBY

Setelah menjabarkan Problem Rezim SBY sebagai jongos rezim Neoliberal, Problem Utama Rakyat dalam Kekuasaan Rezim SBY, serta Solusi For Indoneisa untuk Indonesia Sejahtera, dengan ini kami maklumatkan bahwa REZIM SBY TELAH GAGAL MEMIMPIN INDONESIA UNTUK MENSEJAHTERAKAN RAKYAT.

Kami merupakan elemen-elemen gerakan rakyat yang memaklumatkan diri untuk bersatu melawan Rezim SBY dan sistem politiknya yang korup-neoliberal dengan membangun FRONT OPOSISI RAKYAT INDONESIA, yang disingkat "FOR Indonesia".

Kami akan terus berjuang berlandaskan Lima Prinsip Strategi Perjuangan hingga kesejahteraan rakyat Indonesia terwujud, hingga rakyat Indonesia terbebas dari penjarahan dan penghisapan rezim neoliberal beserta jongosnya yang setia: Rezim SBY!

Kami tegaskan, FORI akan berjuang untuk Ganti Rezim dan Ganti Sistem!


Dikeluarkan di Jakarta, 21 Januari 2010


Salam Oposisi

Persatuan Perjuangan Indonesia (PPI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Konsorsium Pembaharu Agraria (KPA), Walhi, KontraS, PPRM, Indonesia Corruption Watch (ICW), Indonesia Budget Centre (IBC), IKOHI-Indonesia, Aliansi Rakyat Bersatu (ARB), PERGERAKAN, Pusat Studi Hukum & Kebijakan (PSHK), KM-Raya, KM-UI, KMU, Posberaksi, PPRP-Jakarta, Revolusi Desember 09, Kamerad, KPOP, SBTPI, SRMPI, Gerilya, GPPI, FPPK, STIGMA, FGII, YAPPIKA, IGJ

FTA ASEAN-China “Jalan Sesat Menuju Kesejahteraan”

Oleh: Kawan Berjoeang

Situasi Umum

Perdagangan Bebas adalah sebuah cita-cita bagi kelas pemodal dalam mempercepat akumulasi modal di segala penjuru pelosok dunia, yang termanifestasi dalam “pasar terbuka” secara global tanpa adanya hambatan dalam perdagangan, sehingga perdagangan bebas (FTA-China) disambut gembira oleh semua kelas pemodal segala penjuru di wilayah ASEAN dan China, kecuali mereka yang masih belum berani bertarung dalam persaingan perdagangan termasuk pengusaha Indonesia yang berteriak menyatakan ketidaksiapan dengan memohon-mohon kepada Negara untuk menundanya dengan beberapa kompensasi, tapi pada prinsipnya mereka menyambutnya tanpa bantahan apapun.


Perdagangan bebas mensyaratkan akan adanya penghapusan atas hambatan seperti tariff bea masuknya barang-barang impor ataupun barang ekspor dalam rute perdagangan. FTA ASEAN-China yang telah disepakati pemerintah Indonesia telah melakukan itu yaitu menghilangkan hambatan dalam bentuk tarif menjadi 0 % dalam 10 sector (Industri Besi dan baja, tekstil, petrokimia, alas kaki, makanan dan minuman, holtikultura, Elektronik, kabel, serat sintetis, dan mainan) dan ada sekitar 2.500 subsektor industry. Penghapusan tariff tersebut bagi mereka-kelas pemodal adalah keharusan dan bagian dari fair trade Karena adanyanya bea masuk apalagi kebijakan dalam bentuk proteksi merupakan unfair trade dalam payung liberalisme. Alasan perdagangan bebas (FTA) dari kelas pemodal dan rezim borjuasi adalah pertama; memberikan keuntungan pada masing-masing Negara yang terlibat dalam perdagangan yaitu peningkatan pertumbuhan, senada dengan apa yang dikatakan Pejabat Kementerian Perdagangan Tiongkok Zhang Kening bahwa zona perdagangan bebas akan memberikan pertumbuhan ekonomi masing-masing negara dan akan mengembangkan keunggulan masing-masing dan terealisasi menang bersama. Pandangan itu tidaklah berbeda dengan apa yang dikatakan David Ricardo salah satu tokoh ekonomi Liberal tentang Comparative Advantage yang terbukti gagal-hanya mendatangkan kemudaratan dan kemengan bagi Negara lain dari hasil penghisapan atas Negara lain. kedua; mensejahterakan rakyat, hal ini dilihat dari pemenuhan konsumsi masyarakat secara lebih mudah dengan harga murah. Menjadi pertanyaan apakah alasan yang dikemukan benar adanya atau sebaliknya hanya akan melahirkan kemudaratan bagi Negara dan masyarakat Indonesia?.

Menjawab hal tersebut tidaklah serta merta mengatakan ya atau tidak, tapi penting untuk kita teliti secara obyektif dengan melihat material atau kondisi ekonomi dan kemampuan masyarakat yang sering dikatakan sebagai potensi pasar yang mampu menciptakan permintaan dalam setiap penawaran barang. Setiap orang yang mengku jujur tentu akan mengatakan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia masih rendah, belum memiliki kekuatan untuk bertarung dengan Negara lain. Pada penguasaan pasar dalam negeri misalnya industri nasional dan juga pengusaha dalam negeri tidak mengusai sepenuhnya pasar domestic, artinya bahwa aktivitas ekspor Negara lain mendapatkan penguasaan pasar, menurut APINDO sendiri 50% pasar dalam negeri dikuasai produk-produk impor, sebanyak 40% datang dari china (sebelum FTA ASEAN-China), apalagi mereknya perdagangan bebas dengan hilangnya tariff bea masuk, subsidi atas ekspor dari negara mereka (China) akan mampu menekan harga serendah-rendahnya dipasaran.

Sedangkan situasi akibat krisis global semenjak pertengahan 2008 mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi dengan fluktuasi pasar yang tidak memberikan kepastian dalam aktivitas ekonomi, peningkatan jumlah pengangguran akibat PHK, masih sempitnya lapangan kerja dan banyaknya perusahaan yang gulung tikar termasuk lembaga perbankkan yang ditutup dan dicabut izinnya karena tidak layak untuk beroperasi. Sehingga kondisi tersebut pada akhirnya memaksa pemerintah melakukan revisi atas laju pertumbuhan ekonomi. Sebagai tambahan situasi, secara agregat dalam aktivitas perdagangan antar Negara, Indonesia semenjak tahun 2008-2009 mengalami defisit neraca perdagangan, artinya nilai impor melebihi nilai ekspor. Sekilas gambaran kondisi tersebut cukuplah bagi kita untuk menyatakan bahwa situasi ekonomi dalam negeri masih lemah. Dan perdagangan bebas di bawah system yang kapitalistik tidaklah bisa disandarkan di mana Negara masih mengalami ketergantungan akan produk-produk luar negeri (impor), aktivitas ekonomi yang masih menyandarkan pada ekonomi padat karya, penguasaan teknologi yang masih rendah dan keterbatasan modal dengan menyandarkan modal dari hutang pada lembaga-lembaga donor international.

Sementara disisi yang lain berbeda jauh kondisinya dengan China yang sudah tergolong sebagai kekuatan baru dalam ekonomi dunia atau disebut kekuatan baru (New force market). Karena tepat adanya bahwa China sudah masuk dalam kategori perusahaan terbesar bedasarkan kapitalisasi pasar seperti PetroChina, Ind&Comm Bank Of China, China Mobile, China Contructions Bank dan HSBC. Hal ini menandakan bahwa China merupakan salah satu kekuatan ekonomi dunia yang mampu menggeser penguasa pasar eropa (G-8) yang selama ini selalu menguasai atau memonopoli asset-asset ekonomi dunia. Situasi yang berbanding terbalik dengan Indonesia yang masih mengalami kekacauan/ketidakstabilan ekonomi atau dengan kata lain masih dalam waktu yang lama berada pada fase pemulihan, pembangunan kekuatan ekonomi akibat dari dampak krisis semenjak krisis 1998-2009.

Dengan Negara diluar China yang tergabung dalam ASEAN Indonesia masih belum menjadi Negara yang mendominasi berdasarkan kapitalisasi pasar. Laporan Kompas (28/12/09) sampai dengan tahun 2008 perdagangan Negara anggota ASEAN dengan China Indonesia masih di bawah Thailand, Singapura dan Malaysia dengan nilai ekspor Indonesia sebesar 11.673 Juta Dollar AS dan nilai impor sebesar 15.247 Juta Dollar AS-neraca perdagangan negatif.

Gambaran umum akan situasi ekonomi Indonesia memperlihatkan kenyataan bahwa fondasi kekuatan ekonominya dalam keadaan rapuh yang pada prinsipnya masihlah jauh untuk menjadi pemenang dalam pertarungan di tengah perdagangan ala kapitalisme yang dalam sejarahnya memenangkan Negara-negara yang kuat secara kekuatan ekonomi-menghisap Negara, sementara Indonesia dengan segala ketidakefesienan, dengan ekonomi biaya tinggi dan perkakas pendukungnya yang tidak cukup tersedia akan sulit mendapakan kontribusi terhadap ekonomi Indonesia.

Dampak Perdagangan Bebas

Janji-janji yang ditawarkan dalam perdagangan bebas, seperti; pertumbuhan ekonomi, dan lain sebagainya hanyalah sebuah janji yang realisasinya sulit untuk kita temukan, kecuali akibat-akibat buruk belaka.

Banyak dari pengusaha manufaktur Indonesia berteriak ketakutan karena alasan ketidaksiapan menghadapi FTA ASEAN-China bukan berarti mereka melakukan penolakan terhadap perdagangan bebas-teriakan mereka hanyalah karena akan mengalami bencana kerugian dan gulung tikar. Terbukti mereka hanya menginginkan penundaan dengan beberapa rancangan kompensasi mereka. Wajar mereka tidak siap, kekuatan yang mereka miliki tidaklah sebanding dengan kekuatan China ataupun beberapa negara intra ASEAN yang masih mengungguli mereka, belum lagi menghadapi nilai impor (migas dan non migas) dari negara seperti Eropa dan Amerika.

Terlepas dari ketakutan para pengusaha Indonesia FTA ASEAN-China akan mengakibatkan De-industrialisasi nasional baik industri yang sepenuhnya dikuasai swasta ataupun industri milik negara (BUMN). De-industrialisasi merupakan kondisi di mana industri-industri nasional tidak mampu lagi melakukan produksi akibat kerugian atas transaksi. Gejala tersebut akan terlihat dari penurunan produksi, penurunan profit atas transasksi dan kehilangan pangsa pasar. Gejala deindustrialisasi pada dsarnya sudah terlihat sebelum FTA ASEAN-china disepakati dan dijalankan pada awal tahun 2010, hal ini ditandai dengan penetrasi barang-barang negara luar yang menguasai 50% pangsa pasar dari keseluruhan pasar dalam negeri akibat dari meningkatnya nilai impor atas barang luar negeri.

Perdagangan bebas ASEAN-China tanpa ada hambatan termasuk dalam tariff bea masuk tentunya akan semakin menambah suplay barang-barang luar negeri terutama China terhadap pasar dalam negeri. Banyaknya barang dalam pasaran (Suplay>Demand) akan memungkinkan terjadinya penurunan harga dalam logika hokum penawaran dan permintaan. Bahwa terlepas dari hukum pasarnya, bahwa penurunan harga pasti akan terjadi sebagai akibat dari penurunan tariff bea masuk sampai nol persen apalagi china mendapatkan subsidi dari negaranya. Dari segi Demand atau permintaan akan barang dengan desakan atas pemenuhan kebutuhan ditambah lagi kapasitas daya beli masyarakat Indonesia yang masih rendah akan meminta barang dengan harga yang lebih murah. Liberalisme tidaklah mempersoalkan pada kemampuan pesaingnya tapi pada bagaimana memenangkan persaingan, maka industri dalam negeri tidaklah keluar sebagai pemenang tapi menuai kekalahan dengan segala bentuk kerugiannya. Pada situasi seperti itu kita akan melihat fenomena kebangkrutan (gulung tikar) termasuk industri berskala kecil ataupun UMKM akan tergilas, fenomena privatisasi BUMN dan akuisi, singkatnya De-industrialisasipun tak terhindarkan.

Memang perlu diakui perdagangan bebas akan memungkinkan penurunan harga dibandingkan periode sebelumnya walaupun ukuran kualitas atas barang itu tidak memberikan jaminan. Penurunan harga bukanlah hal baru dalam pertarungan bebas dipasaran, lihat saja pada masa sebelumnya kita sudah dijejali produk-produk China dengan tawaran harga yang lebih murah dari tawaran produk lain. Tapi apakah hal itu menguntungkan?. Hal itu menguntungkan jika kita lihat hanya pada segi harga murahnya tapi berbeda kalau dilihat dari segi kelaykan upah yang diterima oleh kelas buruh ataupun pendapatan yang dimiliki masyarakat seperti petani, kaum miskin kota. Gaji/Upah yang mereka terima belumlah mampu untuk mendapatkan kelayakan hidup disbandingkan dengan kelas pemodal/pengusaha yang hidup dari hasil kerja kelas buruh, jauh berbeda juga bila dibandingkan dengan pejabat tinggi negara.

FTA ASEAN-China besar kemungkinan akan terjadinya penurunan Upah kelas buruh. Penyebab itu, pertama; kekuatan bersaing tidaklah cukup kuat ditumpukan pada aktivitas produksi dengan cost produksi yang tinggi, maka pengeluaran-pengeluaran perusahaan haruslah ditekan seminimal mungkin, salah satu jalannya adalah menurunkan upah buruh. Kedua; pasar tenaga kerja. Adanya lapangan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah pecari kerja menjadikan pasar (Suplay) tenaga kerja semakin bertambah, hal ini akan memberikan legitimasi bagi pengusaha dalam kontrak kerja memberikan upah murah. Situasi dilematis nagi kelas buruh-kalau tidak diterima tidak bekerja, tidak bekerja tidak ada pendapatan, tidak ada pendapatan maka tidak bisa memenuhi kebutuhan. Itulah kapitalisme yang menempatkan kelas buruh sama dengan komoditas yang tunduk pada hukum pasar. Bahwa sebenarnya kondisi itu tidak akan terjadi manakala negara lewat kebijakan-kebijakannya berpihak pada kelas buruh bukan sebaliknya sebagai alat kepentingan kelas pemodal. Maka harga murah berbanding lurus dengan penurunan upah pada kelas buruh.

Negara dan kelas pemodal tanpa dosa sedikitpun mengatakan bahwa perdagangan bebas akan memberikan keuntungan masing-masing negara dan kelas buruh seperti; tersedianya barang-barang dengan harga murah. Jangan tertipu, karena hal itu hanyalah kata manis untuk mengelabui sehingga mendapatkan legitimasi pemberlakuan perdagangan bebas dari masyarakat

De-industrialisasi akibat dari FTA ASEAN-China tidaklah selesai pada persoalan kerugian ataupun kolapsnya suatu perusahaan tapi lebih dari itu. Akan menjadi penyebab utama terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja terhadap kelas buruh Indonesia selain upah murah. Inilah seharusnya yang paling kita takuti karena bagi kelas buruh kerja adalah syarat bagi mereka untuk bertahan hidup. Selama ini ketakutan para pengusaha termasuk APINDO adalah semata-mata karena ketidaksiapan mereka bertarung dan menerima kekalahan bukan pada hilangnya pekerjaan kelas buruh sebagai tenaga produktif industri, sehingga yang paling dasar seharusnya menjadi ketakutan kita adalah akan terjadinya PHK besar-besaran. Adanya FTA ASEAN China jumlah ter-PHK akan semakin bertambah banyak, diprediksikan jumlahnya mencapai 7,5 juta buruh diluar angkatan kerja yang belum bekerja.

Sementara kasus PHK pada tahun sebelumnya secara kumulatif dalam jumlah yang tidak sedikit, laporan akhir tahun 2009 DepnakerTrans jumlah PHK yang tercatat sebesar 69.000 buruh. Sebagai sekedar catatan tambahan tentang PHK disektor tekstil menurut data Kompas.com (30/12/09) sepanjang tahun 2008-2009 sebanyak 426 industri tekstil dan produk tekstil (TPT) gulung tikar sehingga 78.158 tenaga kerja diberhentikan. Beberapa gambaran mengenai PHK di atas mengartikan bahwa ketidakmampuan industri nasional untuk bersaing dengan Negara lain seperti China akan secara otomatis menambah daftar kasus PHK, sementara lapangan kerja masih terlalu sempit untuk menampung jumlah pengangguran yang ada.

Di wilayah terpisah, sector tani tidaklah jauh berbeda situasinya karena memang FTA tidak hanya akan berdampak pada kehidupan kelas buruh. Selama ini persoalan agraria masih menjadi pekerjaan rumah yang semestinya harus diselesaikan, tidak sedikit sumber-sumber agraria termasuk tanah di atasnya dikuasai oleh pemodal bukan rakyat. Selama ini pula sector agraria sudah memberikan kontribusi terhadap devisa Negara walaupun memang hasil dari tidak jelas peruntukkannya dengan kata lain tidak digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Terkait dengan FTA ASEAN-China sector pertanian tentu tidak akan terlepas dari dampak perdagangan bebas tersebut karena mau tidak mau suka ataupun tidak suka harus diterima. Adanya struktur agrarian yang timpang di mana penggunaan, penguasaan dan peruntukannya masih di tangan segilintir kelas berpunya. Bahwa pendapatan dari sector agrarian tentu tersenteral di tangan mereka (kelas pemodal), sementara sangat berbeda kondisinya dengan petani miskin (pasion) yang memiliki beberapa ukuran lahan pertanian (tanah) hanya mampu memproduksi sekedar menjawab kebutuhan hidup apalagi mereka yang tidak memiliki tanah menggantungkan hidup sebagai buruh tani dengan menawarkan tenaganya.

Secara keumuman hasil produksi dari sector pertanian termasuk bahan mentah industri dari adanya FTA akan terimbas pada menurunnya harga produk mereka, karena pertama; industri akan meminta dengan harga yang lebih rendah sebagai bagian dari penurunan variable cost produksi mereka, pilihan lainnya adalah menurunkan kapasitas permintaan mereka. Kedua; penetrasi barang-barang impor luar negeri sehingga menambah semakin banyak persediaan di pasar. Sekedar bukti, masuknya beras luar negeri dari aktivitas impor Negara mengakibatkan turunnya harga beras dalam negeri yang dihasilkan petani, maka akan terjadi ketidakseimbangan antara cost produksi dengan hasil produksi (minus). Hal serupa terjadi pula pada kaum nelayan, menurut BPS hingga juni 2009 berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Juni 2009, nilai impor perikanan Indonesia telah mencapai 72,68 juta dolar AS atau melebihi 50 persen dari impor perikanan tahun 2008. Kedatangan produk kelautan dan perikanan luar negeri lewat mekanisme FTA bisa kita perkirakan pasar dalam negeri akan kebanjiran diikuti penurunan harga atas produk tersebut. Sudah barang tentu mekanisme itu akan menurunkan pendapatan kaum nelayan yang notabenenya berproduksi menggunakan teknologi rendah bahkan masih adanya cara-cara tradisional-merupakan kondisi yang berbanding terbalik.

Dampak selanjutnya dari hal tersebut adalah kaum tani khususnya tani miskin akan menjual atau menyewakan lahan mereka akibat dari ketidakmampuan berproduksi dan mereka-kaum tani menjual tenaga mereka sebagai buruh tani atau mencari hidup pada industri sementara industri mengalami deindustrialisasi, sungguh pilihan yang sangat sulit. Ditambah lagi dengan program Nasional Summit rezim borjuasi SBY-Boediono semakin meninggikan tingkat eksploitasi dan penderitaan itu, tepat adanya jika itu adalah kapitalisme berwatak rampok.

Sesungguhnya sudah jelas dihadapan kita bahwa perdagangan bebas itu sejatinya sebuah kebebasan modal untuk melakukan aksi-aksi mereka sebagai jalan mempercepat akumulasi modal. Karena memang modal itu tidak mengenal batas-batas dan tidak memiliki Negara, sehingga setiap hal yang menjadi penghalang atau penghambat arus penetrasi modal telah ditumbangkan. Suatu kebohongan besar kalau perdagangan bebas mampu mendatangkan kemenangan bersama dan kesejahteraan rakyat karena hal itu tidak ada dalam kamus capitalisme kecuali kemakmuran sejatinya individualistic. Selama hubungan kerja upahan dan modal dibiarkan eksis, tidaklah penting mengenai betapa menguntungkan kondisi-kondisi pertukaran barang-barang dagangan berlangsung, selalu akan ada suatu klas yang akan mengeksploitasi dan suatu klas yang akan dieksploitasi. Sungguh sulit dimengerti klaim para pedagang-bebas yang membayangkan bahwa semakin menguntungkannya penerapan modal akan menghapuskan antagonisme di antara para kapitalis industrial dan buruh upahan. Sebaliknya, satu-satunya hasil ialah bahwa antagonisme dari kedua klas ini akan menonjol dengan semakin jelasnya (Karl Marx;mengenai masalah perdagangan bebas).

MILITERISME DAN ANTI MILITERISME

KARL LIEBKNECHT


Pengantar

Tulisan ini dibuat dengan tidak sengaja, idenya muncul setelah melihat status FB bung Carlos Patriawan (Trwn Rloz) yaitu: Kalau kata Bung Hatta dan Bung Sjahrir dulu :"Jangan pernah kasih kekuasaan kepada Militer, karena militer gak tahu apa apa soal mengembangkan ekonomi negara dan kesejahteran rakyat " ....... Nah sekarang 40 tahun diperintah militer inilah hasilnya............".

Setelah membaca status itu penulis jadi teringat sebuah buku yang berjudul Militerisme dan Anti Militerisme (http://www.marxists.org/archive/liebknecht-k/works/1907/militarism-antimilitarism/index.htm) karangan Karl Liebknecht maka dengan segera buku lama itu segera di buka-buka dan dibaca kembali lalu penulis berusaha mengintisarikannya.

Sekitar 12 tahun yang lalu penulis hanya beranggapan bahwa rezim militer suharto itu muncul akibat dari kudeta yang berhasil untuk menggulingkan Presiden Sukarno sehingga setelah berkuasa selama kurang lebih 32 tahun semakin memantapkan kekuasaan militer terutama kekuasaan AD, padahal hakikat dari kudeta tersebut adalah memantapkan kekuasaan kaum pemodal internasional di Indonesia dan menjauhkan Indonesia dari pelukan blok "Sosialis" (USSR & China) pada saat itu.

Berjalan seiring waktu penulis baru paham bahwa hakikat militerisme di Indonesia itu tidak cuma sekedar kekuasaan militer di sendi-sendi kehidupan masyarakat atau tau dan tidaknya militer mengembangkan ekonomi negara dan kesejahteraan Rakyat seperti kata Hatta dan Sjahrir tapi fungsi militerisme itu sebetulnya adalah anjing penjaga kaum modal atau kaki tangannya pemodal dan tugasnya yang terbesar, terpokok dan paling sakral adalah melindungi profit/keuntungan kelas pemodal/pengusaha lokal dan internasional. Rasanya tidak mungkin menulis dengan lengkap dan detail di FB mengenai apa itu militerisme dan bagaimana kiprahnya di Indonesia dalam bidang ekonomi dan politik selama kurang lebih 45 tahun terakhir ini karena itu butuh suatu kajian tersendiri.

Maka dengan serba kekurangannya artikel pendek ini berhasil juga diselesaikan dan disajikan kepada pembaca ramai mudah-mudahan bisa menambah khazanah pengetahuan dalam berpraktek pada musim periode berjuang sekarang ini !

-------------------------------------------------------------------------------------

Tak ada topi Gessler** yang pernah menemui kepatuhan yang memperbudak dan mempermalukan diri serupa topi milik sang termahsyur Kapten dari Kopenick. Tak ada jubah sacral Trier yang pernah disembah-sembah seperti seragam yang dikenakan tukang sepatu itu.

Satir klasik ini, yang kehebatan pengaruhnya merongrong prinsip pendidikan militer hingga riwayatnya terancam, seharusnya dapat mengakhiri riwayat militerisme hingga jadi bahan tertawaan sedunia. Tapi masyarakat borjuis (yang tiba-tiba memainkan peran unik sebagai penyihir pemula, yang memanggil roh-roh tapi tidak mampu mengusirnya), begitu erat bergantung pada militerisme seperti halnya roti yang kita makan dan udara yang kita hirup. Konflik yang tragis!! Kapitalisme dan kacung besarnya militerisme, tak lagi saling mencintai; malah mereka saling takut dan benci satu sama lain, dan memang hal itu beralasan. Mereka memandangnya (sinis): begitu mandiri kacung ini jadinya. Dan berusaha bertoleransi: militerisme sebagai kejahatan yang dimaklumkan (necessary evil).

TENTARA SEBAGAI SENJATA UNTUK MELAWAN BURUH DALAM PERJUANGAN EKONOMI.

Kita telah menyaksikan bagaimana peranan militerisme dalam kenyataannya telah menjadi poros yang semakin memutar kehidupan politik, social dan ekonomi kita, yakni sebagai tangan yang memainkan tali temali boneka marionette dalam sandiwara-boneka kapitalis. Kita telah menyaksikan tujuan apa yang coba diraih oleh militerisme, bagaimana ia mencoba mencapai tujuan ini dan bagaimana proses pencapaiannya, ia secara fisik terpaksa menghasilkan racun yang akan membawa kematiannya. Kita juga telah membahas peran penting yang dimainkannya - sayang sekali!! Dengan tak sukses – sebagai sekolah untuk menanamkan ide-ide militeris kepada mereka yang berseragam dan Rakyat sipil. Tapi militerisme tak puas dengan semua ini. Bahkan kini, dimasa damai, ia menanamkan pengaruhnya keberbagai arah untuk mempertahankan Negara dan mempersiapkan diri menghadapi kedatangan suatu hari dimana Rakyat akan bangkit dengan berani untuk berontak melawan penguasa - hari penebusan akbar.

Pada hari itu – (dan para tukang pukulnya sesungguhnya lebih memilih kedatangannya sekarang, sebab mereka lebih yakin kan mampu mengubahnya jadi pembantaian Sosial Demokrasi) - mereka akan menembak, membunuh, menumpas hingga isi-isi hati, demi (dengan bantuan Tuhan) menyelamatkan Raja dan Tanah Air. Sebagai contoh ideal modelnya, mereka akan mengambil 22 Januari 1905 (revolusi di Rusia yang memaksa tsar membuat Duma - semacam Parlemen) dan minggu Mei berdarah tahun 1871 (penghancuran komune Paris). Schonfeldt, pimpinan korps Wina (Vienna), mengambil sumpah berikut didepan para borjuis saat perjamuan makan bulan April 1904: “Yakinlah, kami akan selalu berada dibelakang Anda saat keberadaan masyarakat dan dan penikmatan hak-milik yang diraih dengan susah payah berada dibawah ancaman. Saat borjuis berdiri digaris depan, prajurit segera datang membantu!!”. Maka kepalan tangan besi selalu teracung, siap mengayunkan pukulan dahsyat.

Dengan munafik mereka berbicara “mengamankan hukum dan ketertiban” atau “melindungi kebebasan bekerja,” padahal yang dimaksud adalah “mengamankan penindasan” dan “melindungi eksploitasi”. Bila Buruh dirasa menunjukkan semangat dan kekuatan yang meresahkan, militerisme segera menggemerincingkan pedangnya, mencoba menakut-nakuti agar mundur. Kekuatan militerisme yang ada dimana-mana (omnipresent) dan maha kuasa (almighty) - berdiri dibelakang setiap tindakan yang diambil kekuatan Negara dalam memerangi para pekerja; dan dalam saat-saat yang menentukan akan mengeluarkan pukulan utamanya – tidak berdiam diri dibalik layar (background), dibelakang polisi dan polisi semi militer, namun dipersiapkan untuk menjalankan tugas sehari-hari, untuk memperkokoh pilar-pilar tatanan kapitalis dalam suatu perang gerilya berkelanjutan. Keberagaman aktivitas inilah yang mencirikan sifat militerisme kapitalis, ahli merekayasa.

Militerisme sangat memahami bahwa sebagai kaki tangannya kapitalisme, tugasnya yang terbesar, terpokok dan paling sacral adalah melindungi profit/keuntungan kelas pengusaha. Maka dirasakanlah dirinya yang berwenang (dan bahkan diwajibkan untuk menempatkan prajurit secara resmi maupun tak resmi sebagai binatang pemikul beban untuk melindungi kelas penindas dan terutama para junker (kaum bangsawan Jerman/Tuan Tanah).

Prajurit diberikan cuti untuk memanen – suatu praktek yang merugikan dan membahayakan kepentingan Buruh, seperti halnya system prajurit – kacung yang memungkinkan atasan memperlakukan bawahan layaknya pesuruh atau kacung. Hal tersebut mengungkapkan segala tipu-daya dan kepura-puraan bodoh dari argument para maniak pebaris-berbaris dan gemar parade upacara (parade drill) yang selalu berusaha menunjukkan kebutuhan militer murni untuk penugasan militer jangka panjang.
Dalam banyak kasus, kantor pos dan manajemen kereta api secara musiman dan temporer mempekerjakan prajurit disaat lalu-lintas sibuk. Kasus-kasus tersebut mesti disebutkan walaupun maknanya lebih rumit.

Militerisme terjun langsung menghadapi perjuangan pembebasan buruh dengan menggunakan prajurit sebagai pengganti buruh yang mogok (blackleg) dibawah komando militer. Berhubung dengan ini, kita dapat mengingat suatu kasus (yang baru-baru ini kembali dibawa kepermukaan, tentang letnan jendral Von Liebert*** – saat ini pimpinan Liga Kekaisaran memfitnah Sosial Demokrasi) – ketika seorang colonel sederhana ditahun 1896 telah menyimpulkan bahwa pemogokan merupakan malapetaka bagi khalayak umum (public) seperti halnya bencana kebakaran atau banjir.. itu artinya: malapetaka bagi kelas pengusaha yang malaikat penjaganya dan tukang pelaksananya menurut Von Liebert adalah dirinya sendiri.

Di Jerman digunakan suatu metode yang sangat terkenal kebusukannya, yakni mendorong orang-orang yang dibebaskan dari tugas militer masuk kedalam jajaran penghancur-mogok-kerja, suatu metode yang dipraktekkan sejak musim panas 1906 saat pemogokan Neremberg. Jauh lebih penting lagi adalah tiga peristiwa yang terjadi di luar Jerman:

Pertama, upaya militer untuk menggagalkan pemogokan umum buruh kereta api bulan januari 1903. Kelanjutan dari episode ini para buruh kereta api yang mogok dicabut hak-nya untuk membentuk serikat buruh****.

Kedua adalah pemogokan umum buruh kereta api di hunggaria tahun 1904, pada saat peristiwa tersebut administrasi militer melangkah lebih jauh. Disatu sisi mereka membentuk jajaran pengganti buruh mogok dengan mengerahkan orang-orang yang bertugas aktif, yang secara illegal ditempatkan dibawah komando militer walaupun melampaui masa tugasnya. Disisi lain mereka cukup berani memanggil para cadangan dan orang-orang dari Landwehr (kelompok bersenjata yang dipilih dan dibiayai oleh komunitas perkotaan, berlatih militer seminggu dalam setahun, yang dibebaskan dari tugas militer pada masa damai) yang dapat ditemukan diantara Buruh kereta api maupun Buruh non-kereta api, kedalam satu kelompok yang secara tekhis memungkinkan untuk menggantikan para buruh yang mogok. Tentunya hal itu dilakukan terhadap mereka dengan paksaan dan disiplin militer.

Ketiga adalah pemogokan Buruh kereta api Bulgaria yang dideklarasikan tanggal 2 Januari 1907. Tak kalah pentingnya adalah kampanye yang diluncurkan oleh menteri pertanian dan menteri perang Hunggaria diawal December 1960, untuk memerangi hak-hak para pekerja agrikultur untuk mogok dan membentuk serikat Buruh. Disini pelatihan sungguh-sungguh terhadap para prajurit untuk mengambil bagian dari kerja panen merupakan yang sangat penting. Di Perancis pun penggantian Buruh yang mogok menggunakan prajurit merupakan fenomena yang cukup dikenal.

Penguasa militer telah cukup lama yakin akan kebenaran pernyataan kapitalis: “dibalik setiap pemogokan tersembunyi semak-semak Revolusi”, Karena itu jika pukulan tangan, pedang dan pistol polisi tidak cukup untuk mengekang apa yang mereka sebut dengan kerusuhan pemogokan, tentara selalu siap sedia dengan pedang dan senapannya untuk merepresi budak pengusaha yang tidak patuh. Ini berlaku disemua negeri kapitalis!!

Sering kali tidak bisa dibuat garis pemisah antara tentara murni, polisi semi militer dan polisi. Mereka bekerja bergandengan tangan, saling menggantikan dan melengkapi satu sama lain dan sangat erat berhubungan, tepat karena persamaan ciri-cirinya yang tampak: tempramennya yang agresif dan penuh kekerasan, kesediaan dan kesigapannya menebaskan pedang pada Rakyat secara brutal dan kejam – ciri ciri tersebut juga ditemukan pada polisi dan polisi semi militer. Sifat-sifat tersebut umumnya adalah produk asli barak, buah hasil pendidikan dan pelatihan militer.

TENTARA SEBAGAI SENJATA UNTUK MELAWAN BURUH DALAM PERJUANGAN POLITIK.

Karena perkembangan perjuangan-kelas dalam bentuk yang paling terkonsentrasi adalah perjuangan-politik, maka wajarlah bila dalam perjuangan kelas ini pula akan berhadapan bentuk militerisme yang paling terkonsentrasi, terlihat dalam intervensi langsung ataupun tidak langsung dalam pertarungan politik. Militerisme pada awalnya beroperasi sebagai suatu kekuatan yang campur tangan dalam ekonomi, sebagai produsen dan konsumen. Liga Imperial menentang Sosial Demokrasi, contohnya mengontrol pabrik-pabrik militer di Spandau dengan sedemikian rupa sehingga berperan sebagai penjaga ketertiban (a vigilante), pengawas pikiran tiap pekerja di pabrik-pabrik kerajaan.

Menghapuskan militerisme atau melemahkannya sebisa mungkin merupakan persoalan hidup mati bagi perjuangan emansipasi politik, suatu perjuangan yang bentuk dan coraknya direndahkan oleh militerisme dan dengan demikian sifatnya sangat dipengaruhi olehnya, persoalan tersebut menjadi lebih vital karena superioritas tentara terhadap Rakyat tak bersenjata, terhadap Buruh jauh lebih besar dibanding masa-masa sebelumnya akibat sama tingginya perkembangan tehnik dan strategi, akibat begitu besarnya jumlah pasukan, akibat cara-cara merugikan memisahkan kelas-kelas menurut daerah/lokalitas dan akibat hubungan kekuatan ekonomi yang merugikan Buruh dihadapan Borjuis. Karena alasan-alasan tersebut Revolusi Buruh dimasa depan akan jauh lebih sulit tercipta dibandingkan Revolusi-revolusi sebelumnya.

Penting untuk selalu di ingat bahwa dalam Revolusi borjuis, kekuatan penggeraknya (borjuis revolusioner) telah lama memegang kekuasaan ekonomi sebelum pecah Revolusi dalam arti yang sempit dan bahwa terdapat suatu kelas yang besar (yang secara ekonomi bergantung pada borjuis dan berada dbawah pengaruh politiknya) yang dapat dimanfaatkan oleh borjuis untuk bertempur demi kepentingannya. Penting untuk diingat bahwa borjuis pada mulanya, dalam kadar tertentu telah mengambil sampah-sampah usang feodalisme sebelum menghancurkan dan membuangnya ke timbunan sampah. Sedangkan Buruh harus merebut kembali semua yang telah dirampas darinya, sementara perut mereka sendiri masih kelaparan dan bahkan dengan taruhan nyawa sendiri.

--------------------------------------

*Biografi singkat Karl Liebnecht:

http://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Liebknecht

**Gubernur atau utusan jaman kekaisaran, menancapkan topi diatas tonggak alun-alun kota, berhiaskan lambang Austria untuk mengetahui siapa saja yang tidak patuh kepada kekaisaran, barang siapa yang tidak hormat akan di hokum sebagai penghianat.

***Sebelum meletus perang dunia 1, pernah menjadi guberur jendral Afrika Timur Jerman, dan petinggi tentara mengkuatirkan pengaruh Sosial-Demokrasi kepada tentara.

****Pemogokan yang berlansung sebulan lebih, mulai terjadi tanggal 30 Januari 1903, yang berakhir dengan kemenangan pada 1 Febuary. Pada 10 Maret, undang-undang anti pemogokan dikeluarkan, pada tanggal 13 April, pemogokan umum dipatahkan.

Disusun oleh :Nouval Murzita

1/28/2010

ADA ALTERNATIF LAIN (DILUAR SISTEM KAPITALISME DAN PERDAGANGAN BEBAS ALA KAPITALIS)

Pengantar

Sebagai kelanjutan dari kesepakatan perdagangan bebas 10 negara-negara ASEAN dengan CHINA yang telah ditandatangani pada tanggal 4 november 2002 di Phnom Phen-Kamboja- yang secara bertahap akan menurunkan bea masuk—hingga 0 %--semua barang dan jasa yang beredar di Kawasan ASEAN dan CHINA akan dibebaskan bea masuk, maka pada tanggal 1 januari 2010, sebanyak 7.881 pos baru akan dibebaskan bea masuknya.

Sebelumnya, baik sesama negara ASEAN—melalui AEC (ASEAN Economic Community) yang memayungi semua perjanjian perdagangan bebas ASEAN, dimana di dalamnya ada AFTA yang sekarang menjadi ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement), AFAS (ASEAN Framework Agreement on Services)—maupun ACFTA (Asean China Free Trade Agreement), pos bea masuk yang dibebaskan jauh lebih banyak, bahkan dengan tambahan 7.881 pos baru yang dibebaskan, total pos tariff yang dibebaskan menjadi 54.457 (lima puluh empat ribu empat ratus lima puluh tujuh) atau 99,11 persen dari arus barang dan jasa di ASEAN.

Dalam sejarahnya FTA China dan ASEAN ( Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) merupakan FTA terbesar yang pernah ada, karena mencakup total populasi yang mencapai 1,9 miliar orang--China sendiri telah menjadi mitra dagang ketiga terbesar ASEAN dengan total nilai perdagangan sebesar 230 miliar dollar AS pada tahun 2008--

Menjadi kehebohan dimana-mana—sekalipun perdagangan bebas ini telah berlangsung lama—karena pada tahun 2010 inilah, ribuan pos bea masuk benar-benar diturunkan hingga 0 %--sebelumnya masih banyak barang dan jasa yang terkena bea masuk hingga 5-10 %, ada sebagian yang terkena bea 12,5 %-- dan menjadi lebih heboh lagi, karena yang dihadapi oleh Indonesia, bukan hanya negara-negara ASEAN saja, melainkan ditambah dengan negara China, yang memilki keunggulan kuantitas dan kualitas produksi jauh di atas Indonesia.

Sebagai gambaran, untuk tekstil, sebelumnya pasar dalam negeri hanya mampu diisi oleh industri tekstil dalam negeri sebanyak 22 %, sementara 78 % adalah produk import—walaupun sebagian dari import ini dilakukan secara ilegal melalui penyelundupan—Dan dengan pembebasan tarif hingga 0 % pada tanggal 1 januari 2010 lalu, bisa dipastikan pasar dalam negeri akan semakin tergerus oleh produk import, sehingga akan banyak pabrik-pabrik tekstil yang tutup/bangkrut.

Seperti yang dinyatakan oleh APINDO Jawa Barat, bahwa potensi PHK di Jawa Barat mencapai 40000 buruh akibat ACFTA— Secara umum di Indonesia pada tahun 2008/2009 saja, sudah 429 pengusaha TPT kolaps dan lebih dari 200 industri di Indonesia yang gulung tikar akibat kalah bersaing dengan China—

Menurut Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Putri K Wardhani ada penurunan penjualan produksi jamu dan kosmetik sekitar 50 persen, bahkan ketika tarif bea masuk masih diberlakukan 5-10 %, apalagi jika tanpa tarif bea masuk.

Belum lagi dampak serupa pada sector-sektor industria lainnya, seperti alas kaki, besi dan baja, elektronik, mebel, sepatu, petrokimia hulu, kaca lembaran, mesin perkakas dan beberapa industria lainnya, sehingga potensi PHK secara keseluruhan menurut APINDO Pusat, bisa mencapai 7,5 juta orang, terutama pada Industri yang orientasi pasarnya adalah pasar dalam negeri dengan teknologi yang rendah—yang berorientasi eksport ke negara Amerika maupun Eropa juga mengalami kendala yang berat, karena harus bersaing juga negara-negara lainnya, belum lagi hambatan non tarif yang sering digunakan oleh sebuah negara untuk melindungi pasar dan industria dalam negerinya—

Perdagangan Bebas Sebagai Strategi Kapitalis Internasional Untuk Menjarah Dunia Ketiga.

Sebagai sebuah sistem yang mengusai mendunia, bukan berarti kapitalisme lepas dari persoalan di dalam dirinya sendiri, kerena dengan penguasaan modal ditangan segelintir orang—dalam Film Dokumenter, The New Rules Of The World/Penguasa Baru Dunia, John Pilger memberikan data, bahwa hanya 200 Perusahaan Raksasa yang menguasai seperempat kekayaan dunia—sementara jutaan, hingga milyaradan orang tak memiliki apa-apa—sebagian diantaranya terpaksa menjadi buruh dan sisanya menjadi pengangguran atau bekerja di sector-sektor informal—

Dengan daya beli yang rendah—sebagai konsukwensi kapitalisme untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar besarnya—maka produksi barang yang berlimpah ruah, tidak sanggup dibeli oleh kaum pekerja dan rakyat miskin, akibatnya terjadi kelebihan produksi, dan terjadilah krisis, awalnya di negara-negara induk kapitalis, yang kemudian crisis serupa juga terjadi di negara-negara berkembang—sebagai akibat dari makin tercengkramnya dunia ketiga oleh negara-negara induk kapitalis—

Sehingga mau tidak mau, kelebihan barang -- juga modal-- ini harus “dieksport” seluas-luasnya keseluruh penjuru dunia, dengan menghancurkan hambatan-hambatan (ekonomi, politik, budaya ) penjualan barang dan jasa ini ditiap-tiap negara yang menjadi sasaran penjualan termasuk hambatan-hambatan arus modal/investasi, maka lahirlah kemudian perdagangan bebas seperti yang dikenal sekarang ini—karena sebelumnya perdagangan antar negara sudah berjalan—dengan lembaganya yaitu World Trade Organization (WTO)/Organisasi Perdagangan Dunia, yang bertujuan untuk menyatukan pasar, meliberalkan arus barang dan jasa, meliberalkan arus modal serta pekerja-pekerja terampil. Indonesia sendiri bergabung ke WTO semenjak 1 januari 1995, setahun setelah WTO berdiri—Walaupun WTO adalah pengembangan dari General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)/Kesepakatan Umum Tarif dan Perdagangan, yang telah berdiri dan menjadi acuan aturan perdagangan bertahun-tahun sebelumnya—

Sebagai contoh, Konferensi Tingkat Menteri (KTM) yang diadakan di Singapura tanggal 9-13 Desember 1996 yang kemudian dikenal dengan istilah“Singapore Issues “ antara lain membahas: Investasi PMA, Belanja Pemerintah , Kebijakan Kompetisi dan fasilitas Perdagangan (sekalipun issu-issu ini pada saat ditolak oleh sebagian Negara anggota WTO)

1. Di bidang investasi misalnya, Perusahaan Multinasional menuntut penerapan Penanaman Modal Asing sampai 100 % baik investasi manufaktur maupun jasa, penghapusan keharusan adanya kandungan lokal dan pembatasan impor.

2. Di bidang belanja pemerintah, negara-negara maju memaksakan agar perusahaan mulitinasional bisa ikut serta dalam tender proyek belanja pemerintah, seperti proyek pembangunan infrastruktur publik( jalan raya, jembatan, gedung-gedung pemerintah, waduk, irigasi) dan proyek infrastruktur pemerintah lainnya.

3. Di bidang Fasiltas perdagangan, mereka menuntut liberalisasi dalam aturan-aturan yang bersifat supporting perdagangan seperti kepabeanan, standard teknis, karantina, pameran dagang dan lain-lain.

Industri dalam negeri yang makin keropos.

Dengan penurunan tarif hingga 0 % tersebut, maka kehancuran industri dalam negeri sudah pasti akan terjadi, terutama pada sector-sektor industri dengan modal kecil dan teknologi rendah industri tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, alat-alat dan hasil pertanian, alas kaki, sintetik fiber, industri komponen manufaktur otomotif , jasa engineering juga beberapa sector yang menggunakan teknologi tinggi seperti, petrokimia, elektronik, industri permesinan, besi dan baja.

Kehancuran Industri Dalam Negeri ini terutama disebabkan, pondasi Industri Nasional memang rapuh, dimana landasan utama pembangunan Industri Nacional bukanlah untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, dengan mengandalkan kekayaaan alam baik yang di darat maupun laut.

Kapitalisme yang dicangkokkan oleh Penjajah Kolonial pada abad 16 dan kemudian diteruskan oleh Rezim Orde Baru hingga sekarang, telah mendesign Industri Nasional haruslah mengabdi pada kepentingan Modal Internasional, sehingga Industri yang dibangun kebanyakan adalah Industri yang berorientasi eksport dengan baku import serta ketergantungan teknologi pada modal internacional dan pada saat yang bersamaan menjadikan Indonesia sebagai tempat penyedia sumber daya alam murah, tempat tenaga kerja murah dan pasar bagi produk mereka.




Lihat saja fakta-fakta berikut ini:

1. Sampai dengan hari ini, teknologi yang digunakan oleh Industri Nasional sebagian besar adalah teknologi import, bahkan persentasenya mencapai 92 % (37 persen dari Jepang, 27 persen dari negara-negara Eropa, 9 persen dari Amerika Serikat, 9 persen dari Taiwan, 4 persen dari China, 3 persen dari Korea Selatan, 2 persen dari India, dan 1 persen dari Thailand, seperti yang diungkapkan oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Marzan Aziz Iskandar)
Atau dengan kata lain selama puluhan tahun, tidak terjadi proses alih teknologi, malah yang terjadi adalah pencurian teknologi dari Indonesia, seperti yang terjadi pada kasus pematenan beberapa jenis tempe oleh Jepang, mebel Jepara, Batik Pekalongan dan lain sebagianya. Itulah sebabnya, dalam aturan-aturan perdagangan bebas dunia, negara-negara Imperialis sangat berkepentingan dalam memaksakan issu Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), bahkan dengan membuat shock therapy yang vulgar seperti razia terhadap penggunaan software Windows ilegal/bajakan beberapa tahun yang lalu.

