6/06/2013

TESIS DAN LAPORAN TENTANG DEMOKRASI BURDJUIS DAN DIKTATUR PROLETAR - LENIN - 4 Maret 1919

1. Pertumbuhan gerakan Revolusioner dari Proletariat disemua negeri telah membangkit­kan usaha-usaha jang diliputi kegelisahan difihak burdjuasi serta agen-agennja didalam organisasi-organisasi kaum Buruh untuk menemukan pembenaran ideologis-politis bagi kekuasaan kaum penghisap. Dalam dalil-dalil mereka, mereka memberikan tempat istimewa kepada pengutukan ter­hadap diktatur dan kepada pembelaan terha­dap demokrasi. Kepalsuan dan kemunafikan dalil itu, jang di-ulang-ulangi dalam bentuk-bentuk jang ber-beda-beda, jang ribuan banjaknja didalam pers kapitalis dan di Konferensi Berne Inter­nasionale kuning, Februari 1919, adalah dje­las bagi mereka jang tidak ingin menghia­nati prinsip-prinsip fundamentil Sosialisme.

2. Pertama-tama dalil itu didasarkan pada konsepsi tentang ”demokrasi pada umumnja ­dan diktatur pada umumnja” dan -meng­abaikan masalah klas. Tjara- non-klas, atau diluar-klas, jang dianggap meliputi seluruh nasion dalam mengadjukan masalah itu merupakan edjekan belaka terhadap adjaran fundamentil Sosialisme, adjaran tentang perdjuangan klas - jang dalam kata-kata diakui tetapi dalam praktek dilupakan oleh kaum Sosialis jang telah memihak burdjuasi. Karena “demokrasi pada umumnja” tidak dapat ditemukan disatu negeri kapitalis jang ber­adab pun, maka jang ada hanjalah demokrasi burdjuis, dan soal jang diperbintjangkan bukanlah “demokrasi pada umumnja”, tetapi diktatur klas jang tertindas, jaitu Proletariat, atas kaum penindas dan kaum penghisap, jaitu burdjuasi, untuk tudjuan mengatasi per­lawanan jang dilakukan oleh kaum penghisap dalam perdjuangan mempertahankan ke­kuasaan mereka.

3. Sedjarah memberi peladjaran bahwa tidak ada satu klas jang tertindas pernah, atau dapat berkuasa tanpa menempuh suatu perio­de diktatur, jaitu tanpa memenangkan ke­kuasaan politik dan menggunakan kekerasan untuk menindas perlawanan jang paling ka­lap dan paling gila-gilaan, perlawanan jang tidak segan-segan menggunakan tindakan kedjahatan dan jang selalu digunakan oleh kaum penghisap. Burdjuasi - kekuasaannja sekarang sedang dipertahankan oleh kaum Sosialis jang mengutuk “diktatur pada umumnja” dan membela “demokrasi pada umumnja” ber­kuasa di-negeri-negeri jang madju sebagai hasil serangkaian pemberontakan, perang dalam­ negeri, menurunkan radja-radja dari tachtanja dengan kekerasan, penindasan terhadap bangsawan feodal dan kaum pemilik budak dan usaha-usaha mereka untuk memulihkan kekuasaannja. Didalam buku-buku, resolusi-resolusi kongres dan didalam pidato-pidato agitasinja kaum Sosialis disemua negeri ribuan dan dju­taan kali mengatakan kepada Rakjat tentang watak klas dari Revolusi burdjuis itu dan tentang diktatur burdjuis itu. Akibatnja, pem­belaan jang sekarang ini terhadap demokrasi burdjuis dengan menggunakan pidato-pidato tentang “demokrasi pada umumnja” sebagai kedok dan ribut-ribut jang sekarang ini melawan diktatur Proletariat dengan menggunakan teriakan “diktatur pada umumnja” sebagai kedok merupakan pengchianatan langsung tenhadap Sosialisme dan njatanja, berarti desersi ke fihak burdjuasi, penjangkalan ter­hadap hak Proletariat atas Revolusinja sendiri, Revolusi Proletariat dan pembelaan ter­hadap reformisme burdjuis persis pada saat ketika diseluruh dunia mereka telah mendjadi bangkrut dan ketika perang menimbulkan situasi Revolusioner.

