Translate

7/06/2015

Perjalanan Revolusi Indonesia & Relasinya dengan Revolusi di Negeri2 Dunia ke Tiga

Sebuah tanggapan tertanggal 20 Januari 2009.


Kepada mbak atau mas atau siapa saja yang mengakui bahwa diri anda adalah seorang nasionalis tulen, kami sungguh senang karena ada teman dari Indonesia yang menanggapi tulisan kami yang sangat singkat, kami tidak anti kritik karena dengan kritik itu akan dapat membangun tapi tentunya dengan kritik yang berbobot dan berkualitas tidak karena emosi atau subjektivisme semata-mata serta kami sangat menghargai apabila kritik itu dapat memajukan gerakan rakyat revolusioner di Indonesia. 

Bicara soal nasionalisme (cinta kepada tanah air), dimasa lalu banyak kita saksikan sekelompok atau segolongan orang orang atas nama nasionalisme (Jendral Tanaka pemimpin Bala Tentara Dai Nippon karena cintanya kepada Tenno Hekka titisan dewa matahari…J mengangkangi habis seluruh Asia Pasific dan merampok seluruh rakyatnya dan dijadikan Romusha diperas tenaganya habis-habisan sampai mati sambil menggembar-gemborkan Nippon Pemimpin Asia, Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Mussolinni di Italia yang menggembar-gemborkan (“to believe, to obey, to combat”)akan mengembalikan kejayaan kekaisaran Roma sewaktu dia dan para 40.000 pengikutnya melakukan parade rally kemenangan menuju Roma yang di sepanjang jalan sambil mengintimidasi semua lawan politiknya terutama kaum Komunis dan dengan angkuhnya mengirimkan ratusan ribu pasukannya untuk melalap Afrika dengan sasaran pertama Abesinia (sekarang Etophia) yang kaya akan tambang batu baran dan emasnya, dan Hitler seorang anak keturunan yahudi yang merasa dirinya ras bangsa arya tulen dengan slogan (“Ein Reich, Ein Volk, Ein Fuhrer- Satu Negara, Satu Bangsa, Satu Pemimpin) membantai jutaan orang di seluruh dataran Eropa dan lagi-lagi kaum komunis yang menjadi sasaran utamanya tapi lihat apa yang terjadi sejak tahun 1943 setelah kemenangan pertempuran di Stalinggrad yang berjarak 80 mil dari Moscow yang memakan korban jiwa sampai 20 juta rakyat soviet, pasukan nazi jerman yang berjumlah 330.000 luluh-lantak dihajar habis-habisan oleh Tentara Merah dan para anggota Partisan Rusia yang dipimpin oleh Towarich Stalin, pasukan sekutu tidak bisa mendarat di Normandia (selatan Perancis) pada tahun 1944 yang terkenal dengan pertempuran D-Day nya yang memakan korban jiwa di pihak sekutu sampai 100.000 orang, jika Sovyet Rusia pimpinan Towarich Stalin tidak dapat meluluh lantakan pasukan Nazi dan mengusir mereka keluar dari tanah air Sosialis sambil terus mengejar sisa-sia pasukan nazi jerman kearah barat eropa (contoh pertama nasionalisme kaum komunis),  

The Cold War in Indonesia, 1948. Harry A. Poeze

After the end of the Second World War, communication between the Soviet Union and the Partai Komunis Indonesia (PKI, Indonesian Communist Party) was complicated, difficult and for periods of time, non-existent. It fitted a pattern that can be discerned since the founding of the PKI, the first communist party in Asia, in December 1920. The PKI, then a legal party, joined the Communist International (Comintern) and was represented at Comintern congresses in the early twenties. Reports given at the congresses, articles in Comintern press and information to the responsible Comintern functionaries featured a mixture of rosy images, personal preoccupations and opportunistic adjustments. The Comintern was thus misinformed about developments. Its guidelines for PKI action also became blurred and distorted in transmission to Indonesia, to the extent that the PKI on the spot (increasingly fragmented because of Dutch repression), could select the policy which suited it best.

7/04/2015

Pernyataan Sikap Pengurus FK Murba 10 Jun 1998

To:         check@bimamail.com 
Cc:
Subject:  Pernyataan Sikap dan Susunan Pengurus Forum Komunikasi Murba
 
Netter yang terhormat

Partai Murba yang didirikan almarhum Pahlawan Kemerdekaan Nasional Ibrahim Tan Malaka (7 November 1948) di Yogyakarta sebagai alat untuk mempertahankan kemerdekaan,  yang diproklmamirkan 17 Agustus 1945, dan  sejak tahun 1973 difusikan (dilebur) oleh rezim Soeharto (Orde Baru) kedalam tubuh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) bersama PNI, Partai Kristen Indonesia, IPKI dan Partai Katolik. 

Walau pun PDI kini terbagi dua (pimpinan Megawati dan Soerjadi)  Murba berada di barisan Megawati SP. Seiring turunnya Soeharto dari pusat kekuasaan, pemerintahan baru dibawah pimpinan BJ. Habibie mengizinkan rakyat untuk bikin partai. Makanya, sejak Mei 1998, berbagai partai politik baru lahir.
  