2. Hampir semua bahan baku untuk industri nasional juga harus di import. Misal untuk Industri makanan minuman, bahan baku gula rafinasi (gula dengan standar Industri makanan-minuman) masih import dengan persentase 100 %. Untuk industri elektronik, 30 % bahan bakunya masih harus di import, dan 90 % bahan baku industri farmasi nasional juga masih import, bahkan untuk tempe dan tahu pun masih import kedelai 60,5 %. Menurut Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Amirudin Saud impor bahan baku selama periode 2005-2007 masih lebih dari 70%.

3. Situasi Industri Nasional yang seperti ini masih diperparah dengan kurangnya modal, akibat kredit perbankan Nasional yang masih terlalu tinggi menetapkan suku bunga kredit, yang berkisar antara 11-13 %, sementara bunga deposito sekitar 7 %--ini tidak lepas dari kebijakan liberalisasi modal yang paling liberal, sehingga arus keluar masuk modal lebih banyak pada spekulasi saham maupun pada obligasi, dan bukan pada sector real/Industri--

4. Masalah lainnya yang juga membuat Industri Nasional makin tak berkembang adalah masalah infrastruktur yang masih kalah jauh dibandingkan dengan Negara-negara lain, bahkan dengan Malaysia. Studi Asia Fondation dan Bank Dunia pada April 2008 mencatat, biaya transportasi di Indonesia adalah US$ 34 sen per kilometer, sedangkan di Malaysia hanya US$ 22 sen per kilometer.

5. Dan pada saat yang bersamaan, pungutan-pungutan liar pun ikut membebani Industri Nasional, bahkan hingga membengkakan biaya produksi hingga 40 %, menurut Djimanto salah satu Ketua DPP APINDO. Pungli sendiri tidak bisa dijelaskan sebagai persoalan yang terpisah dari rapuhnya Industri Dalam Negeri—yang menyebabkan produktifitas dan pendapatan rakyat secara umum rebdah—sehingga penghapusan pungli tidak bisa semata-mata persoalan penegakan hukum saja, melainkan juga persoalan pembangunan Industri Dalam Negeri yang tangguh.

6. Dominasi modal internacional tidak hanya dalam persoalan ketergantungan import bahan baku maupun teknologi, namun juga dalam pengusaan sumber-sumber energi yang dibutuhkan oleh Industri Nasional terutama migas dan batubara, yang menyebakan pasokan energi untuk Industri Nasional harus didapatkan dari import—sekalipun Indonesia memiliki sumber daya energi yang cukup, bahkan berlebih—

Dengan menggunakan boneka-bonekanya di dalam negeri, modal internacional berhasil membuat kebijakan enegri dalam negeri tidak diperuntukan demi kepentingan Industri Nasional, melainkan untuk kepentingan negara-negara imperialis itu, yang disahkan melului UU Penanaman Modal maupun UU Mineral maupun melalui berbagai regulasi lainnya, dimana pada intinya modal internacional diberikan ruang seluas-luasnya untuk mengusai sumber-sumber energi ini, dan bebas pula menentukan kemana energi ini akan disalurkan termasuk bebas menentukan harganya.

Politik energi keblinger inilah yang membuat pasokan energi bagi Industri dalam negeri selalu saja tidak cukup, itupun harus dibeli dengan harga Internasional. Sebagai contoh, Harga BBM (Solar) dan Batu Bara untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN) harus dibeli dengan harga Internasional, itupun dengan stok yang sangat terbatas (selain karena mayoritas pemilik tambang migas dan batu bara adalah pemodal Internasional, juga ada kebijakan jatah penjualan dalam negeri/Domestic Market Obligation yang jauh dibawah kebutuhan energi dalam negeri). Demikian juga dengan Industri pupuk yang selalu kekuarangan gas, karena kebanyakan produksi gas justru dieksport, akibatnya pupuk menjadi mahal dan juga langka.

Ditengah situasi itulah, rezim SBY-Boediono menjalakan perdagangan bebas CHINA-ASEAN sebagai kelanjutan dari keputusan yang dibuat oleh Rezim Megawati-Hamzah Haz pada tahun 2002, yang membebaskan bea masuk barang dan jasa, termasuk liberalisasi modal.

Dengan perdagangan bebas ini, seluruh barang dan jasa di kawasan China dan ASEAN bisa bebas keluar masuk tanpa terkena biaya masuk (untuk beberapa pos , masih ada yang terkena biaya namun pada akhirnya semuanya akan dihapuskan) yang artinya produk-produk import baik dari China maupun dari negara-negara ASEAN akan membanjiri Indonesia, baik dengan kualitas dan harga yang lebih baik maupun dengan kualitas dan harga yang lebih buruk—namun pada umumnya kualitas dan harga barang-barang import lebih baik ketimbang produksi Industri Nasional—

Sekilas memang rakyat Indonesia akan diuntungkan karena mendapatkan barang-barang dengan harga murah, mulai dari produk makanan hingga elektronik, namun pada saat yang bersamaan sebagian Industri Nasional akan bangkrut (paling tidak mengalami penurunan produksi) terutama pada Industri yang mengandalkan pemasaran produknya di dalam negeri seperti : industri tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, petrokimia, alat-alat dan hasil pertanian, alas kaki, sintetik fiber, elektronik, industri permesinan, jasa engineering, besi dan baja, serta industri komponen manufaktur otomotif.

Dengan bangkrutnya sebagian Industri dalam negeri, maka jumlah pengangguran akan meningkat, sehingga pada akhirnya tekanan peningkatan pengganguran yang meningkat berkali lipat ini, akan menyebabkan kesejahteraan kaum buruh yang masih bekerja akan menurun, sehingga barang-barang yang murah—baik import maupun produk lokal—tidak akan mampu lagi terbeli. Artinya perdagangan bebas ini justru menjadi ancaman bagi seluruh kaum buruh, bahkan ancaman bagi seluruh rakyat.

Perlawanan kaum buruh dan rakyat miskin terhadap perdagangan bebas China-Asea.

Di Jawa Barat, lebih dari lima ribuan buruh dari berbagai serikat buruh melakukan aksi massa menolak pemberlakuan ACFTA, serta mengecam sejumlah mentri bidang ekonomi yang dianggap sebagai biangkerok pemberlakukan ACFTA dan juga menteri tenaga kerja yang dianggap tidak melindungi kepentingan kaum buruh. Aksi ini dilakukan oleh buruh-buruh dari empat kabupaten, dengan metode sweeping pabrik-pabrik di sepanjang jalan menuju Gedung Sate, Bandung.

Dalam orasinya, massa secara tegas menolak pemberlakukan ACFTA. Perjanjian perdagangan itu dinilai hanya akan menghancurkan industri dalam negeri. Sebab, produk China yang relatif lebih rendah akan merusak pasaran produk dalam negeri. Hal itu berbuntut pada kehancuran pabrik atau industri dalam negeri dan itu akan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh.

Selain buruh, para petani jawa barat yang tergabung dalam Dewan Tani Indonesia dan Front Rakyat Oposisi mengadakan aksi demonstrasi menolak ACFTA (ASEAN China Free Trade Agreement ) dengan berjalan kaki mundur dari Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat menuju Gedung Sate Bandung. Selain menolak menolak ACFTA, mereka juga mengecam pemerintahan SBY-Boediono sebagai pemerintahan neoliberal, serta mengecam lambatnya penanganan kasus Bank Century

Di Jawa Timur, lebih dari 300 buruh dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, dan Jombang yang tergabung dalam Serikat Serikat Pekerja Nasional (SPN) itu berunjuk rasa di depan gedung DPRD Jatim di Jalan Indrapura, Surabaya.

Menurut Sudarmaji, selaku koordinator aksi, ACFTA menjadi ancaman serius bagi para buruh karena dikhawatirkan produk-produk dalam negeri nantinya kalah bersaing dengan produk-produk China yang semakin membanjiri pasar domestic, sehingga pada akhirnya akan terjadi PHK massal terhadap kaum buruh.

Sementara itu, Asisten III Sekdaprov Jatim Hary Soegiri mengatakan pada perwakilan buruh, bahwa ACFTA yang implementasinya dimulai tahun ini merupakan keuntungan bagi sektor usaha.

Tangerang-Banten, sedikitnya 200 buruh dari berbagai serikat buruh melakukan aksi di DPRD Kabupaten Tangerang untuk menuntut DPRD Kabupaten Tangerang membuat rekomendasi ke Presiden terkait penolakan kerjasama perdagangan Asean-Cina Free Trade Area (ACFTA).

Para buruh membawa spanduk yang berisi penolakan ACFTA, selain spanduk yang bertuliskan "Kabinet SBY Pro Neolib/Kapitalis".

Kelua DPRD Kabupaten Tangerang, Amran, mengatakan bahwa kerja sama ACFTA itu merupakan keputusan pemerintah pusat. Pihaknya akan mendukung sepanjang hal itu demi kemaslahatan masyarakat. "Kalau menyangkut kesejahteraan masyarakat, kenapa enggak kita dukung." ujarnya,

Jawa Tengah,ribuan buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh Kota Semarang berunjuk rasa di depan DPRD Jateng., untuk menolak kesepakatan perdagangan bebas ACFTA . Bagi buruh, perdagangan bebas merupakan ancaman dan dapat berdampak buruk bagi perindustrian domestik.

Koordinator gerakan itu, Nanang Setiyono, mengatakan, dampak buruk perdagangan bebas bagi buruh adalah akan banyak industri lokal kalah bersaing akan tutup atau melakukan efisiensi, sehingga berujung pada pemutusan hubungan kerja besar-besaran, buruh dirumahkan, pengurangan upah atau kesejahteraan.

Sementara itu, dari pihak Pemerintah Jawa Tengah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan tidak tinggal diam dan terus memperjuangkan nasib para pengusaha terutama produsen.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov Jateng Ihwan Sudrajat mengatakan, di tingkat Jateng akan ada pertemuan seluruh pengusaha Jateng untuk membahas mengenai hal tersebut untuk merumuskan sejumlah strategi yang dapat dilakukan.

Dari aksi-aksi yang dilakukan oleh kaum buruh maka bisa disimpulkan bahwa aksi-aksi kaum buruh masih berdasar pada dampak yang dihasilkan oleh perdagangan bebas, dan belum menyentuh pada persoalan mendasar, yakni persoalan kehancuran Industri Nasional sudah berlangsung jauh sebelum ada perdagangan bebas, bahkan bisa dikatakan selama ini, Industri Nasional itu tidak ada, yang ada adalah Industri di Indonesia hanya untuk melayani kepentingan Modal Internasional (dan agen-agennya di Indonesia), yang terus menerus diintegarsikan dalam sistem ekonomi kapitalis Internasional—sehingga sangat rentan dengan krisis dan kebangkrutan--

Dan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah, sebagaimana layaknya agen/calo, dengan setia menjalankan scenario kapitalisme Internasional ini dengan memberikan konsesi-konsesi bagi para pengusaha dalam negeri, tanpa memberikan perlindungan apapun terhadap kaum buruh.


Membangun Industri Nasional Yang Kuat dan Mandiri di Bawah Kontrol Rakyat

Oleh karena itu, langkah-langkah penyelesaian krisis tidak bisa lagi dengan jalan kapitalisme—pasar bebas adalah jalan keluar kapitalisme-- yang justru akan memperparah krisis, melainkan harus dengan cara lain, cara yang bertolak belakang dengan sistem kapitalisme.

Tawaran jalan alternatif tersebut bagi rakyat Indonesia, antara lain :

1. Membangun Industri Nasional yang kuat dan mandiri di bawah kontrol rakyat, atau melakukan penataan ulang Industri Nasional kita,

a) Agar rakyat Indonesia bisa sejahtera, makmur, maka Industri dalam negeri harus dibangun dengan semaju-majunya, dalam pengertian bahwa seluruh kekayaan alam yang ada di tanah dan air harus bisa diamanfaatkan, diolah dengan sebaik-baiknya agar mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia (bahkan bisa digunakan untuk membantu rakyat di negeri-negeri lain yang membutuhkan).

Dan untuk membangun Industri Nasional yang ditujukan untuk kepentingan mayoritas rakyat Indonesia, maka syarat utamanya adalah adanya demokrasi sepenuh-sepenuhnya bukan demokrasi borjuis, bukan demokrasi elit, demokrasi perwakilan.

Demokrasi sepenuh-sepenuhnya adalah demokrasi yang melibatkan rakyat dalam setiap proses pengambilan keputusan-keputusan public sehari-harinya (bukan hanya sekedar dilibatkan dalam pemilu-pemilu saja),

Dalam praktek hal ini bisa dilihat dalam kota Porto Alegre, Rio Grande do Sul, Brazil, dalam menentukan tuntutannya (dalam katagori) demokratisasi anggaran, atau yang mereka sebut Orcamento Participativo (Participatory Budget/Anggaran Partisipatoris/AP) di mana warga diposisikan memiliki hak untuk mendiskusikan kemudian memutuskan kebijakan-kebijakan publik dan anggaran pemerintah. Lebih dari itu, warga juga turut memutuskan dan mengawasi aspek-aspek kunci administrasi publik, anggaran kota dan investasi;

AP memang masih menganggap penting demokrasi perwakilan namun dinilai belum mencukupi dalam proses peningkatan demokrasi masyarakat. Dengan demikian, AP (demokrasi langsung) akan dihadapkan pada wakil rakyat dan eksekutif (demokrasi perwakilan)—yang bahkan diposisikan tak boleh memiliki hak veto. Aspek-aspek penting lainnya: AP tidak menganggap remeh kapasitas warga dalam mengelola (governing) pemerintahan/anggaran; AP juga diarahkan untuk meningkatkan solidaritas antar-warga dan menciptakan warga yang sadar.

Demokrasi lansung seperti ini (yang harus terus ditingkatkan kualitasnya—dan sangat mungkin meningkat karena kemajuan teknologi, apalagi jika kesadaran demokrasi rakyatnya juga meningkat) yang akan menjamin Industri Nasional berjalan sesuai dengan kepentingan rakyat.

Itulah sebabnya semua proses pembangunan Industri Nasional harus dibawah kontrol rakyat, bukan seperti praktek BUMN sekarang ini, yang sekalipun perusahan-perusahan tersebut milik Negara, namun kontrol terhadap BUMN berada pada tangan Elit, bukan dibawah kontrol kaum buruh dan rakyat.

Artinya secara politik, kontrol rakyat terhadap Industrialisasi Nasional hany bisa dijalankan dengan efektif, jika kekuasaan politik berada di tangan rakyat.

b) Tahap awal, Teknologi harus ditingkatkan (setingi-tingginya) untuk mengatasi persoalan-persoalan darurat rakyat(kesehatan buruk, tempat tinggal kumuh, tak berpengetahuan dan persoalan darurat lainnya) dan peningkatan tenaga produktif rakyat (pengetahuan, ketrampilan, budaya; budaya belajar, budaya solidaritas, budaya berorganisasi, budaya cinta teknologi, budaya demokratik).

Dan untuk mengejar ketinggalan teknologi –dengan keadaan sekarang yang masih import teknologi hingga 92 %--,maka proses alih teknologi dari perusahaan swasta terutama swasta Internasional—baik dengan cara moderat maupun radikal – harus dilakukan, pengembangan riset-riset teknologi yang dibutuhkan rakyat, pembangunan laboratorium-laboratorium hingga membuka akses seluas-luas nya pada rakyat untuk mengembangkan dan mengusai teknologi (termasuk tidak mematenkan capaian-capaian teknologi yang dibutuhkan rakyat)

Dengan semakin terselesaikan persoalan darurat dan semakin meningkatnya tenaga produktif rakyat, maka akan semakin memajukan Industri Nasional (paling tidak dalam tahap ini sudah mulai terlihat pembangunan Industri Dasar yang kuat, seperti Industri Logam dan Baja, industri optik dan fiber, Industri Kimia, Industri Mesin dan Industri Energi --ramah lingkungan dan hemat).

Jika kebutuhan darurat rakyat belum bisa dihasilkan sendiri oleh Industri Dalam Negeri, bisa saja dilakukan import—dalam arti perdagangan dengan Negara lain—namun import yang dilakukan, tidak boleh menimbulkan ketergantungan, namun harus diarahkan untuk mendorong Industri Dalam Negeri untuk semakin mandiri

c) Tahap selanjutnya (kemungkinan juga, dalam beberapa sektor, bisa simultan dengan tahap pertama, yang belum selesai diatas): peningkatan tenaga produktif agar teknologi bisa lebih tinggi lagi (bukan sekadar untuk industri dasar), sebagai landasan material dan kognitif invention dan innovation. Teknologi Industri pengolahan (manufaktur) juga harus ditingkatkan termasuk kapasitas distribusinya, agar produksi barang bisa bersifat massal (seluruh rakyat bisa mendapatkannya dengan mudah) dengan kualitas yang baik, tentu saja dengan harga yang terjangkau (untuk masyarakat tertentu bisa mendapatkannya dengan gratis, dan pada akhirnya semua rakyat akan memperolehnya dengan gratis )

Sebagai negeri yang masih terbelakang pertaniannya, maka dalam tahap ini, industry pertanian juga harus dimajukan, ditingkatkan teknologinya dan akses rakyat terhadap tanah juga diperluas (bukan dalam makna kepemilikan pribadi atas tanah, walaupun bisa saja ditahap-tahap awal masih ada kompromi terhadap kepemilikan pribadi rakyat terhadap tanah pertanian, namun secara terus menerus harus dijelaskan dan ditunjukan bukti bahwa pertanian kolektif dengan teknologi yang maju justru jauh lebih menguntungkan bagi rakyat), demikian juga halnya dengan industry perikanan.

2. Penyelesaian masalah-masalah mendesak rakyat:

Secara dialektis pembangunan Industri Nasional yang tangguh, dimulai dengan penyelesaian masalah-masalah darurat rakyat (dan semakin cepat dan banyak masalah darurat yang teratasi, akan mendorong lebih maju lagi Industri Nasional), seperti (mungkin masih harus disubsdidi dalam tahap awal) menyediakan bahan-bahan kebutuhan pokok cukup gizi; kesehatan; pendidikan; penyediaan lapangan pekerjaan (sedapat mungkin bukan padat karya, namun lapangan pekerjaan di pabrik-pabrik dengan teknologi tinggi, dimana pabrik-pabrik dibangun sesuai dengan kebutuhan); bila masih kekurangan lapangan pekejaan, barulah ditempatkan di sector padat karya; bila masih belum juga tercukupi lapangan pekerjaan, maka diberikan subsidi (layak) pengangguran; pembangunan kesadaran/kebudayaan revolusioner (cinta ilmu, demokratik, solidaritas, militant, radikal dsb)

Karena tanpa massa yang sadar, terorganisir, dan melawan, maka Industrialisasi Nasional (di bawah kontrol rakyat; pengembangan demokrasi rakyat) tak akan berhasil; Tolak ukur berhasil tidaknya penyelesaian tersebut di atas adalah: tingkat pengangguran berkurang; dan demokrasi rakyat (rakyat bisa bersuara dan menentukan nasibnya sendiri) berjalan; perbaikan lingkungan yang sudah sangat rusak; penyelesaian reformasi agraria, baik secara ekonomi, teknologi, politik (perjuangan kelas di pedesaan); dan sebagainya.

3. Skenario pembiayaan industrialisasi nasional (di bawah kontrol rakyat)

Secara dialektis pula, pembangunan Industri Nasional dilakukan dengan melakukan nasionalisasi segera (yang sudah sanggup dinasionalisasikan) seluruh kekayaan/asset material dan finansial nasional (baik yang dikuasai pemerintah maupun swasta, baik nasional maupun asing); periksa ulang negosiasi-negosiasi kontrak—jangan sampai bagi hasil, royalti, dan pajaknya terlalu kecil/merugikan rakyat; tolak atau tunda bayar utang (dengan kekuatan rakyat); sita kekayaan-kekayaan hasil koruptor (dari jaman Orde Baru hingga sekarang) dengan kekuatan rakyat, mengingat akan melibatkan tentara reaksioner; pajak progresif; pembubaran, pembatasan/regulasi, atau pajak tinggi bagi transaksi-transaksi spekulatif; memaksimalkan pencarian pendapatan dari sumber-sumber alam (dengan memperhitungkan ekologi); pengaturan fiscal dan moneter (yang seusai dengan tujuan-tujuan di atas); dan sebagainya.

4. Persoalan hubungan kita dalam perdagangan antara Negara maupun hubungan-hubungan ekonomi politik lainnya.

Secara historis lahirnya perdagangan bebas seperti sekarang ini—berikut lembaganya—adalah produk dari sistem kapitalisme yang telah terbukti gagal mensejahterakan mayoritas rakyat di seluruh dunia, termasuk mayoritas rakyat di Indonesia, sehingga secara tegas kita menolak kapitalisme, demikian juga kita menolak perdagangan bebas model sekarang ini yang hanya menguntungkan pemodal-pemodal internasional (Negara-negara imperialis) dengan menggunakan lembaga-lembaga internasonalnnya, salah satunya adalah WTO—juga ACFTA—

Apalagi mekanisme pengambilan keputusan di WTO bukanlah mekanisme yang demokratis, dimana Negara-negara maju—terutama Amerika, Kanada, Jepang, dan Uni Eropa—berulang kali membuat keputusan-keputusan penting tanpa melibatkan anggota WTO yang lainnya—hingga juli 2009 terdapat 153 negara sebagai anggota WTO—atau dengan kata lain Negara-negara maju ini melakukan konspirasi jahat untuk memenangkan kehendaknya pada negara-negara lain terutama negara berkembang.

Belum lagi proses penyelesaian perselisihan (Dispute Settlement Process/DSP) WTO, dimana sertiap negara anggota WTO diijinkan untuk saling menentang undang-undang dan peraturan masing-masing negara lainnya yang dianggap melanggar ketentuan WTO. Kasus-kasus kemudian diputuskan oleh satu panel yang beranggotakan tiga birokrat perdagangan, yang semata-mata berlandaskan pada kepentingan para pemodal, sehingga tidak mengherankan jika setiap aturan mengenai kesehatan, pendidikan, lingkungan maupun keputusan yang berkaitan dengen hajat hidup mayoritas rakyat di sebuah negara, yang dipersoalan di WTO, diputuskan secaca illegal, walaupun itu artinya melanggar konstitusi di negara-negara tersebut.

Dan perdagangan bebas kawasan tertentu/regional (seperti perdagangan bebas ASEAN, perdagangan bebas ASEAN-CHINA, ASEAN-KOREA, ASEAN-JEPANG dan lain sebagainya) harus mengikuti aturan main yang telah ditetapkan di WTO, sehingga sudah pasti kepentingan yang mendasarinya juga sama, yakni kepentingan para pemodal.

Sebagai pembanding dari WTO (sebut saja, lembaga perdagangan kaum kapitalis), negara-negara di Amerika Latin, yang dipelopori oleh negara sosialis Venezuela dan negara sosialis Kuba—kemudian disusul Bolivia, Nikaragua, dan Ekuador--membentuk sebuah lembaga yang bernama Alternatif Bolivarian untuk Amerika Latin (Alternative Bolivarian for Latin America/ALBA), yang berlandaskan pada prisip saling melengkapi(bukan kompetisi), solidaritas(bukan dominasi), kerja bersama (bukan ekploitasi) dan penghormatan terhadap kedaulatan rakyat(bukan kekuasaan pemodal).

Kerjasama ini juga menghendaki sebuah demokrasi baru berdasarkan partisipasi langsung rakyat dari bawah, dengan berbagai mekanismenya, agar semua orang diberikan kesempatan berfikir, berpendapat, berkreasi, bahkan melawan untuk kemajuan negeri.

Kuba dan Venezuela memelopori bentuk kerja sama ala ALBA, lewat metode pertukaran dokter dengan minyak; operasi mata gratis bagi penduduk miskin Venezuela ke Kuba; pertukaran minyak dengan bahan makanan dan pertanian [bahkan sudah mencapai pertukaran bijih besi kualitas tinggi (ore) dan bauksit dengan nikel]; dokter dengan mesin-mesin produksi; bantuan modal untuk pengembangan energi minyak dan penjualan minyak murah. Kerjasama ini mulai melibatkan Ekuador, Argentina dan Brazil (Petrosur), Colombia dan Paraguay. Semuanya bertujuan demi kemajuan tenaga produktif dan ekonomi rakyat di AL. Belakangan ini, Venezuela, (bahkan) menyodorkan gagasan untuk memperluas sebagian proyek persatuan Amerika Latin-nya dengan Afrika.

Penutup

Tentu saja, sebuah sistem ekonomi yang berpihak pada pada mayoritas rakyat(sosialisme) hanya dapat terwujud jika kekuasaan politik berada ditangan rakyat, sebab dengan kekuasaan politik (yang demokratis) ditangan rakyat, seluruh persoalan ekonomi dapat dipecahkan, dicarikan jalan keluarnya dengan partisipasi penuh rakyat, bukan lagi sekedar segelintir elit.

Dan untuk membentuk kekuasaan rakyat, membentuk pemerintahan rakyat, tidak ada pilihan bagi mayoritas rakyat Indonesia, bagi kaum buruh Indonesia, untuk mulai membangun organisasi-organisasi perjuangan yang militant, organisasi-organisasi perjuangan yang sadar, hanya sosialismelah jalan keluarnya, dan dengan teguh berupaya membangun persatuan sesama organisasi perjuangan, persatuan nasional yang terbentang dari Aceh hingga Papua.

Yang tak ragu berjuang untuk menumbangkan rezim kapitalis di Indonesia (dan berikutnya diseluruh penjuru dunia) dan menegakkan pemerintahan rakyat, menegakkan sosialisme.


Oleh : Budi Wardoyo
--Kader Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik dan Koordinator Divisi Penyatuan Politik Komite Persiapan Persatuan Pergerakan Buruh Indonesia--

1/27/2010

Rezim Kapitalis Telah Gagal!!


1/26/2010

Ajakan Aksi 28 Januari, Jogya

1/21/2010

Lagu Darah Rakyat

video

Lagu berjudul DARAH RAKYAT ini ada dua versi yaitu PKI & ACOMMA/MURBA. Syair pada video ini adalah versi PKI, sedangkan versi ACOMMA/MURBA dengan nada yang sama tapi ada perubahan pada syair dan pengubah syairnya adalah bung Legiman Hardjono/Legiono a.k.a Ismail Bakri (Sekjend ACOMMA 1 & wasekjend Angkatan Muda Kereta ...Api - 1947):

Darah Rakyat Masih Berjalan.....
Menderita Sakit dan Miskin......
Sampai Saatnya Pembalasan.....
Rakyat Yang Menjadi Hakim..... 2x

Ayo-ayo bergerak Sekarang....
Kemerdekaan Telah Datang.....
Merah Warna Panji-panji Kita.....
Merah Warna Darah Rakyat......2x

Kami Berjanji Pada Rakyat......
Kemiskinan Pasti Hilang.......
Kaum Buruh Berkuasa.......
Dunia Baru Pasti Datang.....

Ayo-ayo Bergerak Sekarang....
Sosialisme Pasti Menang......
Merah Warna Panji-panji Kita....
Merah Warna Darah Rakyat....2x

1/20/2010

Hikayat Kadiroen Oleh Semaoen (1920)

Kata Pengantar Pengarang

Di waktoe jang bertanda tangan dibawah ini dalam tahoen 1919 masoek pendjara karena presdelict, maka dalam 4 boelan di boei itu saja soedah mengarang tjerita dalam boekoe ini.

Dalam tahoen 1920 saja robah sedikit saperloenja, jaitoe sesoedahnja tjerita ini masoek sebagai fuilleton dalam Sinar Hindia.

Pada Soedara Ngadino jang membantoe saja dalam hal memperbaiki kalimatja maka dengan ini saja mengatoerkan terima kasih!

Moega-moegalah tjerita yang saja toelis dengan aer mata kesengsara-an dalam pendjara itoe bisa djadi senangnja orang banjak, jaitoe semoea pembatja dan rajat. Semaoen

BAB I

Mantri Polisi yang Bijaksana


"Opas, Asisten Wedono ada?"

"Ada Kanjeng Tuan!"

"Saya mau bicara dengannya."

"Saya Kanjeng, hamba akan segera mengatakannya!"

Begitulah tanya jawab antara Tuan Zoetsuiker, administratur pabrik gula Semongan, pagi tanggal 6 Februari 19…, di muka pendopo rumah Tuan Asisten Wedono dari Onderdistrik Semongan juga.

Yang disebut sebagai Opas di sini adalah seorang tua yang bernama Pigi. Ia sudah 33 tahun bekerja menjadi Opas Asisten Wedono Semongan juga. la sudah biasa menda­pat pelajaran bagaimana menghormati semua tamu-ta­mu Belanda. Apalagi jika tamunya itu adalah seorang Tuan Administratur. Tamu orang besar seperti itu pasti akan dia sebut kanjeng. Demikian pula apa yang diperin­tahkan oleh para tamu-tamu besar semacam itu pasti segera dilaksanakan dengan secepat-cepatnya. Oleh kare­na itu, tidak mengherankan jika jika Opas Pigi segera berlari seperti dikejar harimau, menghadap Tuan Asisten Wedono yang sedang makan pagi di ruang makan rumah belakang. Ketika Tuan Asisten Wedono mengetahui ada tamu Tuan Administratur, ia segera berhenti makan. Ia mengambil baju jas dan dengan tergopoh-gopoh seperti orang yang hendak naik kereta api yang siap berangkat, berlari ke pendopo untuk menemui tamu besar Tuan Administratur tersebut.

"Tabik, Asisten! Saya kasih tahu sama Asisten, tadi malam ada pencuri ambil satu ayam yang nyonya beli di Surabaya. Harganya dulu f.2,50. Jadi seekor ayam bagus itu. Saya mau supaya Asisten cari pencuri dan ayamnya. Besok lusa saya ingin tahu kabarnya.”

“Saya Kanjeng, sebentar lagi saya akan datang ke rumah Kanjeng untuk mengurusnya sendiri.”

"Baik, Asisten. Jadi Asisten mau pigi..."

"Kanjeng...!" Terdengar suara keras Opas Pigi dari luar. Ia segera berlari dan duduk bersila seperti katak menghadap Tuan Administratur. Tuan administratur menjadi sangat terkejut dan marah besar, karena ia tidak merasa memanggil opas. Tetapi kini datang seorang opas. Ia mengangkat kakinya, dan sambil sepatunya terarah ke muka opas ia berteriak:

“Pigi!”

“Hamba Kanjeng!”

Opas Pigi tetap duduk sambil menyembah-nyembah mendapat usiran Tuan Administratur. Sudah barang ten­tu, Tuan Administratur bertambah marah dan berkata pa­da tuan Asisten Wedono

“Asisten, ini opas gila. Apa sebab tidak lekas dipe­cat?”

Pada saat itu Tuan Asisten baru menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam hal ini terdapat salah pengertian karena opas itu namanya Opas Pigi. Jadi, sewaktu Tuan Administratur berkata “pigi”, maka Opas Pi­gi mengira ia dipanggil.

Tuan Administratur mengerti hal itu ia tertawa terbahak-bahak dan Tuan Asisten Wedono pun berani ikut tertawa. Sedang Opas Pigi keluar dengan wajah menanggung malu.

Baru saja Tuan Administratur pulang, datang Lurah Desa Wonokoyo, membawa seorang desa, yang dari pa­kaian yang dikenakannya kelihatan amat miskin. Ada­pun nama orang desa itu adalah Soeket. Ia diantar oleh lurahnya menghadap Tuan Asisten Wedono untuk mengadukan bahwa baru saja ia kecurian. Untuk orang desa macam Soeket, tentu berbeda aturannya dengan Tuan Administratur pabrik gula meskipun keduanya sama-sa­ma melaporkan sedang kecurian. Seorang Administratur pabrik gula, berpangkat besar, kaya dan semua orang me­ngenal dan mempercayainya. Lain halnya dengan Soeket, ia orang kecil, tak dikenal orang banyak, apalagi oleh Asisten Wedono yang kekuasaannya hampir meliputi 10.000 orang kecil. Itulah sebabnya Tuan Administratur bisa datang sewaktu-waktu dan melaporkan perkaranya begitu saja, tidak usah memakai saksi seorang lurah pada Asisten Wedono. Tetapi bagi orang seperti Soeket, untuk melaporkan perkaranya, ia harus disertai lu­rahnva sebagai saksi bahwa apa yang menimpanya memang-benar-benar terjadi.

Untuk orang besar, semua urusan menjadi gampang. Tetapi untuk orang kecil, susahnya bukan main.

Tuan Asisten Wedono yang baru saja bertemu dengan Tuan Administratur bertanya pada Lurah, apa sesungguhnya keperluannya.

“O, Tuanku, ini orang dari desa saya. Ia seorang petani yang hanya memiliki seekor kerbau. Tetapi tiba-tiba kerbau itu tadi malam dicuri orang!”

“O, jadi kecurian! Baik, silahkan kalian menunggu dahulu sebab saya akan sarapan lebih dahulu. Selesai makan pagi saya akan segera pergi ke rumah Tuan Zoetsuiker yang juga sedang kecurian. Nanti siang, kalau saya sudah pulang, kau boleh melaporkan lagi. Sudah!”

Begitulah jawaban Tuan Asisten Wedono. la sangat tergopoh-gopoh dan sangat cepat ketika mengurus per­kara Tuan Administratur, tetapi ia memandang kecil ma­salah Soeket. Bahkan ia disuruh menunggu terlebih da­hulu. Perbuatan semacam ini memang tidak mengherankan sebab seorang Administratur kelas sosialnya sama dengan pembesar seperti asisten Wedono. Juga dengan pembesar-pembesar lain seperti Asisten Residen, Kontrolir, Regen, Patih dan sebagainya. Orang-orang besar semacam itu sangat mudah berhubungan dengan tuan-tuan besar di atas dan mudah saja mengadukan perbuatan-perbuatan amtenar-amtenar seperti Asisten Wedono kepa­da para pembesar-pembesar di atasan. Sebaliknya, seorang desa seperti Soeket, sangat susah untuk mengadu­kan kesalahan para pembesar. Sedangkan untuk bertemu dengan Asisten Wedono saja ia harus melapor bersama lurah lebih dahulu. Apalagi ketemu dengan Tuan Regen atau Tuan Kontrolir guna melaporkan kesalahan pejabat macam Asisten Wedono.

Aturan di desa memang sangat menyulitkan orang-orang kecil untuk bertemu dengan pembesar-pembesar negeri. Sehingga hampir-hampir orang desa sama sekali tidak bisa dan tidak suka mengadukan keberatan-keberatannya kepada kepala negeri. Itulah sebabnya mengapa seorang pejabat macam Asisten Wedono tersebut sangat cepat jika mengurus perkara yang menimpa tuan-tuan besar. Tetapi menomorduakan pengaduan orang desa atau orang kecil.

Tidak lama berselang, kita telah melihat antara Tuan Asisten Wedono, Nyonya Administratur dan seorang mantra polisi muda, berada di muka kombong di kebun be­lakang rumah Tuan Administratur Zoetsuiker.

Nyonya Administratur menjelaskan bahwa ia amat senang memelihara ayam yang bagus-bagus. Ia punya ayam sepuluh ekor. Tetapi pagi ini tinggal sembilan ekor. Jadi jelas, yang seekor pasti hilang dicuri maling. Karena nyonya tahu betul bahwa kemarin sore ayam itu masih genap sepuluh ekor di kandang. Tetapi pagi ini, ketika ia hendak melihat ayamnya, kandang ayam itu sudah terbuka. Pintunya rusak seperti dibongkar pencuri. Ketika Nyonya Administratur memperhatikan lebih lanjut, ia ta­hu bahwa ayam yang dibelinya dari Surabaya seharga f.2,50 yang berbulu biru, sudah tak ada sama sekali. Jadi ayam yang langka dan sangat bagus itu telah hilang. Ia tanya pada koki, babu, jongos, tukang kebun dan tukang kuda serta semua pegawai di rumah itu, semua tidak ta­hu. Melihat pintunya yang sedikit rusak – meski pintu kandang ayam itu memang sudah tua dan amat gampang dirusak – yang mestinya masih tertutup tapi kali ini sudah terbuka, maka ia berpikir pasti ayam itu dicuri orang. ­Apalagi Nyonya sering mendapat laporan dari babu-ba­bu dan koki bahwa tetangga kanan-kiri Administratur ju­ga sudah sering kecurian ayam.

Tuan Asisten Wedono memperhatikan betul cerita Kanjeng Nyonya dan ia percaya begitu saja. Ia melihat-lihat pintu kandang yang rusak. Ia membikin beberapa catatan semua hal yang ia ketahui dan ia dengarkan. Selain itu, ia berjanji kepada Kanjeng Nyonya bahwa Asisten Wedono sendiri yang siap mengurus dan menyelesaikan perkara ini.

Tetapi Mantri Polisi muda berpikiran lain. Ia mendu­ga ayam itu pasti dicuri dan dimakan oleh seekor garangan sebab pintu kandang ayam itu memang mudah dirusak. Selain itu, di pintu terdapat goresan-goresan seperti bekas cakaran kuku seekor garangan. Mantri Polisi tidak yakin bahwa yang mencuri ayam itu adalah manusia. Ka­rena jika yang mencuri manusia, pasti dia tidak hanya mengambil seekor saja. Tetapi ia pasti akan mencuri se­kuat ia mengangkat. Selain itu, memang sangat mustahil ada pencuri yang berani masuk ke kebun Tuan Zoetsuiker karena tuan besar mempunyai pegawai banyak sedang di muka rumah ada penjaganya. Begitupun, Tuan Zoet­suiker terkenal mempunyai senjata api yang selamanya jelas akan membikin takut pencuri. Mengingat lagi kete­rangan dari tetangga-tetangga kanan-kiri Kampung Nyo­nya sering kecurian ayam. Maka ia menduga, pasti sekitar perumahan ini terdapat sarang garangan. Tuan Mantri Polisi muda menjelaskan praduga-praduganya ini pada Nyonya Administratur dan Tuan Asisten Wedono. Tetapi Nyonya menjawab:

“Neen Mantri! Mesti ada pencuri sebab Nyonya Kon­trolir, saya punya sahabat, dulu juga pernah kecurian ayamnya dan pencurinya juga tertangkap. Tuan Asisten Wedono, dengar kata Nyonya Kontrolir saya punya sahabat, saya menjadi khawatir, jangan-jangan ini perkara nanti diurus oleh Tuan Kontrolir dan tentu akan gampang ma­rah pada Tuan Asisten Wedono jika perkara ini tidak selesai.”

Itulah sebabnya Asisten Wedono sekali lagi berjanji akan mengurus perkara ini sampai selesai. Ia juga men­jelaskan bahwa Mantri Polisi ini baru saja lulus sekolah. Jadi apa yang menjadi praduganya memang gampang ke­liru. Setelah berkata begitu ia permisi pulang untuk memikirkan masalah ini serta bagaimana cara menangkap pencurinya. Mantri Polisi diajak pulang. Tetapi Mantri Polisi merasa tidak enak, sebab ia tetap yakin pada du­gaannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan mencari bukti-bukti dan mengurus masalah ini sampai selesai.

Siapa sesungguhnya Mantri Polisi itu? Ia masih mu­da sekali, baru berumur 20 tahun. Dan baru saja keluar dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (O.S.V.I.A) di Probolinggo. Ia baru saja bekerja sebagai Schrijver Controleur selama tiga bulan. Namun sudah dipandang pantas untuk menjadi mantri polisi. Pada waktu pencurian ini terjadi, ia baru tiga hari ditugaskan jadi mantri polisi di Onderdistrik Semongan. Ia adalah pemuda yang amat bijaksana, meski ayahnya hanya seorang lurah. Dengan pertolongan Tuan Kontrolir yang membawahi lurah tersebut, maka anaknya bisa masuk sekolah O.S.V.I.A di Probolinggo. Tuan Kontrolir ter­sebut sudah mengambil si anak lurah tersebut sebagai anak emas sebab Tuan Kontrolir tahu bahwa anak itu me­mang cerdas dan bijaksana. Hal serupa ini memang amat jarang terjadi di tanah Jawa. Dari sekitar 10.000 orang, hanya ada satu. Kita harus tahu bahwa pada masa itu, sekolahan memang amat sedikit jumlahnya. Dan itu khusus untuk anak para priyayi. Sedang anak-anak orang kecil, sampai anak lurah sekalipun, hampir tidak mungkin dapat belajar sampai sempurna. Hanya karena watak, ke­pribadian dan keberanian lurah tersebut, ia berani mendekati Tuan Kontrolir dengan yakin walau tidak melu­pakan sopan santun yang berlaku. Maka Tuan Kontrolir

menjadi senang pada lurah itu. Apalagi, lurah itu memang terkenal sebagai yang terbijaksana di antara lurah-­lurah yang lain. Karena hubungan itulah maka anak lurah itu bisa diambil sebagai anak emas Tuan Kontrolir. Anak emas itu bernama Kadiroen. Di sekolah ternyata ia terpandai, suka belajar, rajin menuntut ilmu. Dan watak­nya teguh kuat serta pemberani. Ia tidak akan berhenti berikhtiar selama apa yang diinginkan tercapai. Ia berjiwa merdeka dan pemberani sehingga tidak mudah bagi pe­muda sebayanya untuk mengalahkannya dalam segala hal termasuk dalam kecerdasan, beradu kekuatan fisik dan lain-lain. Oleh sebab itu, di sekolah ia dianggap sebagai bintang kelas. Ia dicintai oleh guru-gurunya dan dihormati oleh sesama murid.

Kadiroen memiliki perawakan yang sedang, tidak besar tidak juga kecil, tetapi di dalam tubuhnya tampak ter­simpan kekuatan yang besar. Wajahnya ganteng. Kulit­nya hitam bersemu merah halus. Matanya terbuka lebar, serta bersinar tajam jika memandang. Hal itu menanda­kan bahwa pemiliknya mempunyai kepribadian yang kuat, berwatak kesatria dan tidak suka berbuat dosa. Se­lain itu, ia pemberani, setia dan mudah dipercaya. Ia hor­mat dan tidak suka menghina pada sesama, tidak suka menyakiti hati nurani lain. Sehingga semua orang senang melihatnya.

Kadiroen memang ditakdirkan Tuhan memiliki ke­baikan dalam segala hal, melebihi dari yang lain-lain se­samanya. Dan ia memang sangat suka berbuat kebaikan. Meski ayahnya hanya orang kecil atau orang biasa, tetapi ibunya masih memiliki gelar Raden Ayu. Karena ibunya tahu betul watak, kecerdasan dan kepribadian ayah Ka­diroen, ia merasa senang meski hanya kawin dengan se­orang lurah. Apalagi ia memang sudah tidak punya sa­nak famili lagi. Dan tampaknya semua sifat dan tabiat dari kedua orangtuanya itu, telah melekat, menurun pada diri Kadiroen. Karena ia memang sangat suka berbuat ke­baikan, maka ia melebihi sesama pemuda sebayanya.

Berkebalikan dengan watak mantri Polisi Kadiroen, yakni atasannya atau Asisten Wedono Semongan; Ia adalah anak seorang regen yang bergelar Raden Panji Tumenggung. Dan anak yang jadi Asisten Wedono itu bergelar Raden Panji juga. Ia sudah berumur 35 tahun. Meski sudah bekerja selama 12 tahun di Binnenlandsch-Bestuur, tetapi masih saja berpangkat asisten Wedono. Sejak ia di sekolah, ia tergolong amat bodoh dan kocak. Tabiatnya sangat berani luar biasa, kalau menghadapi orang kecil dan yang ada di bawahnya. Jadi wajar jika ia suka berbuat sewenang-wenang. Tetapi jika ia menghadapi para pem­besar yang ada di atasnya, atau lebih kuat dibanding di­rinya, dia menjadi amat penakut dan sangat bersikap hor­mat. Bahkan saking hormatnya, martabat dirinya sendiri sering direndahkan seperti seekor anjing. Wajar jika ia punya watak penjilat. Memang sudah lumrah jika watak penjilat biasanya disertai dengan watak sewenang-wenang. Meski tamatan O.S.V.I.A. di Probolinggo, tetapi di sana ia hanya memamerkan kebodohannya, amat tidak suka belajar, tidak disenangi guru dan sesama murid yang lain. Hanya karena ia anak seorang regen karena ayahnya yang berpangkat tinggilah, menggunakan pengaruhnya, ia bisa menjadi asisten wedono tersebut, ia diangkat menjadi asisten tersebut, ia bergelar Raden Panji Kuntjoro Noto-Prodjo-Ningrat, sebuah gelar yang amat panjang dan mentereng.

Begitulah dua orang yang satu dengan yang lainnya saling bertolak belakang, seperti siang dan malam, meski mereka sama-sama bekerja dalam satu instansi. Yang baik hanya menjadi mantri polisi yang diperintah, sedang yang busuk justru menjadi asisten wedono yang memerintah.

Setelah jam satu siang, Tuan Asisten Wedono pulang, Selama itu juga Soeket masih tetap menunggu. Ia sudah ditinggal pulang oleh lurahnya. Lurah itu berjanji sanggup menjadi saksi nanti sore apabila Soeket hendak melaporkan perkaranya pada asisten Wedono. Setelah Tuan Asisten Wedono pulang, Soeket langsung saja datang menghadap. Tetapi kata Tuan Asisten Wedono:

“Tunggu saya makan dahulu.”

Selesai makan, ia memanggil Soeket yang segera menjelaskan perkaranya.

“O, Ndoro, hamba orang miskin. Hamba hanya memiliki seekor kerbau, sebagai tumpuan mencari sesuap nasi. Tetapi tiba-tiba, tadi malam kerbau itu dicuri orang!”

"Kamu amat teledor! Kemana kamu semalaman per­gi? Tidur nyenyak itu saja yang kau bisa. Bayangkan kerbau sebesar itu. Dicuri orang kau tidak tahu. Hai pemalas. Sekarang kamu minta tolong sama aku. Apa memang kamu sudah tidak bisa menjaga kerbaumu sendiri. Dasar pemalas!” kata Tuan Asisten Wedono sambil marah besar.