5/24/2013

POLEMIK ROESTAM EFFENDI DAN PAUL DE GROOT - CPN - 1945/1946




Awal konflik yang membuat saya diskors.

Tanggal 8 Mei 1945 saya baca di “De Waarheid”, bahwa CPN telah dibubarkan oleh kepemimpinan ilegal pada saat itu. Di luar perihal posisi saya di Partai, dan seperti pemimpin yang terpilih berdasarkan kongres Partai, dan perwakilan Partai di Parlemen, saya menanti pimpinan Partai meminta pendapat saya tentang likuidasi Partai. Setidaknya hal ini menuntut demokrasi di dalam Partai sendiri.

Baik menentang pembubaran atau menentang prosedur, saya mesti tetap melakukan perlawanan. Sesuai dengan pembicaraan saya saat itu dengan pimpinan “Vereniging van de Vrienden van de Waarheid”, de Groot dan Brandenburg.

Diskusi tentang hal ini ditutup dengan makian dari de Groot:

Kau masih saja bicara tentang Partai. Percuma saja, bahkan sekarang sudah tidak ada Partai lagi!” Kemudian tanpa putus asa, saya tetap bertanya kepada de Groot apa yang mesti saya lakukan.

Di sini saya langsung mendapatkan jawabannya:

Jangan khawatir, mungkin kau bisa ke Indonesia sebagai penerjun payung!

Melalui jawaban yang tak masuk akal tersebut, diskusi serius dengan Kawan separtai de Groot terkesan menjadi tidak serius. Pembicaraan tersebut akhirnya tidak diteruskan! (Pembicaraan ini berlangsung tanggal 9 Mei 1945 di Keizersgra 325.)

5/18/2013

OPPORTUNISME DAN KERUNTUHAN INTERNATIONALE KEDUA - LENIN - 16 Djanuari 1916



Apakah Internasionale Kedua sungguh-sungguh sudah run­tuh? Wakil-wakilnja jang paling berwenang, seperti Kautsky dan Vandervelde, dengan keras kepala menjangkalnja. Pendirian mereka jalah: tidak ada terdjadi apa-apa ke­tjuali suatu pemutusan hubungan-hubungan, segala-galanja sudah sebagaimana mestinja.
Agar dapat mengetahui kebenaran tentang soal ini marilah kita melihat Manifesto Kongres Basel tahun 1912, jang ditudjukan djustru terhadap perang dunia imperialis sekarang ini dan jang sudah diterima baik oleh semua partai Sosialis didunia. Perlu diperhatikan bahwa tidak ada seorangpun diantara kaum Sosialis jang akan berani, setjara teori, menjangkal perlunja memberi penilaian jang kongkrit dan historis tentang tiap-tiap peperangan.
Kini, setelah perang petjah, baik kaum oportunis jang terang-terangan maupun kaum Kautskyis tidak ada jang berani menolak Manifesto Basel atau membandingkan sikap partai-partai Sosialis pada masa perang ini dengan tuntutan-tuntutan jang tertjantum didalamnja. Mengapa? Karena Mani­festo dengan bulat menelandjangi kedua-duanja.
Didalam Manifesto Basel sepatah katapun tidak ada disebut tentang pembelaan tanah-air, atau tentang per­bedaan antara suatu perang agresi dan suatu perang membela diri, sepatah kata pun tidak ada disebut tentang segala apa jang oleh kaum oportunis dan kaum Kaut­skyis (Hal ini tidak ditudjukan terhadap pengikut-pengikut pribadi Kautsky di Djerman, melainkan terhadap tipe internasional Marxis-gadungan jang terombang-ambing antara oportunis­me dan radikalisme, tetapi jang pada hakekatnja hanja me­rupakan sematjam topeng untuk oportunisme) di Djerman dan di-negeri-negeri Sekutu digembar­-gemborkan kepada dunia di-tiap-tiap perempatan djalan.

5/08/2013

BAGAIMANA IMPERIALISME BELANDA MENYETIR JUTAAN RAKYAT BERKULIT COKLAT MELAKUKAN PEMBUNUHAN TERHADAP MASYARAKAT EROPA DI INDONESIA - SEMAOEN - Penerbit Brochurehandel C.P.H., Amstel 85, Amsterdam - 1927



Kepada Rakyat Belanda!!
Saudara-saudara!
Saudara tahu, bahwa pemerintahan saudara merupakan pemerintahan kapitalis. Akibatnya saudara tahu, bahwa Hindia-Belanda dimanfaatkan melalui penguasa kapitalis saudara, dikuasai dan dimanfaatkan untuk kepentingan kapitalisme. Saudara juga bisa tahu, bahwa saudara seorang Proletar Belanda dari kota dan negara, sampai sekarang tidak menang dalam kepemilikan Hindia-Belanda. Situasi Anda hampir sama dengan kondisi masyarakat Swiss atau Norwegia yang tidak memiliki koloni.
   Sebaliknya saudara memperlihatkan keterlibatannya dalam semua komplikasi internasional karena saudara disebut “harta asing”. Para kapitalis Belanda yang bertinggal di Indonesia sebagai tirani sejati, di negeri asing, dimana mereka mengeruk jutaan keuntungan dari negeri yang disebut ibu pertiwi, untuk beberapa abad tidak terdapat apapun di negara saudara, maka saudara menggunakan sumber daya mereka hanya untuk menumpuk harta. Itu sebabnya kami memiliki musuh bersama.
     Akan tetapi dominasi kapitalis asing memiliki makna lain. Dominasi ini masih terlalu sulit untuk diterima……………………………………………………………..
    Secara ekonomis: karena keuntungan yang dihasilkan industri dan perdagangan mengalir keluar, membuat pembangunan material Indonesia yang normal dikesampingkan.
    Secara politik: karena kekuasaan kapital asing di sini bertepatan dengan dominasi rasial yang hanya dapat dihentikan dengan kekerasan konstan dan penipuan licik. Terutama di Indonesia, dimana para kapitalis Belanda datang di waktu ketika mereka masih dalam tahapan pengembangan feodal yang salah. Para kaum kapitalis Belanda membawa jiwa kapitalis ke dalam bentuk pemerintahan pribumi yang otokratis (kekuasaan mutlak ditangan raja), dalam hal ini plutokrasi (kekuasaan uang) yang tidak memberikan kesempatan untuk proses demokratisasi yang normal dari negara Indonesia.

4/06/2013

BERITA TENTANG INDONESIA - Laporan Kepada Kawan General Ercoli* (Anggota Secretariat Comintern) - ROESTAM EFFENDI - Moscow/USSR - 28 Oktober 1936


                                                
Saat ini saya hanya ingin berbicara tentang situasi umumnya. Saya juga tidak harus memberitakan, bahwa padaumumnya ketidakpuasan merajai di Indonesia. Namun sangat penting bagi kita untuk menganalisis lapisan masyarakat mana yang merasa tidak puas. Mereka yang merasa tidak puas yakni: Pertama adalah Klas Pekerja dan pegawai, disebabkan oleh pemotongan upah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. General Agent (GA) sangat tegas terhadap pemerintah, dimana General Agent (GA) merupakan anggota dari kaum Borjuis Feodal. Dahulu lapisan masyarakat ini sangat setia terhadap pemerintahan Belanda. Tetapi kini semua berubah dan menyatakan bahwa kita tidak percaya lagi kepada pemerintahan Belanda. Mereka yang juga tidak puas adalah kaum intellektual secara keseluruhan disebabkan oleh penurunan politik pemerintahan terkait dengan masalah pendidikan, pendidikan nasional. 

    Dulu banyak orang berharap untuk Indonesia dari pemerintahan Belanda. Mereka berharap bahwa pemerintah Belanda membawa kebebasan terhadap Indonesia.  Tetapi sekarang ini orang berkata: Kita tidak memiliki kepercayaan lagi terhadap pemerintah Belanda, kita harus memenangkan sendiri Kemerdekaan kita. Begitu juga kaum borjuis lokal, terutama borjuis pedagang. Bagian yang berbeda-beda dari kaum borjuis pedagang hancur melalui tindakan penolakan pemerintah Belanda terhadap impor dari Jepang dan dukungan terhadap industri tekstil Belanda. Pada kaum borjuis lokal terdapat perantara untuk perdagangan antara Jepang dan masyarakat lokal, dan saat ini orang Belanda mengerjakan hal ini untuk memegang kendali bagian ini. Izin ini berada di tangan monopoli importir Belanda. Oleh sebab itu kaum borjuis pedagang ini menjadi sangat tidak puas. 

3/17/2013

IMPERIALISME DAN PERPETJAHANNJA DIDALAM SOSIALISME - LENIN - Oktober 1916


APAKAH ada hubungan antara imperialisme dan kemenangan jang kotor dan medjidjikkan dari oportunisme (dalam bentuk sosial-sovinisme) atas gerakan Buruh di Eropa ?
Itu adalah masalah fundamentil dari sosialisme mo­dern. Dan setelah menetapkan setjara lengkap didalam literatur Partai kita, pertama, watak imperialis dari za­man kita dan dari perang sekarang ini, dan, kedua, hubungan historis jang tak terpisahkan antara sosial-sovi­nisme dan oportunisme, serta djuga kesamaan pokok dalam hal ideologi politik kedua aliran itu, maka kita bisa dan harus melangkah madju lagi untuk meng­analisa masalah fundamentil
Kita harus mulai dengan suatu definisi jang tepat dan lengkap tentang imperialisme. 

Imperialisme adalah suatu tingkat historis jang chusus dari kapitalisme. Tjirinja jang chas adalah tiga, imperialisme adalah: 

(1) Kapitalisme monopoli.

(2) Kapitalisme jang bersifat benalu atau jang sudah mau runtuh.

(3) Kapitalisme sekarat. 

Penggantian persaingan bebas dengan monopoli adalah tjiri ekonomi jang pokok, adalah intisari imperialisme. Monopoli menundjukkan diri dalam lima bentuk utama: 

1) Kartel-kartel, sindikat-sindikat dan trust-trust - konsentrasi produksi sudah mentjapai tingkatan jang menimbulkan kombinasi-kombinasi kapitalis-kapitalis jang bersifat monopoli itu.

2) Kedudukan monopoli jang dipunjai oleh bank-bank besar tiga, empat atau lima buah bank raksasa mempermainkan seluruh kehidupan ekonomi di Amerika, Perantjis dan Djerman.

3) Ditjengkeramnja sumber-sumber bahan mentah oleh trust-trust dan oligarki finans (kapital finans adalah kapital indus­tri monopoli jang dilebur dengan kapital bank).

4) Pembagian dunia (setjara ekonomi) oleh kartel-kartel internasio­nal sudah mulai. Kartel-kartel internasional sematjam itu jang menguasai seluruh pasar dunia dan mem-bagi-baginja “setjara rukun" diantara mereka sendiri sampai di-bagi-bagi kembali oleh perang kini sudah berdjumlah seratus lebih. Ekspor kapital, suatu gedjala jang berbeda setjara sangat menjolok dengan ekspor barang dagangan diba­wah kapitalisme bukan monopoli, erat hubungannja de­ngan pembagian dunia setjara ekonomi dan teritorial­ politik.

5) Pembagian dunia mendjadi wilajah-wilajah (tanah-tanah djadjahan) sudah selesai.
Imperialisme sebagai tingkat tertinggi kapitalisme di Amerika dan Eropa, dan kemudian di Asia, telah ber­kembang sepenuhnja dalam periode 1898-1914. Perang Spanjol-Amerika (1898), Perang Inggris-Boer (1899-1902), Perang Rusia-Djepang (1904-05) serta krisis ekonomi di Eropa dalam tahun 1900 merupakan batu-batu sempadan historis jang terpenting didalam-zaman baru sedjarah dunia.

2/19/2013

TENTARA RAKYAT DI BANTEN SELATAN: KEKUATAN TERAKHIR PEMBELA TAN MALAKA - Suharto* - 2010


Abstract
After the first Dutch aggression, five Bambu Runcing (BR) Divisions were established in West Java. One of them was posted at Sanggabuana Mountain, Purwakarta, led by Wahidin Nasution and, then, Khaerul Saleh. In the area, including this division, there were two military troops cooperated and united under Staff of Guerrilla Group of East Jakarta Territory, commanded by Mayor Sambas Atmadinata However, the cooperation did not last for a long time, since armed contacts between Siliwangi and the BR often occurred. BR was pushed back and decided to continue activities in South Banten, where later, the group's name becomes "Tentara-Rakyat" (People Army). Here, they openly opposed the Government of the Republic of Indonesia because of several agreements arranged with the Dutch and targeted government officials, including police and the military, and killed them violently. These activities had feared people; therefore in the end of October 1949, the Indonesian National Army ended the actions whose based the movement was to continue Tan Malaka's ideas.
Keywords: South-Banten, People Army, Revolution, political history
Pendahuluan
Setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Belanda datang untuk menguasai kembali Indonesia. Untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia—Belanda, Pemerintah Republik Indonesia (RI) lebih mengutamakan jalur diplomasi daripada perlawanan bersenjata. Agar supaya bisa berunding dengan pihak Belanda, pemerintah mengubah bentuk kabinet presidensial menjadi kabinet parlementer dan Sutan Syahrir yang tidak berkolaborasi dengan Jepang ditunjuk oleh Presiden Sukarno sebagai Perdana-menteri. Sejak itu perundingan dengan pihak Belanda dimulai.
Kebijakan berdiplomasi tersebut mendapat tantangan hebat dari Persatuan Perjuangan (PP), suatu organisasi yang dibentuk pada bulan Januari 1946 dan dipimpin oleh Tan Malaka. Sebanyak 141 organisasi bergabung dalam organisasi tersebut. Program Minimum PP berisi Tujuh Program inti yaitu: (1) Berunding atas dasar pengakuan Kemerdekaan 100%, (2) Pemerintahan Rakyat (dalam arti sesuainya haluan pemerintah dengan kemauan Rakyat), (3) Tentara-Rakyat (dalam arti sesuainya haluan tentara dengan kemauan Rakyat), (4) Melucuti tentara Jepang, (5) Mengurus tawanan bangsa Eropa, (6) Menyita dan menyelenggarakan pertanian musuh (kebun), (7) Menyita dan mengurus perindustrian (pabrik, bengkel, tambang, dll.) (Anderson, 1988: 320-321).

2/12/2013

SURAT EDARAN CPH KEPADA BADAN PENGURUS DISTRIK TENTANG KAMPANYE MENUNTUT PEMBEBASAN TAN MALAKKA DAN DJAMALOEDDIN TAMIM - Communistische Partij Holland (CPH) - Amsterdam, 2 Januari 1933



                                                  
CPH
NO. 980
WP

Kepada Badan Pengurus Distrik*:    
      Pers memberitakan bahwa Ibrahim Tan Malakka berhasil ditangkap di Hongkong dan pada saat yang bersamaan, Djamaloeddin Tamim juga diciduk di Singapura oleh pihak otoritas Inggris.
Tan Malakka adalah pemimpin Partai Komunis Indonesia, dimana Tamim juga merupakan salah satu pimpinan dari Partai tersebut.

Nama Tan Malakka pernah satu kali tercantum di dalam daftar CPH sebagai perwakilan dari masyarakat tertindas Indonesia, untuk menjadi kandidat dalam Majelis Rendah. Bahayanya adalah, kedua rekanan tersebut telah diserahkan kepada borjuis imperialis Belanda, dan dapat dipastikan mereka akan diasingkan ke kamp Digoel.

1/31/2013

RAS COKLAT YANG MERDEKA - AGENTSCHAP “AMSTEL”, AMSTERDAM - 1937



SEMAOEN
(Eks Ketua Persatuan Pegawai Kereta Api dan Tram di Jawa)
___________________________
Ketika saya menulis peraturan-peraturan ini untuk Rakyat Belanda, dan secara tidak langsung juga untuk Rakyat Indonesia, saya seperti merasa sebagai “seorang” anak laki-laki yang kembali setelah lama hilang, yang baru saja melihat rumah orangtuanya lagi. Sudah lebih dari delapan tahun saya tidak muncul, tapi saya tidak menghilangkan diri dari pergerakan Kemerdekaan.

Selama ini, selama saya hidup sampai sekarang, di negara ini, di barisan depan umat manusia yang terbarukan, dimana saya bisa mengamati dengan mata kepala sendiri bagaimana perkembangan masyarakat baru. Lebih dari itu, saya juga sudah merasa cukup berkontribusi—meskipun tidak seberapa—dalam pembangunan sebuah gedung terbesar, yaitu masyarakat Sosialis.

Di setiap pengalaman yang dirasakan, di setiap ilmu yang didapat, di situlah muncul gambaran Rakyat saya sendiri dan penderitaannya. Gambaran penderitaan Rakyat yang makin parah ini, membuat saya sebagai orang buangan, terus-menerus mengalami saat-saat yang berat, meskipun kenyataannya, saya mencintai negara Sovyet seperti tanah air saya sendiri…

Tapi saya singkirkan dulu soal ini dan mari mulai dengan pelajaran dan pengalaman besar yang saya alami.

Yang pertama tentunya: hubungan tanah air dan negara-negara koloni atau sebaliknya, setelah adanya Revolusi Sosial.

Saya percaya, sampai saat ini, ini adalah pelajaran terbesar, karena kita hidup di masa sekarang ini yang segala kompleksitas kolonialnya sudah menjadi titik poros bagi politik dunia; terutama sejak fasisme muncul di sejumlah negara di Eropa dan menempatkan pembagian dunia di agenda rapatnya. Ke depannya permasalahan kolonial ini akan lebih muncul di latar depan, karena sekarang sudah ada tanda-tanda bahwa politik kolonial sudah mempengaruhi politik kolonial dalam negeri dari setiap negara yang penting, termasuk Belanda. Untuk kalangan Buruh Belanda dan Rakyat Indonesia ada sebuah alasan untuk menggandakan pekerjaan politiknya, supaya fasisme tidak punya kesempatan untuk bisa menyetir Rakyat kami.

1/20/2013

KITAB TANI – BOEKOE OENTOEK KAOEM TANI INDONESIA - SEMAOEN - Amsterdam, 1925



Pendahoeloean dan keterangannja penjalin.
Boekoe ini kita dapat salin dari Bahasa Djer­man. Dalam boekoe ini soedahlah terang, kepen­tingannja pergerakan Tani jang haroes kerdja bersama-sama dengan pergerakannja kaoem Boe­roeh, sebab dengan tidak roekoennja doea matjam gerakan itoe poen Kemenangannja rajat Indonesia oentoek dapat Kemerdikaan tidak akan bisa ter­dapat.
Sekarang jang mendjadi pertimbangan kita: apakah pergerakan kita kaoem Tani soenggoeh-soenggoeh akan mendjadi soeatoe fatsal jang bisa toeroet-toeroet Merdikakan Rajat Indonesia? Soal ini wadjib kita fikirkan sedalam-dalamnja.
Menoeroet boekoenja Dr. W. Huender jang berkepala: „overzicht van den economischen toestand der Inheemsche bevolking van Java en Ma­doera", maka hanja di Djawa dan Madoera sadja tidak koerang dari 55 djiwa dari saben 100 djiwa dapat hidoep dari pertanian (boekan onderneming teh, goela atau kopi, tetapi pertanian di sawah-sawah). Djoemlah djiwa Indonesia di hitoeng boender ada 50 djoeta, djadi tidak koerang dari 27,500,000 djiwa atau 5,500,000 pamili (roemah) soedah mendjadi kaoem tani. Ini djoemlah soeng­goehlah amat besar; ia ada melebihi dari pada djoemlah Rajat jang berpentjaharian hidoep lain lain, saperti mendjadi Boeroeh, soedagar, prijaji goepermen „Iondo lain bangsa" dan lain-lain. Dari djoemlah kita kaoem Tani sadja soe­dahlah terang kapentingannja kaoem tani kita dalam pergaoelan hidoep Indonesia, djadi.djoega dalam oeroesan pemerentahan negeri kita atau da­lam politiek. Di tambah poela bahwa antero Indo­nesia dapat hidoep karena makan padi dan lain lain hasil kerdjaannja kaoem Tani, pun sema­kin terang kepentingan diatas ini.

1/15/2013

HAK BAGI INDONESIA! Sebuah harapan bagi demokrasi Belanda - ROESTAM EFFENDI - 1937



AGENTSCHAP AMSTEL
AMSTERDAM 

HAK BAGI INDONESIA!


TAK ADA KOLONIALISME YANG ABADI!

Politik kolonial membentuk sebuah bagian penting atas kebijakan pemerintah Belanda! Khususnya pada kondisi sekarang ini, kebijakan pemerintah Belanda tak bisa lagi menunjukkan sikap santai dalam rangka mengakhiri revisi hubungan kolonial dengan gerakan yang congkak.

Pemerintah-Colijn selalu merasa martabatnya direndahkan jika harus melakukan diskusi tentang pengubahan dan perbaikan terhadap hubungan antara kedua negara, Belanda dan Indonesia!

Setiap orang yang berakal sehat di Belanda pasti paham bahwa hubungan kolonial, seperti yang ada sekarang ini, tidak mungkin dapat dipertahankan lebih lama lagi. Sejarah Rakyat Belanda yang cinta Kemerdekaan, yang bangga terhadap masa lalunya yang jaya dalam memberantas penjajah asing, merupakan sebuah bukti bahwa sebuah masyarakat tidak dapat dijajah dan ditekan sekian lama.

1/01/2013

NUSA dan BANGSA MELAJU - IBRAHIM YAACOB (IBHY) – 16 April 1951


Untuk suwargi:
Majoor A. Manap bin Batjik,

Jang gugur di Tandjung Batu Pulau Krimon Riaw



ISINJA:
1.   Dari Penerbit.
2.   Kata Pendahuluan.
3.   Bab I. Tjita-tjita Bangsa orang Melayu.
4.   Bab II. Sedjarah Perikatan Bangsa dan Nusa.
5.   Bab III. Sedjarah Perpetjahan Negeri-negeri Melayu.
6.   Bab IV. Tekanan Pendjadjah Inggris.
7.   Bab V. Hak National orang Melayu dibahagi-bahagi.
8.   Bab VI. Orang Melayu Mempertahankan Hak Nationalnja.
9.   Bab VII. Kearah Kesatuan Bangsa Bersama.
10. Bab VIII. (Kata Penutup) Malaya Pendjuru Asia jang Penting.

11/15/2012

TAN MALAKKA DAN TAMIN HARUS DIBEBASKAN! - Communistische Partij Holland (CPH) -1933





Tak ada Rakyat yang Merdeka Sementara Rakyat lain terjajah - Karl Marx
      
AGENTSCHAP AMSTEL, NIEUWE PRINSENGRACHT 29hs, A’DAM (C.)











-Tan Malaka ditahan!

-Tan Malaka ditangkap di Hong Kong oleh Reserse Koloni Inggris!

Begitulah beritanya dalam surat kabar Belanda, berbagai surat kabar luar negeri dan dalam semua koran di Indonesia – di Jawa, Sumatera, dll – juga dalam koran lokal seperti koran-koran Belanda di Hindia-Belanda.

Berita tersebut diberitakan dengan beragam cara dan dalam berbagai bahasa dan membawa keharuan mendalam.

Jaksa Agung di Hindia-Belanda, Gubernur Jendral Bogor, menteri di Den Haag dan rekan-rekan kerjanya, konglomerat minyak Deterding, temannya Colijn, para pengurus—dan juga pemegang saham “kompeten’’ perusahaan-perusahaan tak bernama dan semacamnya di Hindia, seluruh kelompok pegawai berposisi tinggi—mereka semua bersalaman dengan puas dan tertawa:

-Begitulah! Mereka akhirnya menangkap Sang Tan Malakka!- Sebuah penangkapan bagus yang jarang sekali terjadi!- Beberapa orang akan mendapatkan lencana karena penangkapan itu.

10/28/2012

IBRAHIM YAACOB (IBHY) DAN SUKARNI KARTODIWIRYO

IBRAHIM YAACOB (IBHY) alias ISKANDAR KAMEL dan SUKARNI KARTODIWIRYO (KETUA UMUM PARTAI MURBA)