Murba,sebenarnya selama ini tidak mati, cuma berbentuk Forum Komunikasi Keluarga Besar Murba sejak 1978 dan sifatnya internal. Karena desakan arus bawah, Murba dengan motor Ny. Nelly Adam Malik, Wasid Suwarto, Bambang Singgih, SK. Tri Murti menampung keinginan ini dan mengaktifkan kembali Partai Murba.
  
Jumpa pers diadakan pada 28 Mei 1998 lalu di Gedung Juang Menteng 31 Jakarta, dan kini latar belakang pengantifan Partai Murba ini kami sajikan kepada pembaca semua. Info ini juga kami lengkapi dengan Pernyataan Sikap Partai Murba dan susunan pengurus Partai Murba. Terima kasih
  

Surat Keputusan pencalonan Bambang Singgih sebagai Anggota MPRS


5/11/2015

Buku-Bukunya Sendiri, Pikiran-Pikiran Sendiri, Moraal Sendiri!

Moeso, surat kabar Proletar, 23 Juli 1925

“Dalam pergaulan kapital sekarang manusia dibagi jadi dua klas, yaitu klas buruh dan klas kapital. Kebutuhankebutuhan dua-dua klas ini tidak sama. Apa yang menguntungkan klas kapital hampir selamanya merugikan klas buruh. Apa yang menguntungkan klas buruh, hampir semua merugikan kepada klas kapital.

Apa yang baik bagi klas buruh, selamanya dipandang tidak adil oleh klas kapital. Karena itulah klas buruh dan klas kapital tidak bisa dipersatukan kekal, meskipun sama kebangsaan dan agamanya. Klas kapital mempunyai keperluan sendiri. Klas kapital mempunyai maksud sendiri, sedang klas buruh bermusuhan dengan klas kapital. Sebagaimana kambing dengan harimau tidak bisa dirukunkan, begitu juga klas buruh dan klas kapital tidak bisa dirukunkan. Dua-duanya mesti bertanding. Salah satunya mesti hancur.

4/18/2015

Pemogokan di Stooomkoffie Brandery Karangredjo di Blitar

Pada tanggal 25 November 1925 kaum buruh di Stoomkoffie Brandery Karangredjo kira-kira jam 9.30 sama didatangi oleh serombongan polisi terdiri dari asisten residen, patih, asisten wedana dan lain-lainnya, berhubung dengan tuntutannya kaum buruh di situ pada tanggal 23 ini bulan. Waktu itu juga mesin pabrik diberhentikan dan sebagian kaum buruh yang dianggap berbahaya dilepas lebih dulu, sedang yang ketinggalan di situ sama dikumpulkan dan dibujuk dengan perkataan manis-manis, agar itu tidak membikin pemogokan. Di situ patih tanya: “siapa yang akan mogok?” Lalu ada 5 pegawai yang maju dihadapan patih, yang mana mereka itu terus dituntut saja dan ditahan di algemeene polisi, tetapi lalu dilepaskan lagi, dengan ancaman jika mereka itu berjalan-jalan mendekati pabrik akan ditangkap.

Kaum Buruh dari Stoomkoffie Brandery di Blitar Bersiap

Pada hari ahad tanggal 22 November 1925, lid-lid dari Serikat Buruh Onderneming di Blitar telah mengadakan ledenvergadering dan disitu lantas ambil putusan yang besok paginya terus dikirim ke majikannya, seperti turunannya tersebut di bawah ini:



Blitar, 23 November 1925

No. 1. S.B.O.

Kepada
Yang terhormat Tuan Administrasi Stoomkoffie Brandery
Karangredjo Kota Blitar

Pemogokan Besar Buruh di Surabaya 1925

Di waktu pemogokan besar ini dimaloemkan orang mesti putar kajoen di seluruh kota Surabaya dan orang nanti bisa dapat pemandangan luas tentang pabrik mesin yang dimogoki.


Pertama, orang tidak menampak rombongan pemogok-pemogok yang berkumpul omong seperti biasanya kejadian di Holland. Kedua, orang tidak lihat polisi repot buat menjaga keselamatan kota. Tapi toh di ini saat ada kurang lebih tiga ribu orang dari perusahaan bengkel dan mesin yang mogok. Malah ada terbit pemogokan yang menurut kehendaknya sendiri, jadi tidak dipaksa.
Pemogokan kehendaknya sendiri

Pihak Perempuan Juga Harus Mengenal Politik

Penindasan kepada kaum laki-laki berarti juga penindasan kepada kaum perempuan.

 Untuk membuktikan atau membenarkan bahwa sudah seharusnya kaum perempuan itu juga turut bergerak berlomba-lomba dalam kalangan politik berdampingan membantu pada pergerakan kaum lelaki, maka di sini kami merasa perlu membentangkan pemandangan kami yang sepicik ini, walaupun sedikit, agar dapat membuka pikiran kaum kita, perempuan, yang masih daladalam kegelapan umumnya.

12/05/2014

Penuntun Kaum Buruh (Semaoen 1920 )


PENGANTAR PENULIS

Dengan ini saya mengaturkan cerita hal serikat buruh pada saudara-saudara kaum Buruh Hindia (terkarang sebelum nama Indone­sia menjelma).