Soeket menjadi amat takut. Dalam benaknya, ia sangat menyesal. Mengapa harus mengadukan masalah ini. Coba kalau tahu bakal begitu. Tentunya ia sebisa-bisanya akan mencari sendiri kerbau serta pencurinya Sekarang nasi telah menjadi bubur. Lalu mau dikata apa. Ia memberanikan diri, menuturkan kejadian yang sebenarnya.

“O, Ndoro, hamba mohon ampun. Tadi pagi jam tiga, hamba berangkat ke kota untuk menjual kelapa. Dan baru pulang setelah jam delapan. Anak hamba hanya seorang tapi tiba-tiba tadi malam sakit. Sedang istri hamba juga turut sakit. Jadi sejak jam tiga pagi tadi, rumah hamba kelihatan sangat sepi, itulah sebabnya sampai kecurian."

"Diam!" Kata Tuan Asisten Wedono yang marah besar. "Kamu dasar bodoh, mengapa semua sedang sakit nekat kau tinggal ke pasar?"

"Hamba mohon ampun Ndoro. Karena hamba memang terpaksa harus pergi ke pasar menjual kelapa untuk membeli beras jatah makan keluarga hari ini."

“Diam kau, berani sekali kau melawan kata-kataku, anjing. Saya sudah bosan bicara denganmu. Nanti sore kau boleh datang lagi. Dan cukup melaporkan perkaramu pada Mantri Polisi. Ayo, cepat pergi”

Itulah watak Tuan Asisten Wedono yang busuk ketika harus menerirna pengaduan rakyat kecil. Asisten Wedono semacam itu namanya tidak mau tahu bahwa dia dibayar oleh Gupermen untuk melayani keperluan orang kecil juga. Ia merasa dirinya seakan raja di hadapan rakyat kecil agar si kecil terus-menerus takut kepadanya. Dengan cara menindas semacam itu, ia berusaha agar rakyat kecil tidak gampang-gampang mengadu perkara yang dihadapinya. Hal mana jika itu terjadi akan membikin begitu banyak kerjaan dan urusan Asisten Wedono sehingga ia tentu tidak akan bisa makan enak dan tidur nyenyak. Dengan menindas perasaan rakyat yang berani menuntut hak-haknya, perintahnya gampang dituruti oleh rakyatnya. Sebaliknya, rakyat menjadi amat ketakutan, dan kemerdekaannya menjadi hilang sama sekali sehingga keinginan rakyat untuk memperbaiki nasibnya sendiri menjadi semakin terlupakan. Akhirnya, rakyat menjadi penyabar dalam semua hal sehingga ia akan miskin terus-menerus. Namun jika kemiskinan itu telah sampai pada batasnya maka ada para "dukun" atau "kyai" yang memberikan ilmu memperbaiki nasib, dan rakyat lain lari kepada para penolong-penolong semacam itu, sehingga orang-orang semacam ini akhirnya mendapat kepercayaan yang besar dari rakyat. Dan berkat kepercayaan itu, dalam diri mereka sering timbul niat dan pikiran-pikiran yang keliru. Tanpa pikir panjang, mereka mengira bisa menjadi seorang raja. Maka akibatnya, timbul berbagai gejolak dan kerusuhan di desa-desa, yang akhirnya dapat menjadi alasan para serdadu untuk membunuh jiwa-jiwa rakyat kecil yang tak berdosa. Sungguh, para priyayi yang buas itu memang tidak berusaha membantu pemerintah bagaimana meningkatkan taraf hidup rakyat. Mereka malah selalu bikin ribut dan onar di desa-desa sehingga ketertiban dan keamanan desa menjadi kacau. Untunglah jika kemudian ada perkumpulan-perkumpulan atau gerakan-gerakan yang berusaha mengurangi dan menghalangi kejadian-kejadian buruk serupa itu.

Jam tiga sore Mantri Polisi Kadiroen menerima pengaduan Soeket dengan ramah tamah. Selain itu, ia segera mengajak Soeket pulang untuk melihat sendiri tempat kejadian perkara dimana pencurian kerbau itu terjadi. Mendengar segala penuturan Soeket yang panjang lebar, Kadiroen menaruh belas kasihan yang mendalam terhadap nasib yang menimpa Soeket. Dalam hatinya, ia berjanji akan berusaha dengan sungguh-sungguh menolong Soeket mendapatkan kerbaunya kembali serta menangkap pencurinya. Setibanya ia di rumah Soeket, ia mendengar rintih tangis yang menyayat.

"O, Bapak, mengapa kau pergi lama sekali. Aduh Pak, sakit, sakit Pak. Aduh Bu, sakit...!"'

Juga disusul rintih tangis yang lain.

"O, Pak, aku tidak kuat kalau harus terus-menerus sakit begini. Minum..., saya minta minum. Apa sebabnya kau pergi begitu lama!"

Begitulah rintih tangis anak dan bini Soeket yang sedang sakit. Mengetahui semua itu, hati Kadiroen serasa hancur. Ia memberi beberapa nasihat kepada Soeket. Ia juga berusaha menolong dan menghibur kepada si sakit sebisa-bisanya. Dan dengan senang hati ia berusaha secepatnya mengurus perkara Soeket. Pertama-tama, ia melihat dimana lokasi rumah Soeket berdiri. Ia tahu, rumah itu berdiri di perbatasan desa. Di belakang rumah terdapat areal persawahan yang luas. Sunyi. Kiri kanan jauh dari tetangga. Wajar jika mudah dimasuki pencuri. Di muka rumah yang berdinding bambu dan tertutup atap – sebuah rumah yang memang sudah tua – berdiri kandang ternak kerbau Soeket. Sebuah kandang yang sudah tua. Perkakas dan seisi rumah menandakan hanya Soeket orang yang sangat miskin. Kadiroen lalu berusaha mencari jejak-jejak pencurinya. Tetapi pencuri itu nyaris tidak meninggalkan jejak yang jelas sama sekali. Sebab tanah di situ adalah tanah kering, sehingga tidak meninggalkan jejak kaki satu pun. Ia mendapat keterangan bahwa pintu pekarangannya pagi-pagi sudah tidak tertutup lagi. Hal itu membuktikan bahwa pencuri itu membawa kerbaunya lewat depan rumah. Hanya pagar belakang rumah terdapat beberapa kerusakan, jelas bahwa pencuri itu pasti masuk lewat belakang rumah dengan cara merusakkan pagar. Dari rusaknya pagar itu, Kadiroen bisa menduga-duga, pencuri itu pasti berbadan besar dan kuat. Orang yang lembek dan kecil, tentu tidak mungkin dapat menumbangkan pepohonan di pagar. Pohon-pohon itu rebah pasti karena desakan dan tendangan pencuri yang berbadan besar dan kuat. Sebuah jejak yang menguntungkan ditemukan Kadiroen. Ia mendapatkan selembar kartu remi (kartu judi) terselip di pagar itu. Dari penjelasan Soeket bahwa ia tidak pernah main judi, Kadiroen yakin kartu ini pasti milik pencurinya. Hal itu dapat menjadi jalan terang, bahwa pencurinya adalah seorang penjudi. Ia mengira, pasti pencuri itu habis kalah judi. Sehingga ia nekat mencuri kerbau itu. Kadiroen terus berpikir panjang lebar. Dalam hatinya ia bertanya-tanya. “Sesudah mencuri, dibawa kemana kiranya kerbau itu? Ke pasar atau ke rumah orang lain untuk dijualkah? Rasanya tidak mungkin. Sebab tidak mudah untuk berbuat hal yang demikian sebab semua penjualan kerbau, harus memakai saksi lurah, yang menjelaskan dari mana asal usul kerbau itu dan lain-lainnya. Dalam hal ini, tentu pencuri akan sangat mudah ketahuan dan tertangkap. Apa mungkin kerbau itu dipotong untuk dimakan sendiri? Mustahil, rasanya tidak mungkin, sebab satu orang tidak mungkin makan seekor kerbau jika tak punya hajat. Apa mungkin daging kerbau itu lalu dijual ke pasar? Juga tidak bisa. Karena semua hewan yang dipotong dan dagingnya dijual di pasar, harus mendapat pengesahan dari pegawai Gupermen. Pendek kata, jika hanya seorang pencuri, tidak mudah bcrbuat hal-hal yang sangat sukar begini. Dan pasti pencuri itu akan cari akal bagaimana mudah mendapatkan uang.” Oleh sebab itu Kadiroen yakin bahwa pencuri itu akan kembali datang ke rumah Soeket, untuk berjanji mengembalikan kerbaunya asalkan mendapatkan uang tebusan. Kejadian-kejadian serupa ini memang sering terjadi dalam hal pencurian hewan-hewan besar. Setelah itu, Kadiroen permisi kepada Soeket dan berjanji akan mencarikan kerbaunya.

Pukul sepuluh malam. Desa Wonokoyo sunyi sekali. Seantero desa terkurung gelap malam yang hitam pekat. Di runah Soeket tidak terdengar apa-apa selain rintih tangis anak dan bininya yang sedang sakit. Memikirkan semua ini, hati Soeket menjadi amat berduka. Tiba-tiba ia amat terkejut, seperti seorang yang baru bangun tidur dibangunkan oleh suara guntur yang menyambar sangat keras. Ia mendengar pintunya diketuk orang dan terdengar suara ancaman yang menakutkan.

"Hai Soeket, awas, besok jam sepuluh malam kamu harus menyediakan uang sebesar f.25,- di pintu pagar sebelah kanan. Jika kau tidak mau menyediakan uang itu, kerbaunya akan hilang selamanya. Tetapi jika kau menurut, lusa pagi-pagi kau akan mendapatkan kerbaumu lagi di muka rumahmu. Saya hanya minta tebusan murah, sebab saya masih kasihan dengannmu. Dan ingat, jangan sekali-kali kamu berani lapor polisi. Sebab kalau kamu berani lapor polisi, lain kali kau akan kubunuh.”

Soeket menjadi amat bersedih. Uang f.25,- harus ia dapat paling lambat besok malam. Dari mana ia bisa dapat uang sebanyak itu? Ia ingin keluar untuk berunding dengan pencuri itu. Tetapi ia tidak berani, sebab ia tidak tahu berapa berapa besar kekuatan yang ada di luar. Ia memberanikan bertanya, namun di luar keburu sunyi, Soeket tak mendapatkan jawaban apa-apa. Ia menjadi amat takut dan berjanji untuk tidak melaporkan masalah ini pada polisi.

Sesosok badan yang besar dan tampak kuat, berpakaian serba hitam dan tampak meninggalkan rumah Soeket, dengan perlahan-lahan, sehingga langkah-langkah kakinya tak terdengar sedikit pun. Ia berjalan menuju jalan raya. Tetapi tanpa sepengetahuan dirinya, menguntit di belakangnya seorang yang berperawakan kecil dan berpakaian serba hitam hitam pula. Ia terus-menerus menguntit kemana perginya orang itu.

Selama satu jam perjalanan, tibalah orang yang dikuntit itu di muka sebuah rumah besar. Sesudah mengetuk pintu, ia segera masuk. Rumah itu berdiri dekat hutan yang sunyi serta jauh dari tetangga kanan-kiri. Sementara badan yang kecil, yang juga berpakaian serba hitam berada di luar, mengintip dari lubang pintu dan mendengarkan pembicaraan orang yang ada di dalam rumah. Di dalam rumah ia melihat ada empat lelaki yang bermuka kasar dan tampak sangar. Mereka sedang asyik bermain judi, sedangkan yang baru datang langsung ngeloyor masuk ke dalam kamar. Ia tidak kelihatan wajahnya, hanya terdengar suaranya saja.

“Sudah sahabat-sahabat, saya sekarang capai. Saya mau tidur. Yang punya kerbau besok malam tentu akan memberikan uang tebusan f.25,- kepada saya.”

Lain halnya jawaban dari empat orang tadi.

“Wah, Kang, sekarang kita musti main dadu, sebab kartu buat main ceki kurang satu!”

Inilah suara-suata yang perlu diketahui oleh orang berpakaian hitam yang ada di luar. Yakni, suara-suara yang dapat memberikan keterangan lebih jauh perihal pencurian kerbau itu pada Kadiroen; Mantri Polisi Kadiroen sendirilah yang berpakaian serba hitam, seperti pencuri yang malam-malam menyelinap di samping rumah Soeket, untuk mengetahui siapa sebenarnya pencuri kerbau yang meminta tebusan kepada Soeket.

Sekarang Kadiroen sudah tahu semuanya. Tetapi ia ingin tahu lebih dahulu dimana kerbau itu disembunyikan. Kadiroen belum berani masuk ke rumah pencuri itu. Sebab ia sendiri tentu tidak mungkin menang melawan lima orang. Maka pada malam itu, Kadiroen merasa bahwa perkara ini sementara cukup sampai disini lebih dahulu. Ia segera pulang dan tidur nyenyak seperti tidak ada kejadian apa-apa; itu membuktikan bahwa ia memang memiliki watak pemberani.

Esok paginya, jam enam, ia sudah berangkat ke kantor Tuan Asisten Wedono. Ia minta izin sampai sore untuk mengurus masalah kerbau itu. Ia berniat memakai uangnya sendiri f.25,- untuk dipasangkan sebagai taruhan menangkap pencuri itu. Yaitu ia mempunyai uang kertas f.5,- berjumlah lima lembar. Ia menyuruh dua opas untuk mencatat nomor seri uang-uang itu. Adapun kartu judi yang ia peroleh dari pagar rumah Soeket, ia simpan dengan baik di kantor asisten Wedono. Selanjutnya, ia pergi ke rumah Soeket.

Soeket menangis meminta pinjaman uang f.25,- tetapi tidak berani menjelaskan bahwa uang itu akan digunakan sebagai uang tebusan kerbaunya. Meski Kadiroen mengetahui akan hal ini, ia pura-pura tidak tahu. Ia segera memberikan pinjaman semua uang kertas miliknya. Habis dari rumah Soeket, ia segera pergi ke areal persawahan dekat perumahan Tuan Administratur yang kecurian ayam. Ia menengok kanan-kiri, barangkali melihat seekor garangan sedang bersembunyi. Tetapi disitu memang begitu banyak semak-semak rimbun yang layak untuk persembunyian garang yang aman. Kadiroen terpaksa mencari cara lain. Ia meminjam kurungan yang kuat sekaligus dengan ayamnya sekalian. Ia menaruh ayam dalam kurungan itu serta meletakkan di dekat semak-semak rimbun dan sunyi. Ia sendiri segera naik ke atas pohon untuk memperhatikan kurungan ayam pasangannya. Karena suara dan bau ayam tidak berselang lama ia melihat seekor garangan datang menghampiri kurungan itu. Kadiroen segera melemparkan batu kerikil ke arah garangan itu, sambil pandangan matanya mengikuti kemana garangan itu bersembunyi. Lalu Kadiroen segera turun dan pergi mendekati semak rimbun tempat garangan itu masuk. Disana ia mendapatkan bangkai ayam berwarna biru milik Nyonya Administratur. Tidak jauh dari tempat itu, ia melihat tulang-belulangnya serta bulu-bulu ayam berserakan. Hal itu membuktikan bahwa pencuri ayam yang dicari Tuan Asisten Wedono adalah benar-benar seekor garangan. Dalam hatinya Kadiroen tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi ia tidak berani menceritakan semua itu kalau belum berhasil menangkap garangan tersebut. Itulah sebabnya, ia hendak memasang jaring perangkap garangan di dekat semak-semak rimbun tersebut. Sebagai umpannya ia membeli seekor anak ayam yang masih kecil. Sesudah memasang jaring perangkap itu dan meminta tolong pada orang-orang yang ada di dekat situ supaya melarang anak-anak main di sekitar situ, maka ia segera pulang. Sore harinya ia berangkat lagi ke kantor Asisten Wedono.

“Nah, Mantri Polisi, Lihatlah pekerjaanku!" kata Tuan Asisten Wedono bangga. “Kemarin ada pencurian ayam, sekarang pencurinya sudah saya tangkap!”

Kadiroen mlenggong. Bagaimnna bisa, pikirnya. Tetapi Tuan Asisten Wedono menceritakan hal itu dengan bangga, sehingga Kadiroen tidak mau mengomentari. Ia membiarkan kebanggaan Tuan Asisten Wedono. Yang dimaksud pencuri ayam itu adalah seorang desa yang tinggal dekat rumah Tuan Administratur. Namanya Soekoer. Ia seorang yang hidup pas-pasan. Tidak kaya, juga tidak miskin. Ia tampak gemuk dengan pakaian yang pantas. Kadiroen tidak yakin kalau Soekoer pencurinya. Oleh karena itu, ia bertanya kepada Asisten Wedono.

“O, Tuan, saya senang Tuan sudah dapat menangkap pencurinya. Karena saya masih polisi baru, jadi saya masih harus belajar dengan Tuan. Namun saya masih belum yakin, apa benar Soekoer adalah pencurinya? Bagaimana Tuan menangkap serta apa bukti-buktinya?"

Tuan Asisten Wedono merasa amat bangga menceritakan keberhasilannya, seraya ia berkata:

“Ya, Mantri, begitulah, orang harus pintar. Tidak boleh asal berpendapat bahwa pencuri ayam itu adalah seekor garangan. Sementara kau sudah berpendapat begitu, itu salah besar. Mestinya kamu mengurusnya terlebih dahulu, mencari bukti-buktinya. Baru berpedapat. Tetapi maklum, kamu masih muda, jadi masih harus banyak belajar kepada saya! Adapun Soekoer, memang telah nyata sebagai pencuri ayam Nyonya Administratur, meskipun ia masih mungkir. Tetapi bukti-bukti telah cukup. Ada saksinya segala. Doerachim bercerita pada saya, kemarin pagi ia membeli ayam berwarna biru pada Soekoer. Ayam itu telah disembelih oleh Doerachim. Tetapi ia membawa bulu-bulu serta tulang-belulang ayam sebagai barang bukti. Sewaktu Doerachim membeli ayam itu, saksinya Nojo. Jadi sudah sangat jelas, tetapi pencurinya belum juga mau mengaku. Adapun saya bisa menangkap dia, ceritanya begini: Saya memiliki banyak mata-mata. Tetapi yang paling pintar adalah Soekari. Soekari dahulunya seorang kepala pencuri, suka bermain judi, pokoknya kelakuannya sangat busuk. Tetapi sejak ia saya jadikan kepala mata-mata, kelakuannva berubah menjadi baik. Ia saya gaji tetap dari uang saya sendiri. Tiap bulannya, sebesar f.20,-. Kalau ia sedang bekerja mencari pencuri, supaya ia mau mencari dengan sungguh-sungguh, ia saya ongkosi seperlunya. Jadi kalau mereka mencari pencuri sampai pencurinya dapat tertangkap, mereka saya bayar sedikitnya f.2.50,- Dalam perkara pencurian ayam Nyonya Administratur ini, kalau pencurinya tertangkap tentunya saya akan mendapat nama baik di mata tuan-tuan besar. Oleh karena itu, saya tidak segan-segan mengeluarkan uang. Dan lagi Mantri Polisi, jangan lupa 'pencuri mesti harus ditangkap dengan pencuri juga.' ini strategi seorang polisi. Itulah sebabnya yang saya jadikan mata-mata adalah kepala pencuri. Kau lihat sendiri, kemarin terjadi kecurian, sekarang pencurinya sudah tertangkap. Inilah politik saya. Kamu masih harus banyak belajar hal-hal begini dari saya.”

Kadiroen mendengarkan betul nasihat-nasihat Asisten Wedono. Tetapi dalam hatinya merasa heran; pertama, mengapa Asisten Wedono sangat bangga, sombong dan menggelikan. Umpamanya memang betul Soekoer adalah benar-benar pencuri yang dicari. Toh yang tahu akan hal itu bukan Tuan Asisten Wedono sendiri. Tetapi mata-mata yang dibayarnya. Sedang Tuan Asisten Wedono sendiri tidak tahu dan tidak kerja apa-apa. Ia tidak berpikir dan bertindak apa-apa kecuali membayar mata-mata. Sekarang mengapa sebabnya Tuan Asisten Wedono demikian yakin dan bangga sekaligus sombong menceritakannya. Kedua, Kadiroen belum yakin bahwa Soekoer adalah pencurinya karena ia tahu sendiri bangkai ayam Nyonya Administratur. Ia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres dibalik perkara ini. Selain itu ia juga heran, kalau betul Soekoer pencurinya, mengapa ia terus-terusan mungkir, sedangkan bukti-bukti dikatakan sudah cukup meyakinkan. Kadiroen ingin tahu bagaimana selanjutnya jalan cerita masalah ini. Ketiga, Kadiroen tertawa dalam hati, bagaimana bisa, ayam hanya seharga f.2.50,- dicari dengan membayar f.25,- . Ia tahu persis bahwa perkara ini hanya dijadikan modal oleh Tuan Asisten Wedono untuk cari nama, dengan harapan pangkatnya akan segera naik. Adapun masalah pencurian ini hanya dijadikan jalannya semata. Bagaimanapun Kadiroen juga tahu, hidup sebagai polisi memang amat susah untuk bisa cepat naik pangkat. Wajar jika akhirnya banyak yang mau memberikan uangnya sendiri kepada para mata-mata sebagai uang belanja. Dan untuk segala urusan, ia mesti mengeluarkan uang dari koceknya sendiri yang tidak sedikit jumlahnya untuk keperluan pekerjaannya. Hal-hal yang beginian di dunia polisi memang tidak asing lagi. Karena itu banyak polisi yang berusaha dengan caranya sendiri - kadang-kadang tidak halal dan tidak masuk akal sekalipun - untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Akhirnya, para lurah dan orang-orang kecillah yang menjadi korbannya. Peraturan dan kode etik polisi pada masa itu memang ada begitu banyak. Sehingga para polisi banyak yang tidak berani minta agar anggaran kepolisian dinaikkan, apalagi kenaikan gaji. Keempat, dalam hati Kadiroen juga merasa heran mengapa untuk menangkap pencuri ayam mesti pakai pencuri lain. Seorang pencuri, jelas orang yang jahat, ia tidak mungkin dapat dipercaya. Tetapi anehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Asisten Wedono, seorang pencuri yang jelas tidak bisa dipercaya, tiba-tiba harus dipercayai untuk menangkap pencuri lain. Kadiroen memikirkan hal ini secara panjang lebar sehingga ia tidak bisa komentar apa-apa terhadap petunjuk Asisten Wedono. Kadiroen tersentak ketika ia kemudian mendengar suara Asisten Wedono selanjutnya:

“Nah, Mantri Polisi, bagaimana itu pencuri kerbau Soeket? Apa kau belum dapat keterangan. Masalah ini seyogyanya jangan dimasukkan ke dalam buku laporan. Sebab kalau terlalu lama pencuri itu tidak bisa tertangkap, lebih baik perkara itu dibekukan saja. Kalau tidak dibekukan, saya khawatir nantinya akan membikin banyak pertanyaan dari atas, yang bikin susah. Laporan Soeket kita menganggap tidak ada saja, toh ai tidak mungkin berani melaporkan perkara ini ke pembesar-pembesar yang ada di atas.”

Kadiroen bertambah heran mendengar kata-kata Tuan Asisten Wedono. Ia tak bisa berkomentar apa-apa. Ia berpikir, mengapa untuk orang kaya seperti Tuan Administratur yang hanya kemalingan seekor ayam saja, Tuan Asisten Wedono tidak merasa rugi mengeluarkan uang banyak. Lagipula ia ribut untuk mengurusnya dengan sungguh-sungguh. Tetapi bagi Soeket yang kehilangan kerbau, yang jelas nilainya lebih dari separo harta kekayaannya, hampir-hampir tak diperhatikan oleh Tuan Asisten Wedono. Memang, untuk membekukan perkara Soeket adalah soal gampang. Karena orang kecil memang susah untuk mengadukan perbuatan polisi pada atasannya. Tetapi mengurus perkara orang besar jelas akan bisa mendatangkan keuntungan. Kadiroen memikirkan masalah ini dengan panjang lebar. Sekarang ini memang masih lazim mengurus perkara seseorang mesti diperhatikan seberapa besar pengaruh orang tersebut. Soal-soal beginilah yang tidak mendidik orang untuk bertindak adil, berbudi baik dan berwatak kesatria. Namun Kadiroen telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berlaku adil. Selain itu ia telah berjanji untuk menolong Soeket. Ia ingat bagaimana susahnya nasib orang kecil semacam itu. Ia juga telah berjanji pada dirinya sendiri un­tuk menolong Soekoer yang didakwa mencuri ayam. Ka­diroen merasa tugas berat sedang menghadang di depan mata. Kadiroen memang berhati mulia, ia mau berbuat baik kepada siapa saja. Tetapi susahnya, ia masih diperintah oleh orang yang sangat berlainan dengan watak dan pikiran Kadiroen. Sungguh suatu masalah yang jelas akan sangat membingungkan dirinya. Tetapi Kadiroen tak merasa bingung dan berkecil hati. Karena ia percaya kepada keadilan Tuhan Allah yang mau memberi pahala kepada siapa saja manusia yang mau berbuat kebaikan.

Sementara pikiran Kadiroen penuh dengan kemulia­an dan kebaikan, tiba-tiba ia mendengar Tuan Asisten Wedono yang memanggil Opas Pigi.

“Opas, coba kau siksa Soekoer si pencuri itu. Sudah satu hari ia tidak saya beri makan dan minum supaya ia menjadi kelaparan dan kehausan sehingga ia mau meng­akui perbuatannya. Tetapi sampai sekarang ia belum ju­ga mengakui kesalahannya.”

“Baik Ndoro!” kata Opas Pigi. Ia mengambil sepotong rotan dan segera memukuli telapak kaki Soekoer. Sebuah siksaan yang amat kejam dan keras. Tetapi tidak sampai menimbulkan luka sehingga tidak kentara. Karena sik­saan itu Soekoer hanya dapat meraung dan menjerit-jerit. "O, Tuhan Allah, apakah dosa saya sehingga disiksa seperti ini. Disuruh mengaku mencuri, padahal saya memang benar-benar tidak melakukannya. O, ya Allah ….”

“Pukul lagi yang keras!” kata Asisten Wedono.

Melihat penyiksaan semacam itu darah Kadiroen se­rasa mendidih. Ia ingin sekali menolong Soekoer. Tetapi ia pikir belum waktunya untuk memberi pelajaran pada Tuan Asisten Wedono karena ia belum tahu persis ba­gaimana kisah selanjutnya masalah ini. Tuan Asisten We­dono bertanya kepada Soekoer sambil memaki-maki de­ngan kata-kata yang tak layak didengar telinga orang wa­ras.

“Nah, apakah sekarang kau mau mengaku, bajingan!”

Tetapi apa jawaban Soekoer.

“Tuan, bagaimana hamba mesti mengaku, sedang hamba memang tidak berdosa."

“Kalau kau mau mengaku, kau akan mendapat hu­kuman ringan," kata Tuan Asisten Wedono.

“Tuan, bukannya hamba takut pada hukuman, memang hamba benar-benar tidak mencuri. Tetapi hamba tidak suka berdusta. Dan dustalah hamba jika hamba mengaku mencuri, padahal hamba memang tidak mela­kukannya. Hamba tidak takut pada hukuman manusia Tetapi hamba sangat takut pada murka Tuhan Allah. Di akhirat nanti pasti tidak akan memberi tempat yang baik jika hamba berdusta.”

Begitulah keterangan Soekoer, meski orang menyik­sanya, tetapi total, teguh pendiriannya. Tuan Asisten We­dono menjadi amat marah. Bayangkan, ia seorang Asisten Wedono yang sangat berkuasa, tetapi ia tidak bisa me­naklukkan seorang pencuri yang berdasarkan fakta dan bukti-bukti yang dipercayainya, dialah pencurinya. Ya, manusia mana yang dapat menaklukkan jiwa manusia yang teguh dan baik hatinya dan hanya mau takluk ke­pada ketentuan Tuhan Allah, yakni Tuhan raja dari se­mua kebaikan dan ketetapan. Meski dia adalah seorang raja sekalipun. Inilah letak kebodohan Tuan Asisten We­dono yang tidak mau tahu. Ia kira bisa menaklukkan hatinya Soekoer. Manusia bisa membengkokkan besi, tetapi mustahil bisa membengkokkan jiwa yang teguh imannya. Tuan Asistan Wedono yang bodoh telah menyiksa Soe­koer habis-habisan, tetapi ia tetap tidak bergeming. Me­mang, menurut peraturan, seorang polisi tidak boleh menyiksa terdakwa. Adapun perbuatan Asisten Wedono jelas melanggar peraturan dan ia bisa dituntut. Tetapi apa­lah artinya peraturan? Peraturan manusia hanya mungkin dijalankan oleh manusia yang baik, yakni manusia-ma­nusia yang mau menghormati dan menjalankan peratur­an yang baik sebagaimana dikehendaki Tuhan Allah. Te­tapi peraturan yang baik bagi orang bejat tentu tidak akan dijalankan sebagaimana mestinya jikalau si bejat itu tidak diawasi perbuatannya. Tetapi siapa yang akan mengawasi perbuatan Asisten Wedono, seorang pejabat tinggi yang mestinya menjalankan peraturan-peraturan negeri. Sedangkan perbuatannya tidak diawasi oleh atas­annya. Sementara yang bisa mengawasi perbuatanya hanya orang-orang yang ada di bawahnya, orang-orang yang ia perintah, orang-orang kecil dan lain-lain. Tetapi orang-orang ini tidak bisa berbuat apa-apa. Karena me­mang ia sangat susah jika akan mengadukannya pada para pembesar. Apalagi sesudah ia mengadukan, kalau ti­dak sedang bernasib baik, ia akan difitnah yang bisa-bisa mencelakakan dirinya. Hal-hal yang serupa ini, umum­nya di seantero dunia, sering terjadi di dalam negeri yang rakyatnya tidak mempunyai kekuatan untuk turut memerintah negerinya sendiri. Sebaliknya, jika peraturan bikin­an manusia yang bejat, tentulah peraturan serupa itu hanya dijalankan oleh manusia-manusia yang bejat pula. Te­tapi jelas akan mendapat tantangan dari manusia-manu­sia yang baik. Ironisnya, si baik yang melawan – yang selalu ingin tetap berada dan ingin menjalankan keten­tuan peraturan-peraturan Tuhan Allah – ini justru sering menjadi korbannya.

Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika Tuan Asis­ten Wedono yang bejat dengan gampang menyiksa Soe­koer. Memang sudah sangat sering terjadi di tanah Jawa (negeri ini) seorang terdakwa mengaku berbuat salah di muka polisi hanya karena tidak tahan disiksa, tetapi di muka pengadilan ia sering mungkir atau mencabut peng­akuannya. Dan ia menjelaskan pengakuan itu ia buat semata karena ia hanya tidak ingin disiksa. Inilah yang membikin kusutnya perkara sebab akan semakin susah membuktikan apakah seorang terdakwa itu benar-benar bersalah atau tidak.

Kadiroen memikirkan hal ini dengan panjang lebar. Kadiroen menyaksikan sendiri bagaimana Soekoer tetap mungkir. Maka ia yakin orang macam Soekoer memang selalu ingat kepada Tuhan Allah, jadi ia selalu ingat ke­pada kebaikan. Mana mungkin ia berbuat dosa mencuri ayam. Kadiroen yakin, di balik perkara ini banyak hal yang ganjil. Itulah yang mendorong niat Kadiroen ber­tambah kuat untuk menyelesaikan masalah Soekoer. Se­lain itu, makin bertambah kuat pula niat Kadiroen untuk menegakkan keadilan bagi semua manusia. Besar mau­pun kecil.

Jam sembilan malam. Dengan pakaian serba hitam, Kadiroen berangkat sendirian. Ia membawa beberapa tali untuk mengikat beberapa orang. Dengan satu revolver dan beberapa peralatan lainnya, pergilah Kadiroen ke ru­mah Soeket. Ia bersembunyi, tidak kelihatan orang. Me­nunggu pencuri kerbau yang akan mengambil uang te­busan sebesar f.25,-. Ia diam, bersembunyi, sambil terus mengawasi, persis seperti pencuri. Pada saat itu, ia ingat petuah-petuah Tuan Asisten Wedono yang bodoh itu: "Pencuri harus ditangkap oleh pencuri lain." Tetapi Ka­diroen merasa dirinya bukan pencuri. Itulah sebabnya ia menjalankan pepatah Tuan Asisten Wedono dengan membikin pepatah sendiri. "Pencuri harus ditangkap dengan cara pencuri." Untuk menangkap orang bejat mesti dipakai polisi baik. Bukan orang bejat yang harus menangkap orang bejat lainnya. Sebab aturan yang serupa ini sering menimbulkan hal-hal yang lebih bejat lagi.

Kira-kira jam sepuluh Kadiroen melihat ada seorang mengambil uang tebusan itu. Sesudah mengambil langsung ngeloyor pergi. Kadiroen menguntit orang itu dari belakang, ke mana pun perginya. Akhirnya ia tahu, orang itu masuk ke dalam rumah penjudi kemarin. Kadiroen mengetahui juga yang ada di dalam rumah itu, ada dua orang laki-laki lain dan seorang perempuan. Istrinya pen­curi kerbau itu. Tidak berapa lama, dua orang lelaki itu disuruh pencuri pertama untuk mengambil kerbaunya Soeket sehingga ia tinggal sendirian dengan bininya. Kadiroen berpikir. "Nah, kini dua orang pergi. Dan kerbau­nya Soeket akan dibawa kemari." Inilah saat yang tepat untuk menangkap kepala pencuri yang sedang sendirian itu. Perkara perempuan, istri pencuri itu, tidak masuk hi­tunganku. Dengan pikiran semacam itu, ia langsung ma­suk ke rumah pencuri itu. Tetapi pencuri yang berbadan besar dan kuat itu bertindak cepat juga. Demi melihat Ka­diroen, ia langsung meloncat dari tempat duduknya, me­nabrak Kadiroen sehingga Kadiroen tidak sempat menggunakan revolvernya. Si pencuri seraya berkata dengan murka. Ia marah seperti raksasa.

"Hai, saya tahu kau Mantri Polisi baru. Sekarang ku­bunuh kau." Kadiroen dengan cepat menghindar ke ka­nan sehingga tidak tertabrak pencuri. Tetapi Kadiroen segera dipegang pencuri itu sehingga terjadi adu gulat yang ramai antara antara pemuda yang berbadan kuat dengan seorang pencuri besar dan berbadan besar dan kuat juga. Mereka berdua bergantian saling menindih dan gulatnya amat cepat. Istri pencuri itu menjadi ketakutan, ia lari keluar. Kadiroen ingat yang ia kerjakan kali ini adalah perbuatan yang baik. Pada saat itu ia merasa me­miliki kekuatan yang luar biasa. Ia bisa sangat lama menindih pencuri itu. Namun Kadiroen juga telah mengeta­hui dua orang yang disuruh mengambil kerbau itu su­dah datang. Yang seorang mengambil kayu galih asam, segera masuk ke rumah, hendak memukul Kadiroen, gu­na membantu sahabatnya yang tertindih Kadiroen. Ka­diroen pura-pura tidak tahu apa-apa. Tetapi pada saat pu­kulan itu hendak menimpa dirinya, dengan cepat ia me­loncat, meninggalkan pencuri yang ia tindih sehingga pukulan yang seharusnya buat dia itu jatuh tepat mengenai kepala pencuri, musuhnya, sampai pingsan. Musuh Kadiroen kini tinggal dua orang. Dengan cepat ia menarik revolvernya. Sambil mengancam dua musuh itu, ia berkata:

“Awas, diam, jangan bergerak. Sebab kalau nekat, akan kutembak kau.” Kedua musuh itu lalu diam. Yang satu dilempari tali oleh Kadiroen, disuruh mengikat pen­curi yang sedang pingsan serta satu pencuri lainnya. Habis itu, maka Kadiroen mengikat sendiri pencuri nomor dua itu sehingga Kadiroen dengan gagah berani sudah berhasil menangkap ketiga pencuri yang sangat berbaha­ya. Sungguh sangat mengherankan. Kadiroen menang karena ia didasari oleh keberanian, keteguhan hati serta cepatnya ia bertindak yang terbawa karena keberanian dan keteguhannya itu.

Maka uang f.25,- itu kembali ke tangan Kadiroen. Se­habis mengatur semuanya yang ada di situ, ia dengan ber­bagai cara berusaha membangunkan pencuri yang pingsan. Akhirnya ia berhasil juga. Kadiroen segara bertanya nama pencuri yang baru saja siuman dari pingsannya. Namun betapa terkejutnya hati Kadiroen ketika mendengar jawabannya:

“Nama saya Soekari!”

Sekarang ternyata Kadiroen sudah dapat berhasil me­nangkap mata-mata yang amat dipercaya oleh Tuan Asis­ten Wedono. Kadiroen menjadi bertambah heran ketika yang dua lainnya memberikan pengakuan; namanya Durachim dan Nojo. Kedua-duanya menjadi saksi dalam perkara "pencurian" ayam si Soekoer. Segera Kadiroen yakin, ketiga orang ini ikut berdosa dalam perkara Soekoer tersebut. Tetapi Kadiroen menjadi khawatir, ja­ngan-jangan ketiga pencuri itu tidak akan mau memberi keterangan tentang hal ini kalau tidak diusahakan suatu hal yang halus. Oleh karena itu ia memanggil istri Soekari dan berkata pada Soekari:

"Hai Soekari, lihatlah binimu ini. Saya tahu, kamu sa­ngat mencintai binimu. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mungkir kalau saya tanya, agar kamu tidak mendapat hu­kuman yang terberat. Dan supaya kamu lekas keluar dari bui, guna meneruskan perkawinanmu dengan binimu."

Soekari menjadi takut kepada Kadiroen sebab ia ta­hu Kadiroen sangat cerdik, pemberani dan kuat. Ia ber­janji akan berterus terang, tidak akan berdusta. Lalu Ka­diroen berkata lagi:

“Lihatlah, binimu, tampak susah. Apa kamu tidak ka­sihan?”

"Saya Tuanku!" Kata Soekari.

“Nah, ingatlah. Pada saat ini bini Soekoer juga sedang dalam kesusahan. Ia sangat berduka. Apa kamu juga tidak kasihan pada bini Soekoer yang didakwa mencuri ayam? Dan juga apa kamu tidak kasihan pada Soekoer yang terdakwa?”

“O, ya Tuanku, sekarang saya merasa, semua itu ka­rena dosa saya. Berilah saya petuah, supaya hati saya menjadi tenteram dan bisa bertobat!”

"Baik, sebelum aku memberikan petuah padamu, ce­ritakan terlebih dahulu perihal Soekoer!"

Di sini Soekari menjelaskan bahwa dahulu ia sangat membenci Soekoer sebab Soekoer tidak pernah mau memberi uang kepadanya setiap kali ia memintanya. Ka­tanya ia tidak punya. Karena itu, maka Soekari berusaha mencelakakan Soekoer. Waktu Tuan Asisten Wedono sanggup memberi uang f.25,- maka Soekari sangat ingin mendapat uang itu. Dan dia sudah membikin saksi-saksi palsu, yaitu Doerachim dan Nojo, buat menuduh Soekoer sebagai pencuri ayam Tuan Administratur. Sedang bu­lu-bulu ayam itu, ia ambil dari ayam lain. Dengan cara itu, ia bisa mencelakakan Soekoer sekaligus mendapat uang f.25,-. Cerita Soekari itu dibenarkan oleh Doerachim dan Nojo. Sekarang nyatalah bahwa Tuan Asisten We­dono berbuat kekeliruan sebab mau menangkap pencuri dengan pencuri lain. Sesudah perkara ini menjadi jelas, maka ketiganya bersedia menceritakan perkara itu pada Asisten Wedono supaya Soekoer bisa dilepaskan dari dakwaannya. Sehabis itu, Soekari juga mengaku bahwa dirinya adalah pencuri kerbau Soeket. Lalu Kadiroen ber­kata:

"Nah, kamu bertiga, ingatlah. Kamu sudah berbuat dosa, sedang menurut peraturan negeri, maka tidak boleh tidak, tentulah kamu harus mendapatkan hukuman. Mengingat kamu sudah berterus terang, tentu hukuman­mu bisa diringankan tetapi carilah ketenteraman hatimu sendiri dengan cara bertobat pada Tuhan Allah, percaya­lah kepada Tuhan Allah dan berbuat baiklah serta ting­galkanlah tingkah lakumu yang sudah-sudah. Dan kalau kamu menurut perintahku, kamu bertiga akan bisa men­jadi orang baik sehingga hati dan pikiranmu akan men­jaali tenteram."

Petuah-petuah Kadiroen ini merasuk betul dalam hati sanubari ketiga orang yang berbuat jahat itu. Dan akhir­nya menjadi kenyataan, sebab sepuluh tahun kemudian, ketiganya telah menjadi orang baik.

Jam lima pagi esoknya. Kadiroen membawa ketiga pencuri itu ke rumah Asisten Wedono. Tetapi di tengah jalan mereka mampir ke rumah Soeket untuk mengem­balikan kerbaunya. Dan berkata pada Soeket, bahwa hu­tangnya yang f.25,- tidak usah dikembalikan sebab uang itu telah dikembalikan oleh pencurinya kepada Kadiroen. Wah, sungguh Soeket bersama anak istrinya menjadi sa­ngat gembira. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Kadiroen, tetapi Kadiroen malah menjawab:

"Baiklah, ucapan terima kasihmu itu kusampaikan saja pada Tuhan Allah. Sebab saya hanya perantara saja untuk membantumu."

Karena teramat gembiranya, istri dan anak Soeket yang sedang sakit menjadi lekas sembuh. Sungguh, perbuatan yang keluar dari niat suci selamanya akan beru­bah kebaikan. Habis menyelesaikan masalah Soeket, Ka­diroen mampir lagi untuk melihat perangkap garangan yang dipasangnya kemarin. Maka senanglah ia sebab ga­rangan yang dimaksud telah masuk perangkap. Jadi, pencuri ayam alias garangan itu juga sudah bisa ditangkap oleh Kadiroen. Sedang ayam biru yang sudah mati dan tinggal bangkainya itu ia bawa sekalian untuk barang bukti.

“Jadi pencuri saya punya ayam sudah tertangkap? Dan ayam saya sudah habis dimakan?" Begitulah Nyonya Administratur bertanya pada Asisten Wedono jam de­lapan pagi-pagi. Pada saat itu Nyonya dan Tuan Admi­nistratur mampir ke rumah Tuan Asisten Wedono. Se­telah itu akan langsung pergi ke kota. Tuan Asisten We­dono menjadi sangat bangga sambil memperkenalkan Soekoer yang amat lemah badannya, sangat pucat wajah­nya. Karena sudah 24 jam belum mendapat makan dan minum. Pada saat itu Tuan Asisten Wedono berkata

"Ini Nyonya, pencurinya. Tetapi sampai saat ini ia be­lum juga mau mengaku.”

Lalu Tuan Asisten Wedono menceritakan duduk per­karannya, siapa saksi-saksinya dan sebagainya. Tetapi Tuan Asisten tidak menceritakan perihal mata-mata yang memberikan petunjuk itu sebab Tuan Asisten Wedono berharap supaya dikatakan cerdik. Akan halnya Soekoer yang disiksa, itu pun sama sekali tidak ia katakan. Ketika Nyonya melihat Soekoer yang tampak lemas badannya, ia berkata:

"Kasihan! Betulkah ia pencurinya. Tetapi ia tampak begitu lembek dan pucat seperti sakit. Sungguh kasihan!" begitulah kata Nyonya.

Sebagaimana semua perempuan, Nyonya lebih me­ngedepankan perasaan terlebih dahulu, barulah ia ber­pikir. Sebaliknya, seorang laki-laki sering berpikir lebih dahulu, sesudah itu baru mengungkapkan perasaannya. Seorang laki-laki dalam hal mengungkapkan perasaannya, tidak bisa sedemikian cepat dan halus sebagaimana pe­rempuan.

"Ya, toh itu orang salah dan mesti dihukum!" kata Tuan Administratur.

Nou, Asisten, kamu ada pintar dan ada cepat ini per­kara. Nanti di kota, saya akan menceritakan hal ini pada tuan-tuan pembesar."

Baru saja Tuan Administratur berkata yang demikian Kadiroen datang di pendopo, bersama ketiga pencuri yang telah berhasil ia tangkap, serta dengan garangan dan bangkai ayam. Ia mengambil kartu judi dan nomer-no­mer seri lima buah lembar uang kertas f.5,- dan ia cocok­kan dengan angka-angka seri uang kertas yang dicatat oleh opas hari kemarin. Semua itu akan ditunjukkan se­bagai barang bukti.

Melihat orang-orang itu, bangkai ayam, garangan, serta kartu judi yang dibawa Kadiroen, Nyonya dan Tuan Administratur, dan juga Asisten Wedono menjadi heran. ­Ketiganya meminta supaya Kadiroen menjelaskannya, serta apa maksud dari barang-barang itu semua. Kadiroen menjelaskan semua itu apa adanya. Hanya saja, Kadiroen tidak suka menceritakan perihal Tuan Asisten Wedono yang sudah menyiksa Soekoer sebab ia tidak suka mem­buka aib Tuan Asisten Wedono kalau tidak ada perlunya. Salah satu dari ketiga pencuri itu juga mengakuinya. Sedang Soekoer yang tidak berdosa dilepaskan dari ta­hanan.

Tuan dan Nyonya Administratur sangat gembira me­lihat keberhasilan Kadiroen sebab masih begitu muda, sudah sangat cerdik dan pemberani. Sedang Tuan Asisten Wedono menjadi amat malu.

Di kota peristiwa itu diceritakan kepada para pembesar yang menjadi atasan dua pejabat tersebut. Maka de­ngan tersiarnya kabar itu, diuruslah masalah Asisten We­dono dan Kadiroen.

Karena kepandaian Kadiroen, tidak begitu lama ia dinaikkan pangkatnya menjadi Asisten Wedono di On­derdistrik Gunung Ayu. Sedang Tuan Asisten Wedono yang besar kepala dan berhati batu dimarahi sehingga menjadi malu.


BAB II

Jiwa yang Tergoda

Sudah empat tahun Kadiroen menjadi Asisten Wedono di Onderdistrik Gunung Ayu, yaitu sebuah onderdistrik yang sunyi karena di daerah pegunungan. Sedang di situ tidak ada pabrik gula atau onderneming-onderneming. Na­mun Kadiroen sampai waktu itu belum juga kawin. Selama empat tahun ia bekerja siang malam untuk mening­katkan taraf hidup orang kecil yang menjadi rakyat ba­wahnya. Ia sangat pandai dan bijaksana dalam mengu­rus setiap persoalan. Hampir semua rakyatnya hidup ber­kecukupan. Sebab Kadiroen selalu memberi nasihat dan teladan yang baik kepada orang-orang kecil. Karena ke­hidupan rakyat yang berkecukupan maka tidak ada or­ang yang suka mencuri dan berbuat kejahatan. Kadiroen sangat dicintai oleh rakyatnya sedang dari atasannya ia sering mendapat pujan. Hanya sekitar satu tahun yang lalu ia menghadapi masalah yang menyusahkan dirinya. Yaitu di Meloko di mana penduduknya tidak bisa mak­mur sebagaimana desa-desa yang lainnya. Desa tersebut, penduduknya banyak yang hidup miskin. Tetapi lurah di desa itu terkenal sebagai lurah terkaya ketimbang lu­rah-lurah yang lain di seantero Onderdistrik Gunung Ayu. Kadiroen menyelidiki dengan seksama kehidupan di desa itu. Tetapi ia tidak juga mengerti apa yang men­jadi penyebabnya. Kemiskinan penduduk desa tersebut­lah yang membikin susah hati Kadiroen. Ia sering tidak tidur, memikirkan bagaimana ia berikhtiar mencari cara guna meyelesaikan masalah tersebut.

Begitulah, jam empat pagi ia sudah naik kuda pergi ke desa tersebut. Ia ingin melihat bagaimna cara kerja rakyat disana. Sebab dengan mengerti sendiri kerja rakyat, ia akan mengerti bagaimana cara berusaha dan me­nasihati rakyat desa tersebut.

Sunyi sekali. Hawanya sangat sejuk. Burung-burung terbang kian kemari. Dari pepohonan yang sepertinya masih tidur, belum dibangunkan oleh angin, terdengar pantun dan nyanyian burung-burung yang amat indah, menyenangkan hati untuk mereka yang menghargai ke­hidupan binatang dan alam. Dan jauh terdengar kokok ayam jantan, seperti mengingatkan kepada makhluk Tuhan bahwa pagi itu adalah saat di mana kita akan meli­hat hari-hari yang bakal terbit. Langit di timur berwarna merah saga makin lama makin menguning. Kuning muda lalu kuning putih. Dan mengintiplah sang raja alam, mentari dari balik batas dunia. Sinarnya memancar kuat, mengusir gelapnya malam seperti membuka jalan bagi si raja siang. Bangunlah dunia.

Jalan raya yang naik turun di tanah perbukitan itu belum banyak dilalui orang. Hanya ada seorang naik kuda sambil berpantun ria dengan burung-burung menunjuk­kan bahwa orang itu memiliki hati yang tenteram dan berbakti pada Tuhan yang menganugerahi keelokan du­nia ini. Ia adalah Kadiroen, yang sangat gembira menyak­sikan indahnya suasana pagi.

"O, Tuhan Allah. Gustiku. Hamba berterima kasih kepada kebesaran-Mu. Sebab telah memberikan peman­dangan pada hamba yang bisa melihat dan merasakan keelokan kekuasaan Tuhan atas makhluk-Nya.”

Begitulah, Kadiroen selalu memuji dalam hatinya. Lalu ia berkata dalam hati: "Hai, teramat sunyi dan indah sekali jalan ini. Sudah dua jam saya naik kuda, berarti su­dah dekat dengan Desa Maloko. Tetapi mengapa belum bertemu dengan seorang manusia pun." Baru saja Kadi­roen berpikir demikian, di kejauhan ia melihat sosok ma­nusia, makin lama makin besar. Mereka berdua hendak berpapasan. Kadiroen naik kuda, sedangkan orang itu ber­henti di tepi jalan, mempersilakan Kadiroen. Kedua ma­ta mereka saling beradu pandang. “Aduh” kata Kadiroen dalam hatinya. Ia hendak melecut kudanya supaya ber­jalan lebih cepat. Maka ia segera melewati orang yang ada di tepi jalan itu. Setelah agak jauh, ia menengok ke belakang. Dalam hatinya ia bertanya: "Siapakah gerangan orang itu?”

Sesampai di Desa Maloko, Kadiroen melihat pendu­duk di situ sudah bangun semua. Mereka sedang sibuk bekerja di sawah. Kadiroen menjadi gembira. Ia berkata dalam hati, ”Penduduk di sini rajin-rajin, tanahnya subur, air banyak. Tetapi mengapa mereka tidak bisa kaya sebagaimana desa-desa lain. Apakah penyebabnya?” Kadiroen bertanya kepada orang-orang yang bekerja di sawah tentang berbagai hal yang berhubungan dengan mata pencaharian dan kehidupan rakyat di desa itu. Te­tapi seluruh keterangan yang didapat Kadiroen belum mampu memecahkan persoalan yang dihadapi. Apa se­babnya rakyat tidak bisa hidup makmur. Setelah siang ia pulang dengan hati gundah. Ia berjanji dalam hatinya, esok pagi akan kembali lagi. Ia ingin tahu dan terus berusaha mencari tahu sebab-sebabnya. Di dalam perjalanan pulang, ia terus berpikir. Otaknya terus berputar-putar. Tetapi selain itu, setiap beberapa saat, jiwanya selalu bertanya "Aduh, siapakah, gerangan orang yang tadi itu?" Silih berganti ingatan dan pikirannya berkecamuk. Kadiroen berusaha menenteramkan jiwanya. Tetapi ah, setiap saat ia selalu teringat. Dadanya berdebar-debar dan nyeri, “Aduh, siapakah?” Jika pada siang hari jiwa Kadiroen bertanva-tanya, malamnya selalu tidak bisa tidur. Dan pada saat itu juga batinnya selalu bertanya: “Siapakah dia?" pertanyaan itu terus-menerus tidak mau pergi dari ingatannya.

Tengah malam Kadiroen baru bisa tidur. Lalu ber­mimpi seperti sedang naik kuda lagi, pergi ke Desa Meloko. Dan persis seperti kejadian sesungguhya yang ia aalmi paginya. Di dalam impian itu ia bertemu lagi de­ngan orang: “Siapakah dia?” O, tetapi betapa bahagianya hati Kadiroen mendapat impian yang luar biasa. Sebab dalam impian itu, orang yang selalu menjadi pertanyaan hatinya "Siapakah dia?" yang berbicara dengannya. Ya, berbicara, itulah sebabnya Kadiroen menjadi sangat ba­hagia.

“Siapakah dia?” Dialah seorang perempuan. Pembaca yang terhormat memang di suatu ketika dalam hidup ma­nusia, ada saat-saat yang menghidupkan jiwa manusia, ada saat-saat demikian luar biasa. Yaitu saat seorang bujang mengungkapkan perasaan cintanya kepada orang lain. Yakni pe­muda kepada pemudi atau sebaliknya. Inilah kodrat Tu­han Allah. Dan oleh karena itu, mulai saat itu Kadiroen menaruh perasaan cinta kepada seorang perempuan.

Pagi tadi ia baru sekali melihat perempuan yang sedang berangkat ke pasar. Tetapi, anehnya seterusnya ia tidak bisa lupa kepadanya. Tidak tahu, siapa perempu­an itu. Ia hanya baru tahu wajahnya saja. Tetapi wajah perempuan itu sekarang sudah tidak bisa pergi dari ingat­annya. Perempuan itu adalah seorang gadis muda. Usia­nya 21 tahun. Tadi pagi ia berangkat ke pasar. Pakaian­nya tidak menunjukkan sebagai orang kaya. Tetapi bersih dan rapi. Tetapi wajahnya sangat cantik sekali. Pera­wakannya sedang. Penampilan dan tingkah lakunya tam­pak lembut, begitu menarik hati; berwajah cantik, dengan rambut hitam mengkilat menambah sempurna kecan­tikan wajahnya. Yaitu wajah yang berkulit kuning bersemu putih serta halus, sehalus sutera layaknya. Hidung­nya mancung dan indah. Mulutnya kecil dengan bibir yang memerah indah. Pipinya padat berisi. Dagunya kelimis, alis atau keningnya bersemu hitam manis ayu de­ngan bulu mata yang lebat dan panjang. Dan matanya, O, matanya, begitu elok-tajam, begitu terang. Bola mata­nya tampak hitam mengkilat jika sedang memandang orang. O, Kadiroen tidak bisa melupakan pada keindah­an yang begitu menarik jiwanya. Yang mengikat jiwanya sampai sakit, menyenangkan.

Esok harinya, sedikit agak siang, Kadiroen berangkat lagi ke Desa Meloko. Dalam perjalanan ia selalu melihat bayangan perempuan yang ia cintainya. Kadiroen sangat berharap supaya ia jangan bertemu lagi dengan perem­puan itu. Karena ia tidak ingin jiwanya tergoda. Ia berusaha menindas perasaan cintanya. Akan tetapi celaka, di dekat Desa Meloko, ia bertemu lagi dengan perempu­an itu. Berjalan sendirian di jalan yang sepi, baru pu­lang dari pasar. Di punggungnya ada gendongan rangking atau kemarang yang penuh berisi. Kangking itu tampaknya amat berat. Karena perempuan itu berjalan pelan-pe­lan dan sebentar-sebentar berhenti untuk memulihkan te­naganya. Ia bermandi keringat.

Demi melihat itu, Kadiroen menjadi amat belas ka­sihan. Hatinya seraya hancur laksana air. Ia tidak ingat apa-apa lagi seraya turun dari kudanya dan berkata:

“Mbakyu, saya kasihan kepada Mbakyu. Berikanlah sebagian isi rangking itu padaku, biar agak ringan. Saya bersedia menolong membawakannya”

Perempuan itu terkejut. Wajahnya terlihat sedih, sehingga Kadiroen tambah kasihan. Dengan suara nyaring dan ringan molek menjawab:

“Terima kasih banyak Tuan. Tetapi karena rumah sa­ya sudah dekat. Jadi saya kuat membawanya sendiri, meskipun berat.”

Kadiroen menjadi heran dan memuji keteguhan si pe­rempuan, tidak suka ia ditolong, meskipun kelihatan su­dah amat lelah. Kadiroen tidak berani memaksa meno­long sebab ia belum kenal kepada perempuan itu. Dan lagi, ia merasa perbuatannya sangat aneh. Hatinya me­nyesal, sebab tidak berpikir dahulu. Ia merasa ia turun dari kuda bukan hanya karena perasaan sangat belas ka­sihan semata. Tetapi karena dorongan rasa cinta. Kadi­roen toh harus bisa berpikir bahwa seorang perempuan yang pulang dari pasar tentu tidak mungkin berani me­nitipkan barangnya kepada seorang priyayi, Asisten We­dono. Meskipun ia seorang Asisten Wedono yang tidak suka meninggi-ninggikan derajat dan pangkatnya. Kadi­roen merasa perbuatannya tidak dipikir panjang lebih dahulu. Tetapi sebaliknya, ia membetulkan perbuatannya dengan alasan, ia tidak bisa berpikir panjang ketika melihat ada seseorang yang mesti ditolong seketika itu ju­ga. Ia tidak punya maksud lain selain hanya ingin meno­long semata. Dan siapa pun orang yang mau menolong tentu tidak ingat apa pangkatnya. Kadiroen lalu ingin segera naik ke atas kuda lagi. Tetapi tertarik oleh perasaan cintanya maka ia seperti dipaksa oleh kekuatan raha­sia sehingga ia pun bertanya:

“Siapa namamu Mbakyu?”

“Ardinah,Tuanku!”

Hari itu Kadiroen mendapat sedikit keterangan, me­ngapa penduduk Desa Meloko tidak bisa kaya sebagai­mana desa-desa lain. Tetapi keterangan itu belum cukup menjadi bukti untuk menindak bagi yang bersalah. Ka­rena itu esok paginya Kadiroen hendak kembali lagi ke Desa Meloko. Dalam perjalanan pulang lagi-lagi bayangan Ardinah terus menyusup dalam hatinya. “Ardinah, o, Ardinah," katanya dalam hati."Apakah dosa kini aku sekarang telah bertemu denganmu dua kali, lalu menjadi tergila-gila tidak bisa melupakanmu?" Setiap kali Kadi­roen berusaha menindas perasaan cintanya kepada Ar­dinah, setiap kali itu juga justru semakin bertambah ingat Ardinah. Kadiroen menjadi sering heran mengapa jiwa­nya begitu tergila-gila hanya ingat pada seseorang. Se­dangkan ia baru bertemu dua kali. Kadiroen merasa ia sangat menaruh rasa cinta. Dan perasaan cinta itu telah mengikat jiwanya pada Ardinah. Karena itu dalam be­naknya ia berpikir untuk kawin dengan Ardinah.

Begitulah kenyataannya manusia itu. Pada suatu saat di dalam hidup manusia, ia akan kedatangan perasaan cinta. Dan setelah itu datang kehendak untuk kawin. Dua hal ini tidak mungkin disingkirkan. Karena keduanya me­rupakan suatu yang telah dikodratkan Tuhan Allah se­bagai suatu kepastian. Ada siang ada malam, tidak mungkin bisa dilawan manusia. Kadiroen yang sudah berumur 24 tahun dan sudah sering ditanya ayah dan ibu­nya apakah ia telah ingin menikah, selalu menjawab: “Ti­dak, sebab saya tidak mau terikat dengan perempuan. Sa­ya mau merdeka terus.” Tiba-tiba, sekarang dengan kua­sanya sang kodrat, maka mau tidak mau ia sangat suka terikat dengan Ardinah. Dan ia lalu berpikir tentang per­kawinan. Apakah Kadiroen tahu betul siapa itu Ardinah? Buat Kadiroen, nama itu berbunyi seperti judul gending atau lagu gamelan yang terbaik. Kadiroen berpikir, tidak peduli itu anaknya siapa. "Saya mencintainya, maka tentu akan saya kawini. Saya mencintai Ardinah, tetapi ah...." ia tidak berani meneruskan pikirannya. Ia menjadi takut. Hatinya amat sedih. Ia berdoa jangan sampai Ardinah ti­dak mencintainya dan tidak mau kawin dengan dirinya. Dalam hati ia menangis, "O, Ardinah. Ampunilah aku, berikan cintamu kepadaku, sebagaimana aku mau m­emberikan cintaku kepadamu.” Lalu timbul lagi dalam pi­kiran Kadiroen, bahwa ia orang baik-baik, masih muda ia sudah berpangkat tinggi. Ia masih bujang perjaka se­jati. Oleh karena itu, kalau ia datang ke rumah orang tua Ardinah, pasti ia diterima sebagai menantunya. Tetapi sebaliknya ia berpikir: “Orangtuanya umpamanya memberi izin, tetapi jika Ardinah tidak mencintai saya. Oh, mau apa saya?" Orangtua bisa memaksa Ardinah, itu tidak melanggar adat. Tetapi apa perlunya saya kawin dengan orang yang dipaksa mencintai saya. Sedang ia sendiri tidak mencintainya. Dalam masalah ini, tentu sayalah yang berdosa, sebab sayalah penyebab awal sehingga orang memaksa orang lain untuk menyerahkan hidupnya seumur-umur kepada saya. Sedang ia merasa susah terus-menerus. Orang yang terpaksa seperti itu, pasti hatinya teramat susah. O, saya tidak suka membikin susah manusia. Apalagi susahnya Ardinah. Saya hanya mau kawin dengan orang yang betul-betul saya cintai. Begitupun sebaliknya, ia juga mencintai saya dengan sungguh-sungguh. Begitulah dalam hal ini sikap adil yang harus diutamakan oleh Kadiroen. Tetapi, sebentar-sebentar perasaan Kadiroen berubah-ubah. Manakala ia berpikir Ardinah juga mencintainya, ia bahagia tetapi sebaliknya ia menjadi sangat susah manakala terpikir Ardinah tidak mencintainya. Sungguh, jiwa Kadiroen sangat tergoncang, sebentar ia teramat senang, sebentar susah. Jiwanya seperti dipermainkan oleh perasaannya sendiri, antara senang dan susah. "Ardinah, Ardinah, ampunilah aku, berikan cintamu kepadaku. Saya sanggup memberikan seluruh hidup dan cintaku kepadamu." Begitulah, tiap menit ia selalu memuji-muji Ardinah. Sungguh manusia dalam situasi semacam itu, jiwanya menjadi sangat tergoncang. Dan kalau rasa cinta itu tak terpenuhi, sementara orang itu tidak kuat memikul beban itu, maka celakalah ia. Ia akan gampang menjadi gila. Itulah sebab yang menjadikan adat orang-orang Islam di tanah Jawa mengawinkan anak-anaknya pada usia masih muda sekali. Supaya pada saat perasaan cinta menjelang ia kawin. Sehingga saat cinta datang, maka kebanyakan lalu ia akan mendatangi istrinya yang sudah bersama dengannya dan juga sedang jatuh cinta. Demikian pula seorang perempuan yang berhadapan dengan lelaki. Kawin dahulu, baru mencintai. Itulah yang kemudian menjadi adat. Padahal menurut kodrat, mestinya cinta lebih dahulu, baru kawin. Adat semacam ini sepertinya melawan kodrat. Karena itu maka sering terjadi, adat berbuah kebusukan. Yaitu, sudah kawin tetapi sama-sama tidak saling mencintai. Sehingga mereka hidupnya mengalami kesusahan terus-menerus, dan akhirnya bercerai. Atau menikah lebih dari satu perempuan atau bahkan berzina. O, sungguh hal-hal yang tidak baik seperti ini sering terjadi di tanah Jawa. Kodrat tidak bisa diatur oleh adat. Demikianlah pikiran-pikiran itu menerawang dalam benak Kadiroen. Dan baru tengah malam ia bisa tidur.

Kadiroen harus mencari bukti-bukti yang jelas selama kedatangannya di Desa Meloko, untuk memberi pelajaran kepada mereka yang bersalah karena menghalang-halangi rakyat dapat hidup makmur. Oleh karena itu, pada suatu hari, ia pergi lagi ke Desa Meloko, melalui jalan yang sepi sebagaimana biasanya. Kadiroen berpikir keras supaya ia tidak bertemu dengan Ardinah. Sebab Kadiroen khawatir jiwanya akan tambah tergoda oleh perasaan cintanya. Tetapi sebaliknya, jiwanya sebentar-sebentar justru mengharap agar ia bertemu. Antara keinginan bertemu dan keinginan tidak bertemu, dua keinginan yang berlawanan yang berkecamuk dalam benak Kadiroen. Pikirannya menolak, sebaliknya hatinya berharap. Sungguh, seorang yang sedang jatuh cinta sakit rasanya jika perasaan cinta itu belum terpenuhi. Kadiroen sudah hampir tiba di Desa Meloko, tetapi ia menjadi sangat terkejut, karena ia bertemu lagi dengan Ardinah. Bagaimana pertemuan itu terjadi? Ia melihat Ardinah duduk menangis di pinggir jalan. Muka Ardinah ditutupi dengan kain selendang, sedang airmatanya bercucuran. Rangking yang berisi penuh, ia letakkan di sampingnya. Ardinah sangat susah hatinya, sehingga ia tidak tahu kalau Kadiroen datang mendekat lalu turun dari kudanya. Demi melihat Ardinah menangis, Kadiroen merasa sangat kasihan dan hancur perasaan hatinya. Makanya tanpa pikir panjang, ia mendekati Ardinah dan bersikap sebagaimana orang yang satu sama lain telah mengenal cukup lama. Maka dengan segenap perasaan cintanya, Kadiroen berkata: "Ardinah, o, Ardinah, jangan menangis dan bersedih hati."

Mendengar suara itu, Ardinah terkejut. Ia segera mengelap airmatanya serta menjawab: "Ampunilah Tuan, Hamba tidak tahu kalau Tuan datang."

"Tidak mengapa. Sayalah yang wajib minta ampun kepadamu. Karena saya berani mendekatimu saat engkau sedang dalam kesusahan. Tetapi saya ingin menolongmu, apa saja sebisaku. O, Ardinah, percayalah kepadaku, ceritakan apa yang menyebabkan kesusahanmu," kata Kadiroen.

Ardinah mendengarkan omongan Kadiroen yang lemah lembut. Lalu roman mukanya yang susah kelihatan berubah menjadi bahagia. Sekarang ia bertemu dengan seorang lelaki yang gagah dan suka menolong pada sesama manusia. Ardinah tahu yang hendak menolong itu adalah Kadiroen, seorang Asisten Wedono. Karena Kadiroen sudah dikenal oleh semua rakyatnya, demikian pula tentunya Ardinah juga telah mengenalnya. Kadiroen seorang priyayi yang terkenal mencintai orang kecil. Ia seorang kesatria, pembela rakyat. Kadiroen berkata dengan lemah lembut kepada Ardinah. Hati Ardinah menjadi penuh dengan rasa terima kasih. "O, Kadiroen, kamu sungguh baik lahir-batin. Kamu masih muda, ganteng dan amat bijaksana. Sekarang kamu mau menolong saya," katanya dalam hati. Dan dengan terus terang Ardinah menjawab:

"O, Tuan hamba mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas maksud Tuan menolong hamba. Tetapi hamba tidak perlu ditolong, karena hamba kuat memikul beban kesengsaraan ini. Adapun hamba tadi menangis karena hamba merasa susah, sebab mau menolong orang lain, tetapi hamba tidak mampu."

Demi mendengar itu, hati Kadiroen menjadi sangat bahagia. Ardinah, perempuan yang ia cintai, susah hanya karena belum bisa menolong orang lain. Pada saat itu, Kadiroen mengetahui, Ardinah selain elok paras mukanya, juga elok hatinya. Selain itu, Kadiroen juga menjadi semakin mengerti dari keterangan Ardinah yang mengatakan ia kuat memikul kesengsaraannya sendiri, ia tidak suka ditolong. Ia mengerti, Ardinah sangat besar hati, percaya diri, pemberani, sebuah watak yang sungguh mengagumkan. Sekarang Kadiroen menjadi semakin cinta kepada Ardinah. Wajah, hati dan semuanya, sungguh elok. Apakah itu bukan bidadari yang menjelma menjadi manusia. Kadiroen sangat ingin menjadi suami seorang perempuan seperti itu. Ia sangat mencintai dan menghormati Ardinah. Apakah Ardinah juga mencintainya. Hati Kadiroen menjadi berdebar-debar kalau memikirkan hal itu. Tetapi Kadiroen berusaha menahan perasaannya. Ia menutupi segenap perasaan hatinya dan memutar otaknya. Dan dengan sabar ia bertanya pada Ardinah:

"Siapakah yang hendak kau tolong dan mengapa harus ditolong. Saya mau berusaha membantumu menolong yang sedang menderita itu. Satu orang tidak bisa menolong, dua orang menjadi kuat. Dan barangkali bisa menolong. Percayalah kepadaku."

"O, Tuan, beribu-ribu terima kasih. Tuan seorang Asisten Wedono, memiliki kekuasaan. Barangkali Tuan bisa menolong. Selain itu, hamba sudah tiga kali bertemu dengan Tuan. Dan waktu pertama kali hamba bertemu, hamba sudah menaruh kepercayaan besar pada Tuan. Tuan seorang kesatria, dan semenjak pertama kali bertemu dengan Tuan hamba tidak bisa melupakan Tuan, tiap saat wajah Tuan terbayang. Hamba menaruh kepercayaan yang besar pada Tuan. Oleh karena itu, hamba akan bercerita panjang lebar kepada Tuan tentang hal-hal yang menyusahkan orang yang ingin hamba tolong itu," jawab Ardinah.

Kadiroen mendengar jelas perkataan Ardinah: "Semenjak hamba bertemu pertama kali, hamba tidak bisa lupa pada Tuan. Tiap saat hamha terbayang wajah Tuan. Hamba menaruh kepercayaan vang besar pada Tuan." Ha, apa itu bukan perkataan vang menerangkan bahwa Ardinah dalam hatinya memiliki rasa cinta kcpada Kadiroen. Kadiroen mengerti semua itu, meski Ardinah tidak terus terang mengatakannya. Mendengar itu semua, hati Kadiroen menjadi sangat berbahagia. Ia mencintai seorang yang elok segalanya. Dan orang itu juga membalasnya juga. O, Kadiroen merasa begitu senang. Begitu nikmat kalbu hatinya. Ia merasa berada dalam surga, sedang bertemu dengan bidadari. Kadiroen kemudian ikut duduk di tepi jalan itu, di samping Ardinah, ia ingin mendengarkan cerita Ardinah.

Maka Ardinah bercerita:

"Ayah hamba seorang yang miskin. Sewaktu umur hamba 18 tahun, ibu hamba meninggal dunia. Hamba hanya tinggal sendirian dengan ayah, sebab hamba tidak memiliki saudara. Setelah ayah hamba sangat tua karena tidak memiliki sanak famili, tetapi atas berkat Tuhan Allah, kami berdua bisa hidup di Desa Meloko. Meskipun miskin ayah hamba sangat mencintai hamba karena hamba anak tunggal, yang membantu semua urusan keluarga. Sudah sering hamba dilamar untuk dikawini banyak pemuda, tetapi hamba selama ini belum suka. Sebab hamba merasa berat meninggalkan ayah yang sudah tua. Sebaliknya ayah berkata, seandainya saya berumah sendiri, tentu ia akan sangat berat mengurus hidupnya sendiri di rumah hamba. Dengan tegas ia berkata tidak suka dihidupi oleh anak menantu. Inilah yang menyebabkan hamba tidak mau menikah dan terus-menerus membantu kehidupan ayah. Tiba-tiba satu tahun yang lalu, ayah hamba sakit keras. Lima hari hamba merawat ayah supaya sembuh. Hamba tidak pergi dari rumah dan pekarangan, sebab hamba ingin tetap menjaga ayah sampai sembuh. Meskipun seorang dukun di desa sudah menolong memberikan obat-obatan dan makanan, tetapi semua ikhtiar hanya sia-sia belaka. Adapun sakit ayah hamba sudah sangat mengkhawatirkan. Dan sudah nasib hamba kalau ia meninggal dunia. Keluh kesahnya tidak ada lain, selain: “O, anakku Ardinah, hamba tidak mau meninggal dunia sebelum hamba tahu betul kamu memiliki seorang suami yang baik”. Setiap saat ia memuji dan berdoa kepada Tuhan Allah, supaya datang seorang lelaki yang melamar hamba. Adapun hamba sendiri, siang-malam tidak bisa tidur selain berdoa supaya ayah sembuh. Pada hari yang kelima, hamba kedatangan seorang tamu lelaki yang tidak saya senangi. Sebab hamba belum mengenalnya. Tetapi ia membikin ulah yang menakutkan hamba. Ia datang kepada ayah hamba yang sedang sakit dan minta berbicara empat mata. Sehingga hamba tidak tahu, apa yang mereka bicarakan pada saat itu. Satu jam setelah itu, tamu lelaki itu pergi dan saya kembali menemui ayah. Ayah kelihatan sangat bahagia seperti tidak sedang sakit layaknya. Ia berkata pada hamba: “O, Ardinah, tamu yang barusan datang kemari itu adalah Kromo Nenggolo. Lurah baru di desa ini. Baru hari kemarin ia ditetapkan menjadi lurah. Jadi ia berpangkat besar di desa ini, selain itu, ia orang kaya. Ia bertamu ke sini untuk menjelaskan bahwa ia sering melihatmu, meskipun kamu tidak pernah memperhatikan dirinya. Dan sekarang ia sangat senang denganmu. Dan melamarmu. Melihat keadaannya, dan karena saya sendiri sudah tua dan sangat ingin menyaksikan kau menikah dengan selamat, maka tadi saya mengizinkan bahwa besok pagi ia akan datang dengan penghulu untuk kawin denganmu. Ia kaya, selain itu, ia juga bisa mendatangkan penghulu kemari."

Baru sampai di situ cerita Ardinah, Kadiroen menjadi bingung. Hatinya berdebar-debar keras. Ia merasa terpelanting masuk dalam jurang yang sangat dalam. Ia merasa tidak hidup lagi. Dan dengan suara perih ia bertanya:

"Jadi, Ardinah sekarang sudah kawin dan sudah punya suami?"

"Ya!" Kata Ardinah. Pada saat jawaban itu keluar, Kadiroen menjadi pucat wajahnya. Ia seperti tidak melihat apa-apa lagi. Semuanya menjadi gelap. Ia merasa tidak bisa hidup lagi. Ia merasakan ada pukulan berat yang menyebabkan pecah hatinya. Maka ia memegang dadanya sambil menjerit dalam hati "Aduh!" dan badannya hampir jatuh ke tanah kalau Ardinah tidak cepat-cepat menahannva. Kadiroen pingsan beberapa saat. Pada saat ia siuman, ia mendengar kata-kata Ardinah:

“Tuan, ampunilah hamba, hamba merasa berdosa besar dengan menceritakan hal ini pada Tuan. Karena masalah ini Tuan pingsan beberapa saat. O, hamba tidak mengira.” Kadiroen menjadi ingat lagi. Ia memaksa dirinya untuk menenteramkan hati dan jiwanya yang sudah hancur. Ia ingat kepada Tuhan Allah. Ia menjadi sabar dan bertanya kepada Ardinah:

"Bukan salahmu, Ardinah. Hari ini saya memang agak kurang enak badan!"

Tapi Ardinah seorang perempuan yang perasa. Meski Kadiroen tidak mengatakan yang sebenarnya. Sebagaimana perasaan semua wanita, perasaan Ardinah juga sangat peka. Waktu Kadiroen pingsan karena mendengar perkataannya bahwa ia sudah kawin dan punya suami, maka segeralah Ardinah juga merasakan bahwa Kadiroen menaruh perasaan cinta yang luar biasa kepadanya. Pada saat itu juga Ardinah merasakan bahwa ia sangat mencintai Kadiroen. Selain itu, hati Ardinah juga merasakan seperti sedang diremuk oleh sebuah kekuatan rahasia. Tetapi Ardinah bisa menyabarkan dirinya. Sebab ia tidak mau mengatakan perasaannya pada Kadiroen. Tiada berapa lama, Ardinah mendengar perkataan Kadiroen:

"Sudah Ardinah, saya sudah sembuh. Saya ingin menolong orang yang kamu kasihi yang sedang menderita itu. Teruskanlah ceritamu itu." Perkataan itu terdengar begitu sabar dan sangat mengharap Ardinah meneruskan ceritanya. Terpaksa Ardinah meneruskan ceritanya. "Tadi hamba sudah bilang, bahwa ayah hamba sakit keras. Dan ia bermaksud mengawinkan hamba dengan Kromo Nenggolo. Sebaliknya hamba tidak senang dan takut dengan Kromo Nenggolo. Apalagi ia begitu tergesa-gesa mendatangkan penghulu. Meskipun ayah masih sakit, ia nekad mau kawin. Tetapi hamba tidak berani melawan kata-kata ayah. Karena hamba khawatir akan bikin susah dan membikin matinya ayah seketika. Selain itu, sudah adatnya kita bumiputera, seorang gadis harus menurut kepada kemauan orang tua jika ia menghendaki kita dikawinkan. Kita seorang gadis tidak punya hak bicara dan mengeluarkan pendapat kita. Meskipun masalah perkawinan adalah urusan terbesar bagi hidup manusia, untuk ketentuan kehidupan seterusnya. Sungguhlah adat yang begini ini memang sudah nasib bagi gadis-gadis. Dan sering seorang gadis menikah dengan terpaksa. Lalu mereka yang lembek hatinya mau menghibur dirinya dengan berzina dengan lelaki lain. Memang, kehendak orangtua itu baik, sebab ingin melihat anak gadisnya bahagia dengan memilihkan lelaki sebagai suaminya. Tetapi kodrat Tuhan Allah tidak boleh dilawan dengan adat manusia. Jadi hamba mesti kawin dan tidak berani melawan keputusan ayah. Karena hamba khawatir menambah sakitnya. Apalagi melawan merupakan hal yang tidak patut, karena menyimpang dari adat. Begitulah dengan izin ayah, maka esok paginya di rumah, hamba akan kedatangan Kromo Nenggolo dan penghulu. Dan hamba selanjutnya ditetapkan menjadi istri Kromo Nenggolo. Tetapi sesudah dikawinkan, maka seketika itu juga sakit ayah bertambah keras. Dan lalu meninggal dunia dengan kata-kata terakhirnya kepada hamba: “Sekarang hamba sudah siap mati, karena kamu sudah kukawinkan dengan orang kaya dan berpangkat.””

Sampai di sini Ardinah menangis karena ia ingat kepada ayahnya yang ia cintai.

"Sesudah ia dikubur, maka hamba dibawa ke rumah lurah, suami hamba itu. Dan di situ saya diberi tahu bahwa hamba dijadikan selir. Diselir, artinya dijadikan istri muda. Kromo Nenggolo berdusta waktu ia berkata kepada ayah hamba. Istri tuanya ia tipu. Ya, sekarang Kromo Nenggolo semakin tambah bejat hatinya. Itulah sebabnya hamba tidak bisa mencintainya.”

"Istri tuanya menjadi sakit hati melihat hamba. Ia merasa bahwa ia akan kehilangan pangkat dan hak-haknya sebagai istri lurah.”

"Ia merasa jiwanya menjadi amat sakit, karena ia sudah dibikin permainan oleh suaminya. Ia teramat sedih, batinnya menderita. Inilah perempuan tua yang sangat kasihan, Tuan. Dan hamba ingin sekali menolongnya. O, Tuan, apa sebabnya agama Islam hamba memperkenankan lelaki kawin lebih dari satu. Sedang biasanya ajaran agama sering dijadikan alasan oleh kaum lelaki yang hanya ingin mempermainkan perempuan.”

"Itulah sebabnya, hamba sebagai seorang perempuan, sering menderita batin. Hamba tahu, seorang perempuan perangainya sangat lembut, seorang lelaki banyak alasannya, bahwa di beberapa negeri, ada lebih banyak kaum perempuan daripada lelakinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa ajaran agama kita memperkenalkan lelaki boleh kawin lebih dengan satu perempuan. Tetapi hamba tidak mengerti, mengapa seorang lelaki berani mengambil hak-hak itu tanpa meminta izin sang istri tua, tanpa menghormati dan turut merasakan bagaimana pedihnya dimadu. Demikian pula, perempuan mudanya, sebelum dinikahi seharusnya ditanyai bagaimana pendapatnya, mau apa tidak ia hidup rukun dengan istri tua. Dan si lelaki seharusnya bisa membagi perasaan cintanya kepada semua istrinya. Tetapi biasanya, tidak ada perdamaian semacam ini yang terjadi dengan tulus hati satu dengan yang lainnya secara terus-menerus. Selain itu, perempuan biasanya tidak ditanya pendapatnya lebih dahulu dan hanya dianggap sebagai benda yang tidak bernyawa saja. Kita perempuan memang lemah, lelaki kuat dan kuasa, mereka bisa berbuat sewenang-wenang kepada kita. Itulah yang sering terjadi di Hindia sini. Selama para lelaki belum bisa berbuat baik dan adil, maka lebih baik kalau agama kita melarang perkawinan lebih dari satu perempuan. O, Tuan Kadiroen, hamba merasa sendiri hidup dalam neraka dari kesewenang-wenangan lelaki, yang mengaku beragama tetapi tidak menjalankan ajaran agamanya tersebut. Meski begitu, saya tidak akan menggugat aturan agama kita. Atau tidak menggugat juga pada yang membikin aturan itu. Sebab, mestinya maksudnya baik. Tetapi hamba mencela semua laki-laki yang busuk seperti Kromo Nenggolo suami hamba. Lelaki seperti itu, wajib dikucilkan dari pergaulan orang banyak. Sekarang hamba sudah telanjur menikah dengan Ielaki yang tidak hamba cintai. Istri tuanya dalam kesusahan yang amat sangat dan mesti saya tolong. Oleh karena itu, hamba lalu minta cerai dari Kromo Nenggolo. Bukan karena hamba mementingkan diri sendiri karena susah. Tetapi hamba ingin menolong istri tuanya. Tetapi Kromo Nenggolo tidak mau menceraikan hamba. Ia memenuhi semua kewajibannya kepada hamba. Tetapi hamba tidak suka kepada dia. Sampai sekarang hamba menolak berhubungan dengan dia. Tetapi dia tetap tidak mau menceraikan hamba. Keadaannya sekarang, saya secara lahir diikat oleh seorang lelaki yang tidak saya sukai. Yaitu orang yang selalu membikin sakit hati kaum perempuan. Demikian pula, saya tidak bisa menolong istri tuanya. Itulah yang menyebabkan susahnya pikiran hamba. O, Tuan Kadiroen, berilah pertolongan untuk perkara ini."

Sampai di sini Ardinah menceritakan riwayatnya. Kadiroen mendengarkan betul dan berikhtiar bagaimana bisa membantu menolong Ardinah. Tetapi waktu itu sepertinya otaknya tidak bekerja. Hanya hati dan jiwanya terus-menerus gelisah. Oleh karena itu, ia berkata pada Ardinah: "Mbakyu, saya mengucapkan banyak terima kasih. Karena kamu mempercayai saya dan sudah menceritakan hal ini. Kau dengan gagah berani, melupakan kepentinganmu sendiri, dan berusaha untuk menolong orang lain. Kau telah memberikan contoh yang baik kepada saya. Selain itu, saya akan melupakan kepentinganku sendiri, kalau ada orang lain yang mesti ditolong. Pasal membantu kamu untuk menolong bini tua dari lurah tersebut, sesungguhnya amat sukar urusannya. Saya sekarang belum dapat berusaha. Oleh karena itu, saya minta waktu. Lain hari hal ini akan saya bereskan. Hanya satu hal lagi yang ingin saya ketahui, Ardinah istri muda seorang lurah, mengapa pergi ke pasar sendirian saban hari?"

"Tadi sudah hamba terangkan bahwa hamba tidak suka dengan lelaki yang secara agama telah sah menjadi suami hamba, tetapi pada praktiknya lain. Di mata orang banyak, hamba memiliki suami, tetapi yang sebenarnya bukan suami hamba. Hal yang demikian ini membikin marah dan bencinya Kromo Nenggolo kepada hamba. Dan oleh karena itu ia menyiksa hamba. Jam empat pagi hamba harus sudah bangun, pergi ke pasar yang begitu jauh. Dan kalau sampai di rumah, terus-menerus sampai malam, hamba harus bekerja. Selain itu, ia seringkali memukuli tubuh hamba juga. Ia sanggup meringankan nasib saya kalau hamba mau melayani keinginannya. Tetapi hamba tetap tidak mau, sebab supaya jangan menambah sakit hati istri tuanya. Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang hamba disiksa terus-menerus. Tetapi hal itu tidak hamba pikirkan. Dan siang-malam hamba hanya memohon kepada Tuhan Allah, supaya diberi kekuatan memikul semua siksaan ini dengan hati sabar. Hamba memegang teguh nasihat ibu hamba, “Siapa yang berbuat baik, tentu akan dibalas kebaikan oleh Tuhan Allah. Dan oleh karena itu, dalam kesengsaraan tetaplah percaya kepada Tuhan Allah yang akan memberi kekuatan sampai saatnya anugerah itu datang.” lnilah pepatah yang selalu hamba ingat Tuan dan yang membikin saya tetap sabar serta sanggup memikul kesengsaraan ini dengan tidak sampai berputus asa."

Kadiroen mendengarkan semua pembicaraan Ardinah, dalam batinnya ia menghormati pendirian perempun yang herhati mulia itu. Mulia karena memang baik. Kadiroen merasa sepertinya ia mendapatkan pelajaran dari pepatah yang sudah diterangkan Ardinah tadi. Kadiroen sangat bahagia mendapat pelajaran mencari kekuatan Allah dalam kesengsaraan tadi. Dan pikirannya yang kebingungan memikirkan cinta menjadi bersabar. Lantas Kadiroen permisi pulang. Sungguh Kadiroen sudah bertemu dengan seorang perempuan yang cocok dengan jiwa, watak dan pikirannya. Karena terdapat tiga kesamaan dalam tiga masalah itu, maka tidaklah heran jika Kadiroen menaruh cinta yang amat besar kepada Ardinah. Seorang lelaki hanya akan betul-betul mencintai seorang perempuan jika watak, jiwa dan pikiran si perempuan memiliki kecocokan dengan si lelaki. Begitu pula sebaliknya seorang perempuan terhadap seorang lelaki. Cinta sejati adalah jika ia melihat dirinya sendiri dalam diri orang lain. Itulah percintaan sejati yang amat indah sinarnya.

Hari itu Kadiroen tidak jadi pergi ke Desa Meloko. Meski ia sangat suka, tetapi pikirannya sedang melawan semua pekerjaannya karena ia sangat tertarik oleh debaran jiwanya. Oleh karena itu ia lalu pulang. Dan karena ia merasa begitu tergoda, begitu sakit jiwanya, maka ia minta cuti 14 hari untuk menerangkan semua persoalannya kepada ayah dan ibu di rumah. Hari itu, pada tengah malam, ia mengerti ada tiga perkara yang mesti ia bereskan. Yaitu jiwanya sendiri, pertolongan untuk istri tua Lurah Meloko, serta kepada rakyat di desa itu.

Untuk pasal yang pertama, ia sudah dapat menyelesaikan dengan baik. Yaitu ia akan cuti menghibur hati di rumah orang tuanya. Dan untuk pasal yang kedua, ia sudah menemukan jalannya. Yaitu ia akan menyerahkan hal itu pada Asisten Wedono yang akan mewakilinya dalam 14 hari cuti itu. Hal itu tidak akan menyusahkan yang mewakilinya. Sebab Kadiroen sudah tahu duduk perkaranya. Dan hanya tinggal mengumpuIkan bukti-bukti saja. Untuk mengumpulkan bukti-bukti, wakilnya pasti tidak akan keberatan.

Begitulah, Kadiroen akan menyelesaikan dua perkara itu, sebab ia sudah tidak kuat lagi. Hanya perkara menolong istri tua Lurah Meloko, itulah yang masih belum bisa diselesaikan dalam pikiran Kadiroen. Beberapa ide telah membayang dalam pikiran Kadiroen untuk mengikhtiarkan perkara itu. Tetapi hanya satu cara yang dapat menyelesaikan masalah itu, "Ardinah harus cerai dengan Kromo Nenggolo". Tetapi bagaimana hal itu meski dijalankan. Itulah yang selalu dipikirkan otak Kadiroen. Ia berpikir, seumpama Ardinah sudah diceraikan oleh Kromo Nenggolo, istri tuanya pasti akan tertolong. Tetapi bagaimana hidup Ardinah selanjutnya, seorang perempuan muda yang tidak punya sanak famili?

Jadi dalam hal ini, Kadiroen harus mau memikul kehidupan Ardinah. Dan bisa memikulnya, sebab tentunya ia akan kawin dengan Ardinah. Kadiroen akan kawin dengan dia. Ia tahu, dari pertemuan tadi pagi, bahwa Ardinah mencintai dirinya. Sebaliknya jika Kadiroen ikut campur tangan masalah cerai itu, lalu ia kawin dengan Ardinah, bagaimana nantinya dalam pandangan umum? Tentunya ia akan kelihatan busuk sekali, sebab ia memaksa seorang lurah - seorang pegawai di bawah kekuasaannya - untuk bercerai dengan istrinya, buat dikawin sendiri oleh Kadiroen. Kadiroen yakin, cara ini akan kelihatan busuk sekali. Sebab jika hal itu sampai kejadian, namanya akan menjadi sangat tercemar. Dan lalu ia tidak begitu dipercaya oleh rakyat. Akhirnya ia tidak akan bisa membantu rakyat dalam wilayah kekuasaannya itu. Selain dari itu, dengan mengambil jalan yang demikian itu, ia akan memberi contoh yang buruk kepada semua orang. Pendek kata, bahwa jalan yang demikian sangat buruk sekali. Betul juga, Kadiroen sudah mengerti, pada zaman kuno banyak atasan yang memaksa bawahannya untuk memberikan istrinya pada atasannya. Mereka memaksa dengan ancaman, membenci, melepas pekerjaan atau pangkat seorang pegawai yang ada di bawah perintah kekuasaannya. Karena seorang pegawai biasanya amat takut kehilangan jabatannya. Ia malu. Jadi mereka menurut saja semua apa yang diperintahkan atasannya. Tetapi Kadiroen tidak suka berbuat begitu hina, memaksa bawahannya untuk urusan demikian. Ia lebih baik bunuh diri daripada harus berbuat yang demikian hina. Pendek kata, Kadiroen tidak bisa ikut campur tangan dalam urusan cerai ini. Bisa juga dilaksanakan, tetapi sesudah Ardinah diceraikan, maka selanjutnya Kadiroen akan menghindari Ardinah. Padahal ia sangat khawatir akan hidup dan masa depan perempuan itu. Bahwa Ardinah akan hidup lebih sengsara dari pada sekarang. Meskipun kira-kira Ardinah akan sanggup memikul beban tambahan kesengsaraan itu. Tetapi Kadiroen sendiri yang tidak akan kuat melihatnya jika hal itu sampai terjadi. Ya, bagaimanapun Kadiroen memikir-mikir, selalu saja ia tidak mendapatkan jalan yang baik untuk menolong istri tua yang disakiti jiwanya oleh Kromo Nenggolo. Semalaman Kadiroen tidak bisa tidur. Dan pagi-pagi ia sudah pergi ke Desa Meloko, ingin bertemu di jalan dengan Ardinah. Dan setelah bertemu maka Kadiroen meminta maaf kepada Ardinah karena sampai sekarang ia belum bisa membantu dengan semestinya apa yang dimaksud Ardinah. Lalu Kadiroen menjelaskan bahwa ia sudah minta cuti selama 14 hari untuk pulang ke rumah orangtuanya. Selain itu, ia meminta izin Ardinah, apakah ia boleh meminta nasihat ibu dan bapaknya mengenai kesulitan ini.

"Hamba mengucapkan beribu terima kasih atas kehendak Tuan yang mulia itu. Sesungguhnya Tuan adalah seorang kesatria. Tetapi tadi malam hamba sudah menemukan cara, dan akan berusaha sendiri, yang akan hamba lakukan dalam dua minggu jika Tuan cuti. Tuan pun tak usah turut campur tangan lagi. Sebab hamba tidak ingin Tuan ikut susah dalam masalah ini. Selain dari itu, Tuan jangan bilang pada ayah dan ibu Tuan, ya Tuan hamba," jawab Ardinah.

Pesan yang terakhir itu dikeluarkan dengan perkataan yang sangat terang dan dengan cara yang begitu menarik hati. Sehingga Kadiroen tidak bisa bilang apa-apa, selain "Saya menuruti kemauan Ardinah!"

Dengan begitu maka Ardinah melepaskan Kadiroen dari kewajibannya yang amat sukar, yang meringankan apa yang mesti dipikul Kadiroen.

Beberapa hari tidak lama sesudah kejadian ini berlangsung, maka Kadiroen mendapat telegram dari pembesar atasannya yang sebagian berbunyi; "cuti diizinkan. Habis verlof supaya terus menjabat dengan pangkat Wedono di Distrik Rejo...."

Sesungguhnya kabar itu membikin gembira Kadiroen. Batinnya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Tuhan Allah. Kenaikan pangkat itu bagi Kadiroen dapat menjadi sedikit obat bagi jiwanya yang sakit dan terguncang keras.

Bab III

Terjepit

Perihal jiwa Kadiroen yang tergoda, luka, dan sakit itu pun tidak bisa ia katakan kepada kedua orangtuanya. Karena ia sudah berjanji pada Ardinah untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun. Bahwa orang tua Kadiroen amat bahagia menyambut kedatangan anaknya yang membawa kabar, bahwa ia sudah naik pangkat menjadi wedono, itu pun tidak usah diceritakan lagi di sini.

Orangtua Kadiroen mengerti bahwa anaknya kini sudah berumur lebih dari 24 tahun. la bertanya kepadanya apakah ia sudah ingin menikah. Tetapi Kadiroen menjawab “belum”. Memang sudah biasanya orangtua dari seorang perjaka bertanya apakah anaknya sudah ingin kawin. Dan kalau sudah ingin maka lalu orangtuanya kemudian mencarikan istri. Kadiroen ingin menyimpang dari adat kebiasaan seperti itu. Karena ia belum bisa menentukan, apakah ia bakal mencintai istri yang dicarikan oleh orangtuanya itu. Dan kalau umpama tidak cinta, tentunya akan menyusahkan orangtuanya juga. Kadiroen hanya mau kawin dengan seorang perempuan yang ia pilih sendiri. Ia memilih berdasar atas rasa cinta. Coba Ardinah belum mempunyai suami, tentu ia akan minta kawin dengan Ardinah. Tetapi sekarang hal itu tidak mungkin. Ketika Kadiroen ditanya oleh orangtuanya mengenai perkawinan, jiwa Kadiroen saat itu sedang hancur, jadi tentu saja ia tidak ingin kawin. Kadiroen berharap, sehabis cuti 14 hari itu, selanjutnya ia akan meninggalkan Ardinah selamanya. Sebab tempat tinggal Kadiroen sebagai wedono sangat jauh dengan Ardinah. Ia berharap jiwanya akan sembuh dan tidak lagi teringat kepada Ardinah. Tetapi siapa akan bisa melupakan cinta sejati? Cinta sejati hanya datang sekali dalam hidup manusia, dan seumur hidup rasa cinta itu tidak akan hilang bekas-bekasnya dan dilupakannya. Lelaki bisa jatuh cinta lagi dengan perempuan lain - dan sebaliknya - tetapi, sifat dan rasa hatinya terhadap cinta yang kedua itu akan sangat berbeda dengan cinta yang pertama. Oleh karena luka jiwa cinta pertama yang tak tergapai itu, seumur hidup masih ada bekasnya dan sering pada suatu saat nanti akan teringat lagi. Begitupun kenyataannya pada diri Kadiroen. Pasal ini akan diceritakan dalam lain bagian di belakang nanti.

Sehabis cuti, Kadiroen pergi ke ibukota Distrik Rejo. Ia mengambil alih pekerjaan wedono yang ia ganti. Wedono yang lama adalah seorang pejabat yang sudah sangat tua dan tergolong kolot. Tetapi amat baik hatinya dan selamanya berusaha memakmurkan kehidupan rakyat. Karena sudah tua, maka ia minta pensiun. Sewaktu wedono tua habis menyerahterimakan jabatannya kepada Kadiroen sebagaimana kebiasaan yang berlaku maka ia minta waktu berbicara sendirian dengan Kadiroen.

"Dinda, saya seorang pejabat tua. Saya sangat mencintai rakyatku. Karena itu saya sangat susah, karena terpaksa harus meninggalkan pekerjaan saya ini. Saya bilang terpaksa karena rupa-rupanya saya sudah tua dan sudah tidak bisa lagi menyesuaikan dengan kemajuan zaman sekarang. Itulah sebabnya, bagaimanapun usaha saya memakmurkan kehidupan rakyat, tetapi tambah lama justru menjadi tambah miskin rakyat yang saya pimpin, yang sudah kuanggap sebagai anak-anakku sendiri itu. Sesungguhnya, dahulu rakyat yang saya pimpin menurut kehendak Gupermen dapat hidup mulia lahir-batin. Sekarang ternyata tambah miskin dan hidup kesusahan. Selain itu, perilaku rakyatku yang dahulu begitu baik dan halus, sekarang semuanya sudah berubah. Saya sudah lama mencoba memperbaiki hal ini. Tetapi semua usaha saya tidak berhasil. Karena itu saya merasa ketinggalan dengan kemajuan zaman sekarang ini. Maka saya minta pensiun, supaya bisa menyerahkan jabatan kepada yang lebih muda dan bisa menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Saya mengharap dan selalu mendoakan kepada Dinda Kadiroen, berusahalah yang keras untuk menjaga keselamatan kehidupan rakyat di sini."

Kadiroen mendengarkan petuah-petuah bijak dari seorang wedono tua itu dengan perasaan hormat dalam hatinya. Muka wedono tua itu, dan rambutnya yang seluruhnya sudah hampir memutih, dapat meyakinkan semua orang muda untuk dapat mempercayai dan menghormatinya seperti hormatnya cucu kepada kakeknya. Memang, di antara pejabat kuno, ada banyak yang dengan tulus ikhlas mencintai rakyatnya. Hanya karena mereka memerintah dan mengatur semua hal, menurut aturan dan adat yang sudah kuno - sedang semakin lama zaman terus berubah - maka para pejabat tersebut lalu tidak bisa lagi menyesuaikan dengan kemajuan zaman baru. Itulah sebabnya, mengapa sering terjadi perselisihan dengan rakyat pada zaman baru itu. Dan para pejabat-pejabat yang kuno, meskipun maksud hatinya menurut keyakinannya begitu baik untuk rakyat, tetapi wedono yang budiman tersebut minta segera pensiun karena mengerti akan hal ini.

Adapun ibukota dari Distrik Rejo bernama Rejo juga. Distrik itu dibagi menjadi empat bagian, yaitu empat onderdistrik yang diperintah oleh empat asisten wedono. Sekarang Kadiroen mesti menjadi kepala dari keempat onderdistrik itu. Kadiroen ingin memerintah dengan adil dan betul. Artinya, memerintah begitu rupa, supaya semua rakyat di situ hidup selamat dan berkecukupan. Karena Kadiroen sudah mendengar dari wedono tua bahwa rakyat di situ boleh dibilang miskin dan susah hidupnya, berlainan dengan zaman dahulu. Itulah sebabnya Kadiroen terlebih dahulu ingin mendapat keterangan yang secukupnya mengenai hal-hal di bawah ini:

1. Kehidupan rakyat di situ apakah sudah berkecukupan dan selamat, serta usaha yang bagaimana serta apa penghasilannya dahulu sehingga bisa berkecukupan?

2. Sekarang bagaimana kehidupan rakyat, bagaimana usaha hidupnya dan bagaimana serta apa penghasilannya?

3. Apakah ada perubahan antara dahulu dengan sekarang, dan apakah perubahannya, sehingga memiskinkan kehidupan rakyat?

4. Apakah ada hal-hal lain yang sudah membikin mundurnya keselamatan rakyat?

Untuk keperluan ini, maka Kadiroen secepat-cepatnya memanggil empat asisten wedono yang ada di bawah kekuasaannya untuk mengadakan rapat. Di situlah masalah-masalah tadi diurus. Asisten Wedono A menerangkan bahwa ia baru satu tahun memerintah di daerah itu. Jadi kurang mengetahui asal usul zaman dahulu. Asisten Wedono B baru dua tahun, jadi jawabannya seperti jawaban A. Begitupun C. Hanya Asisten Wedono D yang sudah lima belas tahun memerintah di wilayahnya. Lalu ia menerangkan hal yang berlainan dengan keterangan wedono yang baru pensiun. Ia mengatakan bahwa onderdistrik yang diperintahnya, dahulu rakyatnya bodoh-bodoh, miskin sebab hidupnya hanya bertani saja. Sekarang hidupnya cukup, kepandaian mencari uang bertambah dan bisa bekerja sebagai kuli pabrik dan sebagainya. Jadi betul kalau zaman dahulu dibanding dengan sekarang memang sudah mengalami perubahan besar. Tetapi perubahan itu menjadikan semakin majunya kehidupan rakyat. Ia mengatakan bahwa semua itu Asisten Wedono D-lah yang telah mengusahakannya.

Kadiroen belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari rapat yang pertama itu. Karena itu, ia membikin keputusan bahwa semua asisten wedono wajib mengumpulkan semua lurah yang ada di desanya. Adapun setiap lurah wajib membawa seorang tetua desa dari desanya sendiri. Kumpulan itu wajib diadakan di pendopo asisten wedono masing-masing. Dan di situ Kadiroen akan turut hadir untuk mengurusnya.

Tiada berapa lama Kadiroen datang ke onderdistrik Asisten Wedono A. Di sana sudah kumpul para lurah dan tetua-tetua desa. Kadiroen tahu bahwa orang kecil menghadap priyayi atau pejabat besar, selamanya mereka merasa takut dan tidak berani berkata berterus terang dalam hal-hal yang sekiranya akan bikin repot atau banyaknya pekerjaan pejabat. Orang kecil takut mendapatkan marah dan dikatakan rewel. Karena itu, dalam membuka permusyawaratan tersebut Kadiroen berpidato begini:

“Sahabat para lurah dan semua tetua desa yang berkumpul di sini saya mengajak kalian semua untuk musyawarah di sini, tidak untuk mendapatkan keterangan berdusta. Saya mempunyai maksud, memakmurkan orang kecil yang ada di dalam wilayah distrik saya, saya perlu mengetahui lebih dahulu hal ihwal rakyatku. Dan jika saya sudah mengerti, tentulah bisa berusaha guna memakmurkan rakyat semuanya. Kalau rakyat hidupnya susah, tentu saya akan turut susah. Dan karena itu, siapa dari kalian yang saya tanyai sesuatu, jangan takut berkata dengan berterus terang apa adanya. Siapa yang menjawab dusta, maka ia saya pandang rewel dan ingin membikin susah saya. Jelas?"

"Inggih bendoro!" kata mereka bersama-sama. Perkataan Kadiroen di atas tadi, rupa-rupanya menyenangkan semua yang datang. Dan kelihatannya mereka tidak akan takut menerangkan semua hal ihwal desanya. Kadiroen tahu, biasanya orang kecil takut kepada lurahnya. Oleh karena itu, terlebih dahulu ia meminta semua keterangan dari para tetua desa. Sesudah itu baru dari lurah-lurahnya. Adapun keperluannya, supaya rakyat sendiri yang akan menerangkan sesuai dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Jangan hanya mengikuti keterangan dari lurahnya saja. Kadiroen sering mendengar ada lurah yang mengatakan bahwa hal-hal yang ada di desanya telah baik, sedangkan sesungguhnya tidak demikian. Mereka hanya ingin mendapat pujian dalam pangkat dan pekerjaannya. Oleh karena itu, Kadiroen memandang kurang cukup kalau hanya mendapatkan keterangan dari lurah-lurahnya saja. Tetapi, ia mesti dapat keterangan dari tetua penduduk desa setempat. Itulah sebabnya, mengapa Kadiroen mengundang para tetua desa dalam musyawarah tersebut, dan mereka dimintai keterangan lebih dahuIu. Rapat di wilayah Onderdistrik A itu berlangsung cukup lama. Dan Kadiroen mendapat keterangan yang singkatnya sebagai berikut.

1. Pada zaman dahulu, jadi waktu sedikit kuno, kehidupan rakyat memang tenteram dan berkecukupan. Hampir semua mempunyai kerbau, sapi, rumah, lumbung dan sebagainya. Karena kehidupan yang cukup itu, maka di desa menjadi selamat, aman dan tenteram. Pada saat itu jenis usaha kehidupan rakyat hanya sedikit macamnya dan gampang. Yang laki-laki sebagian besar menjadi petani, ada satu-dua menjadi dukun, tukang kayu, tukang besi, tukang emas, dan pertukangan lain-lainnya. Mereka semua bekerja dengan bebas untuk keperluannya sendiri-sendiri. Yang perempuan membantu lelakinya dengan menanam, memotong, mengetam padi, membatik, berjualan hasil bumi ke pasar dan sebagainya. Sedang anak-anak biasanya membantu orangtua memelihara hewan-hewan ternak. Hasil bumi biasanya berupa padi, ketela, jagung dan sebagainya.

2. Sekarang kehidupan penduduk banyak yang berkesusahan. Banyak yang tidak mempunyai kerbau dan ternak lagi. Hanya satu-dua yang masih bisa mempunyai lumbung. Memang, hampir semua masih mempunyai rumah sendiri-sendiri. Tetapi, banyak yang mempunyai pinjaman pada orang-orang mindring. Itulah sebabnya, desa sekarang menjadi tidak aman lagi. Lalu banyak orang jahat seperti pencuri, perampok dan sebagainya. Jenis usaha kehidupan rakyat ada banyak, misalnya menyewakan tanah pada pabrik gula - dalam distrik wilayah Kadiroen ada empat pabrik gula - dan juga bisa menjadi kuli atau buruh pabrik. Semua orang laki-laki, perempuan dan anak-anak ada satu-dua yang masih menjadi tukang-tukang tersebut sebagaimana disebut di atas dan masih banyak yang bertani di sawah untuk keperluannya sendiri. Sedang yang tidak punya pekerjaan sekarang bisa gampang mendapat pekerjaan di kota-kota atau di tempat-tempat lain. Pendek kata jenis usaha kehidupan rakyat atau pekerjaan lahirnya itu tidak kurang. Meskipun ada suatu masa di mana dalam satu tahun ada banvak orang yang tidak mendapat pekerjaan sama sekali. Selain itu, bedanya zaman dahulu dengan sekarang, yaitu hasil rakyat zaman dahulu berupa hasil-hasil pertanian, sekarang hasilnya berupa uang.

3. Jadi nyata ada banyak perubahan yang kentara secara lahiriah, yaitu perubahan kemunduran alias kaya menjadi miskin. Perubahan yang besar lagi, bahwa dahulu rakyat dapat penghasilan dari tanah, sekarang uang. Menurut kenyataan tersebut ini, maka hampir semua orang merasa mengalami kemunduran. Tetapi jarang yang mengetahui apa sebabnya bisa mengalami kemunduran itu.

4. Begitupun dengan lurah-lurah dan para tetua yang berkumpul di Onderdistrik A, sama, tidak ada yang bisa menjelaskan sebab-sebab kemunduran itu. Dan hanya berkata bahwa hal itu sudah zamannya atau takdir.

Di hari kedua dan ketiga, Kadiroen berbuat hal yang sama seperti di Onderdistrik A. Mencari tahu keadaan di Onderdistrik B dan C. Tetapi kesimpulannya sama saja seperti di Onderdistrik A. Pada hari yang keempat Kadiroen datang di Onderdistrik D, yang oleh asisten wedononya dikatakan bahwa keadaan rakyatnya di wilayah itu sekarang semakin makmur ketimbang dahulu.

Pagi-pagi betul Kadiroen datang di Onderdistrik D di kantornya Tuan Asisten Wedono. Lurah-lurah dan para tetua desa belum datang di situ. Baru saja Kadiroen duduk, ada seorang polisi desa datang, mengantarkan seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya yang kira-kira berumur sembilan bulan. Perempuan itu kelihatan amat kurus badannya. Dan dari pakaiannya kelihatan sangat miskin. Baju robek-robek dan kainnya bertambal-tambal. Anaknya yang kecil telanjang. Demi melihat mereka, Kadiroen menaruh betas kasihan pada si miskin itu. Segera Kadiroen bertanya pada pegawai polisi yang mengantar:

"Itu orang apa?"

"Ini seorang pesakitan Ndoro, kemarin siang ia ditangkap oleh mandor tegal tebu, sebab ia sedang mencuri tebu pabrik. Sekarang hamba antar ke sini atas perintah lurah.

Lalu Kadiroen mendekati perempuan tersebut dan bertanya:

"Mbok mengapa kamu mencuri. Kamu toh tahu, yang itu adalah perbuatan jelek dan kamu bisa dihukum?" Maka perempuan tadi menjawab, singkatnya begini: "Bagaimana Ndoro, hamba punya anak menangis, karena lapar. Sedang hamba juga lapar, uang atau makanan tidak punya!"

Mendengar jawaban tadi, hati Kadiroen seperti tergilas oleh mesin. Sebab ia kasihan pada si miskin. Lalu ia meminta keterangan lebih jauh dan mendapat cerita bahwa perempuan itu dulunya hidup cukup. Tetapi kira-kira dua tiga bulan ini dia dan suaminya tidak mendapat pekerjaan di desanya. Lalu ia menjadi miskin, dan suaminya terpaksa meninggalkan sang istri untuk mencari pekerjaan lain di tempat yang jauh. Karena kurang ongkosnnya, sedang di tempat lain itu belum tentu mendapat pekerjaan, maka istri dan anaknya tadi terpaksa ditinggal dan hidup sengsara di desa. Sehingga pada suatu hari tadi, terpaksa ia mencuri tebu untuk mengisi perutnya. Mendengar cerita tadi, hati Kadiroen rasanya seperti menangis. Dan amat betas kasihan pada si malang itu. Segera Kadiroen dengan uangnya sendiri menyuruh membelikan makanan yang cukup untuk perempuan tadi dan ia memberi derma uang sebesar f.2.50,- kepadanya. Kecuali itu ia tidak bisa menolong apa-apa lagi. Dan perempuan itu meski menghadap di muka Landgerecht sebab mencuri sepotong tebu. Di sini Kadiroen tidak bisa menghalang-halangi hukum. Ia meski menjalani hukum itu. Siapa yang mencuri mesti dihukum. Apakah sebabnya mencuri pun hanya untuk menimbang berat ringannya hukuman saja. Hal ini memang sudah seadil-adilnya.

Sesudah semua lurah dan tetua desa berkumpul, maka Kadiroen membuka pembicaraan seperti di Onderdistrik A, B, dan C, serta menambah bahwa kehidupan yang melarat itu gampang menggoda manusia, sehingga ia menjadi jahat. Oleh karena itu, semua diminta keterangan sebenar-benarnya, supaya Kadiroen bisa berusaha untuk memperbaiki kehidupan rakyat, agar rakyat tetap baik budi pekertinya.

Maka kesimpulannya, semua masalah di Onderdistrik D persis sama dengan onderdistrik lainnya. Sesudah itu, maka permusyawarahan dibubarkan. Dan berbeda dengan adat kebiasaan pejabat yang kasar dan gampang marah kepada pejabat yang ada di bawahnya, Kadiroen lalu menasihati Wedono D secara sendirian, tidak diketahui oleh orang-orang lain, supaya selanjutnya asisten wedono itu jangan berdusta: mengatakan kehidupan rakyat makmur pada kenyataannya tidak. Asisten wedono tersebut mengaku bersalah, dan berkata bahwa dia takut mendapat marah kalau dahulu mengatakan bahwa kehidupan rakyatnya sengsara. Memang sering terjadi, para pejabat membesar-besarkan kemakmuran rakyat di bawah pemerintahannya dan menutup-nutupi kekurangan rakyat agar ia mendapat pujian bahwa ia pandai. Kedustaan seperti itu justru menyusahkan para pembesar dan pemerintah. Karena mereka selanjutnya tidak tahu betul hal ihwal rakyat di desa-desa. Tetapi seorang pejabat yang menjelaskan kekurangan kehidupan rakyat pun, sering mendapat malu dan dimarahi oleh atasannya. Ia katakan kurang pandai memenuhi kebutuhan rakyat. Buat seorang pejabat yang dasarnya tidak kesatria, maka mereka sering berbuat kekeliruan dan memilih berbuat dusta daripada malu dimarahi. Sebaliknya seorang pejabat yang kesatria, tidak berbuat dusta, mereka berusaha menerangkan sebab-sebab kemunduran keselamatan rakyat itu serta membikin voorstel-voorstel pada pembesarnya guna memperbaiki keadaan rakyat itu. Mereka mencari pangkat tidak dengan perbuatan-perbuatan yang tidak halal, tetapi dengan kebenaran dan kesucian hati menghadapi pada rakyat di bawah perintahnya. Kadiroen menerangkan hal ini dengan halus pada Asisten Wedono D. Dan ia mendengar janji bahwa asisten wedono itu seterusnya akan bertindak dengan benar dan tidak berdusta lagi.

Datang di kawedanan atau kantor wedono, Kadiroen memikirkan keterangan-keterangan yang sudah ia dapatkan dari keempat pertemuan tersebut. Banyaknya penghasilan dan pekerjaan untuk rakyat hampir sama seperti zaman kuno. Ya, sekarang justru lebih banyak jenis pekerjaan. Meskipun begitu, toh rakyat tambah miskin. Apa sebabnya? Kadiroen mengira bahwa rakyat sendiri yang salah. Tentunya rakyat lebih royal ketimbang yang dahulu. Sehingga hasil yang mereka dapat tidak seimbang dengan belanja yang mereka keluarkan. Artinya rakyat mengeluarkan ongkos hidup lebih besar dari pendapatannya. Tetapi umpama perkiraan itu betul, apakah sebabnya sehingga rakyat berbuat begitu? Apakah adat mereka yang berubah. Kadiroen mengerti bahwa memang biasanya bumiputera senang kelihatan kaya. Seperti dalam hal mengawinkan anak, membikin keramaian yang tidak kecil ongkosnya, pada Hari Raya 1 Syawal menyalakan mercon atau kembang api dan kesenangan lainnya. Mereka mau mengeluarkan ongkos yang banyak untuk keperluan-keperluan begitu. Sebab kalau tidak begitu, mereka malu pada sahabat-sahabatnya. Umpamanya betul ini adat yang memiskinkan rakyat, toh zaman dahulu adat itu juga ada; mengapa hal yang sama, sekarang menyebabkan miskin? Kadiroen menyangka bahwa royal-nya rakyat bertambah tapi mengapa bertambah? Kadiroen menyangka biasanya tambah royal itu karena terbawa oleh hasil yang didapat rakyat sekarang ini lebih gampang dikeluarkan, lain dari zaman dahulu. Tentang masalah ini Kadiroen mengira karena sekarang rakyat kebanyakan mendapat hasil berupa uang. Sedang dahulu berupa hasil tanah seperti padi, beras, kelapa, jagung, ketela dan sebagainya. Uang sangat enteng dan gampang dikeluarkan. Sebaliknya, hasil tanah sangat berat dan sedikit susah dikeluarkan. Rakyat mencari gampangnya. Itu sudah menjadi kebiasaan kebanyakan manusia. Oleh karena itu, mereka lebih senang menerima hasil uang daripada hasil tanah. Karena itu umpama ada hasil tanah, mereka lalu lekas menukarkan menjual hasil itu dengan uang. Tetapi kemudahan yang berhubungan dengan uang itu tidak sepadan dengan pengertian dan kepintaran rakyat. Rakyat tidak tahu betul harganya uang. Dan mereka lebih gampang lagi mengeluarkan uangnya. Akhirnya, mereka menjual kerbau, sapi dan sebagainya. Sehingga bertambah lama menjadi bertambah miskin. Begitulah pendapat Kadiroen setelah ia berpikir lama dan dalam.

Tertarik oleh pendapat itu, maka Kadiroen secepat-cepatnya menulis surat panjang lebar kepada asisten-asisten wedono di bawah perintahnya. Di dalam surat tersebut Kadiroen menceritakan pendapatnya. Dan dengan surat itu, Kadiroen memerintahkan kepada asisten-asisten wedono agar segera menerangkan maksud surat itu kepada semua lurah. Dan lurah-lurah desa diperintah untuk memberitahukan masalah itu pada rakyat kecil. Dengan disertai nasihat supaya rakyat menjadi hemat. Jangan gampang-gampang mengeluarkan harta benda; royal tayuban dan kesenangan-kesenangan lain yang mahal supaya dikurangi.

Setelah menulis surat itu, maka Kadiroen menyuruh mengirimkan surat tersebut. Lalu ia menulis semua urusan dan pendapat serta perintahnya itu dalam laporan yang panjang lebar pada pembesar-pembesarnya, yaitu tuan patih untuk diteruskan pada tuan bupati atau regen.

Kadiroen mengira bahwa aturan yang dibikinnya sudah bisa diumumkan pada rakyat dalam waktu dua puluh hari. Oleh karena itu, mulai hari yang kedua puluh satu, setelah suratnya dikirimkan, Kadiroen mau memeriksa sendiri di desa-desa, bagaimanakah aturan yang dibikinnya itu diterima oleh rakyat. Kadiroen tahu bahwa jika rakyat ditanya satu per satu oleh seorang wedono, tentu mereka tidak akan berani menceritakan pikirannya dengan terus terang untuk mengatakan baik buruknya aturan wedono yang menanyai mereka itu. Kadiroen berdandan. Dengan pakaian palsu, ia menyamar seperti orang Arab, layaknya seorang mindring yang mengutangkan kain pelakat dan kain kebaya kepada penduduk desa. Dengan pakaian begitu, maka ia akan mendapat keterangan yang sebenarnya dari rakyat. Kadiroen akan mendatangi tiga atau empat desa dalam sehari di setiap onderdistrik. Dalam empat hari, pekerjaan itu akan bisa selesai. Mengingat bahwa ia saban hari harus mengerjakan pekerjaannya di kantor juga, sudah tentu pekerjaan Kadiroen selama empat hari itu akan berat sekali. Mulai jam empat pagi sudah berangkat bekerja, jam sebelas malam baru bisa tidur. Segala susah payah itu bagi Kadiroen tidak dihiraukannya. Yang ia ingat pertama-tama adalah keperluan rakyat yang ada di wilayah distriknya.

Begitulah, maka pada suatu hari kita melihat seorang Arab palsu alias Kadiroen berjalan mondar-mandir di Desa H, Onderdistrik A. Ia memasuki satu per satu rumah dan menawarkan jualan sarung-sarungnya sambil berteriak-teriak:

"Sarung, sarung! Sungguh ini sarung yang bagus dan murah. Boleh dicicil saban sepasar dan tiga bulan Voldaan. Mindring sarung buat anak-anak yang mau sunat atau boleh dipakai waktu punya hajat atau tayuban..."

Orang-orang desa banyak yang tertawa, mendengarkan orang Arab yang menjajakan dagangannya dengan begitu aneh itu. "Arab lucu, Arab lucu!" begitulah kata anak-anak kecil sambil mengikuti "Arab Kadiroen" di belakangnya. Tetapi dengan cara berjualan yang begitu aneh itu pula akhirnya bisa membuka suara penduduk desa. Begitulah banyak orang di Desa H tersebut berkata:

"Tuan Sayid, jangankan tayuban, sedangkan menanggap wayang saja sekarang dilarang keras dan bisa dihukum!"

Kadiroen menjadi heran mendengar keterangan itu. Karena itu, ia memancing keterangan-keterangan lain yang lebih luas dan lalu ia mengerti bahwa lurah desa tersebut sudah memberi perintah bahwa Tuan Wedono yang baru sudah melarang orang kecil ramai-ramai wayangan, tayuban dan sebagainya. Siapa yang berani melanggar akan dimintakan hukuman oleh lurah. Sedangkan rakyat diberi nasihat supaya jangan royal. Tetapi lurah dari desa tersebut sudah mengeraskan nasihat menjadi larangan keras dengan ancaman hukuman. Memang sering hal yang serupa itu di desa-desa. Nasihat dari atas dibesar-besarkan kalau sudah di bawah, sehingga menjadi perintah halus, kadang-kadang menjadi tambah keras lagi dan lalu menjelma menjadi perintah kasar. Sudah barang tentu rakyat dari desa tersebut banyak yang mengomel karena larangan tersebut. Banyak yang memaki-maki pada wedono baru yang mau mengubah adat orang desa, mau memotong kebebasan mereka buat mencari sedikit kesenangan. Adapun, sebab-sebab mengapa orang kecil mesti dinasihati, oleh lurah yang bodoh tadi, tidak diterangkan. Memang banyak lurah yang begitu bodoh sehingga tidak mengerti sebab-sebab dan manfaat dari perintah yang baru, apalagi menerangkan hal itu pada rakyatnya. Lurah yang semacam itu lalu main hantam kromo dalam hal mengurus desanya. Demikian juga adanya di Desa H.

Bahwa hal-hal serupa itu akan berbahaya bagi kehormatan pemerintah, itu sudah pasti. Sebaliknya, kemajuan negeri saban tahun memaksa lahirnya macam-macam aturan yang baru pula. Hal itu sering menyusahkan lurah desa yang kebanyakan dipilih dari para petani dan para tetua yang jarang memiliki pengetahuan yang luas serta sesuai dengan tuntutan zaman kemajuan sekarang ini. Kadiroen mengerti, sesudah "perjalanan rahasia" itu, bahwa keadaan sebagaimana di Desa H itu juga terjadi di lain-lain tempat. Kadiroen menjadi susah memikirkan hal ini. Ia mengambil keputusan akan memperbaiki kekeliruan-kekeliruan yang ditimbulkan oleh pegawai-pegawainya yang ada di bawah. Kadiroen menjadi senang bahwa dengan pura-pura menjadi Arab Mindring itu, ia sudah bisa menyelidiki adanya jalan pemerintahan di desa-desa. Memang banyak pejabat yang hanya memerintahkan saja kepada bawahannya, tanpa mengurus bagaimana jalannya perintah di bawah sebagaimana mestinya. Orang kecil biasanya tidak berani menjelaskan keberatannya pada pejabat-pejabat di atas. Begitulah, umpamanya sebuah peraturan di bawah diperintahkan dengan keliru, maka pembesar yang di atas tidak akan mengetahui kekeliruannya kalau tidak menyelidiki semua hal itu di desa-desanya sendiri. Sebaliknya, untuk menyelidiki sendiri, hampir para pejabat tidak mempunyai waktu, dari sebab semakin tinggi pangkatnya, tambah besar pula urusan yang harus diselesaikannya. Sehingga tambah tinggi pangkatnya, tambah sedikit pengetahuan mereka tentang bermacam-macam perubahan pikiran dan perasaan rakyat akibat bermacam-macam aturan di zaman baru. Ada pula pejabat tinggi yang berusaha mendapatkan pengetahuan itu dengan pertolongan banyak mata-mata atau spion yang mereka bayar dengan uang dari sakunya sendiri. Tetapi sejauh mana mata-mata itu bisa dipercaya? Itulah sebabnya Kadiroen menjadi mengerti mengapa dulu sewaktu ia menjadi mantri polisi, banyak keterangan yang dibikin-bikin oleh mata-mata itu sendiri, dengan menyimpang dari kebenaran yang sesungguhnya. Asal saja mata-mata itu memberikan keterangan dan ia dapat uang.

Kadiroen memikirkan hal itu dan merasa bahwa ia sebagai seorang wedono yang wilayahnya begitu lebar sekarang terpaksa harus bekerja keras luar biasa. Tetapi ia tidak akan takut pada pekerjaan yang berat, asal saja ia bisa membikin keamanan dan keselamatan rakyat yang ada di distriknya.

Sehubungan dengan masalah tersebut, Kadiroen mengadakan rapat di pendopo setiap kantor asisten wedono. Adapun, yang diundang dalam rapat tersebut adalah semua lurah dan semua penduduk laki-laki di tiga sampai empat desa yang berdekatan dengan pendopo masing-masing onderdistrik. Kadiroen datang sendiri dalam vergadering-vergadering yang tidak kecil (kira-kira 1500 orang). Di dalam rapat itu ia menjelaskan sendiri kepada rakyat apa sebabnya ia memberi nasihat supaya rakyat mengerti harganya uang. Dan ia menandaskan bahwa itu hanya nasihat saja. Vergadering lalu bisa mengerti bahwa nasihat wedono baru, Kadiroen, sangat baik dan bermanfaat. Sesudah itu, maka Kadiroen menyuruh lagi pada lurah-lurah, supaya tiga sampai empat desa lainnya berkumpul dalam satu vergadering dan meminta pada asisten-asisten wedono supaya mereka ikut dalam vergadering-vergadering tersebut dan menyuruh mereka supaya menasihati rakyat seperti tadi. Untuk menjaga supaya jangan sampai ada kekeliruan lagi dan supaya Kadiroen mengerti kalau ada kekeliruan lagi, maka Kadiroen memberi perintah supaya orang kecil yang mempunyai keberatan-keberatan apa saja hendaknya datang sendiri di kawedanan Kadiroen. Begitulah, para asisten wedono dan lurah-lurah itu juga diperintah supaya mereka mau menerangkan kepada rakyat. Aturan ini memang sangat berlainan dengan kebiasaan yang dulu, Kadiroen mau menerima orang kecil tanpa perantaraan seorang lurah lagi. Kadiroen merasa bahwa ia terpaksa membuat aturan baru itu karena ia berusaha memenuhi kebutuhan rakyat. Tentu saja, semua pejabat yang ada di bawah perintah Wedono Kadiroen banvak yang mengomel begini:

"Wah inilah aturan wedono baru yang masih muda. Banyak macamnya, tidak seperti yang dulu-dulu. Rewel dan banyak omong."

Tetapi Kadiroen tidak mengerti, mengapa ada omelan seperti itu. Karena ia memiliki maksud yang bersih, sebagai seorang yang ingin menjadi bapaknya rakyat. Maka ia mengira, pejabat-pejabat yang ada di bawahnya sepakat dan juga memiliki watak seperti dirinya. Kadiroen sudah berusaha dengan satu cara untuk memperbaiki kehidupan rakyat dan tidak tahu kalau para pegawai di bawahnya berwatak lain. Pegawai-pegawai itu kebanyakan meminta cara-cara memerintah seperti zaman dahulu saja.

Sudah barang tentu, dengan usaha Kadiroen itu, rakyat menjadi percaya kepada dirinya, seperti kepercayaan anak kepada bapaknya. Kadiroen dicintai oleh rakyatnya. Tetapi ia memiliki bawahan yang suka mengomel dan tidak menyukai dirinya.

Berhubung dengan permintaan Kadiroen kepada rakyat supaya mereka datang sendiri kepadanya secara langsung, kalau ia memiliki keperluan dan keberatan, maka ia sering kedatangan orang-orang dari berbagai desa. Namun kalau dibandingkan dengan banyaknya penduduk yang ada di distrik itu, boleh dibilang yang datang ke kantor Kadiroen sangat sedikit. Dan apa yang diadukan hanyalah perkara-perkara yang penting dan telah jelas terbukti semuanya, sedangkan kebanyakan dari mereka yang datang, hanyalah penduduk yang berani-berani. Tetapi meskipun begitu, kebanyakan dari mereka meminta kepada Kadiroen supaya nama si pengadu jangan diberitahukan kepada para pejabat yang ada di bawah Kadiroen karena si pengadu takut difitnah. Memang sering terjadi, seorang kecil yang mengadukan perkara secara langsung pada pejabat tinggi, ia dibenci dan difitnah oleh pejabat-pejabat yang ada di bawah. Apalagi kalau pejabat yang di bawah itu yang bersalah sehingga sampai diadukan seperti itu. Sebaliknya, kalau rakyat tidak mengadu, maka masalahnya sungguh berat; kelirulah rakyat yang tak kuat lagi jika lalu mengirim surat "budek" atau surat yang tidak memakai tanda tangan dan dengan nama palsu kepada pejabat-pejabat tinggi. Kalau surat "budek" itu diurus akan banyak dijumpai kesalahan. Apalagi kalau mengurusnya tidak rajin dan kurang hati-hati. Pada kenyataannya sering terjadi pengaduan rahasia itu kurang beralasan. Pertama, karena saksi-saksi belum berani menghadap, karena ketakutan difitnah tadi. Yang kedua, sebab yang menulis dan mengirim surat itu kebanyakan orang bodoh yang hanya bisa menulis sedikit. Pengetahuannya tidaklah cukup untuk menerangkan hal-hal dengan jelas dan nyata tentang kejadian yang sebenarnya.

Kadiroen mengetahui hal-hal ini; karena itu, selamanya ia rahasiakan nama pengadunya, sedangkan ia tidak lupa mengurus pengaduan itu hingga selesai. Dengan jalan seperti itu maka para pejabat kecil yang melakukan berbagai kesalahan sering diketahui oleh Kadiroen. Aturannya, Kadiroen ini dibenci oleh para pejabat yang ada di bawahnya. Apalagi oleh para pejabat kecil-kecil, seperti juru tulis dan sebagainya, karena mereka tidak lagi bisa memungut upah yang macam-macam dari rakyat yang memiliki keperluan untuk mengurus ini dan itu.

Oleh sebab itu, para pejabat kecil lalu penghasilannya menjadi berkurang. Hasil-hasil gelap, sekarang hilang sama sekali. Dengan itu, maka para pejabat yang ada di bawah sering menghalang-halangi atau memberatkan pekerjaan Kadiroen, hal itu lalu membikin repotnya Kadiroen. Sejumlah perkara, mesti ditanganinya sendiri. Boleh dibilang Kadiroen bekerja siang-malam. Semenjak Kadiroen menjadi wedono, wajah dan badannya kian lama kian bertambah kurus, karena beratnya pekerjaannya itu. Tetapi Kadiroen tidak begitu memikirkannya. Ia hampir tidak memikirkan badannya sendiri. Kadiroen hanya mau memikirkan satu masalah; yaitu membikin keselamatan dan kemakmuran rakyat.

Di antara keluh kesah itu, ada juga rakyat yang keberatan membayar pajak atau belasting yang hampir saban tahun terus naik. Tetapi sebagai pegawai gupermen, Kadiroen mesti mengikuti aturan negara dalam hal pajak ini.

Dan setelah ia hitung dan tahu bahwa pajak si pengadu sudah semestinya maka ia bukan saja tidak bisa menolong pun ia harus menerangkan kepada si pengadu bahwa di mana ada negara yang hidup teratur, maka di situ pasti ada pajak. Gupermen tambah tahun tambah besar belanjanya, sebab kemajuan negara memaksa adanya bermacam-macam aturan baru yang selamanya menambah ongkos. Maka sudah tentu sering ada tambahan belasting itu. Sebaliknya, Kadiroen menjanjikan kepada si pengeluh semacam itu bahwa ia akan berusaha memajukan kehidupan rakyat. Supaya rakyat tidak merasa berat memikul kewajiban membayar belasting. Dan memang, Kadiroen memenuhi kewajibannya serta janjinya kepada rakyat. Siang dan malam tidak kenal lelah ia berusaha memperbaiki penghasilan rakyat itu.

Semakin banyak rakyat yang mengadukan masalah yang ada di desa-desa, semakin menumpuk pekerjaan Kadiroen. Dan semakin tambah pintar pula Kadiroen memerintah distriknya. Dan ia sudah sering membikin voorstel-voorstel (laporan) kepada pembesar-pembesarnya untuk keperluan penduduk tersebut. Di antara voorstel-voorstel itu adalah:

a. Supaya kebun tebu milik pabrik mendapatkan pengairan di waktu malam dan sawah milik rakyat mendapatkan pengairan di waktu siang karena rakyat yang miskin keberatan betul bekerja malam buat mengairi sawahnya. Sedang pabrik mempunyai modal buat membayar mandor malam (waktu itu aturan air berkebalikan dengan voorstel tersebut).

b. Supaya lurah dilarang menerima premi dari pabrik buat tiap-tiap bau sawah yang oleh penduduk desanya disewakan kepada pabrik. Sering terjadi bahwa lurah mencari premi itu dengan perintah halus dan sebagainya kepada rakyat, supaya mereka mau menyewakan sawahnya, hal yang mana sering merugikan keperluan rakyat di desa.

c. Supaya dilarang pabrik memberi voorschot kepada orang kecil yang akan menyewakan tanahnya, karena voorschot itu sering menarik rakyat yang melarat dan bodoh. Kadiroen memberi alasan bahwa rakyat itu umpamanya anak-anak yang masih senang bermain dengan uang. Oleh sebab itu, maka siapa pun harus dilarang jika menyewa tanah dengan memberi voorschot uang pada orang kecil yang menyewakannya.

d. Supaya semua orang Jawa, Tionghoa, Arab dan lain-lainnya dilarang meminjamkan uang dengan bunga lebih dari 10% selama satu tahun (tukang mindring rentennya sampai 250% sampai 300% selama satu tahun). Dan gupermen supaya mengadakan sendiri bank desa dengan bunga murah. Alasannya juga bermain-main uang sangat berbahaya untuk anak-anak.

e. Dan voorstel-voorstel lain yang penting untuk distriknya.

Di antara voorstel-voorstel itu, ada yang dikabulkan oleh pembesar. Tetapi voorstel a, b, c, dan d sudah ada lebih dari enam bulan belum ada jawabannya. Oleh sebab itu, pada suatu hari Kadiroen meminta izin pada atasannya, Patih dan Regen, supaya ia bisa menerangkan sendiri dengan panjang lebar dengan Tuan Asisten Residen. Tiba-tiba Kadiroen mendapat jawaban dari atasannya, supaya Kadiroen sabar dan percaya pada Tuan Regen. Ia seorang pejabat di bawah Regen, mesti melaporkan voorstel-voorstel itu pada Patih dan Patih akan meneruskan pada Tuan Regen dan akan meneruskan pula pada Tuan Asisten Residen dan seterusnya. Adapun voorstel-nya Kadiroen lebih jauh masih diurus Tuan Patih dan Regen. Dan karena banyaknya keinginan, urusannya mesti sedikit lama. Mendapat balasan serupa itu, maka Kadiroen menjadi susah. Tetapi apa boleh buat, Kadiroen mau menunggu. Kadiroen bekerja terlalu berat, sehingga pada suatu hari ia menjadi sakit. Dan terpaksa dalam tiga buIan ia meminta cuti. Sesudah sembuh, maka ia kerja lagi, nyaris siang-malam.

Sudah dua tahun Kadiroen menjadi wedono dengan berusaha sekeras mungkin mengurus keperluan rakyat. Tetapi sia-sialah pekerjaannya sebab rakyat di distriknya hampir tidak menunjukkan kemajuan kemakmuran sama sekali. Susahnya kehidupan rakyat pada akhir tahun kedua itu masih sama saja dengan permulaannya. Bedanya dengan distrik-distrik lain hanya sedikit, untungnya rakyat tidak semakin bertambah melarat sebagaimana di distrik-distrik lain di mana orang-orang kecil keadaannya semakin lama semakin mundur. Karena hal-hal yang serupa itu, semakin kuat niat Kadiroen untuk menjaga keperluan rakyat yang dianggap sebagai anaknya sendiri yang masih kecil yang berhadapan dengan "permainan uang" yang tampak disengaja oleh pihak pabrik gula dan pihak mindring-mindring desa. Sudah barang tentu Kadiroen tidak lupa, dan bersama-sama dengan itu, selalu memberi keterangan pada rakyatnya supaya berhati-hati dalam mengurus uang dan harta-hartanya. Ia selalu memberi tahu dan nasihat mengenai perkara ini.

Pada suatu hari, yaitu kira-kira sesudah sepuluh bulan Kadiroen mengajukan voorstel a, b, c dan d, ia mendapat kabar dari Tuan Patih bahwa voorstel tersebut telah diteruskan pada Tuan Regen. Sesudah wedono-wedono lain dimintai pertimbangan atas masalah-masalah ini banyak pejabat-pejabat bumiputera yang sepakat dengan kehendak Kadiroen.

Dua bulan berikutnya Kadiroen dipanggil Tuan Asisten Residen untuk menerangkan panjang lebar, berbicara sendiri tentang alasan-alasan voorstel-nya yang penting itu. Kadiroen menjadi bahagia karena sekarang keputusan voorstel-nya itu sudah dekat. Begitulah, maka pada suatu hari Kadiroen datang ke kantor Tuan Asisten Residen. Pejabat Afdeeling ini adalah seorang Belanda yang sudah sedikit tua. la mencintai rakyat dan orang kecil. Karena mengetahui voorstel-nya Kadiroen, ia menjadi senang dan memberikan pujian pada Kadiroen. Tuan Asisten Residen senang karena Kadiroen dengan voorstel-voorstel-nya sudah berusaha keras untuk kemakmuran rakyatnya. Tetapi, sudah barang tentu kesenangannya itu tidak lantas dengan sendirinya menghapus perbedaan pendapat mengenai perkara-perkara di atas, antara Tuan Asisten Residen dengan Kadiroen. Juga supaya perbedaan pendapat itu menjadi beres, maka Kadiroen dipanggil oleh Tuan Asisten Residen. Pejabat ini menerangkan kepada Kadiroen bahwa voorstel-voorstel itu memang sangat penting, sehingga tidak bisa diputuskan oleh Tuan Asisten Residen sendiri. Yang memutuskan voorstel-voorstel itu seharusnya pemerintah (gupermen) dan ketetapannya harus disertai dengan keputusan kerajaan karena hal-hal yang ada dalam voorstel-voorstel itu ada sangkut pautnya dengan pokok-pokok peraturan dalam negeri.

Tuan Asisten Residen menimbang bahwa voorstel-voorstel yang diusulkan Kadiroen itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Yang pertama menyangkut orang yang meminjamkan uang dengan renten yang sangat berat kepada rakyat.

Mengenai pasal yang pertama ini, Tuan Asisten Residen berpendapat lain dengan Kadiroen. Ia berkeyakinan bahwa pabrik gula itu dapat memajukan kehidupan rakyat sebab banyak membuka lapangan kerja baru serta membantu pengedaran uang di kalangan rakyat. Memang, ada baiknya jika voorstel-voorstel Kadiroen dalam hal ini diturutinya, tetapi Tuan Asisten Residen khawatir bahwa pabrik lalu menderita begitu banyak kerugian dan menyebabkan kemunduran sehingga perusahaan-perusahaan itu akhirnya ditutup. Hal yang mana akan menyebabkan kerugian rakyat juga. Dalam selisih pendapat antara keperluan rakyat dengan pihak pabrik memang sangat sukar ditentukan, siapa yang seharusnya mendapat bantuan. Tuan Asisten Residen sendiri menimbang bahwa dalam hal ini, lebih baik pemerintah mengambil jalan yang netral dan menyerahkan urusan ini pada pihak-pihak yang berselisih, bagaimana baiknya. Tuan Asisten Residen sudah meminta pertimbangan Tuan Kontrolir dan Tuan Kontrolir bermufakat dengan Kadiroen; Jadi memang ada perbedaan keyakinan dengan Tuan Asisten Residen mengingat bahwa kebanyakan pejabat dan Kontrolir yang ada di bawah perintah Tuan Asisten Residen bertentangan keyakinan dengan Tuan Asisten Residen pula dan karena mereka kebanyakan sependapat dengan Kadiroen maka Tuan Asisten Residen berjanji meneruskan voorstel-voorstel yang diajukan Kadiroen pada Tuan Residen. Hanya saja Tuan Asisten Residen memberi pertimbangan bahwa ia tidak sependapat. Kadiroen menilai bahwa keputusan Tuan Asisten Residen sudah adil, sebab ada juga asisten-asisten residen yang dengan seenaknya memotong voorstel-voorstel yang tidak sesuai dengan pikirannya dan hanya meneruskan pikirannya sendiri saja ke atas. Karena itu Kadiroen memuji pada Tuan Asisten Residen.

"Ya, Wedono, kowe memang setia dan cerdik hoor!. Tetapi jangan bosan dan putus asa kalau ada hal-hal yang tidak mencocoki dengan kehendakmu. Begitupun voorstel-voorstel-mu itu, oleh Gupermen belum tentu disetujui dan balasannya tentu bisa sangat lama. Urusan ini di tingkat residen ada sekitar tiga bulan, sebab mesti harus meminta pertimbangan kepada asisten-asisten residen yang lain dan sebagainya. Habis itu, sedikitnya sampai enam bulan harus dipertimbangkan dengan para direktur dan sebagainya. Lalu sedikitnya sampai tiga bulan lagi baru diurus oleh Raad van Indie. Dan enam bulan lagi pergi ke negeri Belanda atau pada Tuan Yang Mulia Minister van Kolonien. Hal ini berhubung besarnya urusan pabrik gula. Dan baru enam bulan lagi ada keputusan. Itu pun kalau Staten-General (Tweede dan Eerste Kamer) di negeri BeIanda tidak turut mempertimbangkannya. Saya kira dalam dua atau tiga tahun lagi baru bisa diputuskan. Dan bagaimana keputusannya itu pun saya tidak tahu!"

Begitulah, Tuan Asisten Residen menjelaskan dengan lemah lembut. Kadiroen memperkirakan bahwa waktu yang ditempuh memang sangat lama, tetapi apa boleh buat, memang sudah semestinya begitu.

Terhadap pasal yang kedua yaitu voorstel tentang mendirikan bank desa dan melarang orang-orang meminjamkan uang dengan bunga yang sangat berat, maka Tuan Asisten Residen sepakat dan mau membantu voorstel itu. Hanya mengenai masalah mendirikan bank desa tersebut ada perbedaan pendapat. Kadiroen berpendapat supaya modalnya diberi oleh Gupermen, sedang Tuan Asisten Residen berpendapat supaya modalnya dicari dan dikumpulkan oleh rakyat sendiri. Gupermen sifatnya hanya memberi bantuan (subsidi). Sebab kalau tidak begitu, Gupermen pasti akan kekurangan uang dan tidak bisa menuruti maksud mendirikan bank desa tersebut. Tuan Asisten Residen berpendapat bahwa aturan memungut bunga, caranya meminjamkan, mengatur pembukuan dan lain-lain ada begitu banyak macamnya. Hal ini harus dipertimbangkan dan memakan waktu yang begitu lama juga. Kira-kira juga sampai dua atau tiga tahun. Begitulah, maka Kadiroen bermusyawarah dengan Tuan Asisten Residen. Dan sepulangnya, ia merasa sedikit senang. Karena voorstel-voorstel-nya akan diteruskan ke pemerintah. Ia berdoa kepada Tuhan Allah supaya kehendaknya mendapat keputusan yang baik oleh Gupermen, agar rakyat dapat dijaga kepentingan hidupnya saat berhadapan dengan kepentingan-kepentingan pihak lain.

Tiga tahun sudah, Kadiroen menjabat sebagai Wedono. Pada waktu itu umurnya kira-kira baru 28 tahun, tetapi karena kecerdikannya itu, pada suatu hari dipilih untuk mewakili Patih di Kota S, sebab Patih di situ sedang sakit. Pada waktu mewakili Patih itu, maka pekerjaan Kadiroen menjadi bertambah banyak. Ia mengurus pemerintahan dengan sungguh-sungguh, sehingga hampir siang-malam ia bekerja. Sebaliknya, pejabat-pejabat yang ada di bawahnya banyak yang mengomel dan tidak mau membantu dengan hati ikhlas semua maksud Kadiroen yang sangat berguna buat rakyat. Para pejabat itu hampir semuanya mufakat dengan peraturan-peraturan apa adanya sebagaimana zaman dahulu, yang urusannya begitu gampang dan tidak membikin pusing kepala. Saat tourne Kadiroen sering mendapat berbagai masalah. Terpaksa ia harus mengingatkan kepada para pejabat yang ia perintah sebab mereka sering alpa meneruskan kehendaknya pada rakyat. Jadi ia sering mendapat masalah karena kehendaknya sering dipotong di tengah jalan. Selain itu, masih banyak yang salah pengertian sehingga kemudian penerimaan rakyat menjadi keliru terhadap maksud yang baik itu. Tetapi kesusahan Kadiroen terbesar adalah.bahwa rakyat masih saja hidupnya tidak cukup sebagaimana seharusnya. Tandanya adalah lumbung-lumbung padi banyak yang kosong, kerbau, sapi kepunyaan rakyat terus berkurang, rumah-rumah rakyat tidak begitu baik dan sentosa seperti yang dahulu-dahulu. Betul juga, rakyat yang sering dinasihati Kadiroen itu lalu pintar mengolah uang, tetapi toh umumnya kemakmuran dan keselamat­an rakyat belum maju. Itulah yang menyusahkan Kadiroen dan memaksanya bekerja siang-malam itu. Mewakili Patih baru dua bulan, Kadiroen jatuh sakit lagi sebab pekerjaannya terlalu berat. Ia terpaksa meminta cuti lagi sampai dua bulan lamanya. Dan di waktu ia kembali dari cuti dan mengurus lagi pekerjaannya, badannya menjadi sangat kurus. Ia kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya. Begitulah, maka Kadiroen merasa terjepit. Pejabat yang ada di bawahnya tidak membantu dengan hati ikhlas semua kehendaknya, rakyat banyak yang salah pengertian, voorstel-voorstel yang diusulkan sangat lama, pekerjaannya terlampau berat. Sedang hasil kerjanya untuk rakyat hampir tidak ada dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Kadiroen. Sungguh Kadiroen tidak bisa mengerti apa sebab-sebabnya semua ini.

Bab IV

Sukar Memilih


Pada waktu Kadiroen mewakili jabatan Patih, di tanah Hindia terjadi guncangan karena datangnya pergerakan baru yang ramai. Sebuah pergerakan yang menarik hati rakyat Hindia mengenai perubahan budi pekerti, pikiran dan adat istiadat yang baru. Pergerakan tersebut telah menjadi perkumpulan rakyat yang besar sekali. Dan sebentar saja anggotanya sudah beribu-ribu banyaknya. Pergerakan tersebut dinamakan “Partai Komunis” yang disingkat P.K. yang dapat menjadi anggota dari pergerakan tersebut adalah semua rakyat Hindia. Dan menurut pembicaraan banyak orang, pergerakan itu dikatakan baik sekali untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Hanya saja surat-surat kabar yang berbahasa Belanda di Hindia ini banyak yang berseteru dan membenci pergerakan itu. Meski begitu, Gupermen Belanda tidak melarang pergerakan itu. Karena waktu itu kemajuan di Dunia sudah sangat berpengaruh sehingga hak rakyat untuk berpolitik dilindungi. Selain dari itu, banyak orang berkata bahwa pergerakan itu tidak bisa dibunuh karena memang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman. Meski Gupermen tidak melarang pergerakan itu, tetapi di bawah, yakni para priyayi-priyayi atau pejabat yang kuno dan kolot, ada yang memfitnah pergerakan tersebut. Karena itu siapa saja yang menjadi anggota dari pergerakan tersebut lalu perilakunya berubah, mereka tidak begitu mau menghormati lagi terhadap para priyayi seperti menyembah, berjalan jongkok sebagaimana bentuk-bentuk penghormatan yang dulu-dulu. Hal itu mendadak mau dihilangkan oleh pergerakan itu dan mau diganti dengan adat Belanda. Maksud mengubah adat istiadat inilah yang menyebabkan kebencian antara para priyayi dan rakyat yang sedang bergerak. Setelah banyak orang dan priyayi muda yang bekerja di luar kalangan Gupermen seperti di toko-toko dan sebagainya, maka mereka mengupayakan perubahan adat itu secara terus-menerus. Mereka mengatakan bahwa cara kuno itu adalah cara kaum kolot yang gila hormat. Perselisihan antara kuno dan baru itulah yang menyebabkan guncangnya Hindia.

Banyak orang yang tertarik ataupun membenci pergerakan itu, tetapi mereka tidak tahu betul apa maksud pergerakan itu. Hal itulah yang sering menimbulkan berbagai gejolak perselisihan yang menyebabkan guncangnya negeri. Itulah yang menjadi alasan banyak orang di sana-sini menyarankan agar pergerakan itu ditindas sampai mati saja. Tetapi, ada juga yang ingin mengerti terlebih dahulu, bagaimana akhir dari pergerakan itu. Kadiroen waktu itu berada di pihak yang bersikap ingin menunggu lebih dahulu itu. Sementara itu distrik Kadiroen sudah kemasukan pergerakan tersebut.

Pada suatu hari, sesudah Kadiroen sembuh dari sakitnya, maka di Kota S diadakan propaganda vergadering oleh Hoofdbestuur perkumpulan P.K. Maksud dari propaganda itu untuk memajukan dan membesarkan pergerakan itu dengan menarik para anggota-anggota baru, setelah mereka mengerti betul apa yang menjadi tujuan dari pergerakan tersebut. Sebagai pejabat Patih, Kadiroen mesti membuat verslag yang betul dari vergadering tersebut. Adapun yang bertugas menjaga keselamatan dari vergadering tersebut adalah Tuan Asisten Residen sendiri dibantu oleh beberapa orang pegawai polisi. Kadiroen sudah mendapat perintah supaya ia tidak hanya membuat verslag dari seluruh pembicaraan yang terjadi di vergadering tersebut, tetapi juga mencacat betul semua yang terjadi pada orang-orang banyak di situ. Siapa dan bagaimana caranya memimpin vergadering dan sebagainya. Oleh karena itu, tiga hari sesudah vergadering itu, Tuan Asisten Residen membaca verslag Kadiroen yang berbunyi sebagai berikut.

“Pendahuluan: Atas izin pembesar yang berwajib, di alun-alun, oleh bestuur cabang P.K. di Kota S, sudah didirikan sebuah panggung yang akan digunakan sebagai tempat berpidato bagi semua yang hendak berbicara pada rakyat. Di kanan-kiri panggung didirikan tarub-tarub (pendopo yang terbuat dari bambu dan kajang) yang akan digunakan sebagai tempat duduk para tamu-tamu, bestuur-bestuur dari berbagai perkumpulan politik lainnya, juga polisi dan utusan-utusan dari pers. Di sekeliling panggung itu adalah tempat berdiri bagi orang-orang yang hendak mendengarkan vergadering. Jam delapan pas, sudah beratus-ratus orang yang datang. Jam sembilan, jumlah hadirin dirasa sudah cukup. Adapun yang datang adalah semua bestuur cabang di Kota S, para propagandis dan anggota hoofdbestuur bernama Tjitro, beberapa Tuan Belanda dari pabrik-pabrik, banyak priyayi, utusan-utusan pers Belanda, Tionghoa dan Bumiputera. Di antaranya ada redaktur dari surat kabar P.K. tersebut bernama Sariman dan juga kira-kira 5.000 orang tamu dan penonton. Dari pihak B.B. ada hadir Tuan Asisten Residen, Patih dan beberapa pegawai polisi.

“Yang memimpin vergadering adalah Haji Moesno, Presiden P.K. di S. Pada jam sembilan tersebut dibunyikan sebuah petasan sebagai tanda kalau vergadering dibuka. Berdirilah H. Moesno di atas panggung. Dan dengan mengucap terima kasih pada Paduka Tuan Asisten Residen yang telah memberi izin mengadakan openlucht propaganda vergadering, serta mengucap terima kasih pada Tuan Regen, yang memberi izin memakai alun-alun sebagai tempat Vergadering, maka ia menghaturkan selamat datang pada semua yang hadir. Dan ia berkata bahwa Tuan Tjitro anggota Hoofdbestuur yang akan menjadi pembicara untuk menerangkan maksud dan kegiatan usaha P.K. Nanti setelah Tuan Tjitro berbicara akan diadakan tanya-jawab, semua orang boleh bertanya ataupun mendebat.

Lalu Tuan Tjitro berdiri di atas panggung dan dengan bersuara nyaring ia sangat yakin memulai berpidato, seperti sebagai berikut:

“Saudara-saudara kaum P.K. dan semua Tuan-Tuan yang hadir pada vergadering ini maksud saya berbicara di sini tidak akan mengajak orang untuk membikin rusuh dan ribut negeri dengan menghasut supaya bikin onar, sebagaimana yang hari kemarin sudah diterangkan dengan jelas oleh surat-surat gula S.H.B. Tetapi maksud saya mau menerangkan maksud dan tujuan pergerakan supaya semua orang mengetahui bahwa P.K. hanya berusaha memuliakan rakyat dan negeri Hindia. (Tepuk tangan dan sorak-sorai ramai menyambut keterangan itu).

“Memang ada alasan untuk memakmurkan rakyat negeri, sebab keadaan negeri dan rakyat Hindia sekarang ini boleh dikatakan tak lagi makmur. Tetapi kesusahan hidup, kemelaratan dan kemiskinan kian bertambah. Hal-hal ini sudah jelas buktinya, yaitu lumbung-lumbung padi kosong, kerbau, sapi dan semua ternak rakyat kian berkurang jumlahnya. Begitu juga makanan, lambat laun kian hari kian menipis. Sehingga berbagai jenis penyakit kian berkembang di Hindia. Kekurangan makan dan kemiskinan itu juga menjadi sumber godaan bagi perilaku rakyat. Sehingga banyak yang tidak dapat menahan godaan setan ini dan akhirnya banyak yang menjadi pencuri, perampok dan sebagainya. Kurangnya keselamatan lahir atau susahnya perikehidupan rakyat selamanya akan membikin kasar perilaku orang, orang-orang yang berbudi pekerti halus kian hari-kian busuk dan rusak, mereka adalah orang-orang yang tidak kuat melawan godaan setan. Perkembangan negeri untuk menambah keselamatan lahir dan batin begitu mundur meskipun sudah menambah kepandaian dan kepintaran rakyat. Maka, kita rakyat pertama-tama yang wajib memperbaiki semua hal yang berhubungan dengan hajat hidup rakyat Hindia. Kedua, baru Tuan-tuan Belanda pun wajib untuk itu. Juga Gupermen Belanda yang berkuasa di Hindia ini katanya sudah berusaha serupa itu, yaitu umpamanya dengan membentuk Commissie voor de Mindere Welvaart. Kita kaum pergerakan bersama-sama akan turut membantu memperbaiki semua ini. Jadi nyatalah bahwa kita tidak mengajak untuk kerusuhan dan keributan. Inilah maksud pendirian pergerakan kita, pendek kata, inilah maksud dan tujuan yang sebenarnya dari pergerakan kita. Saudara-saudara tentu ingin tahu buktinya? Bukti-bukti itu akan kelihatan kalau saya sudah menerangkan usaha-usaha pergerakan kita. Tetapi untuk menerangkan usaha-usaha itu, maka Tuan-Tuan meski harus tahu lebih dahulu perubahan-perubahan besar yang terjadi di Hindia dari dahulu sampai sekarang, yaitu yang dinamakan sejarah.

“Sekarang saya akan membuka sedikit sejarah di tanah Hindia. Terutama sejarah perikehidupan rakyat di sini. Zaman dahulu kala, sebagaimana cerita dalam buku-buku Jawa, dikatakan bahwa waktu itu Gupermen Belanda belum memerintah, sehingga semua urusan di Hindia menjadi gampang. Peraturan negeri gampang dilaksanakan. Namun, raja-raja Jawa gampang juga memeras rakyatnya sendiri. Tetapi, rakyat juga mudah menumpas raja-raja lalim itu dengan meminta tolong pada raja-raja Jawa yang lain, yaitu raja-raja yang suka menolong. Karena dengan menolong mereka lalu bisa membesarkan daerah kekuasaannya. Karena di Hindia banyak raja-raja kecil, maka dengan demikian sering terjadi peperangan, hal yang mana mudah membikin pecah belahnya tanah air kita. Di waktu Oost Indische Compagnie (O.I.C.) datang dan berusaha di Hindia, maka keadaan negeri ini sudah pecah belah sedemikian rupa dan semua manusia hanya mencari keuntungan sendiri-sendiri. O.I.C. memang sangat cerdik memanfaatkan keadaan perpecahan rakyat Hindia tersebut. O.I.C. bisa memihak sana, memusuhi sini dan selalu berbuat begitu; I.O.C. berusaha mendapatkan pengaruh besar dan bisa berhasil dengan baik. Sehingga tidak antara berapa lama Hindia jatuh ke tangan O.I.C. dan lama-kelamaan datang Gupermen Belanda. Gupermen Belanda datang ke Hindia dan lalu mulai mengatur negeri ini bersama-sama dengan pembesar-pembesar bumiputera yang ada pada waktu itu. Dan sifat pemerintahan Hindia lalu berubah-ubah. Pada waktu itu hingga sampai sekarang tingkat kemajuan dan kepandaian datang dari penduduk bangsa Eropa, jadi termasuk bangsa Belanda juga. Kemajuan dan tingkat kepintaran itu di Hindia sangat tertinggal jauh. Sehingga membikin kalahnya negeri Hindia pada Belanda. Tetapi terbawa oleh kodrat, maka bangsa Hindia mulai maju terus dan meniru serta mengambil contoh kemajuan di negeri Belanda. Sehingga Tuan-Tuan yang berhaluan etis, seperti V. Deventer, memandang Hindia sebagai anak dan muridnya Belanda. Dan mau mendidik murid itu seperti orangtua atau guru. Di sini, dengan singkat saya akan menerangkan keadaan sejarah pemerintahan Hindia sampai waktu ini. Dari sejarah itu, kita bisa mengerti bahwa ada tiga tingkat kemajuan zaman. Yang pertama zamannya Hindia diperintah oleh bangsa Hindia sendiri; kedua, saat mulai diperintah bangsa Belanda dengan dibantu oleh raja-raja Jawa yang sudah takluk yang akhirnya diberi pangkat Kanjeng dan Regen; ketiga, zaman Hindia meniru sejumlah kepintaran, pengetahuan serta kemajuan bangsa Eropa, sehingga lalu ada yang mengumpamakan Hindia sebagai muridnya negeri Belanda.

“Sekarang harus dicari sebabnya mengapa sejarah pemerintahan Hindia bisa berubah ubah sedemikian rupa menurut hemat kami, sebabnya itu cukup banyak. Yang pertama-tama, sebab semua itu terbawa oleh cara penghidupan manusia dan usaha manusia untuk hidup di tanah air kita berhadapan dengan kehidupan bangsa-bangsa asing lainnya. Oleh karena itu, boleh kita pastikan, bahwa sistem pemerintahan akan berujud dan teratur, jika sesuai dengan keperluan manusia dalam negeri dan menurut bentuk hubungan dengan bangsa-bangsa lain atau penduduk negeri asing. Karena hal ini dipandang sebagai pokok atau asal mula urusan, maka saya akan membuka lebih jauh sejarah kehidupan di Hindia ini.

Tadi Saya sudah menerangkan bahwa pada zaman purbakala, semua urusan menjadi gampang. Begitupun perikehidupan penduduk atau rakyat pada waktu itu karena tanah di Hindia sangat subur dan penduduknya masih sedikit. Hampir semua kehidupan penduduk dapat dipenuhi dengan mengusahakan pertanian, yaitu dengan menanam tanaman pangan. Sedangkan untuk keperluan itu, kerbau, sapi dan hewan piaraan lainnya dapat dipelihara dengan sungguh-sungguh dan piaraan itu pun bisa mendapatkan makanan atau rumput yang cukup. Begitulah, kehidupan rakyat serba mudah. Demikian juga urusan mendapatkan pakaian juga gampang, sebab saudara-saudara di rumah saja bisa menenun kain dan membatik sendiri. Jenis dan macam pekerjaan sangat sedikit. Demikian juga cara mereka bekerja tidak beraneka warna, sehingga mengatur negeri pun juga gampang.

“Tetapi, tidak semua rakyat dapat hidup dengan gampang melalui usaha pertanian. Seperti di daerah Jepara misalnya, tanahnya sering kebanjiran atau kekurangan air. Sebaliknya, di situ ada banyak pohon-pohon jati. Dan dari pohon-pohon penduduk di sana gampang membikin perabot rumah dan berbagai perhiasan yang indah-indah. Dan hasilnya bisa ditukar dengan bahan makanan di daerah-daerah lain yang banyak tanaman pangannya.

“Di pesisir laut, penduduk mudah mencari ikan lalu menukarkan penghasilannya itu dengan padi dari daerah lain di negeri ini. Begitulah, semua orang mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. Dan semua itu dapat berlangsung dengan gampang karena mereka bekerja sendiri-sendiri juga. Dengan pekerjaan sendiri itu, mereka dengan gampang menentukan cara serta waktu kerjanya. Hal itu menyebabkan rakyat merasa merdeka. Merasa merdeka artinya merasa hidup ayem-tentrem. Hanya karena banyak hutan yang harus dibuka dan karena hutan banyak binatang buasnya yang harus diusir dengan kekuatan, maka manusia berkumpul bersama-sama membuka hutan. Dengan berkumpul itu supaya mereka bisa kuat melawan binatang-binatang buas. Hal itulah yang menyebabkan berdirinya desa-desa. Dan supaya hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya dapat hidup rukun maka setiap desa dipimpin oleh tetua yang paling pintar dan paling kuat. Adapun orang yang terpilih disebut lurah. Di mana hutan dibuka secara bersama-sama, maka tanah yang terbuka itu, pada zaman dahulu kala, dianggap sebagai milik orang sedesa. Dan di tanah Jawa ini masih banyak aturan tentang hak milik sawah bersama-sama serupa itu. Begitulah asal mula maka rakyat hidup sendiri dan mengatur kehidupannya sendiri secara bersama-sama di masing-masing desa. Di sana ada sistem pemerintahan rakyat. Dan lurah menjadi wakil atau tetua yang terpilih. Jadi, pada waktu dahulu, kebanyakan lurah adalah orang yang terbaik. Di desa, hiduplah sistem pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat atau disebut sebagai demokratische regeeringsvorm

“Tetapi, ada juga manusia yang mencari kekuatan dan kekuasaan untuk memerah hasil rakyat semata dengan cara yang sewenang-wenang. Karenanya rakyat ingin memiliki raja yang mau memerangi penjahat-penjahat dan dapat merukunkan manusia di seantero negeri. Pada saat itu juga, di tanah Hindia mulai didirikan kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh hulubalang-hulubalang dan balatentaranya. Raja-raja itu tidak semua baik; ada juga raja yang selalu ingin berkuasa sendiri dan berusaha melebarkan daerah kekuasaannya sehingga sering terjadi peperangan. Bersamaan dengan zaman kerajaan dan zaman peperangan itu, maka manusia lalu bertambah juga cara usahanya untuk tetap hidup. Jenis pekerjaan pun menjadi kian bertambah. Maka dari itu, lalu ada petani, tukang kayu, tukang bikin bata merah, tukang berkelahi atau prajurit dan sebagainya. Bertambahnya jenis pekerjaan, akhirnya, menambah banyak pula macam penghasilan. Sampai di sini ramailah usaha perikehidupan rakyat, maka mulailah ada pasar atau tempat tukar-menukar penghasilan dan macam-macam barang, juga macam-macam hasil tanah. Adanya pasar juga menambah pekerjaan pula bagi manusia maka timbullah golongan saudagar. Berikutnya lalu mulai terbuka zaman perdagangan. Mengingat sangat sulitnya melakukan tukar-menukar barang juga supaya perdagangan berjalan aman, supaya tidak banyak orang yang membegal dan sebagainya, maka memanglah perlu bahwa beberapa desa dikumpulkan menjadi satu kerajaan yang diatur serta dijaga oleh raja dengan balatentaranya, juga para priyayi dan sebagainya. Untuk keperluan itu, raja dan pegawainya mesti mendapatkan gaji sehingga rakyat lalu dikenakan pajak. Zaman dahulu, kalau adil dan rakyat merasa keberatan terhadap pajak maka mereka lalu meminta tolong pada raja lain. Oleh karena rakyat sering mengadu raja yang satu dengan yang lainnya, ditambah pula ada raja-raja yang nakal; mau melebarkan kerajaannya sendiri, supaya semakin kuat dan kaya, maka sudah barang tentu di Hindia datang zaman peperangan yang terus-menerus yang memecah tanah air kita ini.

“Pada zaman, di negeri-negeri lain seperti Arab, Tionghoa, Eropa dan sebagainya mulai menyerbu kepulauan Hindia untuk berdagang atau mencari penghidupan yang lebih baik daripada di negerinya sendiri-sendiri. Begitulah, maka Hindia lalu menjadi terbuka untuk tukar-menukar hasil dengan negeri-negeri lain. Karena berbagai hasil industri dari negeri-negeri lain yang dikirim dengan kapal itu sangat berbeda sedemikian rupa dengan hasil-hasil industri serta kerajinan di Hindia sendiri – jadi barang-barang itu dianggap aneh – maka dagangan itu bisa laku di sini sehingga perdagangan menjadi kian bertambah ramai. Tetapi semakin ramainya perdagangan dengan berbagai bangsa dan negeri-negeri lain, juga semakin menambah kerumitan untuk mengatur pemerintahan di Hindia. Karenanya Hindia harus kuat dan rukun kalau mau terus dapat mengurus pemerintahan negerinya sendiri. Namun sebagaimana yang telah ditakdirkan Tuhan Allah, Hindia tidak begitu rukun, Hindia mulai tercerai berai sewaktu perdagangan itu mulai ramai. Karena itu, O.I.C. bisa mudah mendapatkan kemenangan sebagaimana yang sudah saya jelaskan di muka. Begitulah, lalu bangsa Belanda dapat menghimpun kekuatan dan memerintah Hindia sepenuhnya serta membikin berbagai peraturan negeri yang sesuai dengan ramainya perdagangan dengan negeri-negeri lain; terutama Belanda mengatur bermacam hal di Hindia yang semakin menambah ramainya perdagangan dengan negeri Belanda sendiri. Sehingga, kekayaan di Hindia dengan gampang ditarik ke Eropa. Perbuatan semacam ini, waktu itu, dikatakan sudah menjadi kodrat sehingga waktu itu dianggap adil juga.

“Pada zaman itu, jenis dan macam perkerjaan serta usaha rakyat di Hindia juga semakin banyak macamnya. Mereka lalu mulai meniru kepandaian dan kemajuan bangsa Eropa.

“Tidak lama setelah Hindia diperintah bangsa Belanda, di Eropa ada perubahan besar kemajuan manusia yang juga membawa perubahan besar di seantero dunia yakni mereka bisa membikin mesin-mesin dan pabrik-pabrik. Lalu mulai berdiri pabrik kereta api, pabrik kain atau cita-cita. Pendek kata, sekarang adalah zamannya mesin dan pabrik yang digerakkan oleh tenaga air dan api alias stoom dan kemudian dengan sistem elektrik dan sebagainya.

“Keberhasilan-keberhasilan baru itu tidak saja membawa dampak perubahan yang besar di negeri Eropa, tetapi juga di Hindia. Karena kita berada di Hindia, saya akan menerangkan perubahan yang terjadi di Hindia saja. Pabrik-pabrik di Eropa dapat menghasilkan barang-barang perdagangan seperti kain, perabotan rumah, perhiasan badan dan sebagainya. Jumlah barang itu amat banyak sebab sebuah pabrik dapat bekerja dengan cepat dan bagus. Jadi, barang hasil produksi pabrik bisa sangat banyak jumlahnya serta murah. Begitulah dalam hal tukar-menukar penghasilan antara Hindia dengan barang-barang dari pabrik Eropa maka barang-barang produksi Eropa dapat mengalahkan barang-barang bikinan Hindia yang kalah baik dan kalah murah ketimbang barang hasil pabrik Eropa. Kain tenun, batik, nila Jawa dan sebagainya mulai digantikan oleh kain cap-capan, cat-cat pabrik Eropa dan sebagainya. Karena itu, berbagai pekerjaan bumiputera seperti menenun, membatik, membikin nila Jawa dan sebagainya mulai mengalami kemunduran.

“Semakin lama perdagangan bertambah ramai sehingga toko-toko dan gudang-gudang di kota bertambah banyak juga. Mundurnya beberapa jenis pekerjaan yang lama lalu diganti dengan berbagai macam pekerjaan-pekerjaan yang baru, seperti menjadi juru tulis toko, mandor, klerk, kuli dan lain-lain sebagainya.

“Adapun di Eropa orang-orangnya yang kaya terus saja mendirikan pabrik-pabrik baru. Dan begitulah sampai ada pabrik membikin peralatan pabrik. Semakin lama pabrik-pabrik ini kian bertambah banyak serta bertambah banyak pula mesin-mesin yang dihasilkan oleh pabrik. Akhirnya, di Eropa sendiri ada kesulitan lahan untuk mendirikan pabrik-pabrik baru. Sehingga, sangatlah perlu, mesin-mesin baru itu dijalankan juga di tanah Hindia. Semenjak itu, maka di Hindia lalu ada spoor atau kereta api tram, pabrik gula, pabrik beras dan sebagainya. Pabrik-pabrik di Hindia ini bisa menyewa tanah atau membeli hasil bumi buat diolah di pabrik. Karena itu, pekerjaan para petani lalu juga terdesak. Hal itu jelas mengurangi produksi padi atau beras. Kalau dibandingkan dengan pertambahan penduduk produksi itu tidak mampu lagi mengimbangi keperluan hidup rakyat di Hindia.

“Sudah barang tentu terdesaknya berbagai macam pekerjaan asli milik bumiputera itu ada imbangannya dengan datangnya berbagai jenis pekerjaan baru sebagaimana yang sudah saya jelaskan di muka. Selain itu, ditambah lagi dengan adanya perkerjaan sebagai tukang-tukang besi di bengkel-bengkel, letter-zetter di drukkerij, masinis, kondektur kereta api, sopir dan sebagainya. Jadi nyatalah, karena terbawa oleh kemajuan manusia, negeri menjadi tambah ramai dan tambah ruwet pula. Semakin ramainya negeri itu memaksa supaya negeri itu pun tersebut dapat diatur dengan kuat dan baik. Hal yang mana juga semakin menambah biaya pengeluaran untuk itu. Artinya, pajak di negeri itu mestinya dinaikkan juga. Inilah jalannya kodrat, jadi sudah sebagaimana adilnya.

“Semakin ramainya sistem perdagangan itu, sudah barang tentu, juga membutuhkan pegawai-pegawai yang pintar untuk menulis dan menghitung atau memperkirakan. Selain itu, juga dibutuhkan pegawai-pegawai yang pandai berbahasa Belanda untuk dipekerjakan di toko-toko Belanda itu. Oleh karena itu, di Hindia juga perlu ditambah sekolah-sekolah bumiputera. Dengan sekolah itulah akan tercipta bumiputera yang pandai. Semenjak munculnya kepandaian itu, maka rakyat Hindia mulai bergerak maju dengan pesat menuju kemerdekaan bangsa dan tanah airnya. Hal ini juga sesuai dengan jalannya kodrat, jadi adil juga. Dan karena itu lalu ada Tuan-Tuan seperti V. Deventer yang memasukan sistem politik etis dalam pemerintahan di Hindia.

“Sekarang kita mesti menyelidiki dan mengurus juga apakah keramaian dan keruwetan zaman baru ini juga semakin menambah kemakmuran dan keselamatan rakyat di Hindia. Meskipun sudah nyata bahwa hal itu sudah menambah kemajuan dan kepandaian secara lahiriah pada Hindia.

“Saudara-saudara tahu, dalam situasi serba ramai begini, mulai timbul dua golongan manusia. Yaitu pertama, golongan yang memiliki pabrik-pabrik, maskapai-maskapai kereta api dan mobil, toko-toko dan sebagainya. Yang kedua adalah golongan kaum buruh dari berbagai macam bangsa atau mereka yang bekerja di perusahaan golongan pertama. Golongan kaum buruh ini asalnya adalah dari kaum petani, tukang batik, tukang tenun, pedagang kecil dari berbagai macam bangsa dan sebagainya. Sebagaimana tadi sudah saya terangkan, mereka kehilangan pekerjaannya karena terdesak oleh pabrik-pabrik, oleh mesin-mesin dan perdagangan besar.

“Semakin canggih dan berkembangnya pabrik dan mesin, semakin kuat pula desakannya menghilangkan pekerjaan asli bumiputera. Adapun Saudara-Saudara bisa mengerti bahwa pekerjaan asli tadi dapat memerdekakan perasaan rakyat. Tiba-tiba sekarang pekerjaan itu terdesak sehingga kaum buruh kian hari kian bertambah. Bersamaan dengan itu, maka atas usaha manusia yang pintar-pintar, dalam mesin dan pabrik semakin bertambah canggih, ada yang lalu dijalankan dengan sistem elektrik dan sebagainya. Kalau kerja mesin dan pabrik bertambah baik, maka manusia yang bekerja di mesin atau pabrik itu bisa dikurangi jumlahnya. Umpamanya begini, dahulu pabrik gula menggunakan pabrik kuno dan tiap tahun bisa memproduksi 50.000 karung gula, tetapi pabrik itu membutuhkan pekerja yang jumlahnya 500 orang. Sekarang pabrik dibikin semakin baik dengan mesin-mesin model baru, maka saban tahun lalu bisa menghasilkan 100.000 karung gula, sedangkan buruh yang dibutuhkan tetap hanya 500 orang. Jadi, nyatalah bahwa mesin baru bisa mendesak, mengurangi buruh sejumlah 500 orang. Sebab jika pabrik tidak dibikin baik, tentu harus ada 1.000 orang yang mesti bekerja di pabrik itu, untuk dapat meng­hasilkan 100.000 karung gula. Dari contoh ini, nyata bahwa semakin maju pabrik dan mesin-mesinnya tidak berarti semakin membutuhkan kaum buruh. Tambah maju mesin dan pabrik tambah banyak pula pekerja yang terdesak oleh kekuatan mesin. HaI yang mana semakin menambah susahnya manusia mencari pekerjaan atau penghidupan meskipun jenis dan macam pekerjaan bertambah. Pada saat ini lalu datang masanya kaum buruh saling berebut pekerjaan. Mereka mau dibayar murah, asal saja dapat kerjaan.

“Hal ini yang menyebabkan perubahan besar di desa-desa. Yaitu perubahan yang membikin ruwetnya mencari pekerjaan dan penghidupan penduduk asli. Itulah salah satu sebab juga yang menyebabkan kemunduran pemodal kecil dan kemakmuran serta keselamatan rakyat di Hindia.

“Tetapi selain dari ini ada sebab yang lain lagi, yaitu orang-orang yang bermodal yang mempunyai pabrik-pabrik, kapal, spoor, toko-toko dan sebagainya; orang-orang itu satu sama lain saling berebut keuntungan; sehingga sering tidak mendapatkan keuntungan. Umpamanya begini, mereka saling bersaing menjual murah asal saja barangnya lekas habis dan laku. Jadi meski untungnya hanya sedikit sering kali untungnya akhirnya juga menjadi banyak juga. Selama golongan bermodal itu masih bersaing begitu, tentulah rakyat atau penduduk yang enak sebab bisa membeli barang dengan harga yang murah sedang pengusahanya semakin merugi. Tetapi kaum saudagar besar, tambah lama tambah pintar juga. Akhirnya, lalu mereka bersatu dengan sesama golongan masing-masing. Sehingga lalu mereka bersama-sama menaikkan semua harga barang-barang kebutuhan manusia. Umpamanya saja sekarang semua pabrik gula di Hindia bersatu dalam Java-Suiker Syndikaat dan itu perkumpulan saudagar yang besar, tentu lalu bisa bersatu menaikkan harga gula bersama-sama atau kalau perlu menurunkan harga secara bersama-sama pula. Begitulah adanya dengan semua itu; rakyat bertambah lama bertambah susah hidupnya karena semua harga-harga kebutuhan manusia semakin naik terus harganya. Sedangkan hasil rakyat itu tidak pernah naik secara sepadan. Karena mereka berebut pekerjaan sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Nah, sekarang saudara-saudara juga sudah tahu sebab yang kedua yang menambah mundurnya kemakmuran rakyat. “Yang ketiga, tadi saya sudah terangkan, bahwa negeri yang bertambah ramai itu perlu diatur dengan lebih baik dan aturannya harus tambah baik juga. Dengan sistem aturan atau pemerintahan yang semakin baik tentu saja juga semakin menambah warna dan macamnya. Sehingga rakyat di desa sering tidak tahu atau mengerti betul dan menjadi bingung karenanya. Mereka hanya bisa mengerti dengan sesungguhnya kalau sudah merasa bahwa suatu aturan baru yang ada itu sangat diperlukan oleh mereka. Sedang banyak di antara mereka belum merasa perlu untuk itu. Perasaan rakyat di kota-kota dan sedikit berbeda dengan perasaan rakyat di desa-desa yang dekat dengan kota-kota itu. Sedangkan perasaan penduduk di desa-desa yang jauh dari kota-kota itu juga lain lagi. Begitulah, sistem pemerintahan yang satu macam dari atas, sering hanya sesuai dengan perasaan dan kebutuhan penduduk di suatu tempat dan belum tentu sesuai dengan kebutuhan penduduk di tempat lain. Sebaliknya, jika setiap pemerintahan itu mengadakan sistem aturan sendiri-sendiri di tiap-tiap tempat, tentulah lalu menjadi kekurangan tenaga dan kebanyakan kerjaan. Hal ini semua sering menyebabkan susahnya kehidupan rakyat. Apalagi rakyat sudah semakin pintar dan bertambah besar juga keperluannya guna untuk hidup yang pantas. Sehingga sekarang ini rakyat sudah mempunyai keinginan untuk turut mengatur negeri dan utamanya untuk turut mengatur penghidupannya di tempat masing-masing. Dan umumnya ingin turut memerintah di seantero Hindia ini tanpa kecuali.

“Perubahan karena ketiga sebab tadi sudah menambah sukarnya kehidupan rakyat sedang sekarang ada begitu banyak yang mesti diikuti. Sehingga peraturan agama mendapat persaingan dengan peraturan negeri dan peraturan mencari penghidupan. Akhirnya, orang-orang yang tidak tebal imannya lalu tidak lagi setia kepada kebaikan dan ajaran agamanya. Ajaran agama pun turut mengalami kemunduran. Begitulah, maka semakin lama orang-orang jahat juga semakin bertambah banyak.

“Jadi, nyatalah bahwa kesukaran dan kesusahan rakyat Hindia sekarang ini karena terbawa oleh kodrat atau kepastian sesuai dengan jalannya kemajuan dunia. Zaman yang sukar demikian ini juga sudah sampai di Eropa yaitu di negeri Belanda sendiri dan di mana saja. Di seantero dunia tentu suatu ketika akan datang masa atau zaman serba susah bagi rakyat negerinya masing-masing.

“Saudara-saudara! Meskipun jalannya perubahan begini, namun kita tidak boleh bilang 'masa bodoh' atau 'na, ya sudah, kita diam saja!' Ketahuilah, orang yang diam saja dan tidak mau berusaha itu sama halnya melawan kodrat juga. Sebab habis malam pasti datang siang. Habis susah pasti datang senang. Dan untuk mendapatkan kesenangan itu, kita manusia wajib berusaha. Dan dengan berusaha, kita manusia pasti akan dapat memakmurkan dan memuliakan kehidupan rakyat lahir dan batin. Dan kalau Saudara-Saudara sudah mengetahui kewajiban berusaha itu, maka Saudara-Saudara akan bisa membantu kemajuan tiap-tiap zamannya.

“Zaman serba susah sekarang ini memang sudah kodrat, tetapi kodrat juga sudah mendatangkan benih-benih yang akhirnya pasti mendatangkan keselamatan pada manusia. Kehidupan yang susah menimbulkan niat manusia untuk berusaha memperbaiki kehidupannya itu. Dan usaha manusia yang disebabkan oleh kesusahannya supaya bisa mendapatkan kesenangan. Usaha manusia itu sendirilah yang menumbuhkan benih-benih kesenangan yang akan memuliakan lagi manusia di akhir zamannya. Bagaimanakah manusia berusaha untuk memperbaiki hal itu? Di sini akan saya terangkan sedikit.

“Tadi saya sudah terangkan bahwa dalam urusan lahir, perkara harta benda, ada golongan manusia yang sekarang ini menguasai. Yakni kaum yang bermodal yang mempunyai pabrik-pabrik, spoor, bank-bank, toko-toko, uang dan sebagainya. Kaum ini jumlahnya sangat sedikit sekali ketimbang jumlahnya kaum buruh. Tetapi kaum yang bermodal, saudagar-saudagar besar itu, pada zaman sekarang ini sedang menang dan berkuasa. Mereka pintar dan kuat sebab mereka bersatu antar sesarma golongannya buat bersama-sama menumpuk kekayaan. Sebagai golongan saudagar, sudah barang tentu mereka bermaksud terus mencari keuntungan. Begitulah, karena mereka mempunyai kepintaran dan kekuasaan, mereka mempergunakannya untuk mendapatkan keuntungan bagi golongannya. Banyak di antara mereka yang memiliki sifat adil dan berperkemanusiaan yang baik. Tetapi sebagai golongan saudagar, mereka 'wajib' mencari keuntungan. Jadi, karena konsekuensi dari maksud berusaha atau dagang dan bukan karena maksud jahat, maka terpaksa mereka mencari keuntungan itu. Sekarang hendak ditanyakan, dari mana mereka dapat menarik keuntungan itu?

“Sudah tentu keuntungan itu didapat dari pabrik-pabrik atau usaha perdagangan mereka atau perusahaan di mana kaum buruh bekerja di situ. Dan juga dari adanya trust atau syndikaat dari konsumen yang membeli. Jadi mereka mendapatkan keuntungan itu dari pekerjaan para kaum buruh serta dari rakyat yang menjadi konsumennya. Begitulah, kaum bermodal yang berkuasa sangat gigih dalam berusaha, berdasarkan kepintaran serta kerukunan antar kaumnya. Maka mereka lalu bisa menarik keuntungan dari rakyat konsumen dan kaum buruh yang bekerja.

“Sebaliknya, di mana ada keuntungan, di lain pihak pasti ada kerugian. Karena kaum bermodal yang mendapatkan keuntungan, maka yang merugi adalah kaum buruh serta rakyat konsumen. Dengan demikian, golongan ini kehidupannya menjadi susah sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Jadi nyatalah dalam urusan lahiriah, kaum bermodal sekarang ini memang pintar, kuat, dan berkuasa meskipun jumlahnya hanya sedikit. Mereka dalam persaingan memperebutkan kebutuhan, memusuhi kaum buruh yang jumlahnya banyak itu dan menang. Apa sebabnya mereka bisa menang? Karena mereka berkuasa. Yang pintar, kuat dan berkuasa, tentulah yang menang. Di sinilah rahasia kodrat atau jalannya usaha yang penting untuk kaum buruh dan rakyat. Pintar, kuat dan berkuasa, selamanya pastilah menang!

“Tadi sudah saya terangkan bahwa kaum buruh tambah lama makin banyak jumlahnya, sedang rakyat makin lama juga makin pintar. Mereka dipintarkan oleh kaum bermodal. Sebab ingin mempunyai pegawai yang pintar menulis, menghitung dan sebagainya, mereka terpaksa membantu berdirinya sekolahan-sekolahan. Yang kedua, rakyat mendapatkan kepintaran karena kehidupan yang melarat itu, memperkeras usahanya. Di sini kaum bermodal dipaksa oleh perusahaannya sendiri supaya memberi senjata kepada kaum buruh dan rakyat untuk memperjuangkan maksud masing-masing. Artinya telah tumbuh benih zaman baru.

“Sebab kepintaran kaum buruh dan rakyat selalu bertambah, maka mereka berusaha supaya dapat memenangkan dalam persaingan perebutan rezeki atau hasil duniawi. Yaitu berebut memusuhi kaum bermodal. Ini juga telah sesuai dengan zaman atau kodrat, jadi nyata juga adilnya.

“Bagaimana kaum buruh dan rakyat bisa menang ialah dengan jalan mencari kekuatan dan kekuasaan juga. Dengan kepintaran, kekuasaan dan kekuatan, itulah mereka mendapatkan jalan kemenangan. Bagaimana mereka bisa kuat dan berkuasa yaitu dengan rukun bersatu atau mendirikan perkumpulan. Begitulah, maka perkumpulan-perkumpulan di tanah Hindia sekarang ini ada banyak jumlahnya, karena memang sudah tuntutan sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Dengan pendek kata, memang sudah merupakan tuntutan zaman.

“Karena itu, ada perkumpuIan-perkumpulan yang sangat adil dan tidak bisa dihalang-halangi atau dibunuh oleh siapa pun juga manusianya. Sebab, manusia yang mau membunuh mati perkumpulan yang lahir karena tuntutan zaman, boleh dikatakan mau membalik jalannya matahari. Hal yang memang sungguh mustahil dilakukan. Memang bisa juga di sana-sini sebuah perkumpulan mengalami kemunduran sementara waktu, atau boleh diumpamakan sedang sakit atau pingsan, tetapi umumnya perkumpulan yang lahir karena tuntutan zaman kemajuan, setiap langkah akan maju terus selangkah demi selangkah tanpa henti. Segala rintangan justru semakin menambah pintar mereka untuk terus maju.

“Tetapi patut diketahui betul-betul maksud dan tujuan perkumpulan kita. Maka perlulah di sini saya menerangkan terlebih dahulu bahwa dalam hal perkumpulan kaum buruh dan rakyat ada tiga caranya.

“Jalan yang pertama, rakyat mesti rukun bersatu bersama-sama berusaha atau berdagang sendiri, yaitu dengan jalan mendirikan koperasi. Dengan mengumpulkan uang maka mereka harus mendirikan toko-toko sendiri untuk berjual beli barang-barang kebutuhan sendiri. Rakyat lalu tidak mau membeli di lain tempat selain di tokonya sendiri. Tidak mau menjual kepada saudagar lain, kecuali pada tokonya sendiri itu. Maka dengan jalan seperti itu, keuntungan bisa masuk ke dalam tokonya sendiri itu atau dalam perusahaannya sendiri. Dan dengan bersatu mereka saban waktu bisa membagi secara adil keuntungannya mereka sendiri itu. Artinya keuntungannya bisa dibagi dengan adil di antara rakyat konsumennya atau pelanggannya dengan penjualnya pada toko atau perusahaan koperasi itu. Dengan cara berusaha semacam ini, keuntungan toko atau perusahaan, kaum bermodal itu lalu menjadi berkurang, akhirnya hilang sama sekali sebab pindah ke tangan rakyat. Sesungguhnya, jalan berusaha seperti koperasi ini memang sangat halus, tetapi amat lama berhasilnya dan sering mati di tengah jalan, kalau yang memimpin dan yang dipimpin tidak setia dan telaten dengan sungguh-sungguh. Kita harus tidak lupa bahwa kaum bermodal, memang sangat pintar membunuh toko-toko dan perusahaan rakyat yang modalnya cuma sedikit itu. Meskipun begitu, rakyat harus wajib berusaha terus-menerus mendirikan koperasi. Itulah sebabnya di sini perlu dipilih pimpinan dari orang-orang yang paling pintar, terbaik dan paling setia sendiri. Sebab kalau tidak begitu, akhirnya koperasi itu akan sakit dari dalam dan mati juga. Dari itu, bukan sembarang orang boleh dijadikan pemimpin-pemimpin atau pengurus koperasi.” (“Betu1!” kata vergadering dengan sorak sorai).

“Mengingat beratnya jalan yang pertama maka ada cara lain yang harus dijalani oleh rakyat dengan melalui jalan yang kedua yaitu perkumpulan pekerja atau bersatu dalam vakbond. Di sini para rakyat yang menjadi kaum buruh bersatu dengan sesama buruh yang sesuai dengan golongan pekerjaannya masing-masing. Seperti yang bekerja di perusahaan spoor bersatu dalam vakbond pegawai spoor yang bekerja sebagai letter-zetter bersatu dalam vakbond-letter-zetter-drukker dan sebagainya. Dengan berkumpul sesuai dengan jenis pekerjaannya itu maka kaum buruh dapat merebut kekuatan dan kekuasaan para kaum bermodal atau yang mempunyai spoor, drukerij dan sebagainya. Begitulah, kaum yang bermodal, yang memberi pekerjaan pada kaum buruh mendapatkan imbangan dengan vakbond-vabond. Sebab dengan bersatu dalam vakbond-vakbond itu kaum buruh lalu bisa berkuasa meneruskan jalannya pekerjaan atau perusahaan, juga bisa berkuasa bersama-sama untuk menghentikan jalannya perusahaan itu. Meski yang memberi pekerjaan juga berkuasa berbuat serupa itu. Adapun jika hanya yang memberi pekerjaan yang berkuasa berbuat serupa itu, sedang kaum buruh tidak, tentulah kaum priyayi atau kaum yang pemberi kerja (yang bermodal) lalu berkuasa sendiri dan bertindak sewenang-senang, memerintah dan membayar si buruh. Sehingga si pemberi kerja bisa menarik keuntungan yang sebesar-besarnya dari kerja kaum buruh. Kaum buruh pun kehidupannya bertambah miskin terus-menerus. Oleh karena itu, cara yang kedua atau jalan vakbond-vakbond sangat perlu dan penting sekali bagi rakyat yang menjadi buruh. Karena kaum buruh lalu bisa memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengimbangi kekuasaan kaum pemberi kerja. Dengan perimbangan kekuasaan sedemikian maka kaum buruh bisa meminta perbaikan gaji dan lamanya jam kerja dalam sehari-harinya. Meminta supaya jangan bekerja terlalu lama sehingga menyebabkan tubuh lekas hancur. Meminta supaya pekerjaannya dihargai dan jangan mereka dipecat dengan mudah seperti barang yang tak bernyawa. Jadi kaum buruh lalu berkuasa merebut keuntungan perusahaan serta lalu bisa memperbaiki kehidupannya. Inilah usaha yang adil dan sangat baik, jadi mustinya bisa dijalankan dan sesuai dengan maksud serta tujuannya. (“Betul, mufakat!” kata vergadering dengan tepuk tangan yang ramai!).

“Di sini saya sudah menerangkan dengan singkat dua jalan dan tinggal menerangkan jalan yang ketiga, yaitu pergerakan politik namanya. Arti politik yaitu 'mengurus dan mengatur negeri' atau 'turut berbuat' ataupun juga 'berusaha turut berbuat begitu'. Apa sebabnya rakyat dan kaum buruh harus mempunyai perkumpulan politik?

“Tadi saya sudah menerangkan bahwa negeri ini bertambah ramai, aturan pemerintahan lalu bertambah ruwet, hal yang mana sering membikin salah pengertian pada rakyat. Sedang keadaan di sana-sini berubah-ubah dan berbeda-beda. Sehingga banyak aturan negeri yang perlu diperbaiki supaya sesuai dengan keadaan dan keperluan rakyat banyak. Gupermen sungguh repot mengatur hal-hal yang demikian ini sendirian, jika rakyat tidak turut campur tangan. Dan rakyat tambah lama tambah pintar juga jadi ingin turut campur tangan mengurus dan mengatur negerinya sendiri. Oleh karena hal-hal ini, rakyat seharusnya ikut campur tangan dalam mengurus dan mengatur negerinya. Jadi, semua aturan dan urusan pemerintahan negeri mestinya diselenggarakan melalui mufakat terlebih dahulu dengan rakyat. Untuk hal itu maka perlu dibentuk perkumpulan rakyat. Yaitu sebagian dari orang-orang yang dipilih harus mengurus desa dan bertempat tinggal di situ juga. Dan ada juga yang mengurus sebuah afdeeling serta mengurus seantero negeri Hindia dan lain-lain. Mereka boleh dinamakan 'wakil rakyat pembikin wet'. Sebab mereka harus dipilih oleh rakyat dan mengatur negeri dengan wet yang sesuai dengan keperluan rakyat. Apa sebabnya sekarang rakyat harus turut mengatur, mengurus dan memerintah negerinya? Tadi saya sudah bilang bahwa ada orang yang memperumpamakan kita rakyat Hindia sebagai anaknya Gupermen Belanda. Tetapi golongan kaum yang bermodal, yang kaya-kaya itu juga anaknya Gupermen Belanda. Jika dua anak itu berebutan hasil dunia atau rezeki, siapakah yang akan dibantu oleh ayahnya? Sudah barang tentu anak yang sudah pintar dan sudah besar. Sebab ada pepatah mengatakan 'saudara muda mesti menurut kepada yang tua'. Jadi semakin pintar dan kuat saja kaum bermodal itu dan tambah menang juga pengaruhnya terhadap semua aturan negeri. Karena pengaruhnya yang besar itu dapat menyusahkan peraturan negeri yang sesuai dengan koperasi dan vakbond atau jalan usaha yang pertama dan kedua tersebut. Ya, dengan pengaruh kaum bermodal dalam pemerintahan negeri maka keperluan rakyat mudah dikalahkan, sehingga akan terus-menerus menjadi celaka. Oleh karena itu, pihak rakyat harus ikut bergerak dalam politik juga. Selain dari itu, rakyat yang semakin pintar, ada juga yang memperumpamakan kita rakyat Hindia sebagai muridnya Gupermen Belanda. Dan kalau rakyat itu atau anak itu atau murid itu sudah cukup kepandaiannya serta kekuatannya, tentulah orangtua atau guru mau melepaskan anak atau muridnya itu. Itu artinya rakyat Hindia lalu diperkenankan untuk berkuasa memerintah negerinya sendiri. Dan merdekalah Hindia ini. Kapan bisa merdeka? Na, itu tergantung dari niat anak atau murid yang belajar. Jadi kalau tekun belajarnya dan terus berusaha mendapatkan kepintaran dan kekuatan mengurus negerinya itu, maka suatu waktu atau zamannya bisa dipercepat, dan cepat juga kita dipandang cukup untuk memerintah negeri dan hidup kita sendiri (“Betul-betul,”kata vergadering dengan sorak-sorai yang riuh dan damai).

“Adapun tempat belajar itu, ialah dalam pergerakan perkumpulan politik! (“Cocok,” sambut vergadering lagi dengan gembira).

Saudara-saudara, di sini saya sudah menerangkan tiga cara berusaha rakyat. Adapun kalau rakyat dalam tiga jalan itu, betul-betul sudah pintar, kuat dan berkuasa dan kalau kaum yang bermodal yang kaya-kaya itu masih selalu menarik keuntungan dari rakyat, nah, di situ wajiblah kita berusaha supaya cita-cita pergerakan kita berhasil.

“Komunisme itu ialah ilmu mengatur pergaulan hidup supaya dalam pergaulan hidup itu orang-orang jangan ada yang bisa memeras satu sama lainnya. Ilmu itu mau menghilangkan bentuk perdagangan biasa seperti yang ada sekarang ini. Jadi, modal saudagar-saudagar yang ada sekarang ini, seperti pabrik-pabrik, kereta-kereta api, kapal-kapal, gudang-gudang dan lain-lain, semua itu supaya dijalankan oleh rakyat sendiri tidak lagi oleh para saudagar-saudagar itu. Untuk keperluan itu, umpamanya mesti diatur dengan cara begini:

(1) Kaum buruh harus bekerja di pabrik-pabrik dan tanah-tanah serta menghasilkan kain, lena lawon, kopi, teh, gula dan sebagainya;

(2) Kaum petani harus bekerja di sawah-sawah untuk menghasilkan beras, ketela, padi dan sebagainya;

(3) Hasil kaum buruh dan kaum tani itu lantas dimasukkan dalam gudang-gudang umum atau gudang-gudang rakyat.

(4) Kalau ada keperluan untuk menukar hasil yang dengan hasil yang lain, diadakan tukar-menukar, sehingga ini lalu ada;

(5) Kaum buruh yang harus bekerja di kereta api, tram, kapal, pos, telegram dan sebagainya. Sudah tentu kereta api, tram dan lain-lain itu masih dinaiki orang juga. (Vergadering tertawa);

(6) Supaya tukar-menukar ini bisa adil, kaum buruh dan kaum tani mengadakan majelis-majelis yang tiap ada perlu atau tiap bulan atau tahun menyelenggarakan rembugan atau vergadering-vergadering untuk memberi makan dan pakaian sampai cukup kepada semua buruh dan tani yang bekerja di situ, juga yang sakit, yang belum bisa kerja atau masih anak-anak atau yang sudah tidak bisa kerja atau sudah tua;

(7) Majelis-majelis itu juga harus memutuskan apa yang mesti diproduksi atau ditanam, misalnya kalau di gudang umum kebanyakan korek api, tidak habis untuk keperluan rakyat, pabrik korek api itu lalu ditutup dan buruh yang bekerja di situ pindah untuk kerja membikin rumah-rumah. Kalau kebanyakan beras, tidak habis dimakan sehingga bisa rusak, lalu orang-orang tani tidak menanam padi, tetapi menanam tembakau. Begitu seterusnya.

“Hal-hal ini harus diputuskan oleh majelis-majelis di atas. Jadi tidak seperti sekarang, rakyat kekurangan beras, tetapi para saudagar tetap menanam tebu untuk gula, asal saudagar itu dapat untung banyak. Mereka tidak peduli dengan keperluan hidup orang senegeri sendiri.

(8) Majelis-majelis itu umpamanya diatur begini:

a. Di tiap-tiap desa didirikan satu majelis yang setiap mau ada vergadering, utusan-utusannya atau tetua-tetuanya semua berasal dari desa itu dan dipilih oleh para petani dan buruh di desa itu juga. Di vergadering yang mempunyai hak suara hanya utusan-utusannya, tetapi rakyat sedesa harus diizinkan boleh melihat dan mendengarkan, agar utusan-utusan itu tidak berbicara semaunya sendiri, tetapi memperhatikan keperluan hidup orang sedesa. Sehabis membuat keputusan, maka majelis itu bubar dan utusannya lalu bekerja lagi seperti biasa.

b. Di pabrik-pabrik para buruh itu mendirikan Majelis Pabrik dengan aturan seperti butir a.

c. Di kapal-kapal, spoor dan tram, tiap-tiap vaknya umpamanya seperti itu juga.

d. Mejelis-Majelis Desa, majelis-majelis pabrik, majelis-majelis spoor dan sebagainya ini lalu tiap atau perlu ada tiga bulan sekali, umpamanya, mengirim utusan-utusan untuk mengadakan vergadering di kota-kota terdekat. Mereka mengadakan vergadering dan memutuskan apa yang mesti dikerjakan semua orang, apa yang mesti ditukar-tukarkan dan sebagainya. Vergadering-nya utusan desa, pabrik dan lain-lain ini boleh dikatakan sebagai 'Majelis Kota'.

e. Majelis-Majelis Kota sewilayah tiap bulan, umpamanya dan kalau ada perlunya mengirim utusan-utusan untuk pergi ke ibukota negeri. Dan di situ utusan-utusan tadi mengadakan vergadering untuk memutuskan aturan-aturan besar bagi keperluan hidup kaum buruh dan tani senegeri. Majelis ini boleh dikatakan Majelis Negeri.

f. Semua utusan dari semua majelis-majelis ini kalau sudah pulang harus menerangkan pada semua orang apa yang sudah diputuskan dalam Majelis Negeri. Keputusan Majelis Kota, tidak boleh melanggar keputusan Majelis Negeri, sebab Majelis Negeri sifatnya lebih tinggi dan umum. Keputusan Majelis Desa dan Majelis Pabrik tidak boleh melanggar keputusan Majelis Kota dan Majelis Negeri sebagai yang lebih besar dan umum. Kalau keputusan-keputusan itu sudah diumumkan, maka harus diikuti dan dikerjakan oleh orang senegeri dan semua utusannya harus ikut bekerja lagi sebagai buruh atau tani seperti biasa. Semua vergadering majelis-majelis harus ada “oppen baar” (bersifat terbuka) di mana rakyat boleh melihat dan mendengarkan sesukanya.

g. Majelis-majelis ini tiap satu tahun sekali umpamanya harus memilih bestuur harian seperti presiden, komisaris dan sebagainya. Kalau ada presiden atau komisaris yang berbuat susuka hatinya, harus dilepaskan oleh majelis dan diganti yang baru.

h. Untuk tingkat desa, bestuur harian ini cukup tiga orang saja umpamanya, sedangkan di kota boleh sembilan atau lima belas atau dua puluh lima.

i. Komisaris-komisaris Majelis Negeri itu mendapat bagian pekerjaan, umpamanya menjadi presiden spoor dan tram senegeri, presiden pertanian satu komisaris dan presiden sekolahan satu komisaris. Begitu seterusnya.

j. Kalau ada orang jahat lalu dihukum oleh Majelis Hukum yang terdiri dari lima orang umpamanya dan kelima orang itu dipilih orang sedesa atau sepabrik. Dan di kota ada Majelis Hukum Kota umpamanya. Dan Majelis Hukum Negeri dipilih oleh Majelis Negeri. Orang-orang yang dipilih sebagai Majelis Hukum boleh mengadakan kunjungan ke Majelis Hukum Kota atau Majelis Hukum Negeri.

Gambar majelis-majelis itu umpamanya begini:



“Di atas ini, model a sampai j ialah rancangan dari peraturan pergaulan hidup yang berdasarkan ilmu Komunis. Jadi tidak ada lagi pedagang, priyayi, atau amtenar, pajak dan sebagainya.

“Semua rakyat jadi lantas bisa mengatur sendiri pekerjaannya, hidupnya dan sebagainya. Dan orang-orang yang memeras dan menindas lalu juga menjadi hilang.

“Sudah tentu saja, keterangan di atas itu hanya rancangan singkat sebab sesungguhnya di kemudian hari akan lebih baik dan lebih lebar lagi.

“Aturan dagang dengan negeri lain diputuskan oleh Majelis Negeri. Jadi, tidak ada orang atau pedagang yang bisa berdagang semau-maunya sendiri dengan negeri-negeri lain.

“Jadi, aturan pergaulan hidup yang berdasarkan paham komunis ada perbedaan besar dengan aturan sekarang ini yang kita sebut sebagai aturan hidup kapitalis. Ya, malahan boleh dikatakan kebalikannya. Sebab itu komunisme dikatakan revolusioner dan membalik-balikkan keadaan.

“Pemerintah di Hindia sekarang ini bisa membikin aturan pergaulan hidup berdasarkan paham seperti ini kalau ia mau.

“Sudah barang tentu, aturan ini tidak lantas bisa diterapkan besok pagi di Hindia, tetapi harus diusahakan. Dan kalau usaha yang bertahun-tahun itu sudah masak lantas akan datang sendiri di kemudian hari.

“Orang-orang yang tergerak hatinya untuk berusaha mewujudkan aturan pergaulan hidup seperti komunisme itu maka disebut sebagai orang komunis.

“Vakbond-Vakbond yang baru mau berusaha seperti itu. Tetapi vakbond-vakbond yang kuno dan vakbond buruh tinggi tidak mau. Sebab vakbond-vakbond itu anggota-anggotanya sudah hidup senang dan mereka telah senang dibayar lebih tinggi oleh kaum kapitalis untuk ikut menindas dan memeras kaum buruh rendah atau kecil. Dia adalah orang-orang kapitalis dan lupa pada orang-orang kecil. Itulah sebabnya mereka tidak suka dengan urusan politik. Mereka tidak suka berusaha untuk mengadakan perubahan peraturan negeri.

“Begitulah, maka artinya di seantero Hindia ini tidak akan ada lagi kelaparan dan kesusahan lahir. Dengan demikian, perbaikan batin tidak bisa dihambat lagi oleh kemiskinan. Semua orang di sini lalu hidup cukup dan selamat serta mendapatkan peralatan lahir untuk menjalankan ajaran agama, jadi bisa memperbaiki batiniah. Pencuri, perampok dan sebagainya lalu tidak ada. Sebab sudah baiknya kehidupan batiniah manusia. Dan semua manusia lalu hidup rukun bersama-sama menuju pengetahuan kebaikan, mencapai surga di dunia dan di akhirat. Inilah keadaan zaman akhir yang bentuknya masih baru dapat dibayang-bayangkan saja.

“Saudara-saudara, di sini saya sudah menerangkan jalannya kepastian dari zaman dahulu hingga zaman sekarang dan akhir zaman. (“Betul! Semua! Mengerti! Mufakat!” kata suara-suara ramai dari vergadering).

“Kalau manusia sudah mengetahui jalannya kepastian zaman, maka kita wajib mengikuti laku dan kehendak zaman itu, agar kita, anak dan cucu kita semua manusia bisa hidup mulia. Terutama di akhirnya. Oleh karena sekarang kita ada di zaman serba susah maka kita harus selalu maju untuk menyongsong datangnya zaman senang, yaitu zaman Komunisme yang akhir. Sekarang ini kita mesti menanam dan memelihara benih-benih zaman akhir itu. Sebab kita harus tahu bahwa benih-benih itu akan menjadi pohon-pohon atau zaman baru yang buahnya amat lezat rasanya bagi kita atau anak cucu kita. Itulah kewajiban kita, wajib karena kodrat. Jadi, sesuai dengan wet perjalanan zaman Tuhan Allah. Oleh karena itu, perkurnpulan P.K. kita semua ini mempunyai maksud tidak lain supaya rakyat bisa lekas pintar dan kuat untuk mengikuti aturan zaman. Dengan berkumpul, kita bisa ber-vergadering dan bermusyawarah tentang segala hal. Lalu kita bisa mengumpulkan uang secara bersama-sama untuk modal permusyawarahan itu. Kita lalu bisa mengumpulkan modal untuk mendirikan surat kabar yang menambah kepandaian rakyat yang membacanya. Di dalam surat kabar itu kita bisa mufakatkan tentang bermacam-macam hal keperluan rakyat. Serta di dalam vergadering, surat kabar kita dan perkumpulan-perkumpulan, maka kita lalu bisa hidup rukun berusaha bersama-sama guna memperbaiki kehidupan rakyat kita serta menyongsong datangnya zaman senang di akhir nanti. Perkumpulan akan membawa kita hidup rukun, kuat serta kuasa untuk mencari hal-hal bagi keselamatan hidup kita. Itulah sebabnya, sekarang ada perkumpulan P.K. yang sesuai dengan kodrat zaman. Perkumpulan P.K. akan membantu rakyat Hindia melalui jalan usaha koperasi, vakbond dan akan melalui jalan usaha politik untuk membantu keperluan rakyat atau orang banyak. (“Betul. Baik” kata vergadering dengan riuh dan bertepuk tangan sangat ramai).

“Mengingat tujuannya tadi sudah saya terangkan, maka nyatalah bahwa tujuan perkumpulan ini sangat baik sekali untuk semua rakyat Hindia semua bangsa: Jawa, Ambon, Belanda, Arab, Tionghoa dan sebagainya. Dan juga sangat baik bagi semua orang yang beragama apa saja, seperti Kristen, Islam, Buddha dan sebagainya. Mereka semua manusia, sedang perkumpulan kita bermaksud memuliakan semua manusia yaitu maju sesuai dengan jalannya kodrat. Jadi di sini saya sudah membuktikan bahwa perkumpulan P.K. sangat baik untuk semua bangsa dan semua agama.

“Karena itu, wahai rakyat dan penduduk Hindia, lekaslah kuatkan dan bantulah perkumpulan kita ini. Lekaslah menjadi anggotanya. Yang terpelajar, lekaslah berusaha memimpin, yang masih bodoh-bouoh dengan berusaha supaya dipilih oleh orang banyak menjadi pemimpin. Bantulah pergerakan kita melalui surat kabar kita dan dalam. (“Mufakat. Betul,” kata vergadering dengan merdu-merdu, ramainya).

“Tuan-Tuan bangsa Belanda yang adil, Tuan-Tuan segala bangsa dan segala agama. Bantulah perkumpulan kita supava kita semua bangsa dan semua agama bersaudara dengan baik. (“Bravo. Baik Begitu!kata suara ramai yang amat gembira dari vergadering dan dibarengi oleh tepuk tangan yang riuh dan lama).

Sampai di sini maka Tuan Tjitro berhenti berpidato. Presiden lalu memperkenankan semua orang yang mempunyai pendapat lain untuk bertanya atau mendebat. La1u majulah Kyai Noeridin, guru dari Pesantren Sendang dan berkata: “Saya ada pikiran lain dengan Tuan Tjitro, kalau benar semua yang tadi ia katakan, maka pergerakan P.K. mau memakmurkan manusia dalam urusan lahir, yakni dalam hal duniawi atau harta benda dunia, dalam pikiran saya, hal itu justru sangat berbahaya bagi manusia. Karena urusan batin atau masalah agama serta kepercayaan kepada Gusti Allah lalu menjadi rusak. Sebab manusia lalu hanya memperhatikan urusan lahir lebih dahulu. Untuk memperbaiki akal budi manusia, maka yang pertama-tama harus diutamakan urusan batin terlebih dahulu. Jadi nomor satu haruslah agama dimasukkan dalam hati sanubari manusia. Karena masuknya agama ke dalam jiwanya, manusia akan dengan sendirinya menjadi baik dan bersih. Maka tentulah akal budi dan urusan lahiriah akan menjadi baik dengan sendirinya. Oleh karena itu, saya sepakat bila semua pemuda harus dibikin alim dahulu di langgar dan pesantren, di mana semua guru agama akan bisa menunjukkan jalan bagi kebaikan batin, agar supaya bisa mulia lahir dan batin. Dalam hal ini, saya memandang kurang perlu adanya pergerakan ini.” (Sebagian dari vergadering sepakat dan bersorak-sorak).

Sampai di situ, maka Tuan Edelhart yang terkenal sebagai penolong orang-orang desa yang miskin maju dan berkata: “Kalau saya tidak salah mengerti, maka Tuan Tjitro mengajak rakyat bergerak supaya tanah Hindia merdeka dan terlepas dari pemerintahan Belanda. Hal itu saya tidak sepakat, karena sekarang ini rakyat di Hindia belum siap untuk mengurusi negerinya sendiri. Umpamanya besok pagi Gupermen Belanda pulang ke negerinya, maka Bumiputera pasti akan kalang kabut dan bangsa-bangsa lain seperti Jepang, Inggris dan lain-lain tentu akan datang dan menaklukkan tanah Hindia. Sehingga tanah Hindia tidak untung apa-apa dan hanya berganti pembesar bangsa lain saja.” (Banyak yang bersorak karena sepakat).

Tuan Mangoentjokro, Asisten Wedono Bulu Rejo yang sudah pensiun, ikut mendebat pula dan berkata: “Tadi Tuan Tjitro sudah menerangkan apa sebab-sebabnya Bumiputera sekarang ini serba susah dan hidup melarat, tetapi menurut hemat saya, melaratnya rakyat itu karena salahnya sendiri. Sebab mereka tidak menghargai uang dan tidak menyimpan uangnya.” (Separo vergadering menyatakan sepakat dengan bertepuk tangan).

Sekarang Haji Mamirah berdiri dan berkata: “Sepanjang pikiran saya, maka rakyat memang mempunyai kesalahan sendiri. Hidup mereka bertambah susah sebab mereka suka membeli barang-barang dari luar negeri sedang tanah Hindia bisa rnembikin kain-kain tenun, pakaian dan sebagainya. Karena itu, untuk memakmurkan kehidupan rakyat, nomor satu hendaknya dihidupkan juga pekerjaan-pekerjaan yang dahulu-dahulu, seperti menenun, membatik dan sebagainya.” (Banyak yang bertepuk tangan sebab sepakat)

Lalu ada seorang pemuda bernama Tuan Soebono, ikut membantah dan berkata: “Saya melawan keras pendapat Tuan Tjitro. Tuan Tjitro adalah seorang yang jahat dan penjual bangsa. Begitupun perkumpulan P.K. ini sangat jahat sekali. Karena di situ mau dihidupkan paham P.K., sedang paham itu bersifat internasional. Artinya mencintai semua bangsa dan tidak memakmurkan bangsa kita sendiri. Paham P.K. ini jelas-jelas mau mengadu rakyat bumiputera yang miskin dcngan yang kaya, supaya bangsa kita terpecah-belah dan tidak bisa kuat. Itulah jahatnya paham ini untuk kita bangsa Jawa.” (Separoh vergadering bersorak dan bertepuk tangan).

Sampai di sinilah perdebatan itu berlangsung. Dalam verslag hanya diambil intinya saja. Karena tidak ada yang mendebat lagi, maka Presiden lalu berdiri dan menjelaskan bahwa Tuan Tjitro siap menjawab semua yang tuan-tuan telah tanyakan. Adapun jawaban Tuan Tjitro adalah sebagai berikut.

“Saudara-saudara vergadering yang terhormat, sesungguhnya saya sangat senang hati bahwa dari lima Tuan yang mendebat. Dengan perdebatan semacam ini, maka urusan kita lalu bisa semakin terang lagi serta sangat baik bagi untuk menjelaskan maksud dan tujuan P.K. Sekarang saya mau menjawab Kyai Noerdin lebih dahulu. Tadi saya sudah menerangkan bahwa kita mengusahakan perbaikan lahir, supaya perbaikan batin tidak tergoda oleh kesusahan lahir. Siapa bisa mengirim pemuda ke pesantren kalau orang tuanya itu miskin? Karena kehidupannya susah, jadi manusia hanya sibuk menggunakan waktunya untuk mencari makan. Sehingga banyak yang lupa pada urusan batiniah. Jadi bukan usaha perbaikan duniawi yang merusak urusan batiniah. Tetapi rusaknya masalah lahiriah yang sering merusakkan masalah batiniah. Karena itu, maksud dari perkumpulan kita hendak mencapai dua-duanya. Berusaha memperbaiki lahir supaya juga bisa memperbaiki masalah batin. Jadi mau memperbaiki keadaan lahir-batin manusia.

“Selain itu, manusia atau rakyat, kita ajak untuk hidup rukun menjadi satu supaya bisa secara bersama-sama memperbaiki keperluan kita semua secara bersama-sama pula. Nah, apakah ini bukan pekerjaan yang berdasarkan perbaikan batin? Memang kalau tiap-tiap orang hanya mencari hal-hal yang duniawi saja, tentu ia lalu sering rusak batinnya. Tetapi kalau bersama-sama secara rukun bersatu memperbaiki semua kebutuhan dunia, jadi tidak mementingkan keperluan sendiri dan hanya demi kepentingan orang banyak dengan jalan rukun, maka di sini hanya dengan jalan rukun bersatu saja pun sudah pasti akan memperbaiki batin. Sehingga hati atau manusia akan bergerak berbarengan menjadi baik. Jadi nyatalah bahwa kumpulan P.K. akan memperbaiki rakyat Hindia secara lahir dan batin. “(Sepakat, kata semua orang dengan bergembira).

“Saya berterima kasih kepada Tuan Edelhart, bahwa ia sebagai orang Belanda mau memberi pertimbangan dalam vergadering kali ini. Saya mengerti, Tuan Edelhart berniat baik dengan peringatan itu, supaya kita jangan kesusu atau tergesa-gesa. Oleh karena itu, saya tidak marah kita dikatakan belum siap. Memang, Tuan Edelhart, sungguh akan kalang kabut kalau pemerintah Belanda besok pagi menarik diri tanpa mengatur dengan baik urusan yang ditinggalkan untuk kita. Atau jelasnya, kalau tidak mengoperkan pemerintahan itu tanpa aturan, tetapi hanya pergi begitu saja. Begitu pula, saya tadi tidak berkata bahwa saya besok pagi meminta merdeka, tetapi saya sudah menerangkan bahwa ketentuan zaman akan memerdekakan Hindia dengan sendirinya. Rakyat pada akhirnya melalui berbagai cara itu, akan pintar mengurus negeri Hindia Merdeka. Selain itu, pemerintah Belanda tentu tidak mempunyai niatan besok pagi menarik diri dari sini. Tetapi menunggu kalau rakyat sudah pintar dan kuat. Hal ini hanya rakyat Hindia sendiri yang wajib dan bisa mengusahakannya yaitu dengan cara berkumpul bersatu dalam P.K. Oleh karena itu, tadi saya sudah bilang bahwa ada yang mengumpamakan kita sebagai anak atau muridnya negeri Belanda. Kalau kita sebagai anak atau murid setia belajarnya, maka kita lekas menjadi pintar dan besar. Dan pada saat itu anak-anak akan diberi kemerdekaan untuk mengurus negerinya sendiri. Tepatnya belajar politik dan sebaiknya dalam pergerakan P.K.”

“Itu betul, dan saya sekarang mengerti dan sepakat,” kata Tuan Edelhart. Sehingga vergadering bersorak ramai untuk menghormati Tuan Edelhart yang tegas mengaku berterus terang.

“Menjawab Tuan Mangoentjokro, maka memang rakyat dahulunya belum pintar menyimpan uang. Dari sebab itu, mereka tidak tahu apa yang semestinya. Maka oleh karena itu, mereka tidak bersalah; mereka tidak sengaja menghilangkan harta bendanya. Tetapi selain dari itu, kita harus tidak lupa, memang sudah tabiatnya jika manusia suka meniru dan ingin seperti mereka yang dipandang umum baik. Karena para priyayi oleh rakyat dianggap sebagai manusia yang lebih baik ketimbang orang kecil maka rakyat kecil itu senang meniru semua halnya priyayi tadi. Oleh karena itu, maka rakyat lalu gampang membuang uang supaya mereka sedikitnya bisa menyamai para priyayi itu. Hal yang mana menyebabkan kesusahan pada tingkat pertama. Sekarang sudah masuk pada tingkat itu, sehingga memang wajib diusahakan untuk hemat dan hati-hati. Tetapi karena sekarang mereka tidak berkuasa apa-apa dalam hal mencari kehidupan, jadi hanya tergantung pada kaum bermodal yang hanya mencari untung maka rakyat akan terus-menerus merugi dan hidup susah sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Karena itu kita semua harus membantu perkumpulan P.K. untuk mempercepat datangnya zaman Komunisme.” (“Mufakat, betul,” kata suara ramai dari vergadering).

“Menjawab Tuan Haji Mamirah, maka saya tadi sudah menerangkan bahwa dahulu, pekerjaan membikin barang-barang keperluan hidup hanya dengan tangan semata sedangkan sekarang dengan mesin. Mesin itu memang sangat cepat pembuatannya, hasilnya bisa sama. Meski ongkosnya lebih banyak ketimbang dengan hasil buatan yang tidak memakai mesin. Selain itu, buatan mesin bisa lebih halus. Karena hasil kerja mesin itu bisa lebih sempurna dan murah, tentulah dicari dan disukai semua manusia. Sebab memang sudah jamak, manusia mencari yang sempurna dan tersempurna lagi pula murah harganya. Itu sesuai dengan ketentuan zaman, aturan kemajuan sehingga tidak bisa dilawan oleh kehendak manusia. Atau dengan memaksa mereka memakai bentuk usaha yang kuno lagi, seperti menenun, membatik dan sebagainya. Sebab tentu toh kita akan kalah dengan kemajuan mesin. Adapun harga dan modal mesin atau pabrik memang begitu banyak dan mahal, sehingga tidak semua rakyat bisa mendirikannya. Yang bisa hanya yang kaya dan yang sudah mempunyai modal yang besar. Begitulah, sekarang lalu kaum bermodal yang menang, mendesak pekerjaan tangan yang bukan buatan mesin. Kaum bermodal yang bisa menang atas rakyat dan mereka lalu berkuasa. Hal ini tadi toh sudah saya terangkan dengan jelas! Pendek kata, dalam zaman sekarang ini tidak ada jalan lain untuk memuliakan kehidupan rakyat selain jalan komunisme. Sebab jalan ini adalah jalan yang sudah sesuai dengan kodrat. Jadi semua orang wajib membantu P.K. (“Betul, cocok,” begitulah suara ramai vergadering menyambut jawaban Tuan Tjitro itu).

“Sekarang saya mesti menjawab Tuan Soebono. Tuan Soebono memang masih muda, karena itu semangatnya keras sehingga marah pada saya. Ia mengatakan bahwa saya jahat sekali dan menjual bangsa. Tetapi saya tidak sakit hati pada Tuan Soebono. Saya hanya meminta kepada Tuan Soebono supaya memikirkan dengan sabar atas jawaban saya ini. Tadi saya sudah memberi keterangan bahwa kumpulan kita mengajak rakyat supaya pintar dan kuat, supaya akhirnya kita bisa mengurus negeri kita sendiri. Nah, hal inilah sesungguhnya merupakan masalah kebangsaan. Pasal 'internasional' dan pasal 'cinta kepada semua manusia' itu pun perlu diajarkan supaya peperangan menjadi hilang. Dan ada perlunya supaya kaum komunis dari lain negeri membantu tujuan P.K. memuliakan rakyat Hindia. Kita tidak mengadu rakyat dengan kaum bermodal dari bangsanya sendiri. Tetapi kalau timbul perlawanan serupa itu, bukan salah kita. Sebab hal itu sudah sesuai dengan ketentuan kodrat sendiri, sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Adapun jika bangsa bumiputera kita yang kaya, sudah tahu betul tujuan perkumpulan kita. Tentu mereka akan dengan sendirinya mau mengalah dan sepakat dengan rakyat dalam P.K. Sebab P.K. hendak memuliakan rakyat, penduduk seantero Hindia. Selain itu, di manakah ada bumiputera yang mempunyai pabrik, spoor dan sebagainya, kecuali satu dua orang dan kalau sebagian kecil ini memang dasarnya baik maka mereka tentu membantu tujuan P.K. untuk keperluan beribu-ribu manusia. Hal itu lebih mulia daripada mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Di sini nyatalah bahwa bukan maksud kita memecah-belah bangsa kita. Ya, malahan justru mengajak bersatu hati untuk keperluan bermiliun-miliun manusia. Sampai di sini dahulu.” (“Betul, sepakat,” begitulah sambutan vergadering dengan bersorak-sorak dan tepuk tangan yang sangat ramai).

Habis itu Presiden mempersilakan kepada tuan-tuan yang mendebat tadi untuk maju lagi. Tetapi semua tidak mau ambil bicara, sebab, katanya, sudah mengerti dan mufakat dengan Tuan Tjitro. Karena itu, jam 12 siang vergadering ditutup oleh Tuan Residen, sedang beratus-ratus orang minta masuk menjadi anggotanya.

Sampai di situ verslag yang dibikin Kadiroen. Adapun Kadiroen sendiri sewaktu terjadi vergadering hatinya berdebar-debar. Ia mendengar keterangan Tjitro dan perasaannya terbuka, sepertinya dalam hati ia melihat cahaya bintang yang sangat baik, menggambarkan maksud dan tujuan perkumpulan P.K. Sehabis vergadering, Kadiroen memikirkan semua itu. Ia tidak bisa tidur. Sekarang ia tahu, mengapa usahanya selama ini sebagai Wedono dan Wakil Patih untuk memuliakan rakyat selalu tidak berbuah besar. Ia tahu bahwa usahanya itu adalah mengikuti cara kuno. Sedangkan, keadaan rakyat sekarang sudah baru. Jadi, nyatalah jalan yang diusahakannya, ketinggalan dan tidak sesuai dengan zaman lagi. Cara kuno masih bisa berlaku di pucuk-pucuk gunung, di mana rakyatnya masih kuno dan keadaan zamannya belum berubah. Tetapi di negeri yang sudah menginjak zaman baru, tak bisa dipakai lagi. Memang, usaha Kadiroen bisa menaikkan pangkatnya sendiri, tetapi buat rakyat hampir tidak berguna. Sungguh Kadiroen merasa tertarik betul dengan gerakan P.K. itu. Tetapi ia tertarik gerakan rakyat, ia masih tertarik oleh pangkatnya. Ia memikir, seandainya ia membantu gerakan P.K. itu, tentulah ia harus turun. Dan menurunkan derajatnya seperti rakyat akan menghilangkan rasa hormat rakyat kepada dirinya sebagai Wakil Patih.

Lalu rakyat memandang dirinya sebagai saudara, tidak sebagai pembesar lagi. Dan lagi, gerakan baru itu mempunyai musuh yang banyak karena masih kebaruannya itu. Adapun orang-orang yang tidak mengerti, mereka benci kepada P.K. Kalau Kadiroen mencampuri gerakan itu, ia khawatir dikatakan gila oleh seteru-seteru gerakan itu. Yang pertama dari golongan priyayi sendiri. Begitulah, maka ia terpaksa memisahkan diri dari golongannya sendiri. Baru saja Kadiroen memikirkan hal itu semua, maka ia menerima Surat Kabar S.H.B. milik golongan kaum yang bermodal. Di situ Kadiroen membaca dalam ruangan “Ned 1ndische Telegramen” dalam bahasa Belanda yang menerangkan bahwa hari kemarin di S oleh P.K. sudah digerakkan penghasutan pada rakyat. Sedang yang berbicara opruier (tukang penghasut)-nya adalah Tjitro. Redaksi surat kabar itu memberikan pikirannya bahwa sekarang ini sudah saatnya sang opruier Tjitro, penjahat itu, dibuang dan diasingkan di pulau kecil, supaya tidak bisa menghasut lagi. Kadiroen menjadi heran membaca hal itu. Ia sudah mendengar dengan telinganya sendiri, ia melihat dengan matanya sendiri vergadering hari kemarin itu. Dan ia tahu betul bahwa Tjitro tidak menghasut. Ia malahan mau berbuat baik kepada semua manusia. Memang di Hindia banyak surat kabar bukan kepunyaan rakyat, yang selalu memuat kabar-kabar bohong buat merusak gerakan rakyat, untuk mengajak kepada para pembacanya supaya membenci pergerakan itu, terutama pada para pemuka-pemukanya. Begitulah, racun yang disebarkan oleh surat-surat kabar itu, sudah sering memasuki tuan-tuan yang adil. Dan karena kerasukan racun itu, maka tuan-tuan itu lalu sering lupa pada keadilannya. Sungguh sayang!

Kadiroen tahu hal ini, tetapi pada saat itu tambah berat buat dia untuk memilih jalan sebab umpamanya ia membantu gerakan, tentu ia turut dapat cacian oleh surat kabar tersebut. Sehingga ia lalu gampang kena hasutan dan mudah lepas dari pekerjaannya. Sebaliknya, ia tertarik kepada pergerakan sebab ia ingin menolong rakyat dengan cara sesuai zaman baru. O, manakah yang akan ia pilih?


BAB V

Seorang Satria

(Roch dan Rah Adhi Sejati)


Persdelict. Ini hari kita punya Hoofd-Redacteur dipanggil oleh tuan jaksa di kantornya dan dibilangi bahwa tuan Asisten Residen menyuruh ia, jaksa, supaya menanya macam-macam halnya Sinar Ra'jat pada hari kemarin dulu tanggal 12 Mei, terutama tentang karangan yang termuat itu hari dan yang berkepala: “Diminta sedikit lekas”, dan ditandai oleh Pentjari. Tuan jaksa selainnya menanya ha1 isi dan maksudnya karangan tersebut, juga minta tahu namanya penulis yang sebenarnya, sebab Pentjari ialah nama palsu. Sudah tentu kita punya Hoofd-Redacteur tidak suka menerangkan nama sejati yang terminta itu dan menjawab bahwa ia akan menanggung sendiri karangan itu di muka hakim pengadilan kalau memang jadi tuntutan. Sepanjang pikirannya tuan jaksa, itu karangan mesti menjadi perkara persdelict, sebab tuan Asisten Residen di kota G, kencang dan keras kehendaknya memintakan hukuman buat siapa yang menjebar karangan itu. Sudah nasibnya saudara Hofd-Redacteur ketabrak “delict”.

Begitulah bunyinya surat kabar milik organisasi P.K. yang diterbitkan tiap hari di Kota G. Dan yang diasuh, oleh beberapa redaktur yang dikepalai oleh Pemimpin Redaksi Sariman. Sudah tentu berita itu menimbulkan pikiran dan pembicaraan yang sangat ramai di kalangan pembaca-pembacanya, terutama di antara kaum P.K. Dua hari kemudian, maka di kantor redaksi dari surat kabar tersebut terjadi gegeran yang ramai antara Pemimpin Redaksi Sariman dan penulisnya sejati.

“Tidak Saudara, sebagai pemimpin redaksi saya wajib mengoreksi betul-betul apa dalam setiap berita pembantunya terdapat unsur delik pers atau tidak. Hari itu saya kurang teliti membaca laporan/berita Saudara, jadi saya yang salah. Oleh karena itu, saya akan mempertanggungjawabkan sendiri di muka hakim.”

“Saudara Sariman, betul Anda seorang pemimpin redaksi, tetapi saya tahu, pekerjaan Saudara banyak sekali. Sehingga, satu atau dua laporan seperti laporan saya tempo hari, Saudara tidak sempat mengoreksinya secara betul. Sebagai pembantu, saya wajib mengingat hal-hal ini dan mestinya membikin laporan yang lebih halus. Karena itu, saya yang bersalah dan saya meminta supaya saya diperbolehkan mempertanggungjawabkan sendiri berita yang saya tulis itu. Beritahukanlah nama saya yang sesungguhnya agar Saudara jangan menjadi korban kesalahan saya yang kurang hati-hati.”

“Terima kasih banyak! Apa Saudara mengira saya akan melepaskan Saudara untuk menjadi korban? Saya bukan penakut dan tidak mempunyai niatan untuk mengorbankan diri Saudara.”

“Lho, aneh sekali kau ini. Saudara Sariman, saya juga bukan seorang penakut dan sama sekali tidak punya niatan untuk mengorbankan diri Saudara untuk mempertanggungjawabkan berita saya. Sebab saya ingat, Saudara sudah mempunyai anak bini. Sedangkan saya belum. Karena itu, sekali lagi saya meminta dengan sungguh-sungguh supaya nama saya yang sebenarnya diberitahukan kepada jaksa.”

“O, no. Tidak boleh! Ingatlah kepada ayah dan ibu Saudara. Mereka sebagai pegawai Gupermen dan orangtua zaman dahulu ingin melihat anaknya, yaitu Saudara, supaya menjadi pegawai Gupermen yang tinggi pangkatnya. Sekarang pangkat Saudara sudah tinggi. Jadi, kalau nama Saudara sampai terbuka, maka tentu Saudara akan mendapatkan masalah dalam kerjaan Saudara. Ya, bisa juga malahan kamu dipecat. Dalam hal ini, bagaimana nanti susahnya orangtuamu. Maka dari itu, sekali lagi saya bilang padamu bahwa saya tidak akan membuka namamu. Apalagi saya masih bisa membikin alibi yang akan membebaskan saya dari hukuman dalam sidang pengadilan nanti. Sebab sepanjang pengetahuan saya, berita itu tidak melanggar aturan yang berlaku.”

“Saudara Sariman, saya sebagai penulisnya tentu lebih tahu masalah-masalah apa yang sudah masuk dalam tulisan itu. Jadi, saya memiliki bukti-bukti bahwa tulisan itu hanya untuk menuntut keadilan bagi keperluan rakyat. Dari sebab itu, tentunya saya akan 1ebih bisa menjelaskan di muka hakim bahwa tulisan itu tidak melanggar peraturan yang berlaku.”

“Ya, tetapi pikiran kita belum tentu akan dibenarkm oleh hakim pengadilan dan biasanya mereka mempunyai pandangan lain dari kita. Sehingga kalau saya melepaskan nama Saudara yang sebenarnya di kemudian kamu bisa dihukum juga. Lebih baik saya (yang sebagai pemimpin redaksi memang sudah wajib untuk menanggungnya) yang menjalani perkara hukuman ini, kalau di kemudian hari hakim memang memutuskan hukuman itu. Saya mempunyai keyakinan bahwa tulisan itu tidak bersalah sehingga bisa dihukum. Jadi bisa juga dibebaskan. Sebaliknya kalau Saudara yang menghadap di muka hakim, bisa dihukum dan ditambah akan dipecat dari jabatan Saudara. Setidaknya, Saudara akan mendapatkan masalah dalam pekerjaan. Meskipun umpamanya Saudara dibebaskan dari hukuman. Dalam hal yang kedua ini, Saudara akan mengorbankan dirimu dengan percuma. Sedangkan kalau saya yang menghadap, selamatlah saya, meski dihukum atau tidak!”

“Saudara Sariman, saya tidak mau dan tidak bisa memahami kehendak Saudara menjadi korban tulisan saya. Sebagai pemimpin redaksi dan sebagai pemimpin rakyat, tempat suara rakyat, pekerjaan saudara sangat penting bagi kemajuan rakyat dan tanah Hindia. Kalau Saudara jadi dihukum apalagi kalau sampai lama, sesungguhnya Saudara akan banyak kehilangan waktu dan kesempatan untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Sebaliknya, hal ini bagi saya tidak ada masalah.”

“Saudara, sudah kodrat alam yang memiliki kehendak bahwa rakyat akan tetap bergerak dan maju, meskipun saya ada di dalam penjara. Tentulah kalau sudah kehendak zaman, ada saja yang di kemudian akan memajukan rakyat dan tanah Hindia. Selain itu, bukan saya sendiri yang bisa menyuarakan kepentingan rakyat, tetapi masih banyak orang lain. Dan rakyat tentu akan terus maju meski saya dipenjara. Saya yakin begitu. Dari itu, jangan khawatir, saya akan tetap menanggung tulisan Saudara.”

“Tidak Saudara Sariman, kalau Saudara tetap ingin menanggungnya, saya juga tetap seperti itu. Dan tanpa persetujuan Saudara, maka besok pagi saya akan datang sendiri menghadap ke muka jaksa untuk menerangkan dan menjelaskan bahwa sayalah penulis delik itu.”

Mendengar hal itu, maka Pemimpin Redaksi Sariman kehabisan akal untuk melindungi pembantunya supaya jangan sampai menjadi korban. Oleh karena itu, Sariman lalu memakai jalan lain, yaitu jalan halus yang mengesampingkan perasaan pembantunya dan berkata: “Begini Saudara, kita sedang saling berselisih pendapat satu sama lain untuk membuktikan bahwa kita senang mengorbankan diri untuk keperluan rakyat. Saudara juga senang berbuat itu. Sekarang tidak perlu banyak bicara, sudahlah. Marilah kita lot, kita undi siapa yang berun­tung, itulah yang menanggung.”

Dengan begitu maka pendapat disepakati oleh pem­bantunya, karena si pembantu tidak ingat bahwa ia bisa meneruskan kehendaknya tanpa pakai undian segala. Dan Sariman sangat cepat mcngambil aturan untuk meng­undinya. Sehingga sebentar saja putuslah perselisihan itu. Tetapi Sariman kalah dan pembantunya yang menang. Si pembantu menjadi gembira. Dan saking gembiranya, ma­ka sewaktu pembantunya itu mau pulang, Sariman berkata:

“Saudara, mulai sekarang Saudara akan melepaskan diri dari kesenangan yang disukai kebanyakan manusia. Sebab itu Saudara harus membersihkan diri dan jiwamu dengan membantu kepentingan rakyat. Sekarang Sauda­ra harus melupakan kepentinganmu sendiri. Saya men­doakan Saudara supaya kau memiliki kekuatan yang be­sar untuk meneruskan maksudmu yang mulia itu. Saya akan membantumu dan sanggup mengusahakan jalan yang baik bagi kehendakmu. Karena kita berdua mau membela kepentingan rakyat dan tanah Hindia.

“Dalam perjalanan orang maka kita akan sering kali mendapat rintangan dan godaan yang besar serta sangat berbahaya. Karena, semakin mulia maksud seseorang, tambah besar juga lawannya atau godaan dan rintangan­nya. Rintangan dan godaan tadi akan menjatuhkan orang itu kalau ia tidak kuat. Tetapi, ada satu perkara yang akan memberi kekuatan luar biasa pada manusia yang berusa­ha dan berbuat baik. Perkara itu adalah kepercayaan ke­pada Tuhan Allah. Dalam semua hal, susah atau senang, carilah Tuhan Allah kita Yang Mahakuasa. Dan bersama­an dengan itu, teruskanlah maksud Saudara yang mulia itu. Sebab Tuhan Allah akan memberi kekuatan pada sia­pa saja yang mengetahui-Nya.”

Siapakah pembantu surat kabar yang gagah berani dan bertindak seperti satria tersebut. Nyonya-nyonya dan Tuan-Tuan pembaca tentunya sudah dapat meramal atau mengira-ngira sendiri kalau melihat dari tanya-jawab di atas. Dialah Kadiroen, tidak lain hanyalah Kadiroen yang berani mempertanggungjawabkan tulisannya yang di­muat dalam Sinar Ra'jat di muka hakim pengadilan. Ba­gaimana ceritanya, sehingga sekarang Kadiroen harus mempertanggungjawabkan dakwaan delik pers.

Sebagaimana sudah diceritakan dalam Bagian IV, maka sehabis Kadiroen menghadiri vergndering P.K., ia menjadi sangat tertarik dengan gerakan rakyat itu, di sam­ping ia harus tetap mempertahankan pangkat dan jabat­annya. Semakin lama Kadiroen memikirkannya, ia sema­kin mengerti bahwa pada zaman itu gerakan rakyat tidak boleh ditinggalkan atau dibiarkan begitu saja oleh semua bumiputera yang tahu akan kewajibannya, yaitu kewa­jiban untuk memuliakan dan memakmurkan rakyat dan negeri Hindia. Sungguh, sedang tidurlah mereka yang ke­tinggalan zamannya. Kadiroen mendapatkan keyakinan demikian. Tetapi sebaliknya, ia mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua. Sedang ayahnya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh supaya anaknya, Kadiroen, bisa men­jadi seorang priyayi yang berpangkat tinggi supaya ia bi­sa membantu orangtuanya untuk turut memelihara de­ngan baik saudara-saudaranya. Sebab Kadiroen masih mempunyai saudara sebanyak tujuh orang. Kadiroen menimbang, ia mencari pangkat tinggi itu tidak hanya un­tuk kesenangan dirinya sendiri, tetapi untuk menyenang­kan hati orangtua dan famili-familinya. Kadiroen merasa bahwa hal itu juga merupakan kewajiban mulia.

Jadi, dua kewajiban selalu bertentangan dalam hati­nya. Yang pertama kewajiban untuk turut membantu ge­rakan rakyat, untuk memperhatikan dan memuliakan rak­yat dan negeri. Yang kedua, kewajiban membantu kebu­tuhan hidup saudara-saudara dengan mendapatkan pangkat yang tinggi dalam pekerjaannya. O, sesungguh­nya amat berat untuk memilih dua kewajiban ini. Tetapi sesudah memikirkan hal itu beberapa hari lamanya maka ia menetapkan memilih gerakan. Sebab ia pandang, dalam pergerakan ada banyak orang yang harus dibantu, melebihi banyaknya famili yang harus ia bantu. Ia berkeyakinan bahwa memenangkan gerakan rakyat itu me­rupakan kewajiban yang lebih besar daripada sekedar mencari pangkat. Selain dari itu, umpamanya dalam per­gerakan rakyat itu kehidupan rakyat bisa diperhatikan, toh kebutuhan famili juga bisa diperhatikan secara ber­sama-sama juga. Karena famili-familinya termasuk rakyat juga. Karena pertimbangan-pertimbangan yang demiki­an, maka Kadiroen memutuskan bahwa ia akan masuk menjadi anggota perkumpulan P.K. dan sanggup ber­usaha dengan sekuat-kuatnya membantu gerakan itu de­ngan tenaga dan harta benda miliknya. Tetapi, meski be­gitu Kadiroen tidak mau meninggalkan pikiran orangtua­nya. Sudah jamaknya seorang bumiputera bahwa dalam memilih cara dan usaha penghidupan atau pekerjaan hendaknya anak laki-laki men­dapatkan izin terlebih dahulu dari ayahnya. Supaya ia di­doakan dengan ikhlas hati dari orangtuanya. Lebih umum lagi, maka orangtualah yang biasanya menetapkan pe­kerjaan apa yang mesti dicari oleh anak lelakinya.

Teringat akan adat kebiasaan yang demikian itu, ma­ka Kadiroen menceritakan keyakinan dan pikirannya pa­da ayahnya, dan meminta didoakan dalam hal memban­tu pergerakan rakyat itu. Meskipun hal itu bisa berbahaya bagi jabatannya. Ayah Kadiroen yang sudah tua ikut mempertimbangkan masalah itu dengan hati sabar. Ia percaya bahwa nasib seorang manusia itu sudah diten­tukan terlebih dahulu oleh Tuhan Allah dan di mana saja orang itu bekerja kalau usahanya memang sungguh­-sungguh baik, maka tentulah ia akan mendapatkan ke­senangan dan keselamatan. Apakah ia mengikuti peker­jaannya sebagai priyayi ataupun dalam gerakan rakyat. Sudah barang tentu bagi seorang ayah, yang pertama-ta­ma akan memilih hal yang sekiranya akan dapat membi­kin senang dan selamat anaknya. Begitupun halnya dengan ayah Kadiroen. Kalau dipertimbangkan dengan ke­rasnya kehendak Kadiroen maka sesungguhnya Kadi­roen akan merasa susah dan celaka jika ayahnya mengha­lang-halangi maksudnya. Sebaliknya, jika tidak dihalangi dan ia mendapat celaka yang besar, hal itu pada akhirnya juga akan menyusahkan hati si anak. Ayah Kadiroen me­mikirkan hal itu dengan panjang lebar dan hati sabar, te­tapi ia tidak bisa memutuskan yang mana yang benar. Se­hingga ia mengambil keputusan untuk bersama pada ke­hendak Tuhan Allah. Oleh karena itu, ayah Kadiroen ber­kata kepadanya:

“Anakku, perkara ini susah untuk saya pikirkan. Oleh karena itu, sebagai permulaan dan percobaan se­baiknya kamu mengambil jalan tengah terlebih dahulu. Memang biasa, orang yang ada di tengah sering terjepit oleh kanan-kiri. Sehingga terpaksa akhirnya memilih yang kiri atau kanan. Nah, kalau kamu berada di tengah dan sudah berusaha dengan sebaik-baiknya maka terpak­sa ke kiri atau ke kanan, karena kamu terjepit, itu ya apa boleh buat. Keputusanmu akan memihak yang mana jika sudah terjepit demikian. Itulah kehendak Tuhan Allah. Dan seharusnya, sebaiknya kamu berusaha dengan hati yang sungguh-sungguh menjalani takdirmu yang akan datang ini. Dalam segala maksud dan kehendakmu, ka­mu harus bertindak dengan ketetapan hati supaya kamu mendapatkan kekuatan yang cukup untuk memikul ke­wajiban yang sudah dipikulkan oleh Tuhan Allah pada dirimu. Ayahmu yakin kepada Tuhan Allah dan sekarang mengizinkan kamu supaya mengambil jalan tengah. Dan kemudian sesukamu, mau mengikuti yang kanan atau yang kiri sesuai dengan yang akan terjadi pada akhirnya nanti. Saya selalu berdoa semoga kau selalu selamat.”

Seperti semua anak yang setia pada ayahnya, Kadi­roen mengikuti keputusan ayahnya itu. Ia memilih jalan tengah, tetapi bagaimana akalnya? Ia tahu bahwa gerak­an rakyat membutuhkan modal atau ongkos untuk ber­bagai keperluan. Karena itu Kadiroen sering mengirim­kan uang derma semampunya untuk berbagai keperluan pada pemimpin perkumpulan P.K. Tetapi, supaya tidak diketahui bahwa ia yang memberi uang bantuan pada pergerakan itu, maka selamanya ia menjelaskan namanya yang sebenarnya. Dan hanya ditulis afzender N.N. (Pengi­rimnya bernama N.N.).

Kadiroen mengambil jalan tengah, jadi tidak masuk sebagai anggotanya atau ikut memberikan pertimbangan-­pertimbangan dalam vergadering-vergadering P.K. Tetapi, selain membantu dengan uang secara rahasia itu, maka Kadiroen juga turut membantu dengan berusaha mem­berikan pertimbangan dan pengetahuannya pada or­ganisasi P.K., yaitu dengan menulis dalam surat kabar Sinar Ra'jat. Tetapi supaya tidak ada orang yang mengerti bahwa ia ikut menulis, maka selamanya ia memakai na­ma palsu, yaitu Pentjari. Hanya Pemimpin Redaksi Sari­man sendiri yang mengetahui rahasia ini.

Jalan tengah itu disepakati oleh ayah Kadiroen. Te­tapi sebagaimana telah diceritakan maka akhirnya Kadi­roen terjepit juga; tulisannya tersangkut delik pers. Di waktu ia mengetahui bahwa tulisannya menimbulkan dakwaan delik pers maka Kadiroen memikirkan dua ja­lan yaitu tetap bersembunyi atau menunjukkan jati diri­nya. Dalam hal yang pertama, ia tetap mendapatkan na­ma baik dan kehormatan dengan pangkat priyayinya. Te­tapi akan mendapatkan julukan penakut dari Sariman dan hilanglah kepercayaan pemimpin redaksi itu kepa­danya sehingga Kadiroen bisa disangka bahwa ia hanya pura-pura saja membantu gerakan rakyat. Tetapi kalau Kadiroen tetap bersembunyi, tentulah pemimpin redaksi akan terpaksa menjalani hukuman sebab kesalahan tulis­an Kadiroen. Dan bagaimana nantinya istri dan saudara­saudara Sariman. Dan bagaimana jadinya dengan perge­rakan itu di kemudian hari jika pemimpinnya, Sariman, yang terkenal cerdik itu terpaksa harus dipenjara. Apa hal itu tidak akan banyak menimbulkan masalah dan sangat menyusahkan?

Kadiroen yakin bahwa dalam perkara itu memang saudara-saudara Sariman dan pergerakan akan banyak mengalami masalah. Sedang ia sendiri yang bersalah ma­lah selamat. Apa Kadiroen akan bisa menjalankan sifat kesatrianya, sebagai seorang yang baik, jika mengorban­kan orang lain untuk menanggung dosanya? Kadiroen ti­dak mau menjadi orang hina dan membiarkan dirinya mencelakakan orang lain. Oleh karena itu, Kadiroen lalu mengambil keputusan untuk membuka jati dirinya dan tidak mau lagi mengingat-ingat pangkatnya sebagai pri­yayi besar. Kadiroen ingat apa yang dikatakan ayahnya, bahwa dalam keadaan terjepit maka jalan kanan atau kiri itu telah ditentukan Tuhan Allah. Dan Kadiroen tahu bah­wa Tuhan Allah menyuruh kepada manusia supaya ia berjalan dalam kebaikan dan satriawan. Hal yang mana tidak akan dipenuhi oleh Kadiroen jika ia tetap bersem­bunyi. Jadi, kalau Kadiroen membuka rahasia namanya dan di kemudian hari mendapatkan masalah dalam pe­kerjaan dan pangkat jabatannya, nah, semua itu telah menjadi takdir atau kehendak Tuhan Allah Yang Maha­kuasa. Dan ia akan menjalani susah atau senang: keten­tuan yang tertinggi itu. Begitulah adanya hal-hal yang menyebabkan Kadiroen menanggung tulisannya yang didakwa melanggar delik pers.

Tetapi Pemimpin Redaksi Sariman juga orang yang baik dan satriawan, sehingga terjadi rebutan memikul dakwaan delik pers itu. Hal ini sudah diceritakan di atas, yang akhirnya diundi. Kadiroen menang maka ia yang berkewajiban menanggungnya. Kadiroen pun semakin percaya bahwa hal itu sudah menjadi takdir atau kepu­tusan Tuhan Allah.

Sesudah pasti Kadiroen yang akan mempertang­gungjawabkan di muka hakim perkara tulisan itu, maka perkara itu menjadi perbincangan ramai di antara banyak orang. Surat-surat kabar yang sengaja berpihak pada kaum yang bermodal, dan yang khawatir bahwa keun­tungan kaum itu akan menjadi berkurang jika amtenar-am­tenar Gupermen membantu pergerakan rakyat seperti Kadiroen maka surat kabar itu semua memaki, menghina dan melemparkan macam-macam kotoran kepada diri Kadiroen. Surat kabar itu berteriak setinggi langit, supaya Gupermen cepat memecat Kadiroen dari pangkat dan ja­batannya.

Sebaliknya, surat kabar yang memperhatikan kepen­tingan rakyat sama memuji kepada Kadiroen dan sama membuktikan kehormatannya dalam tulisan-tulisan yang indah-indah.

Priyayi-priyayi kuno yang membenci gerakan rakyat yang baru itu sama mengatakan bahwa Kadiroen sudah menjadi gila. Tidak kuat memegang pangkat priyayi be­sar dan sebagainya. Sebaliknya, priyayi dan semua ma­nusia yang mengetahui keadilan dan mengetahui zaman­nya kemajuan dunia, mereka sama menghormati Kadi­roen yang membuktikan bahwa ia adalah seorang satria­wan dan budiman yang berketetapan hati, baik akal budi dan wataknya.

Perkara itu menjadi buah bibir yang ramai, tetapi Ka­diroen tidak suka memikirkan suara kanan atau kiri, ti­dak suka memikirkan pujian dan cacian atau penghinaan itu. Ia hanya berusaha keras mengumpulkan bukti-bukti bahwa tulisannya berdasarkan kenyataan. Tidak berdusta dan tidak melanggar ketentuan undang-undang. Dalam hal ini, Kadiroen mendapat bantuan yang sungguh-sung­guh dari Sariman. Di muka pengadilan, Sariman malahan menjadi advokat untuk membantu pekerjaannya.

Vrij, dibebaskan dari hukuman, tidak melanggar un­dang-undang,” begitulah keputusan hakim pengadilan. Kadiroen dan Sariman menjadi bahagia sekali. Dari mana-­mana Kadiroen mendapat surat yang memuji dan meng­ucapkan selamat. Dan banyak sudah orang-orang yang bersahabat dengannya turut berbahagia. Tetapi yang ti­dak berbahagia adalah surat-surat kabar yang melawan kepentingan bumiputera. Surat-surat kabar itu sama ber­pendapat bahwa meskipun hakim pengadilan membebaskan Kadiroen dari hukuman tetapi ia toh wajib dipecat dari pangkat dan jabatannya. Karena seorang pejabat se­perti Kadiroen itu telah membikin kehormatan kekuasaan Gupermen menjadi ternoda. Sebaliknya, surat kabar bu­miputera membantah dan berkata perbuatan Kadiroen membuktikan bahwa priyayi dan pergerakan rakyat bisa bekerja sama. Hal yang mana akan sangat berguna bagi ketertiban umum dan keselamatan rakyat.

Akibat dari ramainya perbincangan dari perkara itu, maka Kadiroen dipanggil oleh Tuan Asisten Residen di Kota S, yakni atasan Kadiroen yang dahulu telah diceri­takan. Kadiroen mengira bahwa ia akan dipecat. Tetapi Tuan Asisten Residen berbicara dengan muka yang manis dan sabar kepadanya:

“Kadiroen, saya senang kepadamu karena melihat kerja dan usahamu sebagai priyayi dalam membantu rak­yat. Dahulu saya telah memberi nasihat kepadamu, su­paya kamu sedikit bersabar. Tetapi nasihat saya itu se­pertinya kurang kamu perhatikan betul. Saya tahu dan bisa berpikir bahwa kamu menulis seperti di Sinar Ra'jat itu karena kamu masih muda. Kamu memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan maksudmu dengan secepat-ce­patnya. Sekarang kamu mendapatkan masalah sendiri. Apa sebabnya kamu tidak mau memperhatikan nasihat­ku. Sudah tentu saya tidak mengajukan pemecatan dari jabatanmu sebagaimana usul surat-surat kabar yang ter­kenal itu. Ya, kalau ada pertanyaan dari atas karena tu­lisan tersebut, maka saya akan melindungimu, selama saya menjadi Asisten Residen. Sebab saya seperti kamu ju­ga, sangat mencintai rakyat. Meskipun saya seorang Be­landa, tetapi saya seorang manusia juga yang mencintai rakyat Bumiputera. Sebab mereka juga manusia. Dan saya sebagai pemimpinnya wajib menjaga keselamatannya, sebagaimana seorang ayah menjaga keselamatan anak­nya. Kamu semestinya juga merasa begitu. Tetapi saya sudah tua, Kadiroen. Dan saya berbuat sabar, sedang ka­mu sangat berkehendak keras. Sekarang nasi sudah men­jadi bubur. Yang sudah ya sudah. Tetapi saya akan mem­beri nasihat lagi kepadamu. Ketahuilah, beberapa bulan lagi saya akan pensiun dan siapa yang akan mengganti saya, saya belum tahu. Selama ada saya, kamu tidak usah khawatir, kamu bebas menulis di surat kabar. Tetapi ingatlah, pengganti saya belum tentu berhaluan seperti saya. Karena itu, saya memperingatkan kalau saya sudah pensiun, berhentilah kamu menulis dalam surat kabar itu.”

Kadiroen mendengar nasihat atasannya, yang berkata seperti ayah kepada anaknya. Ia merasa hancur hatinya dan menaruh kepercayaan yang besar pada Tuan Asisten Residen. Oleh karena itu, ia mengungkapkan perasaan hatinya kepada atasannya itu. Kadiroen menerangkan ba­gaimana asal mulanya ia tertarik pada gerakan rakyat, bagaimana pikiran dan pandangannya tentang pergerakan itu dan sebagainya. Tuan Asisten Residen mendengarkan dengan sabar dan akhirnya berkata:

“Kadiroen kalau saya mendengar kehendakmu yang begitu kuat, sesungguhnya hal itu tidak boleh kau tahan-­tahan lagi. Sebab kalau kau tahan, tentunya kau akan me­rasa sengsara terus-menerus. Sekarang saya hanya me­nasihati kamu. Kadiroen, kalau kau menulis yang hati­hati. Kadiroen, itulah nasihat lain saya dan saya hanya mendoakan supaya kamu selamat dalam menjalankan maksudmu yang mulia itu.”

Lalu Kadiroen dipersilakan pulang. Kadiroen sangat terkesan betul dengan Tuan Asisten Residen yang sudah tua itu. Kepadanya, Kadiroen tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia mengungkapkan perasaan hatinya seper­ti seorang anak kepada orangtuanya sendiri. Di mana an­tara dua manusia dari lain bangsa memiliki watak, akal­budi dan tujuan hidup yang sama baiknya, di situ hilang­lah perasaan perbedaan lain bangsa dan dua manusia ter­sebut bisa menyatukan hatinya. Tidak ada perbedaan bangsa dan kedudukan yang bisa memisahkan mereka satu dengan yang lain.

Tiga bulan setelah peristiwa itu terjadi maka Tuan Asisten Residen yang sudah tua itu pergi; ia sudah pen­siun. Dan sebagai gantinya, datang seorang asisten resi­den baru, kalau mengingat pangkatnya, ia terhitung ma­sih muda. Ia keluaran sekolah tinggi di negeri Belanda. Ia anak seorang hartawan besar. Tuan Asisten Residen yang baru itu ingatannya sangat tajam serta pandai. Te­tapi watak dan hatinya jauh dari sempurna. Sebagai anaknya seorang hartawan sejak masih kecil, ia tidak per­nah kekurangan apa-apa. Dan sudah biasa diladeni, di­turuti dan dihormati oleh orang-orang pembantunya yang bekerja pada hartawan itu. Di sekolah, ia juga me­miliki kebiasaan serupa itu.

Ia memiliki ayah yang sangat mahir mencari uang dan Tuan Asisten Residen yang baru juga seperti ayah­nya. Agamanya Kristen, sebuah agama yang baik dan lu­hur bagi bangsa Eropa. Namun agama itu tidak mempe­ngaruhi kehidupan Tuan Asisten Residen yang baru yang masih muda itu. Dalam hal kepercayaan agama, ia meng­aku moderat dan maunya hanya percaya pada alam. Te­tapi kepercayaan kepada agamanya sudah rusak dalam hati sanubari tuan ini.

Ia senang mendapat jabatan sebagai amtenar Binnen-landsch-Bestuur, hanya karena ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan masalah pemerintahan dan adat istiadat Hindia. Supaya kalau ia sudah tahu betul, ia bisa minta lepas dan akan menjadi pedagang besar di Hindia ini.

Pengetahuan dari Binnen-landsch-Bestuur itu nantinya akan ia pergunakan untuk menambah kekayaan dengan menjadi pedagang besar di negeri ini.

Mengingat hal-hal tersebut, maka sudah tentu tuan tersebut dalam hatinya berkeyakinan bahwa di dunia ini selamanya ada orang kaya dan orang miskin. Sebagai seorang berpendidikan dan memiliki keinginan untuk se­lalu menumpuk kekayaan maka ia percaya bahwa orang yang memiliki paham demikian adalah sesuai dengan ko­drat alam. Sudah barang tentu, ia dan ayahnya sering membantu berbagai macam perkumpulan kekasihan (philantrofische bonden) seperti rumah miskin, rumah anak yatim piatu dan sebagainya. Dengan memberi derma beratus-ra­tus rupiah besarnya, sudah tentu uang derma itu lebih kecil dari hasil yang beribu-ribu rupiah besarnya yang dida­patnya. Adapun mereka suka berderma demikian tidak disebabkan kasihan pada orang yang seharusnya ditolong - mereka percaya bahwa orang miskin dan melarat itu sudah sesuai dengan kehendak alam, tetapi disebabkan mereka mencari nama dari banyak orang semata. Kalau mereka mendapatkan nama baik, tentu mereka akan dipercaya banyak orang. Hal yang mana akan sangat ber­guna besar bagi usaha dagangnya dalam rangka menum­puk kekayaan itu. Jadi, pemberian derma itu tidak keluar dari niat hati yang suci, tetapi hanya buat modal mencari kekayaan semata. Sudah barang tentu, hal itu sangat ber­beda dengan niat para tuan-tuan dermawan yang bera­gama dengan sungguh-sungguh. Atau yang percaya ke­pada kekuasaan Tuhan Allah sebab maksud mereka me­mang benar-benar untuk menolong dengan rasa belas ka­sihan kepada si miskin. Tuan-tuan bangsa Belanda yang bersifat adil seperti itu di Hindia ini juga ada banyak. Ter­utama golongan para pejabat Belanda, ada banyak sekali yang memiliki rasa belas kasihan seperti itu, sehingga bo­leh dibilang, Tuan Asisten Residen yang baru tersebut me­mang sangat aneh (uitzondering).

Sebagaimana sudah diterangkan, Tuan Asisten Resi­den yang baru ini memang sangat tajam ingatannya dan pandai sekali. Sehingga sangat gampang ia mendapatkan jabatan Asisten Residen. Karena ia bisa menutupi watak dasar hatinya yang kurang sempurna itu dengan kepan­daiannya. Sudah barang tentu, orang yang demikian ini ti­dak akan memiliki kesenangan dan ketentraman serta kenikmatan hati yang sejati. Sebab ia selalu mengkhawa­tirkan harta benda serta kepentingannya sendiri. Meski­pun sudah kaya, ia selalu saja tidak bisa merasa senang. Sebab selalu khawatir tidak mendapatkan keuntungan atau selalu merugi. Keinginan nafsunya tidak pernah ter­puaskan. Ia justru merasa lebih sengsara daripada orang miskin yang suci hatinya dan berbakti kepada Tuhan Allah. Begitulah, si kaya harta benda itu, karena keku­rangsempurnaan hatinya tidak pernah merasakan kebaik­an dan sudah dihukum oleh Tuhan Allah seperti masuk dalam neraka dunia sewaktu ia masih hidup. Orang yang adil, jika memikirkan orang yang serupa ini lalu sungguh ia akan merasa berbelas kasihan pada si celaka ini. Dan ia tidak akan membenci orang karena yang berdosa itu sudah mendapat hukuman berhari-hari. Neraka perasa­an, lebih berat bebannya daripada neraka harta benda atau kekayaan.

Sekarang Tuan Asisten Residen tersebut sudah men­jadi atasan Kadiroen. Sebagai pembaca surat kabar S.H.B yang memihak kepentingan kaum bermodal, maka Tuan Asisten Residen tersebut sepakat dengan haluan surat kabar S.H.B. Surat kabar itu mengira bahwa pergerakan rakyat juga bermaksud mencari keuntungan untuk memperbaiki nasib rakyat. Jadi, akan sangat merugikan kaum bermodal. Karenanya surat kabar itu tidak suka dengan adanya rakyat yang bergerak. Begitupun Tuan Asisten Re­siden juga sepakat dengan gerakan S.H.B yang memusuhi Kadiroen.

Tidak lama Tuan Asisten Residen yang baru itu be­kerja, Kadiroen segera dipanggilnya. Tuan Asisten Resi­den bertanya kepada Kadiroen, apakah ia masih selalu saja menulis dalam Sinar Ra’jat. Kadiroen mengaku terus terang bahwa hal itu ia kerjakan terus, dan ia masih tetap memakai nama palsu Pentjari. Lalu Tuan Asisten Residen yang baru berkata:

“Kadiroen, kau seorang wakil patih, kamu seharus­nya bekerja betul sesuai pangkatmu dan tidak usah ikut tulis-menulis dalam surat kabar itu.”

Kadiroen mengatakan bahwa sangatlah perlu untuk menulis dalam surat kabar karena dengan begitu, ia bisa membantu kemajuan rakyat Hindia. Jadi untuk urusan tulis-menulis itu tidak bertentangan dengan tugasnya. Malahan sangat cocok dengan tugasnya sebagai pejabat yang juga harus memajukan rakyat yang ada di bawah perintahnya. Tuan Asisten Residen menjawab bahwa me­ngenai masalah tulis-menulis itu memang tidak menga­pa. Tetapi mengenai caranya menulis atau isinya karang­an yang ditulisnya itu bisa merugikan kepentingan pe­merintahan negara. Sebab isi tulisan itu bisa menyerang kehormatan pemerintah. Kadiroen menjelaskan pula bah­wa sekarang ini ia menulis dengan hati-hati dan menying­kiri semua hal yang merugikan kepentingan pemerintah. Tetapi kadang-kadang ia memang harus menulis yang se­benarnya. Karena ia seorang pejabat, sudah barang tentu harus menulis yang sebenarnya itu dengan hati-hati dan dengan tidak menyerang kehormatan pemerintah.

Akhirnya, terjadi perdebatan yang hebat antara Tuan Asisten Residen dengan Kadiroen. Dan sebagai penutup maka Tuan Asisten Residen berkata:

Ne, baik! Kamu mau terus karang-mengarang. Saya ingin tahu apa betul semua karanganmu di kemudian ti­dak ada salahnya. Tetapi jika akhirnya saya dapat tahu bahwa kamu melanggar maka dengan tidak ada ampun lagi tentu kamu saya mintakan pemecatan dengan tidak hormat. Sekarang kamu sudah saya peringatkan.”

Setelah selang beberapa hari, Kadiroen dipanggil lagi oleh Tuan Asisten Residen. Di meja Tuan Asisten Resi­den ada bertumpuk-tumpuk lembaran surat kabar Sinar Ra’jat. Tuan A.R sudah membaca betul surat kabar itu, ter­utama semua karangan yang ditandai dengan nama Pentjari.

“Hai, Kadiroen, sayang kamu tidak suka menuruti aku. Sekarang aku mau memintakan surat pemecatan kamu. Sebab kamu telah menulis dua buah karangan di ma­na di situ ada pelanggaran undang-undang,” kata Tuan Asisten Residen.

Kadiroen tidak merasa berbuat hal itu. Ia tanya tulisan yang mana. Tuan A. R menjawab:

“Di sini ada tulisan yang berjudul 'Menangis Memin­ta Pertolongan'. Di dalam tulisan itu kamu meminta pe­merintah supaya di Residentie B diadakan saluran irigasi selokan-selokan air dan sebagainya untuk kepentingan petani. Memang tulisan itu maksudnya baik, tetapi da­lam penutupnya kamu sudah menulis begini:

'Kita mohon pertolongan Gupermen, dan kalau kita mendapatkan pertolongan itu, maka tentulah kita rakyat akan hidup selamat'

“Kalimat ini melanggar pasal 154 Straf Wetboek. De­ngan kalimat tersebut, kamu sudah mengeluarkan pera­saan kebencian pada Gupermen sebab maksudnya ka­limat itu begini: 'Kalau Gupermen tidak menuruti, kehidupan kita, akan dibikin tidak selamat'.

“Kesalahanmu ternyata ada di sini. Kedua, ada lagi pelanggaran dalam tulisanmu: 'Sebabnya Banyak Tebu Terbakar'. Dalam tulisan itu kamu sudah menerangkan dengan betul dan disertai bukti-bukti mengapa banyak kebakaran kebun tebu. Jadi, tulisan itu ada baiknya juga. Tetapi sebagai penutup kamu telah menulis:

'Kesusahan kehidupan rakyat telah melemahkan rakyat melawan nafsu kejahatan. Moga-mogalah pabrik-pa­brik gula yang begitu kaya itu mau turut memper­baiki penghidupan rakyat itu, agar supaya tidak ada orang tertarik melakukan kejahatan'.

“Kalimat itu melanggar pasal 160 Straf Wetboek sebab maksudnya: 'Kalau pabrik tidak suka turut membantu, rakyat supaya membakar tebu saja'.


“Begitulah pikiran saya, Kadiroen. Dan karena itu, saya akan voorstel supaya kamu dilepaskan dari pekerjaan­mu dengan tidak hormat. Bagaimana pendapatmu?”

Kadiroen ditanya pendapatnya, tetapi cukup lama ia tidak menjawab. Beberapa menit ia melihat Tuan Asisten Residen dengan melompong sangat keheranan, seperti seorang melihat rembulan pecah menjadi tiga matahari. Kadiroen tidak bisa percaya pada apa yang telah ia dengarkan itu. Dan ia mengira bahwa ia salah mengerti. Oleh karena itu, ia bertanya lagi, apa yang sudah dika­takan Tuan Asisten Residen mengulangi perkataannya. Kadiroen mendengarkan tuduhan Tuan Asisten Residen yang berhati keras itu. Maka di dalam hatinya ia seperti­nya menangis sekaligus tertawa; menangis sebab Tuan Asisten Residen begitu salah pengertian. Pertama, karena kesalahpengertian Tuan Asisten Residen itu telah dija­dikan kebenaran yang tetap. Kadiroen menyangka ada dua hal yang bisa terjadi. Pertama, Tuan Asisten Residen sengaja mencari-cari kesalahannya sehingga memutarba­likkan maksud kalimat. Atau, kedua, Tuan Asisten Resi­den sangat khawatir bahwa semua surat kabar bumiputera akan menarik kehormatannya kepada pemerintah se­hingga membikin kusutnya negeri. Dengan demikian, hampir di mana-mana ia melihat genderuwo di siang bo­long yaitu mendapati semua hal menjadi jahat ketika jus­tru tidak ada kejahatan. Jadi kalau begitu, maka ternya­talah bahwa kepintaran dan ketajaman pikirannya yang tidak disertai dengan kebaikan hati itu justru sering me­nimbulkan kesalahan, menyangka busuk pada yang baik. Atau, manusia yang busuk melihat bayangannya sendiri di mana-mana. Kadiroen memikirkan hal ini, oleh kare­na itu, ia tidak sakit hati pada Tuan Asisten Residen. Te­tapi malahan ini menjadi berbelas hati. Watak dan hati Tuan Asisten Residen itu sangat miskin dari kebaikan. Dengan sabar dan dengan jelas lalu Kadiroen menerang­kan dan membuktikan bahwa tuduhan Tuan A.R. yang pertama keliru, karena maksud kalimat yang dituduh­kan itu, tidak lain hanya:

“Meminta pertolongan pada pemerintah dan kalau pertolongan itu sudah didapatkan, maka hal itu akan berbuah lesat, sebab akan membuat selamatnya rakyat.”

Orang yang waras ingatan dan batinnya tentu menge­tahui hal ini. Adapun tuduhan yang kedua disangkal oleh Kadiroen karena maksud kalimat itu tidak lain adalah begini:

“Supaya pabrik gula suka menolong dan dengan per­tolongan itu, kejahatan manusia akan bisa dikurangi.” Kadiroen menerangkan bahwa sampai waktu ini ti­dak ada tuntutan dari hakim pengadilan. Tidak ada tu­duhan delik pers, karena tulisan-tulisan tentang hal itu. Jadi, terbukti bahwa yang salah penerimaannya hanya Tuan Asisten Residen sendiri. Lalu terjadi perselisihan yang ramai antara Kadiroen dengan Tuan Asisten Resi­den. Dan akhirnya sebagai penutup Tuan A.R. berkata: “Kadiroen, memang perkataanku susah ditangkap, buat kamu sendiri dan buat sebagian orang-orang lain. Memang, tulisannya tidak bersalah melanggar undang-­undang. Tetapi saya katakan, kamu sudah betul-betul melanggar undang-undang. Dan saya sebagai Asisten Re­siden di sini memiliki kekuasaan buat menetapkan pendapatmu. Oleh karena itu, saya sekarang tetap akan mengajukan pelepasanmu.”

Kadiroen menjawab bahwa itu urusan Tuan Asisten Residen. Tetapi karena Kadiroen merasa ia tidak menda­patkan keadilan, ia meminta izin untuk bertemu sendiri dengan Tuan Residen, untuk menerangkan bahwa ia ti­dak mempunyai kesalahan apa-apa. Tuan Asisten Resi­den menantang Kadiroen untuk berbuat itu, dan ia diberi tahu bahwa lain hari Kadiroen akan mendapat panggilan untuk menghadap Tuan Residen.

Beberapa hari setelah kejadian itu, maka Kadiroen ter­paksa menghadap Tuan Residen karena dipanggil. Pem­besar ini adalah seorang pejabat yang sudah tua. Ia su­dah biasa hidup dengan zaman kuno dan tidak begitu co­cok dengan aturan dan keadaan zaman baru yang men­jelmakan pergerakan rakyat Hindia itu. Banyaknya peker­jaan sudah tidak bisa memberi waktu banyak kepadanya untuk memikirkan dan mempelajari secara dalam tentang hal-hal dan sebab-sebab pergerakan rakyat itu. Te­tapi tuan yang kuno itu percaya kepada Tuhan Allah dan memiliki hati yang adil. Tuan Residen berbuat lain de­ngan Tuan Asisten Residen muda yang memintakan le­pasnya Kadiroen itu. Di muka Tuan Residen, maka Ka­diroen ditanya bermacam-macam hal. Kadiroen menje­laskan perkara dengan sebenarnya. Sesudah pembicaraan menjadi terang, maka Tuan Residen berkata:

“Kadiroen! Memang saya tidak membetulkan penda­pat Tuan Asisten Residen. Hari kemarin ia sudah omong panjang lebar dengan saya. Tetapi saya sudah mengata­kan kepadanya bahwa tulisanmu yang menyebabkan tu­duhan Tuan Asisten Residen menurut pendapat saya me­mang tidak melanggar undang-undang. Oleh karena itu, saya tidak suka kamu dilepas. Hal itu membikin tidak enaknya Tuan Asisten Residen. Ia merasa di dalam ka­langan Binnenlandsh-Bestuur kurang mendapatkan ke­hormatan dan kesenangan. Karena ia punya pendapat baik, katanya, tidak semua dituruti dan disepakati semua orang. Ia merasa selalu saja mendapat celaka. Meskipun, boleh dibilang sebenarnya ia paling cepat mendapat pangkat Asisten Residen. Oleh karena hal-hal itu, seka­rang ini ia minta lepas sendiri dengan hormat. Berhubung dengan kelepasannya Tuan A.R. yang diminta itu, maka perkaramu menjadi gampang diputuskan. Sebab umpa­manya ia tetap menjabat, dan minta voorstel-nya melepas kamu diteruskan kepada pemerintah, tentu ini hari per­karamu belum bisa diputuskan. Adapun putusan saya dalam perkara ini begini: sebagaimana kamu tahu, maka di bawah perintah saya, sekarang ini ada dua pangkat besar yang terbuka, yaitu pangkat regen di Kota P dan pang­kat patih di kota M. Saya sudah melihat semua Staat van Dienst dan Conduite-Staat (Catatan Hal Ihwal Pekerjaan dan Urusan Setiap Priyayi) dari amtenar-amtenarku. Dan sa­ya tahu bahwa kamu ada di paling depan menurut voorstel-nya Tuan Asisten residen yang dahulu, kamu ada di rangking 1. Karena itu, kamu bisa saja voorstel-nya menjadi regen di Kota P atau menjadi patih di Kota M. Kalau ka­mu mau berhenti menulis di surat kabar Sinar Ra’jat, tentu saya akan membikin voorstel supaya kamu menjadi regen itu. Setidak-tidaknya kamu menjadi patih di Kota M. Te­tapi kalau kamu terus menulis di Sinar Ra’jat, tentu saya tidak akan voorstel-kan kamu. Dan kalau patih yang kamu wakili ini sudah sembuh, tentu kamu akan kembali men­jadi wedono lagi. Saya tidak akan voorstel-kan menaikkan pangkatmu karena kamu akan mempunyai waktu yang terbagi dua, yaitu untuk keperluan pekerjaanmu dan un­tuk keperluan menulismu. Pekerjaan regen atau patih itu begitu berat, sehingga kalau dikerjakan betul oleh se­orang biasa, tentu orang yang berpangkat itu lalu tidak ada waktu untuk menulis. Sebaliknya, kalau terus tulis­-menulis tentu pekerjaannya menjadi kurang benar sebab waktunya terpecah. Adapun pekerjaan wedono masih bi­sa merangkap begitu. Dari sebab itu, kalau kamu tetap masih menjadi wedono tentu saya tidak melarang kamu untuk tulis-menulis. Tetapi jika akhirnya ada delik pers yang sampai menghukum kamu, kamu tentu bisa berpi­kir sendiri bahwa kamu akan dapat celaka. Jadi, sekarang ini saya memberi waktu kepada kamu buat memilih; 'menjadi patih atau regen dengan tidak menulis lagi atau tetap menjadi wedono dengan boleh terus menulis dalam Sinar Ra'­jat'. Pilihlah yang mana?”

Kadiroen mendengarkan perkataan Tuan Residen yang seperti itu, tentu ada sedikit bahagia hatinya. Kare­na Kadiroen merasa mendapatkan keadilan dalam per­selisihannya dengan 'Tuan Asisten Residen. Tetapi seka­rang ia mesti memilih lagi. Kadiroen tahu, dalam pangkat dan pekerjaan priyayi ia sering mendapatkan kesusahan atau sukar betul untuk memuliakan penghidupan rakyat dan untuk memintarkan dan menguatkan rakyat di za­man baru ini. Sebaliknya, dalam pergerakan rakyat ter­buka jalan yang gampang untuk kepentingannya ini. Ka­diroen hanya memikirkan betul perkataan Tuan Residen yang berkata tentang waktu yang terpecah itu. Kalau te­tap ia menjabat sebagai priyayi, maka terpaksa ia meme­cah waktunya, sehingga ia tidak bisa berbuat sesungguh­nya dan semestinya dalam pergerakan rakyat itu. Kadi­roen juga ingat bahwa ia kemarin membaca suatu adver­tensi yang menjadi mede-redacteur (yang gajinya hanya se­dikit untuk organisasi P.K. Sinar Ra’jat). Ia tahu, bahwa kalau ia yang minta pekerjaan mede-redacteur itu, tentu akan ia dapatkan. Sedangkan Tuan Residen memberikan dua perkara yang harus ia pilih. Tetapi sekarang Kadi­roen menambahi sendiri dengan satu pilihan lagi:

(1) Pangkat regen, setidak-tidaknya patih, tetapi mes­ti memutuskan hubungannya dengan pergerakan rakyat. Gaji dan pangkatnya amat besar. Tetapi cita-citanya atau idealismenya akan mati.

(2) Pangkat dan gaji wedono ada cukupan, berhu­bungan dengan gerakan rakyat masih bisa. Tetapi peker­jaannya di sana-sini tidak bisa semestinya karena wak­tunya terpecah.

(3) Pangkat tidak ada dan gaji hanya sedikit, tetapi sebagai mede-redacteur bisa menunjang cita-citanya. Yaitu membantu dengan ikhlas semua tenaga dan usahanya supaya rakyat Hindia bisa lepas, pintar dan kuat untuk bi­sa merdeka lahir batin.

Ia bisa menuntut cita-citanya bahwa tanah airnya akan merdeka, berdiri sendiri seperti bangsa lainnya, se­hingga bangsanya akan bisa dipandang sama dan sede­rajat dengan bangsa lain.

Dalam hal menilik tiga perkara ini, maka sebagaima­na dahulu sudah diceritakan oleh orangtuanya, terserah buat Kadiroen. Jadi, ia boleh memilih yang ia sukai. Oleh karena itu, Kadiroen dengan cepat memutuskan dan me­milih: meminta lepas dari pangkat dan jabatan priyayi dengan hormat sebab ia mau menjalani perbuatannya sendiri yang sesuai dengan cita-cita dan keyakinannya, yang sungguh mulia untuk kepentingan orang banyak.

Begitulah, maka Kadiroen menerangkan keputusan­nya kepada Tuan Residen. Ia menjelaskan dengan gam­blang sebab-sebabnya ia ingin lepas dengan hormat itu. Tuan Residen mendengarkan semua keterangan Kadi­roen lalu menjadi gembira dan memijat tangan Kadiroen dengan cara menghormati. Maka Tuan Residen berkata:

“Kadiroen, saya gembira sekali mengetahui dirimu, yang sekarang dengan perbuatanmu sudah menunjukkan bahwa kamu memang seorang kesatria. Kamu sudah me­nyatakan bahwa kamu memang seorang yang pemberani. Artinya bukan berani berkelahi seperti anak-anak, tetapi berani, sebab kamu mau melepaskan semua kepentingan dirimu sendiri untuk memenuhi kepentingan orang ba­nyak menurut keyakinanmu, Roch dan Rah adhi sejati tentu akan mendapatkan buah yang lezat dari perbuatannya. Kadiroen, saya mendoakan semuga kamu selamat.”

Begitulah, dengan senang hati dan tenteram, Kadi­roen meninggalkan pangkat dan pekerjaannya untuk hi­dup sengsara, tetapi bermaksud mulia, sedangkan Tuan Asisten Residen muda meninggalkan pangkat dan peker­jaannya, dengan murka dan sakit hati. Tetapi akan hidup terus dalam kelimpahan harta benda. Yang baik sudah mendapat surga di batinnya, sedang yang buruk sudah pula mendapat neraka di batinnya. Neraka batin tidak bi­sa ditukar dengan surga batin. karena kekayaan batin le­bih langgeng atau lebih tetap serta kuat (onvergangkelijk).

(bersambung)