Bukan maksud kita mencerita­kan hal ini dengan ilmiah, tetapi saja sengaja me­ngarang secara gampang, supaya semua kaum Buruh mengerti de­ngan segera apa maksudnya buku ini.

Terutama buat propaganda, dan buat kaum Buruh yang belum punya kumpulan serikat buruh atau serikat buruhnya belum teratur beres, maka buku ini akan mendatangkan faedahnya kalau dipikir dan diusahakan betul oleh kaum Buruh.

Meskipun ini buku penting buat kaum Buruh. Buruh khusus yang terutama, tetapi juga kaum Buruh Pemerintah bisa menarik faedah dari sini, karena mereka punya nasib dan keadaan sama saja dengan sauda­ra-saudaranya buruh khusus.

Moga-mogalah buku ini menja­di penuntun bagi kaum Buruh Hindia (Indonesia).

Semarang, Mei 1920

SEMAOEN


DAFTAR ISI

BAB I: Penyebab Di Indonesia Ada Perkumpulan

BAB II: Tiga Macam Perkumpulan Penting

BAB III: Tiga Maksud Didirikannya Serikat Buruh

BABI IV: Cita-Cita atau Asas Serikat Buruh

BAB V: Ikhtiar, Alat, dan Senjata Serikat Buruh

BAB VI: Badan atau Bentuk Serikat Buruh (Organisasi)

BAB VII: Politik Yang Berfaedah Bagi Serikat Buruh

BAB VIII: Modal Pergerakan (Contributie) dan Pengurusan Buku-Buku Perkumpulan (Administratie)

BAB IX: Pengawasan Di Dalam Perkumpulan

BAB X: Propaganda dan Para Pengurus Yang Terlantar

9/24/2013

TERKENANG SAMBUTAN KEMERDEKAAN 1957 DI REJIMEN KE-10

Terkenang Sambutan Kemerdekaan 1957 

Dalam Pasukan Rejimen Ke-10 Perasaan Pejuang Merdeka Terhadap Merdeka yang Dibolot UMNO


** Afandi **


Kawan Afandi

Menjelang hari ulang tahun ke-56 Hari Kemerdekaan, ada dua perkara membuat saya terkenang akan nostalgik yang masih segar dalam ingatan.

Perkara pertama, saya dengan amat besar hati menghadiri forum anjuran Angkatan Pembebasan Bangsa Malaysia yang bertajuk Merdeka 100% —— Sejarah Merdeka Digelapkan, kemudian menghadiri Jambori Anak Muda Radikal yang juga berkaitan dengan kemerdekaan. Ini suatu tanda golongan anak muda insaf akan nasib bangsa dan negara dan bercita-cita berjuang untuk membawa negara ke arah tanpa dasar perkauman dan semua bangsa/kaum hidup dalam keadaan harmoni dan bersatupadu yang menjadi batus asas memakmurkan dan memperkasakan negara. Ratusan hadirin bersorak dan bertepuk gemuruh tanda bersetuju dengan rumusan bahawa merdeka diperolehnya itu setengah masak, bukan merdeka 100%, dan sejarah digelapkan kerana UMNO membohong dengan mendakwa merdeka diperolehnyan melalui rundingan aman dengan penjajah, dan
menafikan jasa pihak-pihak yang mempelopori perjuangan kemerdekaan seperti PKM, PKMM, API, AWAS, BATAS, Hizbul Muslimin dan sebagainya. Dan bagaimana pun dalam Perundingan Damai di Puket, Ketua perwakilan kerajaan Datuk Rahim Nor telah membaca kenyataan kerajaan bahawa “Kerajaan tidak menafikan atau memertikaikan pernan PKM dalam kemerdekaan”. Fakta sejarah membuktikan setelah perang anti-British yang dipimpin PKM berlangsung rancak, ketika itu ramai ahli PKMM masuk UMNO dengan tujuan mendorong parti yang hanya melaung slogan Hidup Melayu tetapi tak mahu gunapakai nama Pekembar hanya mahu nama dalam bahasa Inggeris United Malays National Organisation itu supaya mahu merdeka, barulah UMNO ikut di belakang.

8/25/2013

"KARL MARX" dan "PIDATO DI MAKAM KARL MARX" - Frederick Engels

PERKENALAN

     Karya cemerlang Engels berjudul "KARL MARX" dan "PIDATO DI MAKAM KARL MARX" dalam bahasa Melayu pertama kali diterbitkan dalam daerah Gerilya oleh Pejabat Pembebasan pada 5 Mei 1978 sempena memperingati ulang-tahun ke 160 hari jadi Guru-Agung Karl Marx.

      Kedua-dua karya ini diterbitkan semula oleh Pejabat Kebenaran sempena memperingati ulang-tahun ke 100 wafatnya Karl Marx yang jatuh pada 14 Mac 1983. Dalam edisi baru ini, penterjemah membuat sedikit pembetulan keatas terjemahan setengah-tengah nama yang terdapat dalam edisi pertama dulu.

Penterjemah,
14 Mac 